Langit sore tampak redup, seolah ikut meredakan amarah di balik dinding kaca kantor Hans Reinhard Namun tak ada yang benar-benar bisa meredakannya. Ponsel di tangannya baru saja menampilkan pesan singkat dari salah satu mitra: “Kami memutuskan untuk menolak proposal Anda. Kami tak ingin bekerja sama dengan pihak yang sedang dalam penyelidikan pajak.” Kertas proposal yang baru saja dicetak dilemparkannya ke meja, lalu berserakan ke lantai. Napastnya berat. Rahangnya menegang. Hans menatap layar laptopnya dengan tatapan gelap—seperti singa yang baru saja kehilangan wilayah kekuasaannya. “b******n…,” desisnya pelan, tapi tajam. “Mereka pikir bisa jatuhin aku cuma karena satu masalah kecil?” katanya. Tak lama, pintu diketuk dua kali dari luar. Hans menoleh sejenak, lalu membuka suara. “

