Seorang Wanita Cantik

3921 Words
"Selamat pagi Tuan." "Selamat pagi Tuan." "Selamat pagi Tuan." Semua karyawan tersenyum ramah menyambut menyambut pemimpin perusahaan baru. Mereka sudah menunggu lama sekali, tidak sabar ingin melihat seperti apa pemimpin perusahaan mereka yang baru ini. Sebagian besar karyawati yang terus-menerus membahas tentang wajah orang yang akan memenangkan perusahaan mereka. Apakah tampan? Atau biasa-biasa saja? Dan sekarang mereka tahu jawabannya. “Selamat pagi…. selamat pagi, ”balasnya pada semua karyawannya. Sepanjang lobi menuju ruangannya, ia terus memberikan senyum manis pada semua orang yang dilaluinya, membuat tampakan yang semakin meningkat kadar ketampannya. Sungguh hal itu membuat para karyawatinya meleleh, memang sederhana. Sampailah pria itu di ruang kerja barunya. Duduk di kursi kebesarannya, coba nikmati bagaimana rasanya menjadi bos di perusahaan besar termasyhur di kota. Seorang wanita tinggi semampai masuk ke ruangannya setelah mengetuk pintu dan diizinkan masuk terlebih dahulu. Wajahnya model bak, namun menunjukkan ketidakramahan pada orang yang berada di hadapannya alias pimpinan perusahaannya. Ia tidak berlama-lama di sana, hanya memberikan file dan menjelaskan tentang file itu seadanya, file itu berisi jadwal-jadwal pertemuan para pemimpin perusahaan. Dan kompilasi ia rasa selesai, maka ia keluar dari ruangan. Pria itu ― bos ― membaca semua jadwalnya dengan sangat fokus, tiba-tiba ponselnya berdering menampilkan sebuah notifikasi. Ternyata itu adalah pesan dari tantangan.   Dari: My Dad Kamu terlambat Kepada: Ayahku Siapa bilang? Dari: My Dad Shanal (sekretarismu) "Oh pantas saja, mukanya kelihatan tidak senang." Kepada: Ayahku Serius Ayah, ayah tidak memanggilku, hanya menelepon pria-mengobrol. Ayah tidak merindukanku? Dari: My Dad   "Aku tidak tahu Ayah. Apakah saya dapat melakukan tugas ini dengan baik dalam waktu yang Anda tentukan. " ucapnya lagi-lagi pada diri sendiri. ••• Jam sudah mulai pukul 5 sore, waktu pulang kantor tiba. Setelah melalui hari yang panjang, rapat, acara penyambutan pemimpin baru, tampan yang ingin pulang ke apartemennya. Di parkiran ia melihat Shanal, memutuskan menghampirinya. "Shanal," yang berbicara menoleh ke sumber suara. "Ya, ada apa Tuan?"  "Aku hanya ingin meminta maaf padamu." Ucapnya lembut "Ya ampun, Tuan tidak perlu meminta maaf, hanya karena hal sepele," balas Shanal tidak enak, ia tahu untuk apa permintaan maaf sang Tuan. "Bagiku telat di hari pertama adalah masalah, bukan hal sepele," jeda sekian detik. "Hingga seseorang melapor pada Ayahku dan orang itu tidak ramah melihatku" lanjutnya. “Aku hanya menjalankan tugas,” perasaan Shanal semakin tidak enak, “dan itu adalah permintaan langsung dari Pak Keshavmal. Dan aku akan mendapatkan persetujuan jika tidak menurutinya. Maaf Tuan karena aku tidak ramah padamu. Itu karena aku sedang kesal pada seseorang hari ini, jadi aku kesal ke semua orang. Kau tahu kan di ruang rapat aku membentak siapa saja. Aku mohon maaf, tidak seharusnya aku suka itu. ” Wajah Shanal menunduk dalam. "Sudahlah," balasnya, kedua sudut bibirnya tertarik. "Mau aku antarkan pulang?" tawarnya “Saya pulang bersama Pankaj, Tuan,” tolak Shanal halus. “Ohh..Kalau begitu aku duluan,” ucapnya sebelum berjalan ke Arah mobilnya. Berkendara hati-hati dan menyetir sendiri adalah kebiasaannya, ia tidak suka harus memakai sopir. Tak lama orang yang bernama Pankaj datang menghampiri Shanal setelah menjemput motornya di ujung parkiran. •••   Hari sudah menggelap, jam berlalu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Belum ia masih mengemudi, belum sampai tujuan (Apartemennnya). Sebenarnya jarak kantor dan apartemennya sangat dekat hanya butuh waktu 15 menit. Ia ingin berkeliling kota. Tiba-tiba di tengah jalan yang sunyi dari kendaraan dan hiruk pikuk kota, ia diadang oleh lelaki yang bisa dibilang gemuk tetapi tidak terlalu, sedang menjambak rambut seorang wanita. Wanita cantik itu terlihat sangat kesakitan dan terus berteriak, tanpa pikir panjang lagi, ia segera memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan menolong wanita itu. "Hei berengsek lepaskan wanita itu," "Keluarkan uangmu, maka aku akan melepaskan wanita ini." Sahut lelaki yang disebut berengsek itu. "Tidak akan," pria itu bersiap-siap untuk menggantikan lelaki berengsek itu. "Jangan Tuan," larang wanita cantik sambil mengangkat bahu setinggi bahu ke depan, telapak tangan menunjuk ke wajah pria yang akan menolongnya. "Jangan kotori tanganmu untuk memukul orang ini," masih dengan rambut yang dijambak, wanita itu tidak takut melawan kalimat pedasnya. "Pergilah Tuan aku bukan apa-apa," lanjutnya. “Sudah…! Kamu tidak perlu banyak bicara kalau kamu masih ingin bernafas, ”tarikan rambut semakin terasa kuat. "Dan kau—," tunjuk lelaki berengsek ke depan. "Cepat keluarkan uangmu agar wanita ini selamat kalau kamu tidak mau ya sudah pulang dari sini segera." Pria itu mendekat lagi tanpa ragu, wanita itu mengernyit, dan lelaki berengsek juga bingung. "Berapa?" tanyanya Lelaki berengsek tidak menjawabnya. Aneh saja rasanya melihat orang yang ada di hadapannya itu menanya sebanyak. “Tuan, kau tidak perlu mengeluarkan uangmu untuk lelaki b******k ini hanya karenaku. Kau pergilah, Aku tidak ingin kau terlibat,” pinta wanita itu. “Ini uangku, ambilah dan pergi sekarang dari hadapanku!!” teriak pria itu keras. Membuat lelaki berengsek dan wanita itu bergidik ngeri. Pria itu memberikan (melemparkan) uang yang sangat banyak pada lelaki berengsek itu, semua yang ada di sakunya ia keluarkan tanpa perlu berpikir panjang. Baginya keselamatan wanita itu lebih penting dari uangnya. Lelaki berengsek itu menatap seikat uang yang tergeletak di jalan itu. Berpikir sebentar sebelum akhirnya mengambil onggokan uang itu. “Ambil wanitamu ini aku tidak membutuhkannya lagi,” lelaki berengsek melemparkan wanita itu ke arah pria itu dan raib entah kemana. Dengan sigap pria itu meraih tubuh wanita itu dalam pelukannya. "Kau tidak apa-apa?" Tanyanya khawatir. Wanita itu menggeleng Pria itu meraba kulit kepala wanita itu, “apa kepalamu tidak sakit? Kamu baik baik saja? Yakin? " tanyanya lagi. Wanita itu melepaskan tangan pria itu sambil melepaskan jarak, tersenyum dan menggelengkan lagi. "Kalau sakit, ya, jangan sakit, jangan hanya menggelengkan saja," tegas pria itu. “Terima kasih Tuan, kau sangat baik, aku berutang budi padamu dan juga berutang uang. Jangan khawatir Tuan aku akan membayar salah satu utangku. "Ucap wanita itu. "Astaga tidak perl—" “Apanya yang tidak perlu? Kamu pikir aku tidak sanggup membayarnya. ” Beberapa detik, “berikan alamat atau nomor teleponmu. Agar aku mudah pulih dan aku bebas dari utang. ” Pria itu menyipitkan, “sudah kubilang tidak perlu. Aku ikhlas membantumu. Tolong berhenti membicarakan tentang uang itu, aku muak mendengarnya, ”pintanya "Enak ya jadi orang kaya membahas tentang uang hanya saja sudah muak, jika orang miskin mana ada muaknya." Celetuk wanita itu. Wanita itu mengira akan mendapat tatapan tajam dari pria yang ada di hadapannya, tapi dia setuju pria itu tertawa mendengarnya. Tawanya sangat keras, membuat wanita itu tersenyum. "Ayo aku antarkan pulang!" ajaknya setelah bersusah payah berhenti tawanya. Wanita itu tersenyum, "tidak perlu Tuanmu pulang saja ini sudah malam pasti orang tuamu cemas di rumah mencarimu karena kamu sudah lama sekali pulangnya." Pria memegang tawanya dengan menutup mulutnya. Kalau terus-terusan tertawa bisa-bisa sakit perut. Kau pikir aku anak mama papa batin pria itu "Kau yang harusnya dikhawatirkan, ayo cepat masuk ke mobilku," pintanya sekali lagi. "Aku tidak ingin merepotkanmu ....." sambil melangkah "Tapi-" Untung saja pintu mobilnya tidak kukunci kalau tidak malulah dia batin pria itu. Lucu sekali melihat tingkah wanita itu. Sekali lagi ia ingin dibuatnya. Sambil menggeleng-geleng kepala ia masuk ke mobilnya. •••   Wanita itu bersenandung ria di dalam mobil. "Hm hm hm hm hmm." Hanya dia dan Tuhanlah yang tahu lagu apa yang sedang disenandungkannya. “Maaf Tuan, sepertinya kamu tidak suka aku bersenandung…. dan ya aku juga berisik ... Aku tahu itu. Tapi itu adalah hobi sekaligus kebiasaan. Aku tahu kau tidak suka, kelihatan sekali dari diammu. " "Oh." Balasnya pendek. Hanya oh? Apa maksudnya? batin wanita itu. “Minta aku memperkenalkan diri agar aku tidak diam saja dan kau tidak mengira-ngira apa yang ada dalam pikiranku. Namaku Govardhan Joshi. Panggilan sayangku Gappu. " Wanita itu tertawa sebentar. "Ada yang lucu?" Tanya Gappu. Wanita itu menggeleng. "Letakkan Gappu aku—" "Hanya orang yang istimewa dalam hidupku yang mengundangku begitu!" potong Gappu cepat. "Aku—" "Ya kamu boleh mengundangku dengan nama itu, karena aku bosan mengundang tuan-tuan olehmu." Potongnya lagi. Hobi sekali dia memotong kata-kataku . Lagi-lagi wanita itu membatin. Menimpali ucapan Gappu dengan senyum yang dipaksakan semanis mungkin. "Aku istimewa?" tanyanya kepedean dengan mata berbinar. Yang dibalas dengan senyuman Gappu. “Gappu… nama yang buruk tapi unik dan lucu. ”Celetuk wanita itu. Gappu memandang wanita itu sebal, tidak terima namanya dibilang buruk. "Gappu Pappu beda tipis ya?" sambung wanita sambil tertawa ringan. Gappu bingung mendengarkan ucapan lawan lawan bicaranya. "Tidak bisa mengerutkan kening nanti, gantengnya berkurang." Ucap wanita itu lagi sambil menunjuk kening Gappu. "Siapa Pappu?" Tanya Gappu menginterogasi, matanya menyipit. “Orang yang memerasmu tadi bernama Pappu. Beda tipis kan? Untung hanya nama. " Jawab wanita itu. Gappu semakin penasaran dengan wanita yang ada di sebelahnya. "Bagaimana Anda tahu?" tanyanya. Wanita itu meneguk ludah. “Dari tadi kau tidak mengerti Inggris, Kenapa sekarang kau mau Inggris? Aku tidak tahu apa yang kau katakan. Aku bukan sepertimu yang berpendidikan tinggi. ” "Oh, maaf. Memang saya sudah menggunakan Bahasa Hindi selama 2 hari. Tapi kebiasaan sulit Inggrisku sulit sekali kulepas. ” Ucap Gappu sambil memegang jidatnya. "Tidak apa." Sahut wanita itu. Ia menopang dagunya, sikunya bertumpu di pahanya dan diarahkan menuju Gappu, memusatkan perhatian memandang wajah pria tampan disebelahnya. "Jangan menatapku seperti itu." Gappu yang berfokus menatap ke depan tiba-tiba membuka mulut membuat wanita itu terperanjat. “Ya bisa gawat kalau terus-terusan menatapmu. Bisa-bisa diabetes. " Balasnya tak mau kalah. Gappu tertawa lagi membuat orang yang sedang diajak ikut-ikutan tertawa. "Tidak mau cerita gitu?" Tanya wanita itu setelah berhenti tawanya. "Nanti kau bosan jika aku cerita." "Tidak apa-apa yang bosan karena bingung." Sahut wanita itu. "Kau tahu Baseshwarnath Joshi?" Tanya Gappu. "Ya, tentu saja. Dia meninggal 10 tahun yang lalu dan seluruh orang di kota ini menangisi kepergiannya. ” "Dia adalah kakekku." Jawab Gappu. Wanita itu menggeleng, "Tidak mungkin!" “Kenapa tidak mungkin? Kau tidak percaya padaku. " “Jayant Joshi tidak pernah menikah dan mana yang mungkin dia miliki anak. Dan dia meninggal minggu lalu bukan? ” Tegas wanita itu.  Gappu tersenyum, “Kakekku memiliki dua orang putra. Jayant Joshi adalah pamanku. Ayahku bernama Keshavmal Joshi. Tidak banyak yang mengenalnya karena kami lama menetap di London. Dia tidak begitu tertarik dengan perusahaan keluarga, jadi di London dia mulai usaha sendiri, usaha kuliner. Dan sebenarnya saya masih kuliah di Universitas Oxford untuk S3. Empat bulan lagi aku tamat. Seharusnya Ayahku yang menentukan posisi Pamanku di perusahaan warisan Kakekku itu, mau tidak mau. Tapi berhubung kampusku memberikan libur, Ayahku menugaskanku mengatur perusahaan untuk beberapa hari ke depan. Hanya 5 hari tidak lama, baru setelahnya dia yang akan menerima langsung. Dan disinilah aku di Mumbai. " Panjangnya pasti lebar. Wanita itu manggut-manggut. “Akhirnya semua pertanyaan di benakku terjawab. Terima kasih." “Jangan ucapkan terimakasih, aku bosan mendengarnya. Dan kata maaf juga ya? " "Ya. Belok kanan. " Wanita itu memanggil senyumnya dengan menolehkan kepala ke Gappu melihat. "Hans mat pagli pyaar ho jayega." Wanita itu terkesiap mendengarnya, sontak menoleh ke sumber suara. Sorot mata penuh tanyanya terlihat jelas. "Apa? Aku hanya bernyanyi. " Tanpa menjelaskan Gappu menjelaskan. “Suaramu buruk. Jadi tidak usah bernyanyi. ” Balasnya sengit. "Boleh—" "Boleh aku Tanya Apa kau punya pacar?" sela wanita itu cepat. Seolah ingin membalas dendam pada Gappu yang sebelumnya suka memotong ucapannya. "Tidak." "Kenapa? Apa tidak ada yang memilih gadis London yang menyukai seorang Gappu yang tampan ini, ”ledeknya. "Jangan mengejek!" tangan Gappu teracung ke samping, tepat di depan wajah wanita itu. "Aku yang tidak menyukai mereka." Sambungnya. "Ohhh Lupakan!" tangan wanita itu dikibaskan ke depan. “Bagaimana rasanya tinggal di London? Pasti enak sekali. " Tanyanya setelah berfikir, telunjuknya diletakkan di dagunya. "Biasa saja." Jawabnya enteng. “Aku selalu bermimpi pergi ke sana. Dari kecil hingga sekarang mimpiku tetap sama. Dan aku sangat senang kompilasi. Ujar wanita itu, matanya berubah sendu. "Kalau begitu, kepak barangmu malam ini aku akan mengantarmu ke London besok." Hibur Gappu. “Tidak berhasil sok melucu! Kau tidak ahlinya, kau harus banyak belajar denganku. ” Ucapnya ketus seraya memukul lengan Gappu. "Aku tahu—" "Berarti Ayah dan Ibumu masih berada di London?" "Ya. Mereka akan datang kesini setelah 5 hariku selesai. " Jawab Gappu “Semoga kamu bisa menyelesaikan 5 hari itu dengan baik. Tunjukkan bahwa kau tak kalah hebat dibandingkan Kakekmu, Pamanmu, dan Ayahmu. Tunjukkan terbaik yang kau bisa! ” "Pasti .. Pasti." “Kau tahu lagu yang kusenandungkan tadi judulnya I Found Love. Kau tahu apa artinya. " Tanya wanita antusias. "Ohh ya judulnya I Found Love?" Bukannya menjawab, Gappu malah bertanya balik .. “Iya Gappu. Apa artinya? ” "Aku menemukan cinta." Jawab Gappu singkat. "Coba nyanyikan!" pintanya. "Suaraku sangat buruk seperti radio rusak, tapi suaraku masih lebih bagus dibandingkan suaramu." Ledeknya. "Sombong sekali." Cibir Gappu. "Ngomong-ngomong itu lagunya asli buatan India loh bukan buatan Barat." Ucap wanita itu setelah selesai menyenandungkan lagu itu lagi. "Benarkah?" Tanya Gappu tidak percaya. "Iya. Berhenti disini sudah sampai. ” Ujar wanita itu. "Sudah kubilang aku akan mengantarkanmu pulang." "Meminta kau tidak percaya kalau bangunan buruk itu adalah rumahku." Ucap wanita itu. "Sangat sangat tidak percaya." Jawab Gappu cepat. "Dan kau pasti tidak percaya kalau aku mengatakan lelaki berengsek yang memerasmu tadi adalah suamiku." Ucapnya pelan, dan terdengar getar dalam suara itu. "Apa?!! ”Pekik Gappu. "Tidak bisa seperti itu." Ucap wanita setuju, “Kau keluar dari mobil itu, maka firasatku mengatakan bahwa kau orang baru di Mumbai. Dan ternyata benar setelah mendengar ceritamu. ” Jelas wanita itu sambil memegang air mata yang sudah memenuhi pelupukanjangan. Sementara Gappu hanya bisa terdiam, ingin mendengarkan kelanjutan dari penjelasan wanita yang masih duduk di kursi penumpang mobilnya. Gappu bergulat hebat dengan pikirannya, Bagaimana bisa wanita yang beberapa menit yang lalu terus-menerus menginstal sambil tertawa mendapat masalah yang benar-benar pedih? Takdir yang buruk dan yang malang? “Selalu..selalu setiap malam itu adalah pekerjaannya. Menggunakanku layak untuk melawan dan memeras orang yang lewat dari jalan itu. Jalan yang selalu menjadi andalannya untuk melakukan pekerjaan yang buruk karena itu sunyi dan biasanya yang lewat satu dua orang jadi dia bukan kena hajar. Sudah banyak orang yang diperasnya dan orangnya juga sudah bosan melihat hal itu. ” Wanita anggota air mata di pipinya, “Dan kau tahu? sebelum kau berhenti tadi, dia sudah menyetop 10 mobil mewah dengan dikembalikan yang tak lepas dari rambutku. Namun tidak ada yang mau berhenti. Karena itu adalah pemandangan yang sering dilihat mereka tidak mau diperas. ” Lanjutkan. "Lalu apakah setiap dia sudah mendapatkan uang, dia akan melepaskanmu?" Gappu bertanya ragu-ragu, sangat ingin tahu akan hal itu. "Kau lupa dialognya tadi sebelum raib entah kemana?" wanita itu bertanya balik. Gappu tidak mengerti maksud wanita itu. Karena wanita itu tidak langsung menjawab pertanyaannya. Wanita itu menjawabnya dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru. Membuat Gappu semakin bersemangat ingin segera menguak teka-teki tentang kisah hidup wanita itu. "Ternyata benar kau lupa, kau menganggap dialog itu tidak penting, padahal itu adalah poin utama untuk menjawab pertanyaanmu barusan." Tegas wanita itu. Gappu menyernyitkan keningnya, "Ambil wanitamu ini." "Ya itu dialognya tadi tapi itu kurang lengkap." Wanita itu membersihkan tenggorokannya sebelum kembali berucap, “Dialog lengkapnya adalah Ambil wanitamu ini aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Itu versi lengkapnya, jadi kamu mencari jawaban dari pertanyaanmu sendiri di dalam dialog itu. Aku tidak akan menjelaskannya sanggup. ” "Kau harus menjelaskan semuanya sebelum pergi ingin takal kepalaku menyerahkan tanda tanya dan semua tanda tanya itu tentangmu!" Ucapnya sambil memegang tangan wanita yang keluar dari mobilnya. “Kau cukup pintar untuk mengetahuinya sendiri. Lepaskan tanganku. " "Tidak! Aku tidak akan mengizinkanmu keluar dari mobil ini. Ceritamu belum lengkap. Lelaki berengsek itu adalah suamimu, ya? Itu sangat sulit dipercaya kau tahu? ” wajah Gappu mulai memerah karena marah. “Apa yang membuatmu sangat marah? Bukannya aku orang baru kau temui beberapa menit yang lalu belum sampai satu jam kau mengenalku? Kalau dipikir-pikir aku suka orang penting dalam hidupmu. Kenapa kau sangat ingin tahu tentangku? Dan kau sangat marah karena pertanyaanmu bukan kujawab. Lagian itukan tidak penting untuk kauketahui. ” Berang wanita itu. Gappu menarik napas dalam-dalam. "Yang membuatku sangat marah kau setiap malam menjadi umpan untuk memeras orang-orang tapi kau ... kau senang jadi-olah dia bukan siapa-siapa. Mungkin jika wanita lain yang berada di posisimu mereka tidak mungkin sanggup. Kau dengan wajah seolah-olah tidak mau mengganggumu itu membuatku kesal sekaligus marah. Kamu hanya sedikit membaca dan menyimpan begitu banyak sakit itu sangat membuatku marah. Kau yang membuatnya apa pun yang terjadi padamu itu adalah hal yang wajar juga sangat membuatku marah. Kau yang ingin membayar uang perasan suamimu itu. Dan kau yang berbincang santai bersamaku tanpa beban, aku ingin tahu tentang kisahmu lengkap.  Ucapan Gappu mengundang rasa haru di hati wanita itu, udara lolos dari sudut pandang tanpa henti dan dibiarkan begitu saja tanpa diusap. “Aku tidak ingin membagi penderitaanku pada orang lain. Aku yakin setelah mendengar kisahku, kamu akan menangis. Aku hanya ingin membuat orang lain tertawa dan tersenyum. ” Ujarnya sambil tersenyum manis. "Tidak apa-apa menangis karena bingung." Celetuk Gappu mencoba mengingatkan wanita itu pada kata-katanya sendiri. Wanita itu mengusap udara sambil bersandar. Ia mempersiapkan diri untuk memulai ceritanya dengan senyum. “Seperti yang kubilang bernama Pappu. Sebelum menikah aku tidak kenal dia dan dia tidak kenal aku. Hari dimana usiaku genap 20 tahun Ayahku mengenalkanku, dia datang ke pesta ulang tahunku yang super mewah di rumah Ayah. Ayah memang sudah lama mengatakan kalau dia akan mengenalkanku dengan laki-laki. Tapi dia laki-laki tampan, pintar, santun santun, ramah, kaya, dan sangat baik sekali orangnya. Tentu saja sudah lebih dari cukup untuk seorang wanita. Aku hanya bisa mempercayai apa yang Ayah katakan dan sangat mengejutkan mengkompilasi rupa dan prilaku asli pria itu jauh sekali dari deskripsi Ayahku. Tanpa disangka-sangka akhirnya rencananya tidak akan disitu. Dia menjodohkanku dengan lelaki itu. Dan aku baru tahu hal itu 4 hari meminta pernikahan, semua persiapan pernikahan telah dilakukan tanpa sepengetahuanku. Aku hanya mampu menuruti apa yang Ayah perintahkan, aku tak mampu menolak. Ya inilah akhirnya. " "Ayahmu tidak tahu sifat asli pria itu?" Tanya Gappu. "Ayahku sangat mengenal sifat asli si berengsek itu." "Loh?" Gappu bingung. “Aku dan ayahku tidak seperti orang lain. Seorang Ayah yang sangat menyayangi putrinya, memilih tipe ayahku. Dia seperti menjaga jarak dengan aku dari paham kecil akan hal itu. Dia hanya menyayangi kakak laki-laki, tidak pernah peduli tentangku. Seumur hidup hanya satu kali dia ingat hari ulang tahunku dan mengambil tanggung jawab dia membuat pesta mewah hanya karena ada maksud tertentu. Kau tahu saat dia dinilai akan mengadakan pesta ulang tahunku, aku merasa menjadi anak yang paling beruntung di dunia ini. Rencana busuknya cepat Rencana terbesarnya adalah cepat-cepat melepaskan aku dari rumah, karena menyetujui aku adalah benalu ”terang wanita itu. “Bagaimana dengan sosok Ibumu? Apa dia tak jauh beda? ” Gappu menginterupsi. “Jangan berpikiran buruk tentang Ibuku! Dialah satu-satunya suasana hati boosterku dalam pembicaraan hidup. ” Tegas wanita itu tidak terima. "Maaf." “Kalau dia masih ada dia akan merencanakan Ayah dari rencana busuknya. Tapi dia sudah tenang di sana sejak aku masih tinggal 5 tahun. ” Lagi-lagi wanita itu menampilkan senyum. Senyum andalannya agar orang tidak iba ditangkap. Selamat salut pada wanita itu. Mengingat bagaimana wanita yang dia temui selama ini adalah wanita yang hanya mempertimbangkan harta dan tidak mau melepaskan derita. Bukan pacarnya tapi pacar teman-peserta. "Bagaimana dengan kakak laki-lakimu?" Tanya Gappu akhirnya setelah selesai memandangi wanita itu. “Dia jauh berbeda dari Ayahku. Aku rasa sudah cukup jelas untuk mengetahui bagaimana orangnya. ” “Bodoh sekali mereka yang menganggapmu benalu. Padahal kau sangat berharga untuk disia-siakan. Kau bisa menjadi orang yang dihargai jika kau diberikan pendidikan yang tinggi. Kau terlalu sempurna untuk mendampingi lelaki berengsek itu. Kau— ”Gappu memejamkan matanya dengan erat sambil berusaha menangkap yang tengah bersarang. “Aku harus kembali ke rumah sebelum dia pulang.” Pergi sekarang untuk melihat mata wanita itu sebelum ia benar-benar pergi. "Sekali lagi terimakasih, Gappu." Sambungnya sebelum Buka pintu mobil. Gappu memegang punggung tangan kanan wanita itu. "Ya ada apa, Gappu?" tanyanya sambil menyetujui tangan Gappu yang masih berada di atas punggung tangan kanannya dengan tangan kirinya, dia tidak ingin Gappu aman tersinggung. Dan Gappu jadi sungkan. "Emm .. aku ingin memberikan sesuatu―" "Tidak usah .. tidak berhasil." Wanita itu menyela cepat, sambil menggeleng. "Shuut diamlah." Gappu memposisikan telunjuknya di depan bibir. "Suaramu sangat kuat sekali, membuat kepalaku mendorong asal kau tahu." "Maaf," wanita itu menunduk. Gappu menunjukkan ekspresi tidak suka, karena lagi-lagi wanita itu mengucap kata maaf. Ia meraih jemari wanita itu. Wanita itu sedikit terkejut, namun tidak berhasil menarik menarik sama sekali. Gappu mengeluarkan cincin perak dari jari tengahnya kemudian memasangkan cincin itu di jari jempol wanita itu. “Ini bukan milik ibuku atau ayahku bahkan keluargaku. Ini milikku, kubeli dari hasil kerja kerasku yang pertama kali. Aku sangat menyayanginya, aku mohon jaga ia baik-baik karena kini kepemilikannya beralih kepadamu. ” Gappu tersenyum manis memandangi cincinnya yang sekarang melingkar di jari wanita yang malah dipanggil saja ia mengaku. "Untuk apa ini?" wanita itu heran Gappu heran. "Karena kau tahu seluruh kamu sudah kuserahkan pada Pappu, jadi cincin ini adalah benda terakhir yang bisa kuberikan untukmu." Wanita itu mengernyit sambil menggeleng, dia benci dikasihani. “Jangan memandangku seperti itu. Aku hanya memintamu untuk memakai cincin ini. Simpan baik-baik. Dan kompilasi kau butuh uang kau bisa memanfaatkannya. Lumayan besar nominalnya jika dijual. Tentu saja sangat membantu, jadi jangan coba-coba untuk ditolak. " Sepanjang ia senang kalimatnya, senyumannya tak pernah pudar dari wajah tampannya. Bulir bening wanita itu menetes, sambil membalas senyum Gappu. “Gappu kau ini siapa? Manusia atau malaikat? Kau tidak mengenalku tapi kau sangat peduli. Kamui aku bertemu denganmu lebih awal dan andai tidak seperti ini. ” Wanita itu menutup mata dan mengatupkan bibir rapat. Kembali Tiba mata, “abaikan saja ucapanku barusan, rasanya tidak layak aku berucap demikian.” Ia memandang cincin itu, dan segera menarik selesai menyadari masih digenggam oleh Gappu. “Emm Gappu aku punya rencana menarik diri dari Pappu. Sudah 8 tahun saya coba. 1000 kali aku berhasilnya namun 1500 kali gagal. ” Gappu bingung dengan penjelasan wanita itu. “Aku akan berhasil terus sampai aku berhasil. Aku ingin kau mendoakanku agar aku berhasil. Kamu mau kan? ” Gappu menyetujui puncak kepala wanita dan memberi sedikit senyum, "Tentu saja aku akan mendoakanmu. Bukan hanya mendoakan tapi juga membantumu. Kau mau melepaskan dirimu sekarang? ” tanyanya santai, sementara wanita itu melotot terkejut. "Tidak, bukan sekarang." Matanya kembali berkaca-kaca. “Kenapa tidak? Sekarang adalah waktu yang tepat. ” Wanita itu mengacak rambutnya kesulitan. "Oh, tidak. Kau tidak tahu apa yang akan menghadang. Aku tahu sekarang ada peluang yang bagus untuk dirimu, tapi tidakkah kau tahu itu lebih menguntungkan? ” "Maksudmu?" “Pappu sudah melihatmu tadi, tidak sulit untuk menggiring semua anak buahnya menuju tempat tinggalmu. Dan kau dituduh sebagai orang yang membantuku atau yang membantuku membantah. Itu jauh lebih berisiko, keamanan dan keselamatanmu terancam. Dan satu lagi aku tidak ingin mengundangmu dalam masalah hidupku yang pelik sebelum lagi aku tahu kau adalah orang yang sangat penting di keluargamu. Anak tunggal, harapan satu-satunya kedu orangtuamu. Jadi aku mhon tetaplah pada kehidupan amanmu. Terakhir kali aku memutar diri dengan bantuan orang yang tidak kukenal, Pappu bersama Ayah dan Kakakku mematahkan leher orang itu. Pria malang itu sekarang masih tergantung di rumah sakit, terbaring kaku dan tidak bisa apa-apa. Istrinya yang sekarang bekerja dan membiayai rumah sakit, mereka adalah keluarga kelas menengah. Sampai sekarang aku menyesal. " Lagi-lagi "Ayah dan Kakakmu ikut melakukan pencarian jika kau pergi sendiri?" tanyanya seperti mendesis. Wanita itu hanya mengangguk. "b******n!" umpatnya keras sambil memukul bergerak, lalu kembali mencoba memegang Menarik napas dan menghembuskannya pelan. "Mereka sudah melepas tanggung jawab mereka terhadapmu tetapi mereka tetap mengekangmu." “Aku berharap semoga perusahaannya bangkrut. Dan mereka akan menderita selamanya. " Gappu langsung menoleh, “hei dendam hanya akan membuat jiwa menjadi tidak murni. Jangan doakan keburukan untuk mereka. ” "Kau tadi juga mentransmisikan." "Maafkan aku yang telah memaki mereka tadi." Wanita itu mengusap pipinya yang basah, “baiklah aku harus segera keluar sebelum cerita baru dimulai lagi.” Berusaha Membuka pintu mobil. "Apa kau punya anak?" pertanyaan Gappu membuat wanita itu mengurungkan niat, meminta berhenti seketika. Secara otomatis dia kembali melihat mata Gappu beberapa saat. "Tentu saja tidak dan tidak akan pernah." Ada kelegaan di hati Gappu kompilasi mendengarnya. “Kalau begitu semuanya menjadi mudah. Kau hanya perlu menyetujuinya saja. ” Wanita itu mengernyit bingung pada ucapan Gappu, menunggu Gappu menerima ucapannya. “Menandakan kau bebas. Kau bisa menarik malam ini. ” "Oh, tolong." Wanita itu menyatukan telapak tangan, seperti sebuah pemohonan. “Itu ide yang buruk, aku sudah menjelaskan padamu tadi kan? Dan ngomong-ngomong apa yang ingin kamu bawa ke London membuat kamu yakin akan keamananmu. ” “Aku meminta keputusanmu. Aku akan mendoakanmu semoga kau berhasil saat kau berhasil sendiri selanjutnya. ” "Itu baru Gappuku." Ujarnya riang sambil memukulkan kepalan dibawa di d**a Gappu. "Gappuku?" Tanya Gappu meminta penjelasan atas julukan wanita itu terhadap dirinya. Julukan itu menunjukkan itu milik wanita itu. Wanita itu bertanya lagi Gappu, "Sekali lagi terimakasih, untuk uangmu, pertolonganmu, tumpanganmu―" "Diam dulu." Gappu melotot kesal. "Iya iya tidak akan dikembalikan terimakasih lagi." Wanita itu melepaskan senyum yang entah ke mana, mulai mendekat ke arah Gappu. Tanpa sungkan ia memeluk Gappu beberapa detik, sementara Gappu yang mulai bingung mau melakukan apa akhirnya balas pelukannya juga. Entah apa alasan dari euforia yang ia rasakan sekarang, karena gemuruh hebat dan kepakan sayap juga rasa hangat ia rasakan di sekujur tubuh saat memeluk wanita ini. Wanita itu menarik diri dan lepas dari pelukan Gappu yang merasakan perasaan janggal.                              
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD