Erick mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. Besok dia dan Ilona akan pergi ke salah satu panti asuhan dan mengadopsi seorang anak demi menyenangkan ibunya. Bertambah lagi beban hidupnya. Seorang istri tanpa cinta dan seorang anak tanpa diinginkan. Erick bingung harus bersikap bagaimana nanti pada anak adopsinya. Bisakah dia bersikap seperti ayah pada umumnya? Ibunya, Ilona, Sasa dan masa lalu Ilona yang akan mencoba kembali mengusik Ilona.
“Mungkinkah aku harus mengambil sikap?” tanyanya pada diri sendiri. “Demi mamah.” Dia menarik napas berat. “Memutuskan Sasa dan mengatakan pada semua orang bahwa aku sudah menikah dengan Ilona.” Erick menggeleng. “Aku tidak bisa memutuskan Sasa.” Erick mengingat-ngingat semua kenangan indahnya bersama Sasa. Semua yang dilakukan bersama Sasa memberikan kesan yang sulit dilupakan. Dia wanita yang baik, sabar dan cukup pengertian, menurut Erick. Tapi, tentu Erick tidak menampik kalau Sasa matrealistik. Baginya, hal itu wajar. Dan Erick bisa memaklumi itu.
“Tapi, aku harus mengambil keputusan. Aku harus memilih antara mamah atau Sasa. Persetan dengan semua yang akan membicarakan aku dan Ilona di belakang setelah mereka tahu bahwa aku dan Ilona adalah sepasang suami-istri.”
Erick mengambil ponselnya di atas meja. Menggeser beberapa poto selfie Sasa yang tersenyum lebar. “Kalau aku semakin lama menjalin hubungan dengannya, dia akan sangat kecewa ketika tahu semuanya. Dia baru resign dari pekerjaannya dan sekarang akulah sumber keuangannya.”
Ketukan pintu membuat Erick terkesiap.
“Masuk!” serunya.
Ilona membuka pintu ruang kerja Erick dan masuk dengan aura dingin dan kebencian yang masih nyata dilihat Erick. Bagaimana bisa dia memperbaiki hubungan dengan wanita yang jelas-jelas membencinya? Bagaimana nanti kondisi psikologis anak adopsinya kalau tahu orang tua angkatnya tidak saling mencintai bahkan saling membenci dan menyakiti satu sama lain?
“Ada apa?” tanya Erick formal. Di kantor dia selalu berusaha menjaga keformalan antara atasan dan karyawannya. Dia selalu berusaha agar tidak ada kecurigaan dari siapa pun.
“Ibumu menelponku.” ujar Ilona dengan wajah masam. Dia sebal ketika mendapat telepon dari Amarta. Rasanya seperti mendapat telepon dari voldemort.
Erick membuang napas perlahan. “Ilona, sudah aku bilang kalau masalah pribadi jangan bahas di kantor.”
“Aku tidak tahan, Rick.” Ilona mencoba menahan nada suaranya agar tidak meninggi. “Dia menanyakan anak adopsi kita dan menyuruh kita untuk segera ke rumahnya dan membawa—“ Ilona tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Amarta membuatnya tertekan. “Kenapa sih dia tidak menelponmu saja?!” sergahnya kesal.
“Ilona, dengar, aku tidak ingin ada siapa pun tahu soal status kita sebelum waktunya. Jangan bahas masalah itu di kantor. Kamu bisa keluar sekarang.” kata Erick dengan nada dingin yang penuh ancaman tersorot dari matanya.
Ilona menggeleng penuh ironi. “Aku akan keluar setelah kamu menceritakan pertemuan dengan Arun. Kamu bilang apa pada Arun?”
“Ckckck.” Erick mendecakkan lidah seraya menggeleng. “Masih penasaran rupanya.” Erick bangkit dari kursi kerjanya yang nyaman. Dia menggeser kursi yang diduduki Ilona hingga Ilona nyaris terlonjak takut-takut kalau Erick melakukan tindakan tak terduga seperti yang sudah-sudah.
Erick membungkuk dengan kedua tangan memegangi kedua sandaran kursi di kanan dan kiri Ilona. Dia menatap tajam Ilona. Tatapan elang yang dianggap Ilona sebagai tatapan permusuhan. “Aku melarangmu dengan sangat keras menjalin komunikasi apa pun dengan mantan kekasihmu itu, Ilona.” katanya dengan nada serius, tajam sekaligus dingin.
“Kamu tidak berhak melarangku berkomunikasi dengan siapa pun, Erick.” balas Ilona dengan mata sedikit menyipit dan gaya bicara angkuh yang dibenci Erick.
“Aku punya kuasa atas dirimu sejak kamu menerima perjodohan ini.” Erick semakin tajam menatap Ilona.
Ilona tidak paham kenapa Erick semakin sok berkuasa atas dirinya. “Oh ya? Kalau begitu aku juga memiliki kuasa atas dirimu. Aku berhak melarangmu memberikan uang pada gadis manjamu yang norak itu.”
“Aku punya kuasa atas dirimu tapi kamu tidak punya kuasa atas diriku, Ilona.”
Ilona menatap tak percaya pria berhidung mancung di hadapannya itu. Sangat egois.
“Kamu lupa ya, aku ini bukan hanya suamimu, tapi bosmu juga.”
“Aku tidak lupa kalau aku punya bos sekaligus suami yang otoriter. Persis seperti ibunya yang selalu berdrama. Your Mom is drama queen.” Ilona tersenyum tipis.
“You are—“
“Ekheemmm... ekhemm...” suara dehaman Alan yang sudah berdiri di depan pintu yang setengah terbuka membuat Erick dan Ilona terkesiap. Erick segera bangkit dan kembali duduk sedangkan Ilona membereskan kursi yang tadi diputar Erick dengan canggung.
“Ma’af,” ujar Alan merasa bersalah. Adegan yang baru dilihatnya adalah adegan luar biasa yang akan membuat heboh seluruh karyawan di kantor. Sayang, dia tidak berani memotret adegan yang dingin namun terkesan sensual itu.
“Saya permisi,” ujar Ilona tanpa menatap Erick.
Alan tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata pada Ilona saat mereka berpapasan.
“Tadi kamu dengar apa?” tanya Erick khawatir Alan bukan hanya melihat tapi juga mendengar percakapan antara dirinya dan Ilona. Ini sebuah kecerobohan.
Alan yang sama polosnya dengan Mona menceritakan apa yang didengarnya barusan. “Saya dengar Pak Erick bilang ‘you are...’ sama Ilona, Pak.”
“Sebelum saya berkata seperti itu kamu dengar apa lagi?” tanya Erick menginterogasi.
Alan melirik ke arah kursi. “Boleh saya duduk, Pak?”
Erick mengangguk.
“Saya dengar Ilona bilang pakai bahasa Inggris tapi tidak jelas, Pak. Memangnya Ilona bilang apa, Pak?” tanya Alan dengan ekspresi polos seakan Erick akan mengajaknya bergosip tentang Ilona.
***
Erick
Aku nyaris mencekik leher Alan kalau saja dia dengar semua yang aku dan Ilona bicarakan. Dia muncul di depan pintu yang setengah terbuka. Berdeham hingga membuat aku dan Ilona tersentak. Ilona bangkit dan melesat pergi. Cukup menakutkan bagiku kalau ada satu saja karyawan di kantorku yang tahu. Ini belum saatnya. Tunggu sampai urusanku dengan Sasa selesai. Tentu saja aku masih belum bisa melepaskan Sasa. Aku menyayangi Sasa terlepas dari semua kekurangannya.
Ilona muncul dengan piyama motif floral. Dia duduk di hadapanku dengan mug putih karakter Rapunzel favoritnya.
“Kalau saja kamu duduk di kursimu dengan formal, Alan tidak akan menciptakan gosip.” Dia berkata dengan wajah datar dan nada suara yang dingin disertai kebencian yang selalu aku benci dari dirinya.
“Gosip apa?” tanyaku berusaha untuk tidak berminat. Karena sejujurnya aku sangat berminat pada apa yang karyawanku gosipkan tentangku dan Ilona.
“Dia bilang kamu menatapku penuh cinta dan aku tampak terpesona oleh tatapanmu.” Ilona mengatakannya dengan ekspresi geli. Dia tidak membayangkan kalau apa yang dikatakan Alan adalah kenyataan. Rasanya mual.
Aku menggigit bibir dalam bagian bawah agar tidak tertawa. “Ya, setidaknya dengan ada gosip seperti itu mereka tidak akan kaget kalau kita sudah menikah.”
“Memangnya kita akan membuat pengumuman tentang pernikahan rahasia kita? Semacam konferensi pers layaknya artis, hah?”
“Tidak. Tapi kan lambat laun kamu akan hamil dan—“
“Apa?!” dia menatapku tidak terima. “Aku tidak ingin mengandung anak darimu, Erick.”
“Kamu, istriku, Ilona.” kataku dengan senyum kemenangan yang membuat wajahnya memerah.
Dia terdiam. Menatapku dengan mata menyipit. Aku tidak tahu bagaimana caranya mengendalikan wanita ini agar dia paham bahwa pernikahan ini tidak akan pernah berakhir. Kalau sampai pernikahan ini berakhir, aku akan dicoret dari daftar pewaris kekayaan keluargaku. Tentu saja, ini alasan kenapa aku harus membuat wanita ini bertekuk lutut padaku tanpa harus meninggalkan Sasa. Tapi kebenciannya padaku membuat aku kesulitan mengontrolnya. Andai saja kakakku yang t***l itu tidak kabur setelah tahu kalau dirinya dijodohkan dengan wanita asing. Ini semua tidak akan terjadi padaku.
“Hanya status. Demi sebuah tradisi keluarga.” katanya angkuh. Dia mengangkat dagunya tinggi. “Meskipun di dunia ini hanya ada kamu satu-satunya pria, aku tak kan mau mengandung anakmu.”
“Jadi, kamu mau mengandung janin dari seorang pria semacam Arun?” aku bertanya dengan sebelah alis terangkat sekaligus mengejeknya. Terkadang aku heran pada beberapa wanita yang masih saja mencintai seorang pria yang jelas menyakitinya. Ya, meskipun aku menyakiti Sasa, tapi ini jelas konteks yang berbeda dibandingkan dengan Arun. Aku tidak punya perasaan apa pun pada Ilona dan Ilona juga tidak mempermasalahkan hubunganku dengan Sasa kecuali soal aku yang membiayai hidup Sasa.
“Jangan bawa nama itu lagi!” dia marah. Matanya membulat mengerikan.
“Kenapa? Ayolah, Ilona. Berhentilah bersikap layaknya kucing dan anjing. Kita harus bekerja sama.”
“Bekerja sama untuk apa? Untuk membahagiakan ibumu yang penuh drama itu?”
“Ckckck.” Aku mendecakkan lidah. “Manusia perlu untuk meneruskan generasinya dan mau tidak mau kamu adalah wanita yang harus membesarkan anak-anakku.”
“Kenapa tidak Sasa saja?”
“Dia bukan istriku.”
Dia mendesah sebal. “Maksudmu aku harus bersusah payah mengandung, melahirkan dan membesarkan anak-anakmu sedangkan kamu bersenang-senang dengan Sasa?”
Aku tidak tahu isi otak Ilona. Tapi sungguh perkataannya membuat aku kesal.
“Kamu menyamakan aku dengan mantan kekasih berengsekmu itu?” Aku masih bisa menahan nada suaraku agar tidak melengking dan mengeluarkan umpatan padanya. Aku selalu membiarkan dia yang mengumpatku.
“Kenapa kamu selalu membawa-bawa dia?”
“Kamu seperti dendam kepada kaum pria.” Aku mengangkat bahu. “Aku tahu lukamu belum sembuh, Ilona. Aku berbeda dari mantan kekasihmu itu.” seakan tidak terima dengan perkataanku, Ilona bangkit dan memilih meninggalkan percakapan yang belum usai ini. Perlukah hatinya ditata kembali agar dia bisa berpikir dengan jernih?
Ponselku berdering.
“Iya, Mah.” Sahutku.
“Di mana Ilona?” tanya mamah tidak sabar.
“Dia baru tidur, Mah. Ada apa? Nanti Erick sampaikan kalau Ilona bangun.”
“Mamah ingin dia segera mengadopsi anak. Teman-teman Mamah bawa cucu-cucu semua. Mamah bingung kalau harus sendirian ke tempat arisan.”
“Mah, besok Erick dan Ilona akan mengadopsi seorang anak. Mamah tenang saja. Nanti Mamah datang ke arisan bawa cucu kok.” Aku berusaha menenangkan mamah.
“Iya, tapi Mamah maunya cucu yang lahir dari rahim Ilona.” terdengar helaan napas di sana. “Oke, tidak apa. Cucu adopsi pun tidak masalah. Kalau anak adopsi kalian itu nakal dan menyebalkan, Mamah tidak akan mau mengakui dia sebagai cucu mamah.”
“Iya, Mah.”
Dan Mamah mengeluhkan perasaan kesepiannya yang membuat aku kebingungan harus menanggapinya dengan bagaimana. Mungkin benar kata Ilona, Mamah butuh seorang pendamping yang mengerti dirinya dan mendengar setiap keluh kesahnya. Astaga... apa yang aku pikirkan?! Mamah hanya ingin memiliki cucu. Cucu yang lucu dan menjadi penghibur bagi dirinya.
***