Tekadku sudah kuat, aku ingin mengetahui kebenaran dari semua ini. Apa penyebab perang yang sedang terjadi saat ini. Siapa yang salah dan juga siapa yang benar. Aku mulai meragukan semua pihak ketika aku bertemu langsung dengan mereka di medan pertempuran. Ras manusia yang dikatakan ingin melindungi semuanya, malah menjadi sebuah makhluk buas yang tertawa pada saat membantai semua iblis yang ada. Apalagi mereka memanfaatkan orang yang lebih lemah untuk menjadi perisan kelancaran aksi mereka. Lalu sebenarnya untuk apa mereka bertarung sekarang ini. Ketika aku melihat pasukan iblis, mereka hanya terlihat membalikkan serangan yang dilepaskan oleh manusia. Tidak terlihat sedikitpun hasrat untuk membunuh di mata mereka, yang aku lihat hanya keinginan untuk bertahan hidup saja. Kata terakhir dari Ieyasu pun masih terus terngiang di kepalaku, sebenarnya janji apa yang diberikan oleh para dewa kepada bangsa iblis. Sudah sedari dahulu aku selalu diberikan sebuah pelajaran dari gereja bahwa iblis merupakan bangsa terkutuk yang dibenci oleh para dewa, oleh karena itu pada perang jaman dahulu para dewa membantu para manusia untuk mengalahkan bangsa iblis. Namun jika demikian, kenapa para dewa masih memberikan sebuah janji kepada bangsa iblis. Aku harus menemui jenderal iblis lainnya. Sesuai dengan informasi yang aku dapatkan dari seorang anggota pasukan hero, dikabarkan bahwa salah satu Jenderal iblis sedang berada pada kota benteng yang terletak pada utara pulau. Dikatakan bahwa jenderal iblis ini tidak pernah melancarkan serangan sedikitpun, namun dia dan pasukannya hanya berkeliling pada hutan yang ada pada sebelah selatan kota. Aku harus pergi kesana, aku harus mencari jawaban dari jenderal tersebut. Malam hari aku sudah mempersiapkan segala hal yang akan menunjang perjalanan ku, aku juga sudah menulis sebuah surat untuk adikku agar dia bisa merasa tenang. Setelah semuanya siap aku menyelinap secara perlahan untuk keluar dari rumah agar adikku tidak terbangun. Namun ternyata adikku Lumila sudah menunggu ku dengan persiapan yang cukup matang. Dia tidak mengizinkanku untuk pergi sendirian, dia tidak ingin ditinggal sendirian lagi. Aku terus memberitahunya bahwa perjalanan ini akan sangat amat berbahaya. Namun dia sudah meyakinkan tekadnya juga, dia tidak ingin lagi menjadi sebuah beban yang harus terus dilindungi. Dia berkata bahwa dia sudah siap mati jika itu untuk dirinya dan diriku. Kemampuan memanah Lumila memang begitu menakjubkan, dia bisa menjadi garis belakang yang kuat dalam pertempuran. Dia bisa menembak musuh dengan tepat dari jarak yang begitu jauh dengan busurnya. Sebenarnya aku takut kehilangan keluarga ku lagi, namun keteguhan hati Lumila ini sudah tidak bisa dibantah lagi. Alhasil aku mengijinkannya untuk ikut bersamaku menuju ke kota benteng, pagi itu aku yang berniat untuk berangkat sendiri malah mendapatkan seorang anggota party untuk menemani perjalananku. Dengan ini perjalanan bersama adikku dimulai.
Karena aku tidak ingin mencolok dimasa yang sedang kacau ini, aku memutuskan untuk pergi ke kota benteng melewati daerah hutan yang jauh dari jalan utama. Karena aksiku yang terlalu menyita perhatian waktu itu, membuat para pasukan HERO terus-terusan membujukku untuk masuk kedalam pasukan mereka. Namun pandangan ku terhadap mereka sudah tidak sebaik dulu dan tujuan kami benar-benar berbeda. Oleh karena itu aku terus menghindari pasukan HERO dan memilih untuk melalui rute ini. Memang rute yang aku pilih ini penuh akan rintangan seperti hewan buas, monster bahkan jalur yang begitu curam. Tetapi dengan adanya Pedang misterius ini dan juga adikku lumila, semuanya terasa begitu mudah untuk dilalui. Bahkan untuk makanan sudah tidak perlu dirisaukan lagi, banyaknya hewan buruan dan buah-buahan bisa memenuhi perut kami dengan baik. Bahkan kini aku mengetahui ternyata Lumila ini juga dapat memakai sihir, sihir api yang dia kuasai sangat berguna untuk urusan memasak dan juga penerangan kami. Ketika Lumila sudah mulai tenang dan menerima keadaan kita saat ini, aku mulai bertanya apa yang terjadi pada peperangan kemarin. Lumila menjelaskan bahwa pasukan iblis datang mendekati desa, tetapi mereka tidak melakukan serangan apapun. Bahkan ada seorang utusan dari pasukan iblis yang datang untuk memberikan sebuah pesan dan berniat ingin mendiskusikan suatu hal. Lumila yang kebetulan sedang bermain dengan anak kepala desa mendengarkan sedikit percakapan kepala desa dengan pasukan iblis, iblis itu mengatakan bahwa kedatangannya itu bukan untuk sebuah penaklukan namun hanya untuk melakukan pencarian. Namun saat pertengahan diskusi, pasukan HERO sudah menerobos masuk rumah kepala desa dan langsung membunuh iblis tersebut, bahkan kepala desa juga ikut dibunuh di tempat dengan alasan dia berkhianat dengan pasukan iblis. Lumila yang melihat hal tersebut langsung lari karena ketakutan dan memilih untuk pulang kerumah. Namun waktu dia sampai dirumah, ayah kita sudah dipaksa untuk maju ke garis depan di pertempuran, pasukan HERO mengancam akan membakar rumah milik orang yang tidak mau mengikuti arahannya. Ayah kita hanya bisa pasrah dan menuruti arahan pasukan HERO, pada saat itu Lumila mendengar banyak sekali jeritan dan tangisan untuk meminta ampun dari warga desa. Setelah itu perang terjadi, pasukan HERO menyerang terlebih dahulu pasukan iblis yang sedang istirahat di tenda mereka. Pada saat perang tersebut, Lumila sudah berusaha keras untuk melindungi ibu dan rumah ini. Namun ada beberapa pasukan yang menerobos masuk rumah dan menemukan mereka. Lumila sudah mengalahkan beberapa iblis yang membuat nya mulai menjadi kelelahan. Pada saat lumila mulai melemah, ada seorang iblis yang ingin menusuk Lumila. Namun ibu pun langsung bergegas melindungi lumila, namun ibu terpaksa harus mendapatkan sebuah tusukan fatal yang membuatnya sekarat. Lumila langsung saja membunuh iblis itu dan langsung menghampiri ibu. Namun sayang sekali nyawa ibu sudah tidak terselamatkan, ibu memberikan sepatah kata terakhir yang berisi bahwa aku dan adikku harus tetap hidup dan tidak boleh menyimpan dendam kepada pasukan iblis. Lumila terus menahan tangisannya pada saat itu agar tidak ada iblis yang mengetahui keberadaannya, dia terus bertahan sendirian sampai akhirnya aku datang kepadanya. Aku memeluknya dengan erat setelah mendengar cerita itu dan memutuskan untuk beristirahat, karena sepertinya kami sudah akan sampai di kota benteng esok hari. Kami harus menyiapkan seluruh tenaga karena kami tidak tahu apa yang akan kami hadapi nantinya.
Keesokan harinya, aku dan lumila memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami menuju kota benteng. Kami masih terus menyusuri hutan untuk sampai ke kota tersebut. Kini secara samar aku dapat mendengar adanya keramaian dari arah yang aku tuju. Pastinya suara keramaian itu merupakan suara dari kota benteng yang berarti tujuanku sudah semakin dekat. Pada saat menyusuri hutan, aku melihat segerombolan iblis yang sedang berkeliling. Aku lantas mengajak lumile untuk bersembunyi di atas pohon dan menutupi keberadaan kita. Aku mendengar bahwa mereka sedang berkeliling untuk mencari mangsa buruan. Pada awalnya aku mengira datang untuk berburu manusia yang kebetulan sedang ada di hutan. Namun mereka hanya mengecek apakah jebakan hewan yang mereka pasang sudah membuahkan hasil. Tetapi karena jebakan yang dipasang belum membuahkan hasil, mereka memutuskan untuk kembali ke basecamp mereka. Aku juga mendengar bahwa mereka berkata bahwa mereka akan melaporkan hasil perburuan ini kepada Jenderal iblis, yang berarti Jenderal iblis beserta pasukannya sedang berada dalam hutan ini. Sepertinya ini waktunya diriku untuk keluar dari hutan. Tidak mungkin aku bisa menghadapi jenderal iblis beserta pasukan penuhnya. Itu sama saja dengan tindakan bunuh diri. Oleh karena itu aku memutuskan untuk menjauh dan menemukan jalan utama. Pada saat keluar aku mendengar sebuah aungan keras dari arah utara yang sepertinya pada arah jalur utama. Aku dan lumila langsung bergegas menghampiri asal suara tersebut. Ketika aku sampai pada asal suara tersebut, alangkah terkejutnya aku karena ada sebuah monster besar yang sedang menyerang karavan pedagang. Lumila langsung menembakkan sebuah anak panah untuk mengalihkan perhatian monster itu dari para pedagang, alhasil monster tersebut mulai memperhatikan kami dengan amarah yang begitu meluap. Aku memang dapat dengan mudah membunuh monster ini, tetapi fokusku sekarang adalah untuk menyelamatkan para pedagang. Aku menyuruh lumila untuk membantu para pedagang agar mereka dapat bergerak kembali selama aku mengalihkan perhatian monster ini.
Aku tidak bisa bertarung secara maksimal karena fokusku terbelah saat ini. Aku tidak boleh gegabah karena bisa saja serangan Monster ini malah mengenai para pedagang. Pada saat aku sedang menahan seluruh serangan monster ini, ada segerombolan pasukan iblis yang datang menghampiri ku ,langsung saja aku memasang kuda-kuda untuk bersiap melawan mereka. Namun salah satu iblis berkata bahwa pasukan nya akan membawa monster ini masuk kedalam hutan agar karavan pedagang bisa kabur. Aku lantas terkejut karena para iblis datang bukan untuk melawan kami malah mereka datang untuk membantu kami. Langsung saja aku membantu karavan pedagang untuk kabur dari lokasi tersebut selagi pasukan iblis memancing monster itu masuk kedalam hutan. Karavan sudah dapat berjalan kembali, aku menyuruh lumila untuk mengikuti karavan tersebut sebagai penjaga dan aku akan masuk kedalam hutan untuk mengalahkan monster tadi. Langsung saja aku berlari kedalam hutan mengikuti suara pertempuran yang terjadi dan membantu pasukan iblis. Mereka menyuruhku untuk pergi dan berlindung, namun aku menolak karena aku juga bisa melawan. Akhirnya kami bekerjasama untuk menghabisi monster tersebut. Para iblis bergerak untuk mengalihkan perhatian sang monster agar aku dapat menebas kepalanya dari atas. Akhirnya rencana kami berhasil dan sang monster dapat dikalahkan dengan mudah. Namun pertempuran tidak berhenti sampai disitu. Secara reflek aku langsung menodongkan pedangku ke arah pasukan iblis dan bertanya kenapa mereka malah membantu manusia. Dengan tegas mereka menjawab “Kami datang bukan untuk menyakiti manusia, kami hanya datang untuk menagih janji sang dewa. Kami melawan manusia karena merekalah yang pertama kali mengumandangkan peperangan. Namun di luar itu, mau itu iblis atau manusia, jika mereka sedang dalam kesulitan maka kita harus menolongnya”. Aku hanya bisa terdiam pada saat mendengar hal itu. Iblis itu menyuruhku kembali agar semua orang tidak khawatir dan mereka akan membawa monster ini sebagai hasil buruan pasukan iblis. Saat aku ingin kembali dia pun berkata “Jika memang kita harus bertemu di medang pertempuran, maka jangan ragu untuk membunuhku demi melindungi dirimu sendiri”. Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi dan berharap bahwa kami tidak akan pernah bertemu di pertempuran. Pada saat aku kembali ke rombongan adikku langsung saja memelukku dan memarahi ku karena aku tega meninggalkannya sendirian lagi. Aku meminta maaf kepadanya dan tidak akan mengulanginya lagi. Lumila juga berkata bahwa karavan ini akan membawa kita ke kota sebagai bentuk terima kasih mereka. Sepertinya ini merupakan hal yang baik karena kami dapat masuk dengan mudah tanpa diketahui pasukan HERO. Akhirnya kami melanjutkan perjalan kami ke kota benteng bersama pasukan pedagang. Namun kata kata dari iblis itu masih terus berada dalam pikiranku yang membuatku semakin menanyakan semua hal yang ada. Semoga saja aku tidak bertemu dengannya lagi di medang pertempuran. Semoga saja.
Akhirnya aku sampai dikota benteng, dengan bantuan para pedagang aku dapat masuk dengan mudah pada gerbang utama tanpa pengecekan. Setelah berada didalam aku dan Lumile berpisah dengan para pedagang karena kami memiliki tujuan yang berbeda. Sekali lagi sebelum berpisah para pedagang berterima kasih pada ku dan memberikan beberapa perbekalan untuk perjalanan ku nantinya. Aku hanya bisa menerima rasa terima kasih para pedagang dengan senyum yang lebar dan kami mulai berpisah. Di kota benteng ini aku menemui salah satu temanku yang bekerja sebagai seorang resepsionis guild petualang, dia merupakan teman yang aku temui pada saat ujian masukan pasukan HERO dulu. Namun betapa sialnya bahwa kami sama-sima tidak lolos ujian itu. Namun sekarang aku ini berpikir bahwa hal itu merupakan sebuah keberuntungan bukan kesialan. Temanku ini berkata bahwa dia akan kembali menjadi resepsionis di guild petualang yang ada di kota benteng. Alasan utama aku ingin menemui dirinya karena dialah satu-satunya orang yang ku kenal dan kupercaya di kota benteng ini. Langsung saja aku bersama Lumila bergegas untuk pergi ke guild petualang yang ada di pusat kota. Namun entah kenapa Lumila hanya terdiam membatu tidak ingin bergerak sedikitpun. Aku menanyakan kepadanya apa ada yang salah sehingga dia tidak ingin bergerak sama sekali, pada saat itu tiba-tiba saja dia berbalik dengan pipi yang begitu besar dan berkata bahwa permohonan maaf yang aku berikan tadi masih belum cukup. Dia berkata bahwa cara agar dia dapat memaafkan ku adalah dengan beberapa sate daging dan juga minuman yang segar. Aku tidak dapat mengelak kali ini dan hanya bisa menuruti semua tuntutannya. Setelah aku bilang iya akhirnya Lumila kembali tersenyum dan langsung berlari untuk menuju ke pusat kota. Walau dia tampak seperti gadis imut dengan rambutnya yang putih panjang dengan kuncir kuda, mata birunya serta badannya yang kecil nan ramping. Namun dia dapat melahap banyak sekali makanan yang disajikan untuknya. Memang mau dalam keadaan apapun adikku masih tetaplah adikku yang biasanya.
Setelah adikku puas dengan seluruh makanan yang dia inginkan, akhirnya kami berdua sampai di guild petualangan. Sudah lama sekali semenjak aku terakhir kali masuk ke guild petualang, dimana dulu aku sering sekali mengambil misi di guild petualang untuk mendapatkan uang. Akhirnya aku menginjakkan kaki lagi ke dalamnya, namun aku merasakan ada sesuatu yang tidak mengenakkan di dalam guild petualang ini. Suasana riuh ricuh para petualang yang biasanya terdengar sampai luar bangunan, sama sekali tidak aku rasakan sekarang. Aku kuatkan hatiku untuk menerima apapun yang ada di dalam guild petualang ini. Benar saja. Saat aku membuka pintu guild petualang, aku melihat banyak sekali petualang yang penuh akan luka dan sudah kehabisan tenaga. Tidak ada lagi semangat yang aku rasakan dari mereka, tetapi hanya ada rasa kesedihan dan keputusasaan disini. Aku dan Lumila memutuskan untuk langsung pergi ke resepsionis dan menanyakan apa yang terjadi. Namun resepsionis itu menolak karena dia sedang kelelahan saat ini. Pada saat itulah temanku datang menghampiri ku dari belakang. Ivygor Woshaker, Seorang gadis dengan badan kecil yang begitu imut yang terlihat lemah. Namun dia merupakan seorang gadis tomboy dengan rambut merah pendek yang selalu membawa kapak besar di punggungnya untuk menunjukkan kekuatannya. Gadis yang sering aku panggil Ivy ini merupakan seorang petualang yang dipanggil dengan Julukan pengguncang medang pertempuran. Ivy merupakan teman baikku pada masa pendaftaran pasukan HERO dahulu, dia merupakan seorang gadis yang penuh akan semangat dan selalu memasang senyum lebar di wajahnya. Namun sekarang ini hanya kesedihan yang terlihat pada wajahnya. Dengan penuh kesedihan Ivy menjelaskan keadaan yang terjadi di dalam guild petualang kota benteng. Sudah 2 minggu semenjak pertempuran antar umat manusia dengan pasukan iblis di depan kota benteng dan seluruh anggota guild petualang diharuskan untuk bertarung di garis depan. Aku menanyakan kenapa semua orang kewalahan jika ada pasukan HERO di kota ini. Muka lelah dan sedih Ivy berubah menjadi amarah ketika aku mengatakan hal itu. Ivy berkata bahwa pasukan HERO tidak melakukan apapun selain mengumandakan perang dan menyuruh seluruh anggota guild maju ke pertempuran. Memang seluruh anggota guild dapat menahan serangan iblis tanpa pasukan HERO. Namun hari demi hari terus berperang membuat semangat dan stamina anggota guild menurun drastis. Apalagi banyak sekali anggota guild yang meregang nyawa pada pertempuran ini. Aku mencoba menenangkan Ivy agar dia dapat lebih mengendalikan amarahnya. Namun karena kekuatan nya yang begitu besar membuat ku terlempar ke dinding pada saat menenangkannya. Ivy mulai tersadar dan meminta maaf ketika melihat aku yang sudah terduduk lemah di lantai akibat lemparannya yang begitu kuat. Dia meminta maaf karena dia sudah termakan akan emosi nya dan tidak memperhatikan orang disekitarnya. Aku hanya bisa memaklumi hal itu dan memeluk Ivy sembari memuji seluruh usaha kerasnya sampai saat ini. Ivy yang sudah sangat lelah langsung tertidur di pelukanku, sekarang aku tahu seberapa lelah dirinya pada peperangan ini. Langsung saja aku menghantarkan Ivy ke kamarnya dan menunggu dia pulih kembali esok hari.
Keesokan harinya setelah Ivy beristirahat, dia mulai pulih kembali dan emosi nya sudah mulai stabil. Aku kembali menanyakan kondisi pertempuran yang mereka hadapi saat ini. Sesuai dengan yang dia katakan kemarin bahwa seluruh anggota guild petualang dipaksa untuk maju ke garis depan, dan juga pasukan HERO hanya berada di belakang mereka menyerang dari jarak yang aman. Ivy menjelaskan kembali bahwa pasukan yang mereka hadapi ini sangat sulit untuk dilawan. Sekali pasukan guild petualang ingin maju menerobos pasukan iblis, mereka langsung diserbu dengan beribu panah yang berjatuhan dari langit. Hal ini menjadikan pasukan guild petualang harus mundur karena banyaknya pasukan yang terluka sebelum berperang. Dari informasi yang didapatkan, pasukan iblis ini dipimpin oleh seorang penembak jitu dan juga ahli strategi yang begitu hebat. Namanya adalah Jenderal Yoichi, sang mata elang pembunuh. Dia merupakan seorang Jenderal yang begitu ditakuti karena anak panah nya dapat mengenai setiap targetnya sejauh apapun dia berlari dan menghindar. Pastinya Jenderal ini akan menjadi lawan yang sangat sulit bagi pasukan manusia. Ditambah lagi pasukan manusia tidak bertarung secara maksimal dengan tidak bergabungnya pasukan HERO dan kurang nya strategi yang kita gunakan. Hal ini menjadikan pertempuran kali ini hanya sebuah ladang ranjau kematian bagi pasukan manusia. Aku menyadari bahwa jika kita terus melanjutkan serangan tanpa strategi ini, tidak perlu waktu yang lama maka seluruh pasukan kita akan hancur total. Pada saat aku dan Ivy kebingungan akan kondisi saat ini, Lumila memberi kami sebuah saran untuk melakukan serangan gerilya. Dimana jika kita ingin mengalahkan seorang penembak jitu, kita perlu mendatanginya secara tersembunyi bukan terang-terangan. Mereka akan mudah mengalahkan kita apabila kita terlihat pada jarak pandang dan tembak mereka. Benar sekali, mungkin kita bisa memanfaatkan lokasi perang kali ini yang dekat akan hutan untuk melancarkan strategi ini. Ivy pun menyetujui usulan ini dan langsung pergi ke aula utama guild petualang untuk menyusun strategi yang lebih matang dengan seluruh pasukan yang ada. Akan ada 3 Tim dalam p*********n gerilya kali ini. Yang pertama ada pasukan Assassin yang akan mengintai dan membukakan jalan bagi pasukan kita. Yang kedua ada pasukan Brawler yang akan menjadi pasukan penyerang inti pada strategi ini, aku bersama Ivy akan menyerang lawan ketika mereka sudah terlihat dan mulai lengah. Yang ketiga ada pasukan Support yang berisikan anggota medis, perapal dan juga penembak jitu termasuk adikku. Mereka inilah yang akan menjadi pembantu kami pada saat menyerang musuh nantinya. Seluruh anggota guild menyetujui strategi ini dan mulai mempersiapkan seluruh kebutuhan yang kita butuhkan. Hari ini kami memutuskan untuk beristirahat memulihkan seluruh stamina untuk p*********n ini. Aku yakin kita akan meraih kemenangan pada peperangan ini.
Hari yang telah ditunggu telah tiba, inilah waktunya kami semua pergi ke medan peperangan. Tujuan ku tetap sama, bukan untuk menghancurkan pasukan musuh namun untuk mencari kebenaran dari Jenderal Iblis yang akan kami hadapi. Seberapa penting pedang ini bagi mereka dan apa yang dijanjikan oleh dewa kepada Iblis. Aku juga mengatakan pada seluruh pasukan bahwa fokus kita bukan untuk menghancurkan tapi untuk memukul mundur pasukan lawan agar kota benteng kembali aman. Karena semua sudah siap, kami memutuskan untuk memulai rencana yang sudah dibuat. Kita bersama-sama akan masuk kedalam hutan, tetapi pasukan assassin akan maju terlebih dahulu untuk menginvestigasi keadaan musuh yang ada didepan. Kami pasukan inti menunggu sembari menyiapkan segala hal yang dapat memudahkan pertempuran kali ini. Adikku Lumila juga sudah menyiapkan sihir baru yang dapat dia rapalkan ke dalam busur panah miliknya. Sepertinya Lumila sangat bersemangat dalam pertempuran kali ini, tetapi aku tidak melihat semangat itu pada Ivy. Langsung saja aku berinisiatif menghampiri Ivy untuk menanyai apa yang dia rasakan sekarang. Ivy menjelaskan kepadaku bahwa dia takut kehilangan teman-temannya lagi pada pertempuran kali ini. Sudah beberapa kali dia dan seluruh anggota guild menyerang pasukan iblis, namun hanya kekalahan yang mereka dapatkan. Aku meyakinkan Ivy bahwa peperangan ini akan menjadi kemenangan untuk kita, dengan strategi yang sudah kita susun bersama pastinya kita dapat memukul mundur pasukan iblis. Aku juga menjelaskan keadaan ku sekarang pada Ivy, dimana pedang yang aku bawa ini merupakan hal yang sedang dicari-cari oleh pasukan iblis. Pedang inilah yang memberiku kekuatan sehingga membuatku percaya diri dapat mengalahkan musuh yang ada didepanku. Aku juga memberitahu Ivy mengenai beberapa informasi yang aku dapatkan terkait dengan datangnya pasukan iblis ini dan aku mengatakan bahwa ambisi ku untuk mengetahui kebenaran bukan untuk menghancurkan pasukan lawan. Ivy yang mendengar kan hal ini pada awalnya tidak percaya, namun muka ku yang penuh akan keseriusan membuatnya percaya akan semua hal yang aku katakan. Akhirnya Ivy kembali bersemangat dan kembali menjadi Ivy yang aku kenal dahulu. Ivy tiba tiba mendekat dan berkata kepadaku bahwa setelah peperangan ini, dia akan ikut bersamaku untuk mencari kebenaran yang ada. Sejauh dan sesulit apapun bahaya yang akan dihadapi, Ivy bersedia untuk bertarung disisiku. Hal ini membuatku sangat bersemangat dan bahagia karena aku akan mendapatkan teman perjalanan baru disisiku. Ivy kembali mendekat kepadaku dan membisikkan suatu hal di telingaku “Ketika semua kebenaran sudah kau dapatkan, jadikan aku istrimu atau aku akan menghabisimu dengan kapakku ini”. Perkataan ini membuatku terdiam seketika dan Ivy berjalan menjauh dariku. Perkataan Ivy ini membuatku semakin ingin melindunginya namun juga semakin takut padanya.
Setelah beberapa saat kami menunggu, akhirnya tiba juga laporan dari pasukan assassin mengenai medan pertempuran. Mereka melaporkan bahwa pusat pasukan iblis berada jauh dari medan pertempuran. Hanya ada sedikit pasukan jarak dekat pada pasukan tersebut dan kebanyakan adalah pasukan pemanah. Sudah pasti dengan strategi ini, para iblis dapat dengan mudah mengalahkan musuh yang maju dari arah pandang mereka. Setelah menerima laporan tersebut, secara perlahan kami mulai mendekati titik pusat tersebut. Ketika sampai pada posisi yang sesuai, kami semua menunggu momentum yang sesuai untuk melancarkan serangan. Pada saat itulah aku melihat Jenderal Yoichi, seorang iblis dengan busur panah dan mata yang begitu tajam. Ketika aku fokus melihat dirinya, tiba-tiba saja Jenderal Yoichi membalas tatapan ku itu dan langsung saja mengkoordinasi pasukan nya untuk bersiap menyerang. Kami yang menyadari bahwa posisi kami telah diketahui, langsung saja menyerbu pasukan Iblis. Kali ini kami dapat sampai pada pasukan iblis dengan mudah karena kita sudah berada pada inti pasukan tersebut. Beribu anak panah yang diluncurkan oleh pasukan iblis menghujani medan pertempuran kali ini. Namun kami dapat mengatasi hal itu dengan barrier yang dibuat oleh pasukan support kami. Apalagi pada pasukan support ini terdapat Lumila beserta beberapa pemanah dan juga penyihir yang menyerang musuh dari kejauhan sana. Semua hal ini membuat kami pasukan brawler dan assassin dapat maju dengan mudah. Akhirnya kami berhasil masuk ke camp pasukan iblis, Jenderal Yoichi bersama pasukan nya sudah menunggu kedatangan kami disana. Ivy menginstruksikan kepada seluruh pasukan guild petualang mengurus pasukan jenderal Yoichi, sementara Ivy dan aku yang akan berurusan dengan Jenderal Yoichi. Setelah memberi instruksi, kami langsung menghampiri Jenderal Yoichi. Jenderal Yoichi langsung melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku “Apa yang ingin engkau lakukan dengan pedang itu, engkau sudah tahu kan bahwa pedang itu merupakan barang yang kami cari”. Aku mengiyakan pertanyaan Jenderal Yoichi dan menjelaskan bahwa tujuanku adalah untuk mencari kebenaran bukan untuk menghancurkan. Dengan senyum yang lebar Jenderal Yoichi berkata bahwa pedang itulah yang akan menjadi sumber kebahagiaan bagi bangsa Iblis, hal tersebut merupakan sebuah janji yang diberikan oleh dewa secara langsung kepada mereka. Jenderal Yoichi kembali menjelaskan bahwa sudah sedari lama bangsa iblis menderita di alam iblis yang gersang dan sangat menyedihkan. Sang Dewa tidak pernah mendengarkan doa dan kesedihan yang setiap hari keluar dari bangsa iblis. Hal ini terus berlanjut sampai pada sebuah titik dimana Raja iblis terdahulu mulai muak dan iri ketika melihat bangsa manusia yang hidup dengan bahagia di dunia yang subur. Raja iblis pun memutuskan untuk menyerang manusia demi merebut lahan yang subur tersebut. Jenderal Yoichi pun menyudahi cerita nya karena dia hanya sampai disitu cerita yang dia ketahui. Setelah itu Jenderal Yoichi kembali bertanya “Apa yang ingin engkau lakukan sekarang?”. Aku hanya terdiam setelah menerima sebuah kebenaran yang ada. Namun tiba-tiba Ivy melancarkan sebuah serangan kepada Jenderal Yoichi, dia menyimpan kebencian yang begitu mendalam karena pasukan Jenderal Yoichi telah banyak merebut nyawa teman-temannya. Ivy berteriak kepadaku “Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Berdiam diri dan membiarkan semuanya terbunuh? Ini medan pertempuran kau tahu!”. Benar kata Ivy, saat ini aku sedang berada pada sebuah pertempuran. Aku langsung menyiapkan pedang ku dan membantu Ivy. Jenderal Yoichi kembali tersenyum dan berkata “Sepertinya ini merupakan tempat peristirahatan terakhir ku, berjanjilah padaku 2 buah hal. Tolong temui dan bawa pedang itu pada ratu kami serta berikanku kematian yang terhormat”. Aku menyetujui hal tersebut dan langsung mulai menyerang Jenderal Yoichi bersama Ivy.
Bukan hanya ahli dalam memanah, ternyata Jenderal Yoichi juga ahli dalam pertempuran jarak dekat. Tidak dengan sebuah pedang, Jenderal Yoichi melawan kami dengan busur miliknya yang memiliki sebuah mata pedang di setiap ujungnya. Hal ini membuat Jenderal Yoichi dapat menyerang jarak dekat maupun jauh hanya dengan sebuah senjata saja. Namun yang membuat kami kewalahan bukan senjatanya, tetapi penglihatan dan reflek yang dimiliki Jenderal Yoichi begitu mengerikan. Walau aku Ivy dan Lumila sudah berusaha menyerangnya dari berbagai arah, Jenderal Yoichi tetap saja dapat menghalau semua serangan yang kami lancarkan. Ditambah dengan pedang ku yang cukup besar dan berat, membuat pergerakan ku sedikit lambat dan dapat mudah dibaca oleh Jenderal Yoichi. Aku memakai banyak sekali serangan untuk dapat melukai Jenderal Yoichi, namun dia tetap saja dapat menghindari setiap serangan yang dilancarkan. Kecepatan dan penglihatan merupakan kekuatan dari jenderal Yoichi. Benar sekali, aku harus dapat melemahkan kedua hal itu. Aku meminta Lumila untuk fokus membidik mata dari Jenderal Yoichi, sedangkan Ivy berusaha untuk menghambat pergerakan Jenderal Yoichi dengan menghancurkan pijakanya. Aku yakin Ivy dapat melakukannya dengan mudah dengan kapak dan kekuatan besarnya, sementara itu aku akan berfokus untuk menyerang daerah vital Jenderal Yoichi. Pertempuran kami menjadi semakin mendebarkan, sudah ratusan anak panah yang dilepaskan Lumila namun tidak ada satupun yang dapat mengenai mata dari Jenderal Yoichi. Namun untungnya pergerakan Jenderal Yoichi sudah mulai terbatasi akibat serangan dari Ivy. Aku mulai teringat bahwa Lumila menguasai sebuah sihir api yang dapat menjadi sebuah lampu penerangan. Jika dia menambahkan intensitas kobaran apinya, maka hal tersebut dapat menimbulkan sebuah kilauan cahaya yang begitu menyilaukan. Aku memerintahkan Lumila untuk mengikuti instruksi ku tadi dan mengingatkan Ivy untuk menutup matanya pada hitungan ketiga. Aku menghitung sampai 3 dan memberikan isyarat kepada Lumila untuk menembakkan anak panah tersebut. Benar saja, sebuah kilatan cahaya yang amat terang membuat Jenderal Yoichi tidak bisa melihat untuk sementara. Melihat hal itu aku dan Ivy langsung saja maju untuk menyerang Jenderal Yoichi yang membuatnya harus terlempar cukup jauh. Namun tanpa Ivy sadari, sebuah anak panah yang berisikan bahan peledak meledak tepat di bawah kakinya. Sepertinya Jenderal Yoichi sudah menyiapkan hal itu ketika serangan cahaya itu dilepaskan. Alhasil ledakan itu membuat aku dan Ivy terlempar sama seperti Jenderal Yoichi. Namun pada saat Ivy terlempar di udara, Jenderal Yoichi melepaskan sebuah busur yang dengan tepat nya mengenai bagian perut dari Ivy. Serangan yang cukup fatal ini membuat Ivy langsung jatuh tak berdaya di tanah. Aku yang melihat hal tersebut mulai termakan akan emosi ku dan menaruh kebencian akan Jenderal Yoichi. Emosi dan rasa benci itu cukup kuat sehingga dapat membangkitkan dua Tanda yang ada di tanganku ini. Pada saat itu muncul sebuah bisikan dari pedang yang aku bawa ini “Apa yang engkau inginkan?”. Tanpa ragu aku langsung menjawab bahwa aku ingin sebuah kekuatan yang dapat melindungi orang yang berharga bagiku dan kekuatan untuk menghancurkan orang yang menyakitinya. Tanda sayap di kiri menjadi sebuah sayap hijau kehidupan dan sayap yang satunya menjadi sebuah sayap merah yang berisi kekuatan untuk menghancurkan segala hal. Langsung saja aku menghampiri Ivy dan menyentuhkan pedangku ke luka yang dia dapatkan dari anak panah Jenderal Ieyasu. Dengan ajaib luka yang ada pada perut Ivy langsung tertutup dan Ivy kembali sadar. Setelah itu aku langsung menodongkan pedang ke Jenderal Yoichi dan bersumpah akan mengalahkannya. Dengan senyum yang lebar, jenderal Yoichi berkata “Datanglah dan tunjukkan kekuatan dari sang Dewa”. Tanpa ragu aku langsung saja menghampiri Jenderal Yoichi yang menandakan dimulainya pertempuran yang sebenarnya.
Dengan kekuatan dari pedang ini, sekarang aku dapat dengan mudah menyerang Jenderal Yoichi. Pedang ini memberikan ku penguatan dalam segi kecepatan sehingga aku dapat mengimbangi kecepatan Jenderal Yoichi. Namun semakin lama aku bertarung, aku merasakan kesadaran ku semakin menghilang namun kekuatan ku semakin bertambah. Apakah ini kekuatan dari sayap merah dari tanda kiriku. Semakin aku terlarut akan pertempuran ini maka akan semakin memudar kesadaranku. Aku harus menyelesaikan pertempuran ini sebelum aku kehilangan kesadaranku sepenuhnya. Tetapi masalahnya Jenderal Yoichi bukan lawan yang mudah untuk ditaklukkan. Ini terasa seperti sebuah perlawanan yang tidak akan pernah dimenangkan oleh salah satu pihak dan akan terus berlangsung secara terus menerus. Namun jika terus begini, aku hanya akan kehilangan kesadaranku dan menjadi mesin petarung yang hanya ingin bertarung saja. Selagi kesadaranku masih ada, aku meminta Lumila untuk terus menembakkan anak panah miliknya ke arah Jenderal Yoichi. Pada saat Jenderal Yoichi terfokus akan anak panah Lumila, aku mencoba untuk memberikan sebuah goresan pada mata Jenderal Yoichi. Jenderal Yoichi tidak menyadari seranganku dan membuat dia harus menerima goresan di mata kanannya. Namun dengan reflek yang begitu mengagumkan Jenderal Yoichi juga memberikan sebuah goresan pada mata kiriku sehingga aku tidak dapat membuka mata kiriku. Walau aku harus kehilangan mata kiriku, setidaknya Jenderal Yoichi juga kehilangan mata kirinya sehingga dia semakin melemah. Pada saat aku aku langsung saja meminta Ivy untuk menyerangnya dari kiri sebagai umpan sedangkan aku akan menyerang Jenderal Yoichi dari kanan. Lumila yang paham akan pergerakan ku dan Ivy langsung saja menembakkan sebuah anak panah api yang sama seperti tadi ke arah Jenderal Yoichi. Walau dia sudah tau dan menghindari serangan ini dengan menutup matanya, tetapi dia harus dikejutkan dengan serangan Ivy dari arah kiri. Jenderal Yoichi berhasil menangkis serangan Ivy. Namun itu bukan serangan utama dari strategi ini. Berkat Lumila dan Ivy aku dapat melancarkan sebuah tusukan fatal pada jantung Jenderal Yoichi dengan pedangku ini. Serangan ini membuat Jenderal Yoichi menjadi sekarat tidak berdaya lagi. Namun anehnya dia masih bisa tersenyum pada momen ini. Pada saat terakhirnya dia kembali berpesan kepadaku “Pedang itu sepertinya memang sudah memilihmu, tolong temuilah ratu kami dengan pedang itu. Dan juga adikmu merupakah pemanah yang hebat, berikan busur ku ini padanya”. Sungguh busur yang indah dan kuat, Lumila pasti akan sangat menyukai busur ini. Namun bukan hanya itu, Jenderal Yoichi pun juga memberikan mata kirinya kepadaku, dia berkata bahwa nantinya aku akan membutuhkan mata ini untuk melihat markas sebenarnya dari pasukan iblis. Setelah semua hal dia katakan, akhirnya Jenderal Yoichi menghembuskan nafas terakhirnya. Walau pada akhir hayatya, dia sama sekali tidak tumbang dan mati dengan posisi kesatria. Engkau memang kesatria yang sangat aku kagumi walau engkau musuhku Jenderal Yoichi. Langsung saja aku menyerukan kemenangan kami yang membuat pasukan Iblis harus mundur. Pada saat itu iblis yang aku temui sebelumnya menyampaikan sebuah pesan kepada ku “Pergilah ke dermaga yang ada pada Utara, maka engkau akan temui Jenderal iblis lainnya”. Sepertinya dia sudah tahu akan tujuan ku ini sehingga berani memberikan informasi pada musuhnya sendiri. Sepertinya tujuan ku berikutnya sudah ada didepan mata, aku akan pergi ke tempat yang dia beritahukan setelah beristirahat untuk sementara. Aku langsung menginstruksikan kepada seluruh pasukan untuk pulang kembali ke kota benteng dan mengabarkan tentang kemenangan kita ini kepada semua orang di kota.