Status Palsu

1167 Words
Suasana Cafe Choco Toast cukup sibuk sore itu. Beberapa pelanggan sudah memenuhi meja-meja kosong meski tempat ini baru saja buka. Tiga waiter berseragam krem dan maroon tampak mondar-mandir menerima dan mengantar pesanan di lantai satu. Meyra duduk di ruangan khusus untuknya, tak jauh dari kasir. Tak betah hanya duduk dan diam, ia bangkit. Sebentar lagi, Nathan akan datang menjemputnya. Mereka berencana untuk fitting baju pengantin dan dilanjutkan mampir ke rumah orang tua Nathan. Semalam, beruntung ia bisa mencegah Wanda memberi tahu Nathan. Meyra berjanji pada sepupunya, jika ia sendiri yang akan memberitahu tentang penyakitnya. Tok. Tok. Ketukan pada pintu membuat Meyra melangkah dan mendapati salah satu karyawan bagian dapur sedang berdiri di balik pintu. "Kita kehabisan stok keju mozarella, Kak," ujarnya. "Pesen aja di tempat biasa, nomor teleponnya masih ada, 'kan?" "Ada, Kak. Tapi besok weekend dan mereka baru bisa kirim senin. Maaf, saya kurang teliti, seharusnya sudah pesan dari seminggu yang lalu." Meyra terdiam sejenak. Keju Mozzarella merupakan komposisi yang penting untuk cafenya sebagai komponen utama roti panggang yang selalu jadi menu favorit pelanggan. "Gak apa-apa. Kamu balik aja ke dapur. Sebentar lagi saya akan keluar untuk cari keju yang ready di tempat lain," ucap wanita dengan black little dress itu. "Baik, Kak." Karyawan itu pun berlalu dengan patuh. Meyra langsung mengambil notes kecil dan menulis di salah satu lembar yang masih kosong. Notes bersampul gambar daun maple itu telah menjadi teman setianya sejak tiga bulan terakhir, ketika ia menyadari secara perlahan ingatannya melemah. "Lebih baik aku nunggu Nathan di depan," ujarnya sembari menyambar clutch hitam yang tergeletak di meja. Senyumnya merekah sesaat setelah keluar dari pintu. Meyra senang cafe ini masih ramai seperti biasa, setidaknya ia bisa mewujudkan permintaan mendiang ibunya. Iseng, ia berjalan berkeliling, sesekali ia juga ingin duduk di kursi yang kosong namun tampaknya harus mengurungkan niat. Semua meja terisi penuh. Ketika akan berbalik, seseorang memanggil namanya. Seorang pria yang memiliki suara manis. "Meyra!" "Kio?" Meyra menoleh dan menyipitkan mata. Ia tak yakin namun ketika pria dengan kemeja denim itu mendekat, barulah ia bisa memastikan. Ini pertemuan kedua dalam sehari setelah tadi pagi Kio mengembalikan tas tangannya. "Syukurlah aku tak salah orang." Kio menghela nafas lega. "Kamu ke sini sama siapa?" Meyra menatap sekitar, mencari sosok lain yang mungkin menemani sahabat calon suaminya ini. "Sekarang sendiri. Tapi sebentar lagi ada seseorang yang akan datang. Dan aku sangat butuh bantuanmu." "Lah, kok gitu? Memang siapa yang mau datang?" Meyra tak mengerti. "Sini, duduk dulu biar aku jelaskan." Kio menunjuk meja yang telah terisi secangkir expresso. Meyra menurut dan mengekor pada pria tinggi yang mendahului langkahnya. Kali ini bisa terlihat Kio sedang mencari kata-kata yang tepat. Hal itu membuat Meyra makin penasaran. "Kio?" "Aku butuh bantuanmu untuk berpura-pura jadi pacarku sebentar saja ..." Kening Meyra berkerut. Ia rasa ada yang salah dengan indra pendengarannya atau mungkin pria ini sedang ingin bercanda. Tapi wajahnya terlihat serius. "Mana bisa, aku-" "Cuma pura-pura, tak lebih dari setengah jam, mau ya?" potong Kio resah. "Tapi untuk apa?" Kio menceritakan alasannya. Hari ini bundanya berhasil membuat janji dengan putri pengusaha berlian. Ia yang terlanjur mengatakan sore ini free tak bisa berkutik. Namun meski belum bertemu, Kio tak tertarik untuk menikah dengan cara dijodohkan seperti ini. "Kalo seperti ini, sama aja kamu langsung nolak cewek itu." "Memang aku menolaknya," jawab Kio enteng. "Kenapa gak coba kenalan dulu?" "Aku punya feeling dia bukan orang yang aku cari." Kio mengedikkan bahu lalu bersandar. "Tapi 'kan-" "Ssstt, dia datang ..." bisik Kio sambil membetulkan posisi duduknya. "Hm?" "Tolong bantu aku, sekali ini saja," pintanya masih dengan berbisik. Meyra tak bisa menjawab lagi karena Kio telah melambai ke arah seorang wanita berpenampilan anggun. Tas tangan dan sepatunya berwarna senada. Cantik namun dingin, itu kesan pertama yang Meyra dapat ketika wanita itu mendekat. "Kio?" tanyanya memastikan. "Itu benar. Duduklah," ujar Kio seraya tersenyum. "Tante Anggun bilang kita cuma berdua aja, ini siapa?" Nada bicara wanita itu ketus, ditambah lirikan yang membuat Meyra tidak nyaman. "Nadine, ini Meyra, pacarku." Kio makin mendekat pada Meyra yang hanya diam. "Pacar? Apa-apaan ini? Aku telepon Tante Anggun sekarang!" ucapnya dengan nada mengancam. "Silahkan. Tapi jam segini biasanya bundaku lagi yoga sama temen-temennya." Kio menyeruput expresso yang mulai mendingin. Wanita bernama Nadine itu mendengus setelah menelepon berkali-kali namun tidak mendapat jawaban. Ia melengos, jelas kesal dan merasa dibohongi. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia pergi, meninggalkan Kio yang tersenyum puas sementara Meyra menggeleng pelan. "Kasihan ..." gumam Meyra. "Siapa? Aku?" "Kalian. Aku ke depan dulu, siapa tau Nathan udah datang." Meyra beranjak namun tubuhnya tiba-tiba limbung. Refleks, Kio menahannya agar tidak terjatuh. "Kamu tak apa-apa?" Gurat khawatir tak bisa Kio sembunyikan. "Iya, gak apa-apa. Cuma sedikit pusing ..." Meyra memijit kening dan mulai merasa dingin pada hidung. Ketika di sentuh, cairan merah langsung membasahi ujung jarinya. "Duduk dulu." Kio menarik dua lembar tisu yang tersedia di setiap meja lalu mengulurkan pada hidung Meyra tapi wanita itu justru menghindar. "Aku bisa sendiri," ujarnya sambil mengambil tisu di tangan Kio. "Kenapa kamu tak menjalani operasi?" "Aku lagi gak mau bahas tentang itu." Meyra masih menahan darah yang terus keluar dari hidungnya. "Keras kepala," ucap Kio tanpa berpikir panjang. Mendengar itu, Meyra hanya diam. Beberapa detik berikutnya ia bangkit, Kio juga ikut berdiri ingin membantu. Namun Meyra menghalau tangannya. Barulah Kio sadar jika ucapannya membuat Meyra tak enak hati. "Meyra, tunggu. Aku minta maaf ..." "Gak perlu minta maaf, kamu benar. Aku keras kepala dan egois. Permisi." Langkahnya masih sedikit terhuyung namun Kio tidak bisa mengejar. Wanita pemilik senyum indah itu masuk ke toilet khusus wanita. "Bukan itu maksudku. Ck." Kio mendecih, kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri. Ia hanya khawatir dan tak ingin hal buruk terjadi pada Meyra. Sebuah tepukan di pundak mengagetkannya. Kio membalikkan badan dan langsung disuguhkan senyum khas milik Nathan. "Lo di sini? Udah ketemu Meyra?" "Udah, tadi gue janjian sama seseorang." "Ohh, sekarang mana Meyra?" Nathan mengikuti Kio yang sudah duduk di kursinya. "Tadi gue liat masuk ke toilet." Nathan manggut-manggut dan melihat ke arah pintu masuk toilet yang dihias tanaman rambat artifisial. Bersamaan dengan itu, ponsel Kio berbunyi. "Iya, Nda?" sapa Kio dengan nada malas. "Kamu apain si Nadine kok sampe nangis begitu?" "Nangis? Untuk apa nangis?" Alis Kio tiba-tiba bertaut. "Kenapa kamu gak bilang kalo udah punya pacar? Suka ya bikin bunda malu?" "Bunda bahkan gak tanya, main jodoh-jodohin aja." Kio tersenyum menyadari caranya berhasil. "Bunda gak mau tau, pokoknya besok bawa calon mantu bunda itu ke rumah!" Kedua alis Kio terangkat. Masalah. Ini adalah masalah. Nathan yang tidak berniat menguping bisa mendengar percakapan itu karena suara Nyonya Anggun yang cukup keras. "Tapi-" "Gak ada tapi-tapi." Klik. Wanita paruh baya itu menutup telepon sebelum Kio sempat menyelesaikan kalimatnya. "Kenapa lo? Kok Tante Anggun sampe ngomel?" Nathan menahan tawa. Setengah bertanya, setengahnya lagi meledek. "Gak tau, pusing gue." Tak lama berselang, Meyra muncul. Tampak lebih baik dan ceria. Ia duduk di depan Nathan, memberikan senyum. Melihat dua orang itu, Kio merasa ada sesuatu yang menyentil jantungnya. Lagi, pria itu tak tahu apa yang tengah ia rasakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD