Pintu jati berat itu tertutup dengan dentuman halus, mengunci kebisingan dunia luar. Di dalam ruang rapat yang luas itu, Julian melepaskan kancing jasnya, tampak jauh lebih rileks seolah beban seberat satu ton baru saja terangkat dari bahunya. Ia menatap Elena yang masih berdiri di dekat meja marmer, napas wanita itu perlahan mulai kembali teratur. Julian melangkah mendekat, namun alih-alih memberikan sentuhan posesif, ia berhenti dalam jarak yang sopan, menatap Elena dengan rasa bangga yang murni. "Elena, kau baru saja melakukan hal yang belum tentu bisa dilakukan oleh konsultan hukum termahal sekalipun," ucap Julian, suaranya bariton dan penuh apresiasi. "Karena kau sudah membantuku memenangkan pertempuran ini, aku akan memberikanmu satu hadiah. Apa pun. Sebutkan satu permintaan, dan

