Bab 11 Natan Beraksi

1100 Words
Saras dan sahabatnya tinggal di rumah untuk selesaikan tugas kampus sedang Hadi dan Anita menuju gedung graha untuk hadiri jamuan, sambut tamu dari Kerajaan Denmark. Ada beberapa acara yang sedang berlangsung di gedung Graha, sehingga suasana begitu ramai. “Kami mohon maaf karena agak terlambat karena masih ada tamu,” ucap Hadi pada ketua penyelenggara acara. “Tidak masalah. Acara seremonial baru saja selesai dan karena ada begitu banyak undangan maka silakan langsung saja tuliskan pesan, kesan dan harapan dari Pak Hadi untuk bisa tetap pertahankan hubungan kerja sama yang sangat baik ini. “Oh, bagus. Jadi lebih santai ini model acaranya.” “Betul Pak. Kalau ingin berdialog langsung, disiapkan tempat di sayap kanan. Nanti ada petugas yang memeriksa buku catatan ini satu jam dari sekarang. Jika beruntung, Pak Hadi bisa diundang langsung untuk berdiskusi dengan Sir. Magnus. Sambil menanti, bisa nikmati semua hidangan yang tersedia.” “Ya, ya. Itu ide yang bagus.” “Bapak dan Ibu boleh tinggalkan acara kapan pun jika memang masih ada undangan berikutnya.” “Terima kasih banyak. Saya mau cicipi hidangan asli dari Kerajaan Denmark.” Anita hanya tertawa kecil menanggapi perkataan suaminya. Tak terasa, satu jam telah berlalu dan tidak ada panggilan khusus buat Hadi Kusuma. “Kita sudah bisa pulang sekarang, Mi. Masih ada hidangan yang ingin kamu cicipi?” “Tidak ada lagi, Pi. Kakiku sudah lelah karena kita terus berputar menikmati setiap makanan yang mengundang selera. Saatnya kita pulang.” “Mereka cerdas. Meski kita banyak makan kandungan gula, lemak dan karbohidrat, di saat yang sama kita juga bergerak berkeliling, bukannya duduk, jadi ada proses bakar lemak juga yang terjadi.” Pasangan itu tinggalkan ruangan dan menuju lobi. Mereka menunggu petugas valet ambilkan mobil. “Malam papa dan mamanya Saras. Masih ingat saya?” “Natan ‘kan?” sambut Anita tidak lupa dengan tampang pemuda itu. “Betul sekali. Ada acara di sini?” “Iya, kami sedang menunggu mobil diambil,” sambung Hadi. “Sendirian saja?” selidik Anita. “Iya, saya juga ada acara di lantai dua. Ada rekan bisnis yang berulang tahun.” “Bagaimana kabar ayahmu Brata? Saya baca, dia ada di daftar tiga besar pebisnis handal bulan ini.” “Papa saya sehat. Memang dia tipe pekerja keras. Saras tidak ikut?” “Kebetulan tidak hari ini. Dia sedang ada banyak tugas kuliah.” “Saya ijin kapan-kapan mau main ke rumah untuk berjumpa dengan Saras. Saya benar-benar jatuh hati padanya. Tapi, kemarin saya lihat Saras sedang bersama dengan seorang pemuda di sebuah restoran. Mungkin sudah pernah Saras bawa ke rumah? Saya jadi kalah cepat.” “Wah, nanti bisa langsung berkontak dengan Saras saja,” imbuh Anita merasa ada yang salah dengan informasi dari Natan. “Sebentar Mi. Tolong bilang valet parkir saja dulu. Apa maksud kamu, Natan? Kamu lihat Saras sedang berdua dengan seorang pria?” “Saya yakin Saras sudah jujur tentang pria itu. Mereka terlihat sangat akrab. Saya hampir tidak kenal karena wajah Saras agak tersembunyi. Tapi, saat saya lewat dan dengar suaranya barulah saya sadar kalau itu memang Saras.” “Di mana dan kapan? Mereka sedang buat apa?” tanya Hadi sudah mulai terpancing dengan berita dari Natan. “Natan, kami permisi dulu. Mobilnya sudah datang. Salam untuk orang tua kamu,” sela Anita segera menggandeng suaminya agar dibawa menuju kendaraan milik mereka. “Sebentar dulu, Mi. Kita bayar tambah nanti pada valetnya,” tegas Hadi tetap bergeming. “Tidak apa-apa kalau memang ada acara lagi. Saya juga harusnya masuk kembali karena tamu yang saya cari ternyata sudah ada di dalam.” “Hei, kamu belum jawab saya!” tagih Hadi. “Oh iya. Biasalah, gaya pacaran anak muda jaman sekarang. Berdua di pojokan sambil makan dan minum. Saya tidak tahu lagi ke mana selanjutnya tapi biasanya, akan habiskan malam di hotel.” “Apa kamu punya bukti foto dari pria yang bersama putri kami?” imbuh Anita ingin pastikan kebenaran dari ucapan Natan. “Saya sudah harus pergi sekarang. Saya akan kirimkan buktinya. Selamat malam Papa dan Mamanya Saras.” Rahang Hadi sudah mengeras. Dia memang sangat khawatir putrinya akan terlibat dalam pergaulan yang salah. “Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja!” gerutu Hadi dengan ekspresi tidak senang. “Jangan percaya, Pi. Itu pasti karangan Natan saja karena ditolak oleh putri kita. Ia pasti sakit hati jadinya buat cerita yang jelek tentang Saras.” “Untuk apa dia mengarang cerita? Pemuda kaya dan sukses seperti dia, mestinya punya banyak pacar. Tapi, dia masih peduli dengan Saras. Pasti, dia memang punya niat serius dengan Saras. Hanya putri kita mungkin sudah terikat dengan pria lain makanya bertingkah saat didekati oleh Natan. Aku sebenarnya masih malu saat Saras tinggalkan jamuan makan siang waktu itu. Natan tunjukkan sikap pria sejati yang ingin lindungi Saras tapi ditinggal pergi begitu saja.” “Jadi, maksud Papi, lebih setuju Saras bersama Natan?” “Apa yang perlu dikhawatirkan lagi? Natan itu anak dari teman papi. Kita kenal dengan baik. Pilih mana, pemuda asing sama sekali atau yang sudah kita tahu asal usulnya. Lagi pula, Natan itu tampan dan sudah pasti mapan. Saras akan miliki masa depan yang jelas jika bersama Natan.” “Tapi kita mesti tahu dulu isi hari Saras. Tidak bisa main paksa begitu saja. Ini sudah tidak jamannya lagi jodoh menjodohkan.” “Coba lihat sisi lain dari Natan. Kalau dia begitu peduli pada Saras, artinya dia benar-benar sayang pada putri kita. Apalagi dia juga janji akan kirimkan bukti. Aku harus paksa Saras untuk bicara jujur. Ini sangat memalukan. Bagaimana kalau ada wartawan yang abadikan kejadian tak etis seperti ini?” “Papi, tolong jangan permalukan Saras di depan kedua sahabatnya. Nanti saja baru kita tanya Saras baik-baik.” Anita coba tenangkan lagi suaminya begitu mereka sudah ada di dalam mobil. “Tidak bisa ditunda lagi, Mi. Begitu sampai rumah, panggil Saras ke kamar dan Mami periksa sekujur tubuhnya. Sambil kita tunggu bukti dari Natan.” Sementara di tempat Natan berada. “Tunggu saja, Saras. Kalau kali ini tidak berhasil juga, aku akan pakai cara yang lain. Kamu pasti tidak akan aku lepaskan sampai aku puas balas rasa sakit hatiku,” gumam Natan. “Tuan, ini kartu nama Hadi Kusuma yang diminta.” “Kamu dapat darimana. Cepat sekali?” tanya Natan pada asistennya. “Saya beruntung. Waktu saya masuk ke gedung sebelah, saya cegat wartawan yang baru selesai bicara dengan beliau jadi saya bayar sedikit untuk dapatkan kartu ini.” “Oke. Tunggu petunjuk saya selanjutnya.” “Siap, Tuan!” Natan tersenyum licik. Ia sudah punya rencana untuk bisa dekati Hadi Kusuma dan menjerat putrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD