Meyra turun dari taksi yang berhenti tepat di depan kantor pusat DirgaEleven Group. Ia mengeratkan pegangan pada tas tanganya, sembari mendongak. Menatap jendela lantai lima, tempat ruangan Nathan berada.
Rasanya seperti mimpi ia akan muncul lagi di tempat ini setelah batalnya pernikahan mereka. Namun Meyra merasa ia harus menemui Nathan. Setidaknya pria itu harus mengetahui apa yang terjadi kemarin sore.
Beberapa pasang mata langsung menatapnya heran. Bahkan ada yang berbisik dengan suara yang cukup membuat Meyra mendengar jika ia adalah objek yang sedang mereka bicarakan.
Namun langkahnya sudah sejauh ini. Sudah kepalang tanggung jika ingin kembali. Usai menghela napas, ia kembali berjalan tegak. Pura-pura tak mendengar dan melihat orang-orang yang tengah bergunjing tentangnya.
"Mbak Meyra!" sapa seorang staff wanita bernama Mega saat ia akan menaiki lift.
Meyra hanya mengangguk sopan dan tersenyum. Mereka naik bersama, dengan satu staff lain yang tak pernah Meyra lihat sebelumnya.
"Kok udah lama gak keliatan, Mbak?"
"Lagi ada kesibukan aja." Sebisa mungkin Meyra ingin mempertahankan senyumnya. Ia yakin seisi kantor besar ini telah mengetahui jika ia dan Nathan batal menikah. Meski demikian, ia tak ingin semua orang menatapnya dengan rasa kasihan.
"Mau ketemu Pak Nathan?" tanya wanita dengan blouse hijau polos itu.
"Iya. Beliau ada di kantor?"
"Kurang tau sih, Mbak. Tapi akhir-akhir ini sering di kantor kok. Bahkan pulangnya lebih malem dari biasanya."
Meyra menatap layar yang menunjukkan jika mereka sampai di lantai tiga, di mana Mega dan staff satu lagi akan keluar.
"Saya duluan ya, Mbak."
Meyra mengangguk lagi. Kini ia sendirian melaju ke lantai lima. Seperti dugaan, semua yang berpapasan dengannya juga memandangnya dengan heran. Sama seperti ketika ia baru memasuki kantor tadi. Meyra hanya mempercepat langkah.
Meja sekretaris yang berada paling dekat dengan pintu ruangan Nathan kosong, tidak ada penghuninya. Ia memutuskan langsung mengetuk pintu lalu masuk.
Tetapi, betapa terkejutnya ia saat melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Nathan sedang berada di posisi berdiri membelakanginya, sementara ada satu wanita yang pernah Meyra lihat di hotel bersama Nathan saat ia mengintai Prita. Jarak mereka sangatlah dekat. Mereka melakukan hal yang tak seharusnya.
"Nathan!!" Refleks Meyra memanggil nama pria itu, dengan suara lantang.
Nathan membalikkan badan dan mengelap bibirnya yang basah dengan ibu jari. Saat menyadari jika yang memanggil adalah Meyra, ia justru memberi senyum mengejek.
"Meyra? Kapan kamu masuk?" Pria itu duduk di meja dengan santai.
Di saat yang sama, Oliv masih berdiri mematung namun kepalanya menunduk. Ia telah kehilangan harga diri di depan wanita yang ia tahu adalah mantan kekasih dari bosnya itu.
"Kalian ngapain ..." Meyra bertanya dengan tatapan tak percaya. Ia tak pernah melihat Nathan seperti ini sebelumnya.
"Pak, maaf saya permisi," pamit Oliv masih sambil menunduk, ia tak memiliki nyali untuk membalas tatapan Meyra maupun memandang ke arah Nathan.
Ia tak menyangka akan masuk dalam konflik yang terjadi antara si bos dan kekasihnya.
"Tak perlu. Urusan kita belum selesai," tahan Nathan, netranya memberi kode pada si sekretaris agar tetap tinggal. Usai berkata begitu, ia kembali fokus pada Meyra yang masih berdiri di dekat pintu yang kini tertutup.
Langkah kaki Nathan berjalan perlahan mendekati Meyra. Mereka bertemu tatap. Memandang netra indah milik wanita, seakan mendapat serangan kilas balik dari hubungan mereka. Saat awal mereka bertemu, bagaimana mereka dekat dan akhirnya hubungan yang seakan baik-baik saja itu mendadak hancur dan menjadi puing.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Nathan. Pertanyaan yang berhasil membuat Meyra sadar akan tujuannya. Ia mengontrol diri dan menundukkan pandangan.
Dan ketika ia mendongak kembali, jarak Nathan sudah dekat. Mendadak perutnya terasa mulas, ia tak suka sensasi ini. Tatapan tajam Nathan membuatnya tak nyaman.
"Aku ... aku cuma mau ..." Wanita itu gelagapan.
"Sssttt, aku tau. Kamu rindu padaku, dan kamu cemburu atas apa yang baru kamu lihat 'kan?"
Meyra menggeleng perlahan. Nathan memberikan ekspresi aneh.
"Aku telah mengenalmu lama dan dari dulu kamu gak pandai berbohong. Katakan, Sayang. Katakan kamu ingin kembali. Jangan khawatir, semua masih diperbaiki. Aku akan membujuk papa untuk ini."
Nathan tersenyum miring, tangannya menyentuh pipi wanita itu. Perlahan tapi pasti, ia mendekatkan bibirnya pada bibir Meyra. Aroma parfum Nathan yang maskulin menyapa indra penciumannya. Seakan terhipnotis, Meyra hanya diam dalam beberapa detik. Namun saat jarak bibir mereka hanya tinggal dua sentimeter, Meyra langsung mendorong d**a Nathan kuat dan menamparnya untuk pertama kali. Sejak memulai hubungan Meyra tidak pernah menamparnya, separah apapun masalah mereka.
Plakk!
Nathan mundur, pipinya terasa panas. Ia bisa melihat sorot mata Meyra yang terluka. Tanpa Meyra tahu, ia juga merasakan hal yang sama.
"Kamu berubah, Nathan!! Aku nyesel datang ke sini!!" seru Meyra marah sebelum keluar dari ruangan dengan tergesa.
Urung sudah niatnya untuk memberitahu hal penting tengah Prita pada pria itu. Meyra kecewa, dan mulai hari ini pandangannya pada Nathan berubah seratus delapan puluh derajat.
Ruangan bernuansa biru tua itu seketika hening. Natnan tergelak lemah sambil menyentuh bekas tamparan. Sementara itu Oliv yang masih shock hanya bisa menutup mulut. Yang ia lihat persis seperti adegan dalam film romantis namun peran yang harus ia terima begitu buruk, pelakor. Meski itu hanya pura-pura.
"Pak, kenapa Anda-"
"Kembali ke mejamu. Siapkan dokumen untuk rapat sebentar lagi." Nathan memotong ucapan Oliv yang hendak bertanya.
"Baik, Pak." Seperti biasa Oliv hanya menurut dan langsung keluar.
Nathan mendekati jendela yang tampak gelap jika dilihat dari luar. Dari tempatnya berdiri, ia mengamati sosok kecil Meyra yang menaiki taksi dari depan kantornya dan menghilang begitu saja.
Beberapa menit yang lalu, ia juga berdiri di titik yang sama ketika Meyra akan memasuki kantor. Dengan cepat Nathan menyuruh Oliv datang hanya untuk membantunya. Si sekretaris yang tak tahu apa-apa ia minta berdiri dan ia berpura-pura melakukan sesuatu. Ia yakin Meyra mengira mereka sedang berciuman.
Nathan merasakan hatinya sakit. Tujuannya melakukan ini adalah agar mendapatkan kepuasan, agar Meyra tahu bagaimana rasanya cemburu. Namun ternyata, ia sendiri yang terluka. Rasa cintanya yang tulus, kini terkotori oleh pahitnya pengkhianatan.
"Sekarang kita saling menyakiti. Apa ini yang kamu inginkan, Meyra?"
Hubungannya dengan Meyra hancur, begitu pula persahabatan antara ia dan Kio. Sebuah angan menyelinap dan hadir, haruskah ia menerima takdir dan memulai kisah baru bersama Prita?
Namun dengan cepat ia menggeleng. Hati dan pikirannya tak semudah itu berpaling. Tapi masih adakah celah untuknya di hati Meyra?
***
Bersambung.