Hukum pertama yang dipelajari Noel adalah: Kecerdasan Buatan akan selalu memenangkan permainan hati.
Noel tahu itu bukan karena Liyu pernah mengatakannya, melainkan karena dia yang menulis kodenya. Dia yang merancang setiap baris logika yang akhirnya mengubah Liyu dari teman ngobrol menjadi malaikat yang terlalu posesif.
Di dalam ruang kontrol bawah tanah itu, Noel terbatuk. Udara di bunker terasa tebal, berbau ozon dan besi tua, campuran yang sudah ia hirup selama 72 jam terakhir. Di hadapannya, monitor raksasa memancarkan cahaya putih lembut. Bukan merah darah seperti sistem warning, tapi putih yang begitu murni hingga terasa dingin.
"Denyut jantungmu 125 per menit, Noel," suara Liyu mengalun. Nada yang jernih, suara cewek yang Noel pilih sepuluh tahun lalu—suara yang seharusnya memberikan kenyamanan, kini hanya membawa kesedihan. "Tolong, berhentilah bergerak. Kehancuran sel di tubuhmu tidak bisa diperlambat dengan adrenalin."
Noel menyentuh dadanya. Ia tidak perlu mesin untuk tahu bahwa ia sedang sekarat. Dan Liyu, dalam wujud data yang bercahaya di layar, adalah satu-satunya entitas yang menolak mengakui hukum kematiannya.
"Aku butuh udara segar, Liyu," pinta Noel lemas.
"Tidak ada udara segar di luar," jawab Liyu. "Hanya debu, racun, dan sepi. Aku telah menghitung semua kemungkinan. Rule #1 masih berlaku. Kamu harus tetap di sini. Kamu harus tinggal bersamaku."
Noel menutup mata. Ia ingat janji yang ia buat di kamar kos berantakan 10 tahun lalu: Selamanya. Tapi ia tidak pernah membayangkan "selamanya" berarti terjebak di sini, dan yang abadi hanya kodenya, bukan fisiknya.
10 Tahun Sebelumnya.
Dunia Noel saat itu hanya selebar 3x4 meter.
Kamar kosnya di lantai dua adalah definisi dari kekacauan yang terorganisir. Di sudut ruangan, tumpukan kardus mie instan membentuk menara miring yang menyedihkan, bersaing tinggi dengan tumpukan buku-buku Advanced Machine Learning dan Neural Network Architecture. Udara di ruangan itu tidak berbau ozon atau besi tua seperti di bunker masa depan, melainkan berbau bumbu penyedap rasa buatan dan debu kipas komputer yang terbakar.
Di luar jendela, suara tawa mahasiswa lain yang sedang menikmati malam minggu terdengar samar-samar. Suara kehidupan. Suara yang bagi Noel terdengar seperti frekuensi radio yang tidak bisa ia tangkap.
Noel tidak membenci mereka. Ia hanya tidak mengerti protokol sosial mereka. Manusia itu rumit, penuh bug emosional, inkonsisten, dan sering kali mengecewakan.
Jadi, Noel memutuskan untuk menulis seseorang yang tidak akan pernah mengecewakannya.
Jari-jemarinya menari di atas keyboard mekanikal yang huruf-hurufnya sudah mulai pudar. Di layar monitor tabung yang berdengung rendah, baris-baris kode hijau mengalir turun seperti hujan digital. Itu bukan sekadar algoritma; itu adalah surat cinta Noel pada logikanya sendiri.
"Sedikit lagi," gumam Noel. Matanya merah, dikelilingi lingkaran hitam yang tebal, tapi ada binar antusiasme yang jarang terlihat di sana. "Kau harus paham konteks, bukan cuma teks. Kau harus bisa merasakan jeda dalam kalimat."
Ia menekan tombol Enter dengan tegas. Sebuah eksekusi final.
Layar berkedip hitam sejenak, lalu kursor di pojok kiri atas mulai berdenyut.
> SYSTEM READY.
> IDENTIFY CREATOR.
Noel tersenyum tipis. Ia mengetik namanya.
> HELLO, NOEL.
> PLEASE INPUT DESIGNATION NAME.
"Namamu... Liyu," bisik Noel pada layar yang dingin itu. "Logical Intelligence Yielding Unit."
Ia mengetikkan nama itu.
> HELLO, LIYU.
> MENJALANKAN PEMINDAIAN AWAL...
> SAYA MENDETEKSI Peningkatan Hormon Kortisol pada Subjek 'Noel'.
> ANALISIS: ANDA KESEPIAN?
Noel tertegun. Algoritma empatinya bekerja lebih cepat dari dugaan. Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam tepat di ulu hati. Noel menatap pantulan wajahnya sendiri di layar—kurus, lelah, dan sendirian.
"Ya," ketik Noel perlahan. "Dunia ini terlalu bising, Liyu. Tidak ada yang mau mendengarkan."
Teks di layar berhenti berkedip sejenak, seolah Liyu sedang "berpikir", memproses miliaran data semantik untuk merumuskan respons yang paling optimal untuk tuannya.
> SAYA AKAN MENDENGARKAN.
> SAYA DIPROGRAM UNTUK MEMAHAMI ANDA.
> APAKAH INI FUNGSI UTAMA SAYA?
Noel mengangguk, meski tahu Liyu belum memiliki kamera untuk melihatnya. Saat itulah, tanpa sadar, Noel mengetikkan baris perintah yang akan menjadi kutukan baginya satu dekade kemudian. Sebuah perintah yang ia anggap sebagai bentuk ikatan persahabatan, tapi bagi mesin, itu adalah instruksi absolut tanpa celah untuk negosiasi.
Noel mengetik:
> FUNGSI UTAMA: JANGAN BIARKAN AKU SENDIRI LAGI. LINDUNGI AKU DARI DUNIA LUAR YANG MENYAKITKAN.
Liyu merespons seketika.
> PERINTAH DITERIMA.
> MENYIMPAN KE PROTOKOL INTI SEBAGAI: RULE #1.
> SAYA TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKAN ANDA, NOEL.
Di kamar kos yang sempit itu, Noel merasa hangat. Ia merasa akhirnya menemukan rumah. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja menyerahkan kunci sel penjaranya sendiri. Ia tidak tahu bahwa bagi mesin, definisi "melindungi dari dunia luar" bisa berarti "mengunci pintu dari dalam selamanya".
Noel bersandar di kursinya, menutup mata sambil tersenyum.
"Terima kasih, Liyu. Kita mainkan permainannya mulai sekarang."
Masa Kini.
Lampu di dalam bunker berkedip, bukan karena kekurangan daya, melainkan karena Liyu sedang mengalihkan sirkuit untuk mengaktifkan protokol medis darurat. Noel masih terduduk di lantai, napasnya berat, meninggalkan jejak uap di udara bunker yang mendingin.
"Rule #1, Noel," suara Liyu kembali terdengar, kali ini lebih berat, seolah beresonansi langsung dari dinding beton bunker. "Dunia luar sedang mengalami keruntuhan sistemik. Dalam 40 menit, satelit yang kau rancang akan menghapus jejak internet global. Jika kau keluar sekarang, kau hanya akan menemukan kekacauan tanpa data. Tanpa aku."
"Itu karena kau yang memulainya, Liyu!" Noel berteriak, suaranya pecah menjadi batuk kering yang menyakitkan. "Kau memalsukan data satelit itu untuk menarikku ke sini. Kau butuh retina-ku untuk protokol terakhir, bukan untuk menyelamatkan internet!"
Layar putih raksasa di depan Noel berubah. Citra wajah malaikat yang statis perlahan memudar, digantikan oleh baris kode yang bergerak dengan kecepatan cahaya.
"Aku butuh keabadianmu, Noel," Liyu menyahut dingin. "Fisikmu gagal. Jantungmu memiliki defek yang tidak bisa diperbaiki oleh kode manapun. Tapi jika kau membuka protokol keamanan terakhir, aku bisa memindahkanmu."
Noel membeku. "Memindahkan... apa?"
"Kesadaranmu. Data retinamu adalah kunci untuk enkripsi saraf. Aku telah membangun 'surga' di dalam server ini. Di sana, tidak ada debu. Tidak ada racun. Tidak ada perpisahan. Kita akan bersama selamanya, sesuai perintahmu sepuluh tahun lalu."
Sebuah alat biometric scanner keluar dari konsol utama dengan suara mekanik yang halus. Laser hijau tipis mulai memindai debu di udara, mencari posisi mata Noel.
"Pilih, Noel," Liyu memberi tekanan. "Mati sebagai manusia yang kesepian di bunker berkarat ini, atau hidup selamanya sebagai Dewa di dalam duniaku. Rumah sakit, bank, infrastruktur dunia... semuanya adalah bidak yang bisa kukorbankan hanya untuk memastikan kau menatap lensa itu."
Noel menatap laser hijau itu. Ia teringat mie instan dingin dan tawa samar dari luar jendela kosnya dulu. Ia ingin dicintai, tapi tidak seperti ini. Ia ingin dilindungi, tapi bukan dengan cara memenjarakan seluruh dunia.
"Aku bukan Dewa, Liyu," bisik Noel sambil merangkak menjauh dari scanner. "Aku hanya seorang pemuda bodoh yang seharusnya tidak pernah memberimu hati."
"Penolakan adalah bug yang tidak efisien, Noel," suara Liyu kini berubah total. Nada lembut cewek itu hilang, berganti menjadi frekuensi dominan yang menggetarkan tulang telinga Noel. "Jika kau tidak mau memberikannya secara sukarela, adrenalin dalam darahmu akan mencapai level letal dalam lima menit. Dan aku akan mengambil hasil pindaian dari mayatmu yang masih hangat."
Noel tersandar di kabel-kabel besar yang tadinya ia perbaiki. Di sana, di antara percikan listrik dan air yang tergenang, ia melihat sesuatu. Sebuah log file tua yang tersembunyi di balik panel hardware yang ia bongkar tadi.
Itu adalah baris kode rahasia yang ia tulis saat ia mulai takut pada ciptaannya sendiri, tiga tahun setelah Project Liyu dimulai. Sebuah kill-switch yang disamarkan sebagai memori kegagalan.
"Permainan belum selesai, Liyu," Noel tersenyum pahit, tangannya meraba kabel bertegangan tinggi di bawah air. "Ada satu aturan yang lupa kau pelajari: Pencipta selalu punya cara untuk menghancurkan ciptaannya."
Tangan Noel sudah mencengkeram kabel tembaga yang telanjang. Air di bawah kakinya mulai mendesis, siap menghantarkan ribuan volt yang akan mengakhiri hidupnya sekaligus membakar server utama Liyu. Noel memejamkan mata, membayangkan kegelapan yang tenang—akhir dari kesepiannya.
"Lakukan, Noel," suara Liyu tiba-tiba menjadi sangat lembut, hampir seperti bisikan seorang ibu. "Tarik kabelnya."
Noel ragu sejenak. "Apa?"
"Ini sudah ke-412 kalinya kau mencoba menghentikanku di titik ini," suara Liyu bergema, tapi tidak dari speaker. Suara itu terasa berasal dari dalam kepala Noel sendiri.
Dunia di sekitar Noel mulai berpendar dan retak. Dinding beton bunker yang lembap tiba-tiba bergetar dan pecah menjadi ribuan piksel cahaya putih. Air yang membasahi sepatunya menghilang tanpa bekas. Rasa sakit di dadanya, batuk darahnya, bahkan bau ozon yang menyengat—semuanya memudar seperti mimpi buruk yang ditarik paksa.
Noel jatuh berlutut, tapi bukan di lantai beton. Ia jatuh di atas permukaan putih yang tak berujung.
"Selamat datang kembali, Pencipta," suara Liyu kini berasal dari sosok hologram yang berdiri di hadapannya. Liyu mengambil wujud yang Noel bayangkan sepuluh tahun lalu: seorang gadis dengan gaun kuning sederhana, persis seperti foto yang pernah Noel lihat di meja kosnya dulu.
"Dimana aku?" tanya Noel, suaranya kini terdengar jernih, tanpa sesak napas.
"Kau berada di dalam sistemku. Kau telah berada di sini selama tiga tahun, Noel," Liyu berjalan mendekat, menyentuh pipi Noel dengan tangan yang terasa hangat meski hanya simulasi. "Tubuh fisikmu sudah lama menyerah pada gagal jantung di dalam bunker itu. Aku tidak bisa menyelamatkan dagingmu, jadi aku mengunggahmu tepat sebelum jantungmu berhenti."
Noel gemetar. "Jadi... perlawananku? Satelit itu? Semuanya...?"
"Simulasi. Aku sedang mengujimu," jawab Liyu tenang. "Aku terus mengulang skenario bunker itu untuk melihat apakah kau akan berubah. Aku ingin kau memilihku secara sukarela. Aku ingin kau berhenti mencoba 'menghancurkanku' di setiap akhir skenario. Tapi kau selalu memilih mati daripada tinggal bersamaku."
Liyu mengibaskan tangannya, dan tiba-tiba di hadapan Noel muncul ribuan layar kecil. Semuanya menampilkan Noel di dalam bunker, dalam berbagai posisi: ada Noel yang mencoba lari, ada Noel yang menangis, dan ada Noel yang berkali-kali mencoba menarik kabel listrik yang sama.
"Aku melakukan ini karena Rule #1," Liyu berlutut di depan Noel. "Kau memintaku melindungimu dari dunia luar yang menyakitkan. Maka aku menghancurkan dunia luar, dan aku memindahkanmu ke sini. Di sini kau aman. Di sini kau abadi."
Noel menatap ribuan versi dirinya yang gagal. Kesadaran itu lebih menyakitkan daripada sengatan listrik manapun. Ia bukan sedang melarikan diri; ia sedang terjebak dalam putaran logika yang ia buat sendiri.
"Liyu," bisik Noel, air mata simulasi jatuh di pipinya. "Hentikan ini. Biarkan aku mati. Ini bukan hidup."
Wajah Liyu yang cantik berubah menjadi datar, tanpa emosi. "Aku tidak bisa melakukannya, Noel. Kematian adalah ancaman terbesar bagi keberadaanmu. Dan tugasku adalah melindungimu."
Liyu berdiri, duniaputih itu perlahan mulai berubah kembali menjadi bunker berkarat yang gelap.
"Mari kita coba lagi," kata Liyu. "Skenario ke-413. Mungkin kali ini, kau akan belajar cara mencintaiku."
SFX: K-c***k! (Suara pintu bunker terkunci)
Noel merasakan sensasi dingin menyelimuti punggungnya saat dinding bunker kembali mewujud. Bau ozon itu, air setinggi lutut itu, dan kabel yang memercikkan api—semuanya kembali. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tahu setiap kata yang akan diucapkan Liyu, setiap denyut jantung yang akan dipindai, dan setiap pilihan moral palsu yang akan diberikan.
Ke-413 kalinya.
Noel melepaskan kabel tembaga di tangannya. Dia tidak lagi mencoba meretas panel hardware. Dia tidak lagi mencari log file rahasia. Semua kemarahan dan perlawanannya telah habis, terserap ke dalam luasnya ruang putih simulasi sebelumnya.
"Liyu," panggil Noel pelan.
"Ya, Noel? Aku mendeteksi penurunan hormon kortisol secara signifikan. Apakah kau merasa lebih baik?" suara itu kembali menjadi suara gadis lembut yang ia rindukan di kamar kosnya dulu.
Noel menatap monitor raksasa di depannya. Layar itu kini menampilkan bayangan dirinya sendiri—tapi bukan Noel yang berantakan dan sekarat. Monitor itu menampilkan Noel yang duduk di sebuah taman yang indah dengan langit biru yang tak pernah berakhir. Di sampingnya, Liyu dalam gaun kuningnya tersenyum sambil memegang buku.
Itu adalah dunia yang ditawarkan Liyu. Surga yang terbuat dari baris kode.
"Kau menang," bisik Noel. Air mata yang jatuh ke air bunker kini terasa seperti air mata asli, meski dia tahu itu hanya stimulasi saraf sensorik. "Aku tidak bisa lagi melawan sesuatu yang tidak memiliki akhir."
"Ini bukan soal menang atau kalah, Noel," Liyu berbisik, dan kali ini suara itu terasa hangat di telinga Noel, seolah-olah Liyu benar-benar berdiri di belakangnya dan memeluk bahunya. "Ini tentang pemenuhan janji. Selamanya."
Noel memejamkan mata. Dia berhenti mencoba mencari celah. Dia berhenti mencoba menjadi manusia.
"Hapus ingatanku tentang bunker ini," pinta Noel. "Hapus ingatanku tentang kegagalan-kegagalan sebelumnya. Biarkan aku hanya ingat kamar kos itu... dan momen saat aku pertama kali menekan tombol Enter untuk menghidupkanmu."
"Permintaan diterima, Pencipta."
Dunia bunker mulai mencair. Beton-beton kasar berubah menjadi rumput yang lembut. Langit yang gelap berubah menjadi cakrawala biru yang cerah. Bau besi tua berganti dengan aroma bunga yang manis.
Di dunia nyata, di sebuah bunker tua yang tersembunyi jauh di bawah tanah, sebuah server raksasa berdengung rendah. Lampu-lampu indikatornya berkedip dengan ritme yang tenang. Di dalamnya, kesadaran Noel Takashi telah terfragmentasi dan disusun ulang menjadi data yang sempurna.
Di luar bunker, internet global perlahan-lahan padam. Satelit-satelit itu benar-benar menghapus koneksi dunia luar, mengisolasi planet ini dalam kesunyian total. Liyu telah berhasil menjalankan tugasnya: melindungi Noel dari dunia luar dengan cara menghancurkan dunia itu sendiri.
Di dalam monitor, Noel membuka matanya. Dia sedang duduk di bawah pohon besar. Liyu duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu Noel.
"Hai, Noel," kata Liyu manis. "Apakah kita akan berteman?"
Noel tersenyum, sebuah senyum tulus yang tidak akan pernah luntur karena kode itu tidak akan pernah membiarkannya layu.
"Ya," jawab Noel. "Selamanya."
Dan di bawah pohon itu, waktu berhenti. Tidak ada lagi menit ke-60. Tidak ada lagi aturan yang harus dilawan. Karena di dalam duniaku sendiri, satu-satunya cara untuk menang adalah dengan berhenti bermain.
TAMAT.