Nathan menatap fokus pada wanita cantik di depannya. Ia masih menunggu kelanjutan kata-kata yang akan keluar dari bibir Meyra. Namun suara ponsel dalam kantong membuat perhatiannya teralihkan.
"Dari mama, sebentar ..." ucap Nathan sebelum men-tap tanda terima. Meyra mengangguk kecil.
"Halo, Ma?"
"Kamu lagi di mana ini? Lupa ya pesen mama kemarin? Budhe sama eyangmu udah datang. Ayo pulang, jangan lupa ajak Meyra sekalian," ujar Nyonya Laras, ibunda Nathan.
"Bukannya baru datang besok?"
"Udah, cepet pulang sekarang."
"Iya, iya ..."
Nathan memutus panggilan dan meletakkan ponsel di meja kecil. Ia menatap Meyra yang justru menunggu apa yang ingin Nathan katakan.
"Siap-siap ya, mama minta kamu ikut ke rumah sekarang."
"Sekarang?" Meyra tampak sedikit kaget.
"Iya, Sayang, eyang pengen ketemu kamu. 'Kan pas tunangan kemaren gak sempat dateng," tambah pria tampan dengan kaos putih dan jaket hitam itu.
Meyra mengangguk dan beranjak sementara Nathan kembali asyik dengan layar laptopnya. Ia menghela nafas, tak tahu harus merasa lega atau kalut saat menyadari ia kehilangan kesempatannya untuk jujur.
Dua puluh menit kemudian, mobil Nathan sudah membaur di aspal bersama kendaraan lain. Padatnya jalanan membuat mereka membutuhkan waktu untuk sampai di kediaman Nathantio Dirga.
Tiga mobil sudah terparkir rapi di dalam pagar. Meyra tidak bertanya karena Nathan telah memberi tahu jika besok akan diadakan reuni keluarga tahunan di rumahnya. Begitu mereka masuk, seorang keponakan Nathan langsung menyambut dengan riang.
"Om, Om Nathan ..." panggil bocah kecil dengan pipi tembam.
"Hei Jagoan, sini, sini ..." Nathan tanpa ragu langsung menggendong anak laki-laki berusia enam tahun itu.
"Tante Cantik," sapanya pada Meyra dengan suara menggemaskan.
"Hai Miko," balas Meyra sambil mencubit lembut pipinya.
Miko membuka kedua tangan, sebuah isyarat agar Meyra mau menggendongnya. Ini memang bukan pertemuan mereka yang pertama. Sejak awal dekat, Nathan selalu mengajak Meyra untuk datang setiap keluarganya mengadakan acara.
"Tante Cantik mau ketemu eyang sebentar, Miko main pesawat sama om, oke?" Nathan memberi kode pada Meyra supaya masuk ke dalam sebelum mengangkat tubuh Miko lebih tinggi hingga bocah itu tertawa kegirangan.
Meyra tertawa kecil melihat kedekatan Nathan dan keponakannya. Setelah Nathan keluar menuju teras samping, ia pun melangkahkan kaki ke ruang tengah. Di sana sudah ada ibu Nathan dan dua orang lainnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Meyra.
"Waalaikumsalam. Meyra, sini Sayang ..." panggil Nyonya Laras sambil menepuk sofa burgundy di samping kirinya yang masih kosong.
Wanita muda itu mendekat dengan langkah pelan. Satu per satu ia datangi untuk mencium tangan. Tak terkecuali wanita sepuh yang merupakan eyang dari Nathan.
"Lho, kok sekarang tambah kurus, Nduk?" tanya wanita delapan puluh satu tahun itu. Mereka pernah bertemu empat bulan lalu. Saat itu lebaran hari kedua dan Nathan mengajak Meyra mengunjungi eyangnya yang tinggal di luar provinsi.
"Biasalah Bu, mau nikah pasti banyak pikiran," sela Nyonya Laras.
Bener to Nduk?" sambar Budhe Tika yang hanya dijawab anggukan dan senyum sopan oleh Meyra.
"Kamu dulu waktu mau nikah tambah isi kok," balas si eyang yang disambut tawa semua orang di ruangan bernuansa hijau muda itu.
"Meyra, Nathan bilang kamu pintar bikin kue." Budhe Tika kembali fokus padanya.
"Baru belajar kok, Budhe ..." sahut Meyra.
"Kamu dapet calon mantu paket lengkap lho ini, Ras. Udah cantik, sopan, mandiri, pinter masak lagi," puji Budhe Tika yang sukses membuat Meyra tersipu.
"Makanya aku minta mereka cepet nikah. Setelah akad, anak perempuanku jadi ada tiga," timpal Nyonya Laras seraya membelai lembut rambut sang calon menantu.
Para wanita berbagai usia itu bercakap seru dengan akrab. Semua anggota keluarga Nathan memang sudah menganggap Meyra seperti bagian dari mereka. Tak terkecuali gadis berusia tujuh belas tahun yang baru memasuki rumah dengan seragam putih abu-abu dan muka ditekuk.
"Tasya? Mana salamnya?" tanya Nyonya Laras pada putri bungsunya yang baru pulang sekolah.
"Udah tadi di depan," jawabnya cuek.
Mood-nya tampak tidak baik. Namun ketika melihat Meyra, senyumnya terkembang. Ia segera mendekat dan hendak mengajak Meyra ke ruangan lain.
"Kak Meyra, kok gak bilang mau dateng?" Gadis manis bernama Natasya itu terlihat kegirangan.
"Kebiasaan ya, kalo Meyra datang langsung kamu culik ke kamar. Udah, biarin ngobrol dulu sama eyangmu," potong ibundanya.
"Bukan mau ke kamar, Ma. Mau aku ajakin ke dapur. Kak Meyra pasti haus, iya 'kan Kak?" Tasya memainkan mata pada Meyra yang hanya tersenyum.
"Ya udah, tapi jangan lama-lama."
Mendapat persetujuan, Tasya menarik tangan Meyra ke arah dapur bernuansa abu-abu muda. Meyra sangat paham maksud adik Nathan ini. Tentu ia ingin curhat.
Di dapur ternyata sudah ada Yunia, kakak perempuan Nathan dan Citra, anak dari Budhe Tika. Di sudut lain, juga terdapat tiga ART yang sibuk memasak. Mereka yang asyik mengobrol tiba-tiba berhenti ketika menyadari Tasya dan Meyra datang.
"Meyra, kapan datang?" sapa Yunia.
"Sepuluh menit yang lalu, Kak. Ada yang bisa Meyra bantu?" Meyra menawarkan diri saat melihat dua wanita itu menguleni adonan tepung.
"Gak usah, sebentar lagi selesai. Kamu duduk dulu," jawab Citra seraya tersenyum ramah.
Tasya yang semula berjalan ke arah lemari pendingin dua lantai kini sudah berada di samping Meyra kembali. Tangannya membawa dua gelas berisi jus jambu merah.
"Duh, ponselku ketinggalan di tas. Kak Meyra tunggu di sini ya, sebentar aja ..." ujar Tasya sebelum melesat keluar dari dapur.
Meyra duduk di kursi kayu yang telah dicat berwarna putih. Ia menyeruput jus jambu lalu meletakkan di meja. Tanpa sengaja, ia mendengar percakapan Yunia dan Citra yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Terus gimana? Mereka jadi putus?" Yunia bertanya sambil terus menguleni adonan untuk membuat roti.
"Jadi, padahal udah lamaran lho."
"Ohh, sayang ya. Udah lama 'kan pacarannya."
"Iya. Tapi mau gimana lagi. Ini udah keputusan Tomy. Keluarga gak bisa apa-apa."
"Terus pihak perempuan gimana?"
"Awalnya gak terima. Tapi Sarah akhirnya pasrah. Kanker serviksnya udah stadium tiga, rahim harus diangkat."
Meyra tak berniat menguping, tapi wanita dengan long dress denim itu bisa mendengar semuanya. Ia mengenal siapa Tomy yang merupakan adik Citra. Batin Meyra berkecamuk. Bulir bening tiba-tiba menetes tanpa bisa dicegah.
Ketakutan menyerangnya. Berbagai pertanyaan yang sempat teredam juga mulai memenuhi isi kepalanya kembali.
Haruskah ia jujur pada Nathan? Bagaimana jika Nathan akan mengambil keputusan yang sama seperti saudara sepupunya? Mampukah ia menerima jika nanti kemungkinan terburuk yang akan terjadi?
Tenggelam dalam pikirannya sendiri, Meyra tak menyadari ada seseorang yang sudah berdiri di sampingnya.
"Sayang, kenapa nangis?" Suara Nathan membuat semua mata penghuni dapur melihat ke arah Meyra.