“Jadi, kamu maunya gimana?” Keduanya terdiam, membiarkan angin sore menerpa wajah mereka masing-masing. Memberikan efek kesujukkan yang sanggup menyusup sampai ke relung hati. Bagus menarik napas panjang dan mengusap wajah dengan gerakan pelan. Memperlihatkan kefrustasian yang dia rasakan. Dia tidak menyangka kalau kejadiannya akan serumit ini. Akan semenyakitkan ini. Padahal, dia tidak bermaksud sama sekali untuk melakukannya. Di tempatnya, Selvi terdiam. Menatap rumput di bawah kakinya dengan tatapan hampa. Kosong. Datar. Suara kendaraan yang saling sahut-menyahut disekitar taman seolah tidak didengar oleh Selvi. Cewek yang biasa dipanggil Epi itu hanya fokus pada dunia ciptaannya sendiri. Melarang semua orang untuk masuk ke dalamnya, termasuk Bagus. Pikiran neg

