“... Sekarang sampai di sini dulu. Kita bisa melanjutkannya kapan-kapan.” Kapan-kapan apanya?! Jasmine mendesah kesal jika mengingat kembali kata-kata enteng itu. Dia tidak bisa melenyapkan bayangan kejadian kemarin di dalam kepala, saat di mana dia dan Xavier saling berciuman mesra penuh keintiman. Kenapa Xavier telihat biasa saja di saat Jasmine dilanda kecemasan begini? Jasmine merasa malu dan kebingungan karena tindakannya kemarin yang kehilangan kendali dan malah menikmati ciuman Xavier. Ini bertentangan dengan nilai-nilai atau keputusan yang telah Jasmine buat sebelumnya kepada dirinya sendiri. Jasmine merasa bodoh! Ciuman sialan yang sudah dia kubur kembali terngingat lagi. Tidak! Dia tak ingin menjadi wanita lemah. Dinding pertahannya dia sudah bangun dengan tinggi dan kokoh.

