"Naya!" Kanaya yang duduk di ranjang, menoleh saat seseorang memanggilnya, itu suara Papa Defan. Kanaya hanya diam sampai kemudian, pintu dibuka dan sang ayah masuk ke dalam kamar. "Sudah siap, biar Papa antar ke Bandara," kata Papa Defan. 'Pa, kata Mas Raja, Naya gak perlu nyusul,' kata Kanaya dengan bahasa isyarat. Papa Defan menghela napasnya, lalu ia duduk di depan putrinya. "Nak, Papa hanya ingin kamu membuka hati untuk Raja, lupakan perasaanmu yang salah itu untuk Dewa, dia lebih pantas jadi ayahmu, bahkan dia lebih tua dari Papa." 'Tapi kenapa harus Mas Raja, Pa?' tanya Kanaya. "Kalau bukan Raja siapa, Andreas?" tanya Papa Defan dan Kanaya menunduk, ia meremas bantal di pangkuannya. "Andreas, dia terlalu mirip penampilannya dengan Dewa, karakter luarnya pun mirip, bagaim

