Kekhawatiran Dua Pria

1078 Words
Entah sudah berapa lama Meyra tertidur. Namun ia terbangun saat mendengar ponselnya berdering. Mau tak mau ia harus bangkit untuk mengambil benda pipih dengan case blue marble yang tergeletak di meja rias. "Meyraaa!!" seru Bianca lantang begitu ia men-tap tombol terima. Refleks Meyra menjauhkan ponsel sejenak demi menjaga agar rasa sakit kepalanya tidak kembali datang. Di rasa aman, barulah ia menjawab panggilan itu. "Halo, Bianca? Semangat banget pagi ini ..." "Pagi? Ini udah jam sebelas, Sista," celetuk Bianca diikuti tawa renyah. Meyra melihat jam dinding, terpana menyadari jika ia tertidur cukup lama. Bianca meneruskan bicaranya, ia ingin mengajak Meyra pergi ke sebuah butik ternama guna membeli baju untuk kakaknya. "Hari ini? Jam berapa?" tanya Meyra. "Satu jam lagi, gimana? Sekalian makan siang." Suara Bianca terdengar ceria. "Ya udah, aku siap-siap dulu ya." "Oke." Klik. Panggilan terputus. Meyra meletakkan ponsel dan berjalan menuju cermin. Pantulan yang ia lihat sekarang membuatnya tersenyum miris. Wajah tirus dan pucat. Kantung mata yang menghitam. "Senyum, Meyra. Senyum. Kamu kuat." Begitu kalimat yang selalu wanita itu ucapkan ketika kepercayaan dirinya mulai menghilang. Bianca sudah menunggu Meyra di coffeshop tak jauh dari apartemen. Senyum wanita itu merekah saat melihat Meyra datang. "Maaf, udah nunggu lama?" "Baru kok, udah pesen?" "Udah." Meyra mengangguk lalu duduk di depan wanita dengan dress denim itu. Ditemani potato wedges, onion ring dan dua gelas berisi jus buah, dua wanita itu menikmati siang yang sedikit mendung. Melihat Bianca yang ceria, tiba-tiba Meyra teringat peristiwa di kala hari ulang tahun hampir dua minggu lalu. "Aku mau cari dress yang bentuknya macam ini," ujar Bianca seraya menyodorkan katalog online di layar ponselnya. "Bagus, bagian bahunya terkesan manis," komentar Meyra. "Nah, 'kan. Fix kita satu selera. Tapi dari kemaren aku cari-cari di langganan aku gak ada. Ini aku nemu di katalog luar negeri. Kalo pesen kelamaan soalnya mau dipake dua hari lagi." Di tengah obrolan, seorang waitress menghampiri meja mereka. Wanita muda dengan apron hitam itu membawakan secangkir Cafe Au Lait. "Ini apa?" tanya Meyra heran. "Cafe Au Lait, untuk Kakak yang pakai dress denim," jawabnya dengan senyum ramah. "Tapi saya gak pesen ini, Mbak," sanggah Bianca. "Ini titipan dari seseorang. Permisi, Kak." Waitress itu pun berlalu, meninggalkan Meyra dan Bianca yang saling pandang dengan bingung. "Ada pesannya." Meyra mengangkat secarik kertas yang terselip di antara cangkir dan alas lalu memberikannya pada Bianca. "Dear Shannon. Di hari yang mendung, kuharap suasana hatimu cerah. Always miss you. V." Bianca membaca pesan yang ditulis dengan tinta hitam itu dengan sebelah alis terangkat. "Siapa Shannon? Dan siapa V?" lanjutnya. Kepalanya melihat ke sana kemari tanpa ketara. Suasana coffeeshop itu cukup ramai namun semua tampak normal. Semua pengunjung asyik mengobrol dan menikmati pesanan mereka. "Mungkin ada seseorang yang mengira kamu itu orang yang dia kenal," ucap Meyra. Tangannya mencomot sepotong potato wedges dengan garpu kecil. Bianca mengedikkan bahu. Ia tak mengenal nama itu. Ia bahkan tak menyukai Cafe Au Lait. Wanita itu menggeser cangkir hitam itu dan melanjutkan percakapan mereka yang sempat terjeda. ** Sementara itu, di bistro yang berjarak belasan kilometer jauhnya. Tiga pria dan satu wanita masih berdiskusi dengan serius. Wanda mengamati wajah Kio dan Lodi secara bergantian. "Lo yakin gak salah?" Kio bertanya, untuk ke sekian kalinya dalam sepuluh menit terakhir. "Ck, lo tumben gak bisa diem. Dibilang yakin juga dari tadi." Lodi mulai menggerutu. Kio hari ini memang lebih banyak bertanya, tak seperti biasanya. "Siapa Bianca? Eh, tunggu, aku kayaknya pernah denger nama itu." "Dia tetanggaku. Beberapa hari yang lalu aku dan Meyra sempat diundang ke acara ulangtahunnya," jelas Kio. Pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Rumah lo diapit dua rumah lain 'kan?" Nathan bersuara. "Yang sebelah barat udah lama kosong," jawab Kio lagi. "Wait, aku harus telepon Meyra supaya lebih hati-hati." Wanda menyambar ponsel di meja dengan cepat namun suara bariton Kio membuat gerakannya terjeda. "Kita belum tau pasti. Bianca bukan orang seperti itu." "Tapi si peneror ini gak bisa dibiarin. Dia pernah kirim sepuluh box pizza ukuran jumbo yang mau gak mau harus Meyra bayar. Terus sekarang, orang itu mau ngancurin cafe yang udah susah payah Meyra kembangin. Bahkan tadi pagi Meyra hampir ..." Wanda menghentikan ucapannya. Ia teringat pada permintaan Meyra agar menyembunyikan segala hal tentang penyakitnya. "Meyra kenapa?" tanya Nathan cepat. Lodi memperhatikan jika Kio tampaknya juga ingin bertanya namun urung. Wanda tak segera menjawab. Hal itu membuat Nathan merogoh ponsel dan menghubungi tunangannya sendiri. Telepon tersambung namun Meyra tak menerima panggilannya. Sekali. Dua kali. Barulah yang ketiga, terdengar suara lembut wanita cantik bermata sendu itu. "Sayang, kenapa baru diangkat?" Nathan menghela nafas lega. "Maaf, aku lagi di luar. Gak tau kalo ada telepon. Kenapa, By?" "Kamu di mana sekarang?" Empat orang di satu meja itu sudah lupa dengan makan siang masing-masing. Lodi yang awalnya tak begitu peduli mulai penasaran dengan sosok Bianca yang sedari tadi mereka bahas. "Aku lagi main sama Bianca. Kamu udah makan siang?" Alis Nathan terangkat. Raut panik mulai tergambar di wajahnya. Wanda yang menyadari hal itu bertanya tanpa bersuara, tapi tentu Nathan lebih memilih fokus pada Meyra. "Main di mana? Aku lagi free, kita bisa ketemu sekarang 'kan?" Nathan berusaha membuat nada bicaranya terdengar sewajar mungkin. "Ini masih di coffeeshop depan apartemen, niatnya mau ke butik di mall CPW," jawab Meyra polos. "Tunggu di sana, oke. Aku on the way sekarang." Nathan menutup telepon dan langsung bangkit dari kursinya diikuti Kio. "Gue ikut," ujar Kio tanpa ragu. "Lo bukannya ada meeting penting setelah jam makan siang?" tanya Nathan sembari memicingkan matanya yang. "Gue juga harus tau tentang Bianca. Gimanapun dia temen gue dari kecil." Nathan tak punya waktu untuk bertanya lebih lanjut. Ia segera mengangguk dan dua pria itu melesat dengan cepat keluar dari bistro bernuansa cozy itu. Wanda tak bisa berkata-kata melihat Nathan dan Kio meninggalkannya begitu saja dengan Lodi. Pria itu menutup laptop dan menatap hambar pada ayam koloke di piringnya yang sudah dingin. Detik berikutnya ia tersenyum pada wanita dengan blouse putih di depannya. "Mau kopi?" tawarnya pada Wanda. "Sebentar, aku harus-" Wanda menoleh dan memutar bola matanya ketika menyadari teman sekantornya telah menghilang. Ia memeriksa jam tangan analog dan nyaris ternganga. "Duh, sorry lain kali aja. Jam makan siangku udah abis." Wanita itu beranjak tak lupa menggapai tasnya yang juga berwarna putih. "Kalo gitu, kita harus bertukar nomor. Lain kali aku akan mentraktirmu kopi di coffeeshop langgananku." Wanda mengangguk dengan senyum malu-malu. Setelah pernah mengagumi sosok Kio yang mempunyai visual nyaris sempurna. Kini jantungnya dibuat berdebar tak karuan oleh Lodi, pria tampan bermata elang namun memiliki senyum yang hangat. *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD