Sore itu Kio menemani Nyonya Anggun belanja keperluan bulanan. Wanita paruh baya itu berjalan terlebih dahulu dengan langkah pelan Tangan dan netranya aktif secara bersamaan, mengamati tanggal expired dari setiap kemasan yang akan dibeli. Termasuk butter dan coklat block.
Usai berlama-lama di rak khusus bahan cake dan roti, mereka beralih pada area khusus buah. Kio masih setia dengan troli belanja meski wajahnya tak bersemangat.
Nyonya Anggun mulai memilih kiwi, pear, dan juga apel fuji. Kio yang dari tadi hanya menurut dan diam, kini hendak bertanya.
"Apel untuk siapa, Nda? Di rumah 'kan gak ada yang suka?"
"Untuk Meyra," jawab sang bunda sembari terus memilih apel dan dilanjutkan jeruk ponkam dengan warna orange segar yang menggoda.
"Meyra?"
"Kenapa kaget begitu? Bunda mau jenguk dia. Dari kapan hari bunda minta antar, kamu selalu alasan sibuk. Di telepon juga Meyra bilang udah sehat. Padahal bunda itu pengen ketemu sama Meyra ..." Nyonya Anggun berbicara panjang tanpa tahu kerisauan yang sedang Kio rasakan.
"Kio?" Wanita itu memanggil putranya yang justru diam tak menjawab.
"Kenapa, Bunda?" Dalam sekejap, Kio kembali fokus.
"Sepulang dari sini, kita mampir ke tempat Meyra lho. Awas, jangan pura-pura lupa."
Kio menghela napas. Lagi, keadaan seperti ini ketika ia berniat menghindari Meyra. Sang bunda tampaknya serius. Usai memilih buah-buahan, wanita dengan atasan berupa tunik berwarna hijau itu menyusuri etalase obat untuk mencari vitamin. Yang ibundanya ketahui, Meyra sakit karena kelelahan.
Kio hanya mengekor tanpa ada protes lagi. Sesaat kemudian, saat mereka hendak menuju kasir, ia melihat Meyra. Wanita itu berada di area sayur, memilih bayam merah dan meletakkan pada troli belanja yang siap untuk Nathan dorong. Belum sempat Kio menentukan apa yang harus dilakukan, mendadak ibunya juga melihat ke arah yang sama.
"Itu Meyra!" seru Nyonya Anggun senang.
Kio hanya bisa pasrah ketika ibunya melambaikan tangan pada dua orang yang hanya berjarak beberapa meter dari mereka. Meyra dan Nathan menghampiri tak lama kemudian.
"Meyra, kata Kio kamu sakit?" Nyonya Anggun bertanya. Tanpa diperintah, Meyra dan Nathan menatap Kio secara serempak.
"Ehm, iya Tante, itu ..."
"Baru aja tante mau ngajak Kio ke sana. Ini sekalian mau tante bawain buah dan vitamin. Cuaca lagi kurang bagus, kamu harus jaga kesehatan supaya gak gampang sakit," lanjut wanita itu lagi.
Meyra mendesah lega. Sepertinya Kio tak memberitahu fakta yang sebenarnya pada sang ibu. Nathan menatap Kio, dan tersenyum. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah insiden di cafe milik Meyra tujuh hari lalu.
"Nathan, udah menetap di Surabaya?" Nyonya Anggun beralih pada pria yang berdiri di samping Meyra.
"Iya Tante. Pekerjaan Nathan sekarang fokus di sini."
Basa-basi itu hanya berlangsung singkat. Mereka berpisah tak lama kemudian karena Meyra dan Nathan masih harus membeli beberapa barang yang dibutuhkan. Kio memandang dua orang yang perlahan menjauh. Ia lega setidaknya Meyra terlihat baik-baik saja.
**
Esoknya. Kio bersiap untuk makan siang di luar ketika pintu ruangannya mendadak terbuka. Pria itu menunggu siapa yang akan muncul karena biasanya baik sekretaris maupun karyawan yang lain akan mengetuk terlebih dahulu.
Di luar ekspektasi, ternyata sosok yang kini ada di ruangannya adalah Nathan. Dengan senyum yang selalu melekat padanya, sejak pertama mereka saling mengenal.
"Lo masih marah?" tanya Nathan. Langkahnya menuju sofa lalu duduk dengan santai. Sejenak ia mengamati dekorasi kantor sahabatnya yang simple namun elegan.
"Bukannya lo yang marah?" sambut Kio yang juga duduk.
"Hem, soal kejadian di cafe. Gue tau, gak seharusnya gue bertindak gegabah waktu itu. Meyra udah cerita semuanya."
"Cerita apa?"
"Ya, kalo sebenarnya ini cuma kesalahpahaman. Sampai sekarang gue gak tau siapa yang kirim foto itu tapi jelas orang itu pengen hubungan kita rusah," ujar Nathan.
"Tunggu, foto? Foto apa?"
Untuk menjawab pertanyaan Kio, Nathan meletakkan amplop yang Kio sadari telah teman dekatnya itu bawa sejak tadi. Tangan Kio terulur dan membuka amplop coklat. Alisnya bertaut, foto ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi saat itu.
"Foto ini diambil waktu gue mau pesen roti sebelum lo dateng. Dari mana lo dapet foto ini?" tanya Kio dengan mata masih fokus pada lembaran-lembaran di tangannya.
"Ada yang kirim ke kantor. Anonim." Nathan mengedikkan bahu.
Kio meletakkan foto-foto itu lalu bersandar. Ia mengira-ngira siapa yang mungkin memiliki dendam padanya.
"Lo punya musuh?"
Kini giliran Kio yang mengedikkan bahu. Ia tak merasa memusuhi siapapun. Tapi sudah pasti tak semua orang menyukainya.
"So?" Nathan mengangkat alisnya dengan senyum tengil.
"Apa?"
"Makan siang?" tawar Nathan dengan santai.
"Ini cara lo ngajak baikan?" Kio menaikkan sebelah alis dan terkekeh.
"Ohh, come on, Buddy. You're still my brother, right?"
"Iyalah ..."
Dua pria tampan itu ber-high five ala mereka lalu tertawa. Dengan ini hubungan mereka membaik. Kio paham jika persahabatannya dengan Nathan yang terjalin bertahun-tahun amatlah penting. Itu tandanya ia harus segera berhenti memikirkan Meyra.
"Yuk, turun. Ada Lodi di bawah." Nathan beranjak dari sofa empuk berwarna biru tua.
"Kok gak ikut naik?"
"Emang gak gue ajak. Males gue jadi nyamuk."
"Sama Wanda?"
"Yup"
"Ohh." Kio mengangguk paham. Ia sudah tahu jika Lodi dan Wanda semakin lengket. Tapi Lodi tak mengatakan pada tahap apa hubungan mereka kini.
Mereka berempat sepakat untuk makan menu hotplate di mall dekat kantor Kio. Suasana kembali akrab dan hangat. Meski begitu, Kio menyadari jika Wanda jadi lebih pendiam dari biasanya.
"Eh, kalian udah cek email?" tanya Lodi di tengah acara makan mereka.
"Tiap hari gue cek email. Kenapa emang?" Nathan balik bertanya.
"Bukan email kerja. Email pribadi lo. Gue dapet undangan reuni kampus nih. Pasti kalian juga dapet," lanjut Lodi seraya mengunyah.
"Iya, gue dapet. Tadi malem notif-nya masuk," sahut Kio.
"Nantilah gue cek. Gue juga males dateng." Nathan menanggapi.
"Yahh, jangan gitu dong. Kita bisa ajak pasangan. Lo ajak Meyra aja. Gimana?" Lodi yang antusias, ingin memastikan dua temannya juga datang.
"Liat nanti."
Makanan di meja ludes meski Wanda hanya makan sedikit. Ia masih saja menjaga image ketika makan bersama Lodi. Hingga tiba waktu membayar, mereka semua berebut ingin mentraktir. Dan ujungnya, Lodi dan Nathan yang jalan berdua menuju kasir.
"Lama gak liat kamu. Sibuk ya?" Wanda mencoba mengajak Kio mengobrol.
"Cuma pengen lebih fokus sama kerjaan."
Wanda mengangguk dan mereka kembali diam.
"Meyra apa kabar?" tanya Kio tiba-tiba.
"Kamu suka sama Meyra?" Pertanyaan bakal tembakan itu meluncur dari bibir Wanda dan tepat mengenai sasaran. Namun Kio tak memberi jawaban.
"Aku saranin, jangan ganggu hubungan mereka. Meyra kemarin sempat drop setelah bertengkar sama Nathan. Nathan segalanya untuk Meyra. Lagipula, mereka harus jadi nikah. Kalo gak ..." Wanda menggigit bibirnya kuat. Ia sedang menahan agar tidak menangis.
"Kalo gak?"
"Dokter memperkirakan Meyra hanya bisa bertahan gak sampai tujuh bulan lagi. Satu-satunya jalan adalah operasi. Tapi kamu pasti tau gimana keras kepalanya Meyra. Dia cuma mau menjalani operasi setelah nikah."
Kio mendengar informasi yang Wanda berikan tanpa berkedip. Hatinya hancur. Ia tak bisa membayangkan jika kemungkinan terburuk itu benar-benar terjadi.
"Nathan tau tentang ini?" Kio bersuara setelah mampu mengendalikan diri.
"Belum," ujar Wanda sambil menggeleng kecil. "Nathan keluar dari ruangan dokter karena mendadak ada telepon penting waktu itu."
Jantung Kio berdetak lebih cepat hingga ada rasa sesak yang mengganggu. Kabar buruk ini membuat batinnya tak karuan. Jika boleh, ia ingin berlari ke tempat Meyra berada lalu memeluk erat wanita rapuh itu. Tapi sudah pasti tak mungkin bisa ia lakukan, bukan?
***
Bersambung.