CHAPTER 05

2417 Words
Seumur hidupku aku belum pernah menyaksikan keributan yang terjadi di dalam kelas sekolah seperti saat ini. Sebagian besar murid 10-C berdiskusi dengan teman-temannya, ada beberapa yang bertepuk tangan dan bersuit untuk mengeluarkan bunyi peluit secara bergiliran, hingga ada yang berteriak bahwa kelas 10-C akan menjadi kelas yang paling hebat. Suasana ricuh ini diakibatkan oleh satu gadis yang sedang berdiri di depan kelas didampingi oleh seorang guru muda yang hanya bisa tersenyum menahan malu melihat kondisi kelas saat itu. "Hei, diam diam! Biarkan bintang 10-C memperkenalkan dirinya terlebih dahulu," kata salah satu murid laki-laki dengan suara yang keras dan beberapa detik kemudian keributan dapat diredam. "Hai! Mungkin kalian sudah pernah melihatku di media, namaku Vanilla Irish Paella. Mulai hari ini aku akan menjadi murid baru," kata murid baru yang bernama Vanilla. Vanilla Irish Paella mempunyai rambut pirang panjang bergelombang, berwajah oval dan mengenakan polesan make up tipis di bagian mata dan bibir. Menurutku wajahnya tidak terlihat cantik secara natural, tapi tentu saja bukan wajah yang menjadi daya tarik nomor 1 dari seorang Vanilla Irish Pealla, melainkan badannya. Entah sengaja atau tidak, Vanilla seakan memamerkan badannya yang berbentuk jam pasir dengan pakaiannya yang ketat. Bahkan kemeja dan blazer yang digunakannya cukup ketat hingga sebagian besar murid laki-laki tidak berhenti memerhatikan bagian payudaranya yang cukup besar. Vanilla Irish Paella yang lebih dikenal dengan nama panggung VIP adalah seorang model dan artis film dewasa yang cukup popouler di kalangan anak muda. Beberapa film yang dibintanginya bahkan tidak bisa ditonton secara publik, sehingga kehadirannya kali ini pastilah menjadi kontroversial. Hampir semua murid laki-laki 10-C menjadi terlalu bersemangat hingga tidak terkontrol karena mungkin mereka sedang mengkolerasikan kenyataan dengan imajinasi mereka. Sedangkan murid perempuan sibuk bergosip dan merasa risih dengan sikap lawan jenisnya. "Bisa-bisanya tidak ada informasi tahun kelahirannya di mana pun. Tapi aku cukup yakin umurnya minimal 3 tahun di atas kita," kataku pada Lynx setelah menghentikan pencarian terhadap Vanilla dari handphone. "Entahlah," jawab Lynx singkat. Lynx lalu menyenderkan badan di kursi dan memandangi Vanilla dengan matanya yang agak menyipit. "Karena kita seumuran, panggil saja aku Vi. Dan bolehkah aku mengajukan permohonan, Pak Guru?" kata Vanilla menoleh ke samping dan langsung mendapatkan izin dari guru tersebut. "Aku ingin mengambil tempat duduk di samping calon suamiku, Lynx Olivine." Tak perlu menunggu beberapa detik, seluruh murid di kelas 10-C kembali rusuh kecuali aku, Lynx dan Vanilla yang tampak senang setelah membuat kerusuhan. Aku hanya bisa menghela nafas keras karena sudah mengetahui bahwa mulai pagi hari tadi akan banyak peristiwa tidak terduga dalam hari ini. Lynx masih tetap bergeming dan tidak berekspresi walaupun saat ini banyak murid yang menanyakan hal-hal tidak masuk akal padanya. Tapi aku tahu ada pergerakan dari wajahnya yang menandakan bahwa ia sedang terusik. Vanilla berjalan ke arah tempat dudukku dan Lynx selayaknya seorang model yang memperlihatkan langkah tegas dan berwibawa. Wajahnya tersenyum lebar saat bergantian memandangi Lynx dan aku. Bahkan senyumannya lebih lebar lagi saat aku berdiri untuk mensejajarkan tinggi kami. "Kita bertemu lagi ya. Kebetulan sekali," kata Vanilla padaku. Dari keramaian yang ada, aku masih bisa mendengar namaku disebut oleh murid-murid lain. Entah apa yang mereka perbincangkan. "Hobimu aneh ya. Senang merebut tempat duduk orang lain," kataku dengan senyum sinis sambil mengambil tas selempang untuk beranjak dari tempat dudukku. Hari ini sudah dua kali tempat dudukku direbut oleh seseorang yang dengan mudahnya dapat masuk ke dalam hubungan pertemananku dengan Lynx. Peristiwa yang pertama adalah di pagi hari tadi. Lebih tepatnya di saat aku menutup pintu rumah dan melihat Vanilla turun dari mobil Lynx dengan penuh percaya diri. Tentu saja saat itu juga Vanilla memperkenalkan dirinya sebagai calon istri Lynx dan dengan santainya ia mengambil tempat duduk di antara Lynx dan aku. Seakan Vanilla ingin mengisyaratkan bahwa hubungan mereka sangat dekat. Tanpa perlu diberitahu oleh Lynx pun aku sudah mengetahui bahwa Vanilla adalah orang yang ditunjuk ayahnya untuk mengawasi Lynx. Walaupun aku sudah tahu tujuan dari kemunculan Vanilla, masih banyak pertanyaan yang melintas di kepalaku. Jadi selama perjalanan menuju sekolah aku mendengarkan musik melalui headset untuk mengabaikan Vanilla yang bertanya-tanya tanpa henti dan untuk menghalau pikiranku yang sama berisiknya dengan orang di samping tempat dudukku saat itu. Hingga sampai di kelas pun pikiranku belum berhenti mencari jawaban atas kejadian di depan rumahku. Karena tidak tahan untuk berdiam diri, aku menyibukkan diri dengan mencari informasi dari internet mengenai Vanilla. Aku berharap menemukan suatu benang merah antara Reinhard Olivine dengan seluruh berita yang berkaitan dengan artis dewasa yang penuh dengan kritikan dari netizen. Nihil. Sampai saat ini aku belum mendapatkan satu pun informasi yang signifikan sebagai bahan observasiku. Tapi saat bertatapan langsung dengan Vanilla selama beberapa detik, intuisiku mengatakan bahwa gadis ini bukan gadis biasa yang hanya berkata omong kosong. Di balik senyuman Vanilla yang bisa menggoda banyak laki-laki, aku bisa menangkap sorot mata yang menusuk seakan-akan aku diperingatkan untuk lebih berhati-berhati dalam menghadapinya. "Hans, kamu tidak akan bertanggung jawab saat guru menanyakan sesuatu kepada Lynx kan? Biarkan aku yang duduk di sini," kataku setelah berjalan melewati Vanilla dan berbicara pada Hans yang mempunyai tempat duduk persis di depan Lynx saat ini. Hans mengangguk dengan gugup, lalu memberikan tempat duduknya untukku dengan sukarela. Aku mengeluarkan buku dan alat tulisku kembali. Setelah memikirkan hal-hal yang begitu memusingkan, aku menyadari suatu hal sepele yang tiba-tiba muncul di saat memegang salah satu pena yang tersusun di dalam kaleng persegi panjang. Selama hampir 10 tahun aku selalu menoleh ke arah kiri untuk sekedar memastikan kondisi Lynx. Mulai saat ini aku harus menahan diri untuk tidak terlalu sering berbalik badan karena ada Vanilla yang akan mengawasi gerak gerikku. Perasaan tidak nyaman tiba-tiba menyelimutiku. Aku berusaha merasionalkan gejala itu sebagai akibat dari perubahan kebiasaan yang terjadi mendadak. Bagaimana pun aku benar-benar dikondisikan untuk terbiasa duduk di samping Lynx selama ini. Mengubah posisi tempat duduk kami sama dengan mengubah cara menyisir rambut yang sudah dilakukan setiap hari dari sejak kecil. Tidak nyaman itu normal. Aku memandangi sebentar pena hitam yang sedang terjepit di antara telunjuk dan jempol kananku. Tanpa membalikkan badan dan menoleh sedikit ke samping, aku menyilangkan tangan kananku ke belakang bahu kiri, kemudian menyimpan pena tersebut di pojok kiri dari meja Lynx. Setelah itu aku mendengar suara halus dari gesekan pena dan meja kayu sebagai tanda Lynx sudah mengambilnya. Tempat duduk pojok kiri yang biasanya sepi kini menjadi cukup ramai dengan keberadaan Vanilla. Di antara pergantian jam pelajaran, murid-murid yang duduk di depan dan sebelah kanan dari Vanilla berusaha mengajak ngobrol dan bertanya banyak hal. Bahkan salah satu murid menyambungkan kedatangan Vanilla dengan rumor dari hubunganku dan Lynx. "Lynx dan Rui itu seperti pasangan tidak terpisahkan selama ini. Ternyata hanya perempuan sepertimu yang bisa membuat Lynx luluh." Ucapan asal itu menghasilkan kondisi yang hening beberapa saat. Mungkin yang melemparkan ucapan tersebut hanya ingin membuat percakapan lebih berwarna. Tapi ia tidak sadar kondisi dari lawan bicaranya. "Maksudmu... perempuan sepertiku?" tanya Vanilla dengan nada meninggi di akhir kalimatnya. "Ah.... maksudku..." Suara dari murid yang melemparkan ucapan asal itu terdengar panik. Karena penasaran, aku membalikan badan dan melihat sekitar sekitar 3 orang sedang berdiri di bagian kanan dari meja Vanilla dan saat ini murid laki-laki yang berdiri tengah diomeli oleh murid perempuan yang juga sedang berdiri. "Hahahaha..." Vanilla tertawa dengan lepas sambil menepuk-nepuk lengan murid laki-laki yang sedang panik. "Maksudmu aku terlalu terkenal untuk diabaikan kan? Kamu memang pintar memuji," kata Vanilla mengundang tawa dari murid-murid di sekitarnya. Merasa sedang diperhatikan, Vanilla melihat ke arahku lalu tersenyum lebar. Aku menggelengkan kepala lalu melanjutkan catatanku yang tertunda dan menyesal karena sudah berusaha mencari info dari adegan barusan. Jadi aku memilih untuk memakai headphoneku untuk mendengar musik pada setiap pergantian jam pelajaran. Mendengarkan pertanyaan demi pertanyaan yang dijawab dengan basa basi oleh Vanilla bukanlah hal yang menyenangkan. Jam makan siang pun berbunyi. Sesungguhnya aku terlalu malas untuk beranjak dari tempat duduk karena memikirkan makan siangku kini akan semakin mengundang banyak perhatian. Di sisi lain aku bisa mendengar bahwa Vanilla menolak untuk diajak makan oleh murid-murid lain dan memilih untuk makan bersama Lynx. "Aku akan makan bersama calon suamiku," kata Vanilla dengan suara yang manja. Aku membalik badan dengan berat hati karena sudah pada titik capai untuk mengabaikan ucapan-ucapan Vanilla yang sengaja membuatku kesal. Dan benar saja, setelah aku berbalik badan Vanilla menggandeng tangan Lynx sambil tersenyum manis ke arahku. Aku mendengus tidak percaya melihat apa yang terjadi saat ini. "Hei. Lynx bukan ayahmu, kamu membuatnya risih," kataku saat melihat Lynx berusaha melepaskan tangan Vanilla. "Tentu saja bukan. Dia kan calon suamiku," kata Vanilla sambil menjulurkan lidahnya padaku. "Huh. Kekanak-kanakan sekali. Sebegitu perlunya kah kamu memberitahu pada semua orang bahwa dia calon suami mu? Hanya orang yang tidak percaya diri yang berkali-kali menegaskan apa yang diucapkannya," kataku dengan salah satu bibir yang menaik. "Woaaa. Kamu tidak tahu ya, banyak hal yang harus dipublikasikan supaya tidak salah paham. Dalam dunia entertaiment, hal seperti ini sudah sangat biasa. Aku hanya membuat orang-orang paham kondisi aku dan Lynx sehingga orang-orang tidak perlu melakukan yang tidak seharusnya," balas Vanilla dengan suara yang beritme sama dengan gerakan jarinya. "Tentu saja..." Belum sempat aku melanjutkan kalimat, Lynx menutup mulutku dengan tangan kirinya. Aku dan Lynx berpandangan dan Lynx tampak wajah sudah terlalu malas menunggu pertengkaran antara aku dan Vanilla. "Ke kantin," kata Lynx singkat. Baru saja beberapa langkah keluar dari kelas 10-C, Vanilla berulah lagi dengan memisahkan aku dan Lynx yang berjalan berdampingan. Vanilla menerobos masuk di antara aku dan Lynx sehingga saat ini aku, Lynx dan Vanilla berjalan bertiga dengan berdampingan. Sepanjang perjalanan dari kelas 10-C menuju kantin, hampir semua orang yang berada di dekat kami bertiga melihat ke arah yang sama. Vanilla. Lirikan mata, bisik-bisik yang terang-terangan, dan siulan nakal yang berusaha menggoda. Entah mengapa justru aku yang merasa risih saat ini, padahal Vanilla terlihat biasa saja dan tampak menikmati respon dari murid-murid SMA Johnson. Saat mengantri untuk mengambil makanan pun, tidak sedikit murid yang sadar kemudian mengamati Vanilla dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Lynx saat ini karena berada pada barisan paling depan di antara kami bertiga, tapi sepertinya dia sangat acuh. Bahkan Lynx menarik nampannya sendiri tanpa memedulikan Vanilla yang masih berusaha menumpangkan piring yang sudah berisi makanan di atas nampan Lynx. Aku menarik piring yang dipegang Vanilla, kemudian menaruhnya di atas nampanku. Vanilla memandangiku dengan matanya yang besar dan bulu mata panjang yang mungkin berasal dari bulu mata palsu. Melihat wajahnya yang kadang terlihat polos, aku jadi agak merasa kasihan. Aku tahu ia berusaha basa basi bukan karena karakternya seperti itu. Walaupun aku sedikit menyesal telah iba padanya karena dalam sepersekian detik wajah Vanilla berubah kembali menjadi wajah iblis yang menyebalkan. "Tenang saja aku tidak akan menumpang padamu," kata Vanilla menjulurkan lidah, kemudian berusaha melewatiku untuk mengambil nampan pada beberapa antrian sebelum kami. "Kamu akan merusak antrian bila mengambil nampan lagi," kataku sambil menahan bahu kanannya dengan tanganku. Vanilla berdecak tapi mengikuti saranku untuk tetap berada dalam antrian. Setelah dengan terpaksa aku membayar makanan Vanilla yang jauh lebih mahal dari yang kuambil, aku mengangkat nampan yang berisi menu sirloin steak 300 gram dan beef bowl. Aku tidak mengerti lagi bagaimana bisa badan sekurus Vanilla diisi oleh steak berukuran 300 gram. Bahkan saat ini ia sedang berada pada vendor minuman dan katanya ingin membeli oreo frappucino. Setelah membeli minuman dari vending machine, aku berjalan ke arah Lynx berada dan duduk di sofa seberang tempat duduknya. Sekilas aku mendapati Lynx sedang memandangi porsi yang tidak wajar dari sebuah steak berukuran jumbo yang terletak di tengah meja. "Apakah dia mengalami gangguan makan bulimia?" gumamku masih tidak percaya dengan steak jumbo di depan mataku. Aku mengangkat kedua piring yang berada di nampanku, kemudian menaruhnya di atas meja. Kedua nampan yang sudah tidak digunakan langsung kusingkirkan ke ujung meja yang kosong. "Rui... jangan terlalu baik padanya," kata Lynx memandangiku tanpa ekspresi. Aku terdiam sesaat dan berusaha mencerna perkataan Lynx. Eh... sebentar, kenapa aku yang dilarang untuk berbuat baik? Kenapa seakan kedatangan Vanilla ada kaitannya denganku? Belum sempat aku menanyakan maksud dari Lynx, Vanilla muncul dengan sebuah gelas panjang berisikan minuman yang berwarna putih dengan remukan biskuit hitam di melayang-layang di antara fluida kental. Aku jadi meragukan apakah Vanilla benar-benar bisa menghabiskan semuanya atau tidak. "Apakah hanya aku saja yang tertarik dengan banner dari tempat minuman? Dari jauh saja aku sudah dapat merasakan aura yang menarik dari sana," kata Vanilla tersenyum dengan memerkan seluruh giginya. Tapi senyumannya tidak bertahan lama karena Lynx tidak memberikan jalan pada Vanilla untuk duduk di sebelahnya. Bola mata Vanilla masih mengarah pada tempat duduk yang kosong di sebelah Lynx dan berusaha mencari jalan untuk duduk di sana. Dalam pikiranku terbesit bahwa dia mungkin akan merangkak ke bawah meja untuk mendapati tempat yang dia inginkan. Tapi Lynx menaruh nampan di sebelah tempat duduknya, menandakan penolakan secara terang-terangan. Saat itu aku tidak menyangka bahwa Vanilla akan merubah strateginya dengan drastis. Tiba-tiba gadis itu memandangiku dengan bibir yang dimajukan dan mata yang berkedip-kedip. Dengan wajahnya yang dibuat memelas, Vanilla menunjuk tempat dudukku yang mengisyaratkan supaya aku bergeser dan memberikannya tempat itu. Aku melihat ke arah Lynx dan Lynx mengabaikan pandanganku. Ingin aku protes pada Lynx saat itu juga mengapa ia tidak memberitahuku dari pagu hari tadi supaya aku tidak terlalu baik pada Vanilla. Kenapa Lynx tidak mengatakan bahwa Vanilla cukup licik untuk dapat memanfaatkan kebaikanku. Dan sialnya setelah aku kesal dengan sikap Lynx, aku tahu bahwa Lynx cukup licik juga untuk memindahkan sebagian penderitaannya akan Vanilla padaku. Dengan berat hati aku menggeser tempat dudukku supaya Vanilla bisa mendapatkan tempat duduk. "Aku tidak tahu kamu begitu baik," kata Vanilla sambil memelukku saat sudah duduk. "Hei, hentikan. Benar-benar ya, inilah mengapa dunia entertaiment bisa menghasilkan banyak gosip. Ternyata kalian tidak tahu apa yang namanya konsistensi," kataku berusaha melepaskan tangan Vanilla dari leherku. "Karena tinggi kita hampir mirip, aku lebih suka memelukmu dibandingkan Lynx. Kita berteman mulai sekarang ya," kata Vanilla manja tanpa memedulikan ucapanku. "Aku tidak akan berteman dengan orang yang seenaknya memeluk seperti ini," kataku akhirnya bisa melepaskan tangan Vanilla dengan sedikit paksa. Dengan energinya yang luar biasa besar, bukannya berhenti menggodaku Vanilla malah melakukan sesuatu yang benar-benar sudah di luar pemikiran akal sehatku. "Kalau begitu ciuman ini jadi tanda pertemanan kita ya," kata Vanilla setelah mendaratkan bibirnya di pipi kananku. Aku masih bergeming dengan mulut yang sedikit terbuka dan tanpa sadar aku menahan nafas beberapa detik saat itu. Setelah aku dapat menggerakkan kembali otot-otot wajahku, aku hanya bisa melotot melihat Lynx yang dengan tenang tersenyum ke arahku dan memakan kembali steaknya. Sementara itu Vanilla merespon setiap orang yang memandangi meja kami dengan tersenyum santai dan berhumming ria. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras dari mulut. Kejadian hari ini benar-benar sudah mengguncang kehidupan sekolahku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD