Adrian berdiri di balkon lantai dua, menatap taman tanpa benar-benar melihat apa pun. Tangannya bertumpu di pagar besi, rahangnya mengeras. Pagi tadi—di meja makan—kata-kata Ethan masih terngiang jelas di kepalanya. Tentang masa lalu. Tentang Clara. Tentang hubungan yang selama ini tidak pernah ia tahu secara utuh. Langkah kaki terdengar mendekat. “Adrian …” Clara berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajahnya pucat, matanya sembab. Sejak Ethan mengaku, perasaannya campur aduk—bersalah, takut, juga khawatir kehilangan pria yang kini menjadi suaminya. Adrian tidak menoleh. “Aku tahu kamu marah,” lanjut Clara pelan. “Dan kamu berhak.” Masih tak ada respons. Clara memberanikan diri mendekat. “Aku nggak bohong soal perasaanku sekarang,” katanya lirih. “Yang aku sembunyikan itu masa

