bab 3.pernikahan

1204 Words
Nathan merasa sangat kesal dan gugup dalam waktu yang bersamaan. Pasalnya, ia harus menikah dengan seorang gadis yang sama sekali tidak ia cintai. Pernikahan Keira dan Nathan pun dilangsungkan secara tertutup. Sebenarnya, keluarga besar Nathan ingin menggelar pernikahan anak kesayangan mereka dengan sangat mewah. Namun semua itu ditolak mentah-mentah oleh Nathan, meskipun seluruh anggota keluarga telah membujuknya. Setelah akad pernikahan selesai, Nathan langsung membawa istrinya ke rumah yang telah dibelikan oleh sang ayah. Rumah itu sangat indah dan mewah. Keira yang baru turun dari mobil terpaku menatap bangunan besar yang kini akan menjadi tempat tinggalnya. Sebuah rumah yang bahkan tak pernah masuk ke dalam bayangannya untuk sekadar didatangi, apalagi dihuni. Dua orang pelayan keluar dari rumah mewah itu, keduanya membungkuk hormat saat melihat sang majikan telah datang. “Kalian kembali ke rumah. Kami bisa membawa barang sendiri,” ucap Nathan dingin. Kedua pelayan itu pun langsung menuruti perintah tuannya dan kembali ke rumah orang tua Nathan. Keira yang sejak tadi membuntuti langkah Nathan memasuki rumah hanya bisa diam. Hingga akhirnya mereka berhenti tepat di depan tangga saat Nathan bersiap naik ke lantai atas. “Kamar kamu di sana. Saya di atas,” ujar Nathan singkat sambil menunjuk sebuah kamar. “Jangan membuat keributan sedikit pun, karena saya tidak suka itu.” Setelah mengatakan hal tersebut, Nathan langsung melangkah pergi menuju kamarnya. Keira pun masuk ke kamar yang ditunjukkan Nathan. Kamar itu tampak polos dan sedikit berantakan. Bahkan sprei dan sarung bantal pun belum terpasang. Ia takut untuk bertanya pada Nathan, sehingga memberanikan diri membuka lemari dan mendapati sprei serta sarung bantal tersimpan di dalamnya. Perlahan ia mulai membereskan kamar tersebut. Barang bawaan Keira pun sangat sederhana—hanya beberapa potong pakaian dan beberapa buku kuliah. Setelah semuanya rapi, rasa lelah langsung menyerangnya. Tanpa pikir panjang, Keira memilih untuk beristirahat dan memejamkan mata. Sementara itu, di kamar lantai atas, Nathan tengah mengguyur tubuhnya di bawah shower, mencoba menyegarkan pikirannya yang sangat kacau. Gara-gara kejadian malam itu, ia kini terikat dalam sebuah hubungan dengan seseorang yang bahkan tidak ia kenal dengan baik. Setelah selesai mandi, Nathan berjalan menuju ranjang dan segera merebahkan tubuhnya. Kamar Nathan sangat rapi, jauh berbeda dengan kamar yang ditempati Keira. Kamar itu lengkap dengan kamar mandi besar, ruang ganti, serta rak buku yang memenuhi salah satu sisi ruangan. Malam itu, pasangan suami istri tersebut duduk berhadapan di meja makan dengan suasana yang sangat sunyi. Hanya terdengar bunyi sendok dan piring yang saling bersentuhan. Mereka makan malam sebelum tidur, sekaligus Nathan ingin menyampaikan aturan-aturan yang berlaku di rumah itu. “Keira, sebelum tidur saya ingin menyampaikan peraturan yang ada di sini,” ucap Nathan datar. “Selama kamu tinggal di rumah ini, kamu harus menyiapkan makanan untuk saya. Kamu akan memasak jika saya minta. Untuk urusan bersih-bersih akan ada pembantu yang datang, begitu juga dengan kebun.” Nathan berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Karena kamu sekarang istri saya, semua kebutuhan kamu akan saya penuhi, termasuk kuliah kamu. Saya akan memberi kamu lima juta per bulan. Kalau kamu butuh buku, bilang saja, nanti saya belikan. Besok kita juga akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan kamu. Sekarang kamu bisa tidur. Ingat, selama kamu di sini, jangan pernah membuat keributan.” Keira tak berani mengeluarkan suara sedikit pun melihat wajah Nathan yang datar dan dingin, terasa begitu menyeramkan. Ia hanya mengangguk pelan, lalu bangkit dan pergi ke kamarnya tanpa berkata apa-apa. “Mungkin ini awal dari segalanya,” gumam Keira lirih sambil menahan rasa sesak di dadanya. “Semoga suatu hari nanti kakak bisa menerima Keira dan calon anak kita, dan kita bisa hidup bahagia. Tapi aku sadar, kakak nggak akan pernah melirikku. Aku terima itu, asal kakak mau menyayangi anak ini kelak.” Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Keira, Nathan, dan mertuanya kini tengah berada di rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan Keira yang telah memasuki usia dua bulan. Ibu Nathan terlihat sangat antusias menyambut calon cucu pertamanya. Keira pun ikut bahagia melihat perkembangan calon anaknya. Berbeda dengan Nathan yang tetap memasang wajah datar tanpa ekspresi. Setelah pemeriksaan selesai, mereka duduk di hadapan dokter untuk mendengarkan penjelasan. “Kondisi kandungan istri Anda baik, jadi tidak perlu khawatir,” ujar Jordan, dokter yang memeriksa Keira. “Namun karena usia kandungan masih muda, perasaan istri harus dijaga agar tidak mengalami stres dan jangan sampai kelelahan. Itu sangat berpengaruh pada kehamilan. Ini resep obat dan vitamin yang harus dikonsumsi, dan sebaiknya kontrol dilakukan setiap dua minggu sekali.” “Baik, terima kasih, Dokter,” jawab Nathan singkat. “Kami permisi.” Ketiganya keluar dari ruang dokter. Tak lama kemudian, Nathan pamit untuk kembali ke kantor dengan alasan ada rapat. Sebenarnya ia memang tak ingin berlama-lama bersama Keira. Keira sendiri memilih pulang ke rumah setelah makan siang bersama ibu mertuanya. Niatnya ingin beristirahat, namun gagal saat ponselnya berdering. “Halo, Yah,” jawab Keira lembut. “Keira, ayah minta uang lima juta besok ya,” ucap suara di seberang. “Jam sepuluh tiga puluh sudah harus kamu kasih ke ayah. Jangan sampai telat.” “Uang? Keira lagi nggak punya uang, Yah,” jawabnya pelan dengan nada takut. “Kamu ini masih aja nggak berguna,” bentak ayahnya. “Padahal kamu sudah nikah sama orang kaya. Dasar pelit sama ayah sendiri. Pokoknya ayah nggak mau tahu, besok harus ada uangnya. Kalau nggak, ayah sendiri yang minta ke suami kamu.” Sambungan telepon terputus begitu saja. Keira hanya bisa menarik napas berat. Ayahnya memang selalu seperti itu—meminta uang, dan jika tak diberi, caci maki yang ia dapatkan. Baru sehari menikah, ia sudah diminta uang sebanyak itu. Ia yakin uang tersebut akan kembali dihabiskan untuk berjudi. Jam menunjukkan pukul delapan malam, tanda Nathan akan segera pulang. Setengah jam sebelumnya, Nathan telah memintanya memasak nasi goreng ayam suwir. Ini adalah kali pertama Keira menyentuh peralatan dapur. Sejak kecil, ia selalu dilarang membantu ibunya memasak. Jadi jangan heran jika masakannya jauh dari kata sempurna. Dengan bantuan Google, Keira mulai memasak dengan penuh kehati-hatian. “Akhirnya selesai juga,” gumamnya pelan. “Rasanya nggak terlalu buruk. Semoga kak Nathan suka.” Beberapa menit kemudian, pintu utama terbuka, menampakkan sosok Nathan yang tampak lelah dengan kemeja yang sudah tak rapi. Tanpa sepatah kata pun, ia langsung naik ke lantai dua. Keira tetap setia menunggu di meja makan hingga Nathan selesai mandi dan turun. “Duduk dan makan. Jangan berdiri seperti robot yang selalu diperintah,” ucap Nathan dingin. Baru saja Keira mengangkat sendok, suara benturan keras terdengar. Nathan membanting sendok ke piring setelah mencicipi nasi goreng buatan istrinya. “Kamu mau meracuni saya?” bentaknya keras. “Ini makanan untuk manusia atau tikus? Rasanya nggak karuan!” Tubuh Keira bergetar hebat karena ketakutan. “Ma-maaf, Kak,” cicitnya. “Ini pertama kalinya Keira masak, jadi rasanya masih kurang.” “Kalau nggak bisa masak, harusnya belajar,” ujar Nathan tajam. “Saya nggak mau tahu. Ke depan, kalau saya minta kamu masak, harus sudah enak. Biar saya nggak sia-sia menghidupi kamu selama kamu masih jadi tanggung jawab saya.” Setelah mengatakan kata-kata yang begitu menyayat hati, Nathan langsung pergi menuju kamarnya. Keira hanya bisa menangis dalam diam. Kata-kata suaminya terus terngiang di kepalanya. Ia merasa tak berguna, hanya menjadi beban. Jika terus seperti ini, ia yakin Nathan akan selalu marah setiap kali bersamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD