Julian tidak menunggu sedetik pun. Dengan gerakan yang lebih cepat dari kilat, ia menerjang ke arah ranjang rumah sakit. Ia tidak memanggil dokter; ia tahu setiap milidetik adalah nyawa. Tangannya yang gemetar namun pasti langsung merenggut selang infus dari tangan Tuan Adiwangsa, mencabutnya paksa hingga darah sedikit memercik ke sprei putih. "Dokter! Sialan, mana dr. Gunawan?!" raung Julian, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, mengalahkan bunyi flatline yang menyakitkan telinga. Di lantai, Elena masih membeku. Matanya terpaku pada monitor yang menampilkan garis lurus hijau yang tak kunjung bergelombang. Dunianya berhenti. Ia melihat ayahnya kejang, lalu tiba-tiba... diam. Terlalu diam. "Papa..." bisik Elena, suaranya nyaris tak terdengar. Tim medis menyerbu masuk. Dr. Gunawan

