Kio melajukan mobil putih mewahnya dengan kecepatan sedang. Netranya menatap lurus pada jalanan kota terpadat kedua yang cukup ramai siang itu. Beberapa menit yang lalu sang bunda meneleponnya, memintanya untuk segera pulang.
Nada bicara ibunya terdengar tegang namun tak ingin menjelaskan apa yang tengah terjadi. Dengan terpaksa ia harus meninggalkan pekerjaannya di kantor untuk sementara waktu.
Banyaknya pekerjaan yang harus ia urus sebagai direktur membuat pikirannya penuh. Pria tampan berusia dua puluh enam tahun itu menerawang dan sesekali menghela nafas.
"Sepertinya aku butuh liburan ..." lirihnya pada diri sendiri.
Hanya tinggal dua lampu merah lagi, ia sudah dekat dengan kediaman orang tuanya yang berada di kawasan perumahan elit. Ponselnya berbunyi, Kio memeriksa penelepon yang ternyata masih ibunya.
"Halo, Bunda?"
Jeda selama beberapa saat. Ia hanya bisa mendengarkan saat wanita paruh baya yang sangat ia sayangi itu mengomel karena ia tak kunjung datang.
"Tak sampai sepuluh menit lagi Kio sudah sampai di rumah. Kio tutup dulu teleponnya."
Tepat sesaat setelah memutus panggilan, Kio mengerem mobilnya secara mendadak. Ia hampir saja menabrak seorang wanita yang sepertinya ingin menyeberang di waktu yang salah.
Pria itu nyaris mengumpat, namun urung karena wanita itu justru pingsan. Kio terdiam selama beberapa detik, ia yakin mobilnya tak menyentuh kulit si wanita barang satu inchi pun, lalu kenapa bisa pingsan?
Untung saja ia dengan cepat segera turun. Beberapa orang sudah bergerombol. Sebagian ingin menolong si wanita, sebagian menyalahkan Kio, namun juga ada yang asyik mengabadikan moment itu melalui benda pipih di tangan mereka.
"Biar saya yang membawa ke rumah sakit," ujar Kio sambil membopong tubuh mungil wanita cantik dengan dress mocca lengan panjang itu.
Semua yang berada di sana setuju, terlebih tidak ada yang mengenal pasti siapa wanita itu. Kio memperhatikan wanita berwajah pucat yang masih memejamkan mata. Ada sedikit lega karena tidak terlihat adanya luka serius.
Sesampainya di rumah sakit, dokter segera menangani. Kio duduk di kursi tunggu dengan cemas. Ia tak bisa meninggalkan wanita itu begitu saja meski tidak mengenalnya.
*
Lebih dari tiga puluh menit berlalu, tidak ada tanda-tanda dokter atau perawat akan keluar. Kio memijit jarak di antara kedua alis. Baru saja ia menghubungi ibundanya tentang situasi yang tak terduga ini.
"Keluarga pasien ..." Dokter dengan kisaran usia empat puluh tahunan tiba-tiba keluar dari pintu yang semula tertutup.
Kio refleks berdiri, walau sebenarnya ia tak tahu siapa yang dokter panggil. Namun hanya ia yang berada di sana.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Pasien harus menjalani operasi secepatnya. Itu adalah penanganan yang tepat. Jika dibiarkan, kondisinya akan melemah."
Kia terbelalak. Operasi? Separah itukah? Ada apa sebenarnya?
"Tunggu, Dokter. Operasi? Tapi dia sama sekali tidak terluka, bukan?" Kio tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
"Pasien mengidap kanker otak stadium tiga."
"Kanker otak?" Pria tinggi dengan setelan suit yang pas membalut tubuhnya itu mematung.
Dokter hanya mengangguk seraya menatap penuh simpati. Mendadak ada keinginan kuat untuk melihat wanita yang baru pertama ia temui itu.
"Boleh saya melihatnya?"
"Ya, silahkan. Tapi untuk sementara, biarkan dia istirahat," ujar si dokter sebelum berlalu.
Kio melangkah masuk dan mendekati ranjang wanita asing itu. Pucat, namun seakan tidur dengan tenang. Diam-diam ia menebak usia, sepertinya lebih muda darinya.
Lagi, ponsel di saku celana abu tuanya berbunyi. Tanpa melihat layar, ia sudah yakin jika itu adalah sang bunda.
"Aku harus pergi sebentar. Jangan khawatir, aku akan segera kembali ..." ucap Kio setengah berbisik lalu bergegas keluar.
**
"Jadi Bunda minta Kio pulang hanya untuk ini?" Pria bernama lengkap Kionanta Adhyaksa itu mendengus dan meletakkan map merah di meja tanpa melihat isinya.
"Kenapa kamu bilang 'hanya'? Ini masalah penting, Kio." Wanita lima puluh tahun yang masih tampak cantik itu duduk di sofa maroon sambil menyesap teh lemon favoritnya.
Kio tak menyangka jika ia harus pulang dengan terburu dan hampir menabrak seseorang hanya untuk membicarakan perjodohan. Ini sudah berlangsung selama dua bulan. Orang tuanya keukeuh ingin putra tunggal mereka segera menikah, padahal ia masih belum bertemu wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta setelah putus hubungan dengan mantannya yang terakhir setahun lalu.
"Coba dilihat dulu, yang ini bunda yakin kamu akan suka, dia putri dari pengusaha berlian, teman baik ayahmu. Dia cantik, berpendidikan juga telah memiliki usaha sendiri. Lagipula ..."
Ibunya masih menjelaskan dengan antusias namun bagi Kio semua itu hanya terdengar bagai dengungan. Ia bangkit, dan membuat Nyonya Anggun Adhyaksa menghentikan ucapannya.
"Nda, maaf Kio harus segera kembali ke kantor, masih ada pekerjaan."
"Hmm, ya sudah. Pulanglah sebelum makan malam. Bunda akan buatkan steak kesukaanmu."
Kio hanya mengangguk. Langkahnya menuju mobil agak terburu-buru. Entah mengapa ia merasa harus ke rumah sakit sekarang juga. Ada khawatir yang mendadak muncul dan tak bisa dijelaskan.
Lima belas menit berkendara, ia sampai di rumah sakit ternama di Surabaya. Namun ketika ia masuk, ruangan serba putih tempat wanita itu ditangani telah kosong. Ranjangnya pun sudah di rapikan.
"Suster, wanita yang tadi saya antar ke sini dipindahkan ke mana?"
"Dia sudah sadar setengah jam yang lalu dan langsung meminta pulang, Pak."
"Pulang?" Alis Kio terangkat sebelah.
"Benar, Pak. Maaf, saya permisi dulu," pamit perawat dengan tanda lahir di pipi sebelah kiri.
Tidak ada pilihan, Kio kembali ke dalam mobil. Ia menoleh ke samping, tas tangan warna pastel wanita itu bahkan masih ada bersamanya.
Tangannya terulur dan meraih tas cantik itu. Ia hanya ingin mencari kartu identitas agar bisa mengembalikan tas ini pada pemiliknya. Namun di dalam hanya terdapat buku catatan kecil seukuran telapak tangan dan dua botol obat yang ia yakini ada hubungan dengan penyakit wanita itu.
"Gak ada kartu Identitas, gimana caranya aku mengembalikan ini ..." Kio menggeleng dan meletakkan barang-barang itu ke posisi semula lalu mulai melajukan mobil.
*
Tiga hari berikutnya, Kio mendapat ajakan makan malam seorang teman lama. Dulunya mereka sangat dekat, sejak SMA hingga di bangku kuliah. Namun karena temannya itu memilih melanjutkan usaha orang tuanya di luar pulau, mereka jadi terpisah. Komunikasi melalui virtual pun, bisa dikatakan jarang.
Tepat pukul tujuh malam, pria berpenampilan rapi namun santai itu memasuki restoran bintang lima. Nathan, teman baik sekaligus sahabatnya telah menanti namun tidak sendirian, ada wanita bersamanya.
"Long tima no see, Bro!" Nathan berdiri dan memeluk dengan hangat. Sementara netra Kio justru terpaku pada wanita berwajah teduh yang tersenyum ramah padanya.
"Gimana kabar lo?" tanya Nathan dengan sumringah.
"Gue baik. Ehm, ini ..."
Kio menatap wanita di samping Nathan yang malam ini memakai dress navy bawah lutut. Rambutnya hitam panjang dan dibiarkan tergerai indah. Tidak salah lagi, wanita itu adalah orang yang ia antar ke rumah sakit dan menghilang tanpa pamit tiga hari lalu. Masih sedikit pucat namun tampak lebih segar.
"Ohh, kenalin ini Meyra, tunangan gue. Kami akan menikah tiga bulan lagi. Sayang, ini Kio temen b****k aku dari SMA," ujar Nathan seraya tergelak.
Meyra hanya tersenyum. Senyum yang membuat jantung Kio berdebar tanpa bisa dikendalikan.
'Kebetulan macam apa ini ...' Kio hanya bisa membatin dan berusaha menetralkan jantung yang kian bertalu.