CHAPTER 07

2121 Words
"Rui, Rui, Rui!" Suara Vanilla yang berjenis suara alto berubah menjadi sopran saat memanggil namaku dari pagar rumah yang berjarak sekitar 10 meter dari pintu rumahku. Aku sedang mengunci pintu rumah dan Vanilla menghampiriku dengan melompat-lompat kecil sambil melebarkan kedua tangannya. Tepat saat Vanilla mau melompat ke arahku untuk memeluk, aku menahan dahinya dengan tangan kanan. Wajahnya yang ceria berubah menjadi kusam seketika. "Awww! Sakit...." "Berhentilah memelukku seperti itu," kataku berjalan meninggalkan Vanilla yang sedang sibuk memeriksa dahinya di depan kaca rumahku. "Untung saja foundation ku tidak luntur. Hei, jangan tinggalkan aku!" teriak Vanilla sambil berlari mengejar langkahku yang sudah berada di samping pintu belakang mobil sebelah kanan. Aku cepat-cepat masuk ke dalam mobil dan mengunci pintu dari dalam. Tidak lama kemudian Vanilla berusaha membuka pintu belakang mobil dari luar lalu menggedor-gedor kacanya dengan harapan aku mau membukakan pintu untuknya. Dan akhirnya gadis itu menyerah kemudian membuka pintu mobil bagian depan. Karena ulahnya sendiri, Vanilla tidak berhasil mendapatkan tempat duduk di jok belakang sehingga ia harus duduk di samping tempat duduk driver. Vanilla memutar badannya lalu memandangiku dan Lynx bergantian dengan wajah kesal. "Argh... kalian sungguh menyebalkan," kata Vanilla memutar badannya kembali setelah mobil berjalan. Aku melihat ke arah Lynx dan ia tampak tersenyum puas. "Sering-seringlah menjemputku seperti itu jadi kamu mendapatkan tempat duduk paling nyaman di depan, ya," kataku menertawai Vanilla saat dia melihat ke arahku melalui cermin depan mobil. "Tidak akan," jawab Vanilla sambil menjulurkan lidahnya. Vanilla berpura-pura terlihat kesal seperti anak kecil saat itu, tapi setelahnya aku bisa mengetahui bahwa ia mendengarkan setiap percakapanku dengan Lynx dengan serius. "Wah... kamu menyuruh orang lain lagi mengerjakan tugasmu," kataku saat memeriksa buku catatan Lynx pada pelajaran kimia dan tidak mendapati tulisan Lynx pada tugas terakhirnya. "Aku harus mengurusi sesuatu kemarin," kata Lynx dengan santai. Sebelum memasukkan buku Lynx ke dalam tasku, aku memergoki Vanilla yang sedang melihat ke arahku. Lalu gadis itu berpura-pura melanjutkan penambahan bedak pada wajahnya. "Rasa apa?" tanyaku saat melihat Lynx yang sedang mengemut sesuatu di mulutnya. "Anggur." "Kalian benar-benar sedekat itu ya..," kata Vanilla sambil membalikkan badan dan melihat aku sedang mendekatkan badan ke arah Lynx. Lalu Lynx menyuapi aku sebuah permen yang mempunyai varian rasa sama dengan permen yang dimakannya. "Hmmm..." jawabku dengan seenaknya. ***** Selama pergantian jam pelajaran murid-murid kelas 10-C masih saja penasaran dengan Vanilla dengan memberikan banyak pertanyaan. Vanilla menjawab satu per satu dengan candaan maupun dengan jawaban yang ambigu. Sesuai dengan perkataan Lynx kemarin, Vanilla memang cukup pandai untuk memutarbalikan fakta. Gadis itu memang lihai dalam menggiring percakapan ke arah yang diinginkan olehnya. Aku beranjak dari tempat duduk dan mau tidak mau melewati tempat duduk Vanilla karena pintu belakang kelas 10-C lebih dekat dengan tempat yang ingin kutuju. Vanilla menoleh ke arahku, menempelkan tangannya ke bibir dan seakan melemparkan kecupan ke arahku lewat udara. Semua murid yang sedang berkumpul di meja Vanilla bersorak melihat tingkah Vanilla. "Woooow, bahkan Vi bisa meluluhkan Rui yang hanya membuka hatinya untuk Lynx!" "Ada yang melihat kalian bertiga keluar dari 1 mobil yang sama. Ternyata benar ya, kalian sudah dekat satu sama lain." "Hubungannya sedekat apa nih? Jangan-jangan sudah..." Aku berjalan melewati gerombolan murid yang bersorak sorai padaku tanpa bicara sepatah kata pun dan melangkahkan kaki keluar dari kelas. Pada jam pergantian pelajaran, beberapa kelas 10 terdengar berisik dari koridor lantai 3 karena para guru belum masuk ke kelas. Ada juga murid yang keluar dari kelas dan berjalan menuju tujuan yang sama denganku : toilet yang berada di sebelah timur gedung SMA Johnson. Saat aku berjalan menyusuri koridor dengan santai, tiga murid laki-laki yang tidak kukenal turun dari arah lantai 4 dan menghalangi jalanku. Salah satu dari ketiga murid itu adalah orang yang pernah menabrakkan bahunya pada bahuku saat berjalan dan melemparkan senyuman mencurigakan saat kami berpandangan. "Ada urusan apa?" tanyaku dingin pada laki-laki berbadan besar dan berambut cepak berwarna hijau yang bernama Gilbert. Gilbert dan kedua temannya adalah muri-murid kelas 12 yang sering bolos kelas dan berkelahi dengan preman di luar lingkungan sekolah. "Hai, pelayan keluarga Olivine. Tampaknya si pelayan sedang tidak bersama majikannya saat ini," kata Gilbert dengan suara yang dibuat-buat. Aku memandang wajah Gilbert dengan pandangan malas, kemudian mencari jalan lain untuk melewati ketiga makhluk berbadan besar yang menghalangi jalanku. "Heh! Kamu mengabaikan perkataanku?" Gilbert menggeser badannya dan tidak membiarkanku lewat. "Aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan, jadi kamu pasti salah sasaran," kataku menatap balik wajah Gilbert yang sedang kesal. "Walaupun peraturan sekolah mengenai absen masih terlalu longgar, tapi peraturan perihal pemukulan dalam lingkungan sekolah bisa membuatmu dikeluarkan. Aku hanya mengingatkan saja." Wajah Gilbert semakin geram sambil menahan kepalan tangan kanannya tapi aku bisa berjalan melewati ketiga orang tersebut tanpa adanya perlawanan lagi. Kalau saja aku berada di luar sekolah dalam kondisi seperti barusan, belum tentu aku bisa melewati mereka dengan baik-baik saja. "Tenang... tenang... tidak akan terjadi apa-apa," gumamku menenangkan diriku sendiri sambil mencuci muka di wastafel. Aku memandangi wajahku sendiri yang terlihat tergoncang sambil memastikan tidak ada murid lain yang berada di toilet ini. Bukan sikap Gilbert dan kedua temannya yang membuatku takut, tapi... Aku mengeluarkan selembar kertas HVS yang sudah dilipat menjadi 1/8 ukuran awal. Setelah dilebarkan menjadi ukuran awal, terlihat beberapa artikel dari koran ditempel menggunakan lem di kertas itu. Ada 3 foto di sana dan ketiganya adalah foto seseorang yang melakukan bunuh diri. Dan pada bagian kosong yang tidak ditempeli artikel koran terdapat tulisan dengan tinta merah: "Sebelum ini kami sangat loyal pada keluarga Olivine." Setelah membaca tulisan yang paling mencolok pada kertas itu, aku membaca artikel demi artikel yang ada dengan singkat. Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari luar toilet laki-laki dan membuatku cepat-cepat melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku celana kembali. Aku berpura-pura membasuh muka saat beberapa murid melewati punggungku dan beranjak keluar dari toilet. Aku menemukan kertas tersebut saat mengambil buku dari lokerku pagi hari tadi. Kertas ancaman itu dibungkus dalam amplop putih dengan tulisan berwarna merah yang mencolok : "Olivine's secret." Awalnya aku hanya mengira judul rahasia dari Olivine adalah keisengan belaka dari para murid perempuan yang ingin mengajak Lynx berkenalan melalui aku. Dengan santainya aku membuka amplop tersebut dan keringat dingin langsung mengucur dari pelipisku setelahnya. Saat itu aku langsung melipat kembali kertas itu dan memasukannya ke dalam saku celana sebelum Lynx sadar dengan tingkahku yang tidak biasa. Sekarang aku sedang berada di luar toilet dengan pikiran yang tidak karuan. Tiga orang diberitakan bunuh diri karena tidak dapat membayar hutang. Tapi terdapat artikel lain yang ditempel di kertas tersebut dan memberitakan bahwa ketiganya mempunyai dana yang cukup dan polisi menutupi motif yang sebenarnya. Apakah ancaman ini juga yang diberikan pada Reinhard Olivine? Mengapa aku yang diberikan ancaman? Seakan-akan perkataan : "Sebelum ini kami loyal pada keluarga Olivine" itu ditunjukkan padaku. Aku mencoba mengalahkan segala pemikiran negatifku yang mengarah pada keluarga Olivine dan mulai mengetik pada layar handphone : "Gerak-gerik Gilbert dan kedua temannya mencurigakan. Mungkin kamu bisa mencari informasi lebih lanjut mengenai mereka." Sementara mataku masih mengarah pada layar handphone, bagian sudut penglihatanku yang lain menangkap sosok yang terdiam cukup lama di depan kelas 10-C. "Hei..," sapaku ringan saat aku sudah berada di belakang seorang gadis berambut hitam panjang yang sedang mengamati isi kelas 10-C dari balik kaca pintu. "Oh, hai... Rui," kata Manna sambil berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kekagetannya. "Kukira kamu tidak masuk... tempat dudukmu diambil orang lain ya?" "Ah, iya. Vanilla mengambil tempat dudukku. Kamu mau membagikan sesuatu di kelasku?" tanyaku sambil memandangi setumpuk kertas yang sedang dipeluk oleh Manna. Melihat ketebalan dari tumpukkan kertas tersebut hampir sama dengan 2 rim kertas berarti massa yang ditanggung oleh tangan Manna kurang lebih akan sebesar 5 kilogram. "Berikan kertasnya padaku, aku tahu kertas sebanyak itu tidak ringan." "Ah... sebenarnya aku sedang memindahkan dokumen dari ruang OSIS ke ruang guru. Aku hanya mampir sebentar melihat kelasmu," kata Manna sambil menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu aku akan membawakannya sampai ke ruang guru," kataku sambil menjulurkan kedua tanganku ke arah Manna. Manna memandangiku beberapa saat lalu memberikan tumpukkan kertas ke tanganku. "Vanilla itu benar-benar calon istrinya Lynx?" tanya Manna saat kami berjalan berdampingan menuju lantai 2. "Ya... sepertinya begitu. Aku juga tidak terlalu mengerti urusan itu." "Kupikir kalian sangat dekat. Tapi kamu juga tidak mengetahui kebenaran gosip yang beredar." Aku hanya merespon perkataan Manna dengan tertawa kecil. Setibanya di depan ruang guru Manna membukakan pintu untukku dan menunjukkan bagian meja yang kosong supaya aku menaruh tumpukkan kertas di sana. Manna menunduk dengan hormat pada para guru di sana dan mereka menyapa Manna dengan ramah. Selain menjadi sekertaris OSIS rupanya Manna juga cukup dikenal di kalangan para guru. "Terima kasih sudah membantuku, Rui. Sebagai gantinya aku akan mentraktirmu makan siang nanti," kata Manna saat kami berdua berjalan di koridor menuju tangga ke lantai 3. "Aku hanya membawakan barang saja. Kenapa harus ditraktir?" "Kalau begitu... kita makan siang bersama. Ok?" ajak Manna sambil mengeluarkan senyum manisnya yang membuatku sulit untuk menolak. "Bila ragu-ragu berarti kamu sedang mempertimbangkannya. Bukan begitu?" "Ah... yaya baiklah," kataku tidak dapat menyanggah pernyataan dari Manna. "Aku akan ke kelasmu saat jam makan siang. Tunggu ya." Manna melambaikan tangannya padaku lalu melangkahkan kaki ke arah tangga menuju lantai 4. ***** "Jadi aku tidak salah liat saat Lynx makan siang berdua saja dengan murid baru itu? Dan Manna si sekertaris OSIS itu mengajakmu makan siang bersama?" tanya Kai padaku saat kami berada di lapangan basket pada jam pelajaran olahraga setelah jam istirahat berakhir. "Ya.. begitulah," jawabku dengan setengah hati. Kai sedang meluruskan kakinya di lantai, membungkukkan badan dengan kedua tangan yang sejajar dengan arah kaki dan badannya. Sebagai partner dalam kegiatan stretching ini, aku bertugas untuk menekan dan menahan bahu Kai supaya badannya menjadi lebih lentur. Jam pelajaran olahraga adalah salah satu momen di mana aku dan Lynx tidak bersama. Lynx tidak pernah mengikuti jam pelajaran olahraga sejak kecil. Entah dia berada di kelas atau pun di tempat lain saat ini. "Apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Kai dengan suara yang timbul tenggelam karena fokusnya terbagi antara melakukan stretching dan berbicara padaku. "Hanya menceritakan kehidupan kami masing-masing," jawabku singkat. "Ayolaah.. ceritakan lebih banyak. Kamu sudah seharusnya bangga murid teladan yang manis seperti Manna mengajakmu makan siang seperti itu." "Kenapa harus bangga? Makan siang seperti itu tidak ada yang spesial sama sekali. Lagipula kamu tahu sendiri dia menyukai Lynx." "Mungkin saja sebenarnya dia suka padamu, Rui. Pada awalnya ia berpura-pura berkenalan dengan Lynx, padahal ingin mendekatimu. Ini saat yang bagus, bukan? Aw..." Kai menegakkan badan sambil memegang kepalanya. Aku tidak sabar untuk memukul kepala Kai setelah ia mengucapkan teori yang tidak berdasar itu. "Priit..." Suara peluit dari guru olahraga menandakan saatnya aku dan Kai berganti peran dalam kegiatan stretching ini. "Kamu harus mempertimbangkan kesempatan yang ada, Rui. Aku... mendengar rumor aneh mengenai keluarga Olivine," kata Kai sambil berbisik di telingaku saat akan menekan bahuku ke arah lantai. Dengan spontan aku menahan badanku dan menoleh ke arah Kai yang berada di belakangku. "Rumor?" "Iya... kemarin malam ada yang mengirim link artikel pada guru-guru di sekolah mengenai kejadian seorang gadis bunuh diri beberapa tahun lalu. Artikel itu membantah bahwa kejadian tersebut adalah bunuh diri dan mengaitkannya dengan keluarga Olivine. Beberapa siswa sempat mendapatkan link tersebut, namun beberapa menit kemudian link tersebut tidak dapat diakses kembali," kata Kai dengan nadanya yang serius. "Mungkin sudah saatnya kamu berhubungan dengan gadis yang kamu sukai daripada mengurusi masalah Lynx terus menerus." "Kalian berdua! Sekali lagi kalian mengobrol, keluar dari lapangan ini!" teriak guru olahraga padaku dan Kai dari jarak 10 meter. "Maafkan kami!" Kai berteriak pada guru olahraga sambil mengatupkan tangan. Kasus bunuh diri dan keluarga Olivine? Sebenarnya apa yang terjadi? Aku tahu pasti banyak orang yang ingin menjatuhkan posisi Reinhard Olivine yang sedang berada di atas. Tapi apakah artikel yang diucapkan oleh Kai dan artikel yang ditunjukkan padaku memang bukan sekedar ancaman belaka? Aku menundukkan badan ke arah lantai sambil terus berpikir. Rahasia yang disembunyikan oleh Lynx. Rahasia keluarga Olivine yang ditunjukkan padaku dalam sebuah kertas berisikan artikel. Artikel yang hilang dalam sekejap kemarin malam. Pikiranku terhenti sesaat karena tiba-tiba terdengar suara tawa guru olahraga yang menggelegar dari bagian lapangan basket yang lain, tempat di mana para murid perempuan melakukan stretching yang sama dengan murid laki-laki. Guru olahraga tampak sedang menggoda Vanilla dengan mencontohkan gerakan stretching padanya. Jelas sekali Vanilla juga sedang mencari perhatian dengan memakai baju olahraga serba ketat ditambah gerakan yang fleksibel dan mengundang mata nakal para murid laki-laki. "Argh.. si mesum itu. Beda sekali tingkahnya kalau sedang bersama murid perempuan," kata Kai melihat guru olahraga dengan kesal. "Tapi memang badannya itu memang menarik ya. Aku tidak menyangka anak seumuran kita bisa mempunyai badan seperti Vanilla." Sementara para murid laki-laki menjadi tidak fokus dengan kedatangan anak baru pada jam olahraga, aku sedang sibuk mempertanyakan apa hubungannya antara rumor yang beredar dengan keberadaan Vanilla yang semakin mencolok. Vanilla memandangiku dari kejauhan dan melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD