Aku Gak Tembem!

1017 Words
SYIFA Hari ini benar-benar menjadi hari yang paling baik sepanjang perjalanan rumah tangga kami-aku dan mas Ridwan. Selama aku berstatus sebagai istrinya, baru hari ini aku merasa diperlakukan sebagai seorang istri olehnya. Bayangkan saja, selama ini dia selalu bersikap seolah aku tak pernah terlihat olehnya. Tapi hari ini dia melihatku, menatapku dengan penuh cinta dan bahkan dia memelukku dengan begitu erat. Aku sekarang sedang memasak beberapa menu makanan, karena nanti malam mama dan papa akan datang. Aku tidak tau apa yang membuat mereka ingin datang mengunjungi kami, yang aku tau bahwa mereka sama - sama sibuk dengan pekerjaan mereka. Jadi, pasti ada hal yang cukup penting yang ingin mereka bicarakan. Jika sampai meluangkan waktu khusus untuk mengunjungi kami. Bukankah harusnya kami yang mengunjungi mereka. "Kamu lagi ngapain?"ternyata mas Ridwan sedari tadi sudah disini. "Ini lagi masak mas, mas gak ada kerjaan lagi di kantor? Kok pulang cepet?" Tanyaku sambil beralih menatap wajah bahagianya. "Kenapa? kamu gak suka ya saya pulang cepat?" Tanyanya dengan raut muka yang kecewa. Aduh kok jadi gini sih. "Enggak kok mas, bukan begitu maksud Syifa-,, ". Aku berusaha meyakinkannya bahwa aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi ternyata sejurus kemudian, "haha, kamu lucu deh kalo lagi bingung gitu. Iya, saya tau kok kamu merasa aneh kan? Kenapa saya tiba - tiba pulang secepat ini, padahal dulu jangan untuk pulang cepat, saya bahkan gak pulang sama sekali. Sedangkan kamu tetap menunggu saya dengan masakan yang mulai mendingin. Dulu saya memang lelaki pengecut, namun sekarang kamu jangan khawatir saya akan memperbaiki semuanya dari awal saya harap kamu percaya dan satu lagi.. saya sebenarnya sayang banget sama kamu." Perasaan baru kemarin mas Ridwan bersikap seolah tak pernah menginginkan kehadiranku, tapi sekarang dia mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Aku harus senang atau bagaimana? "Mungkin ini terdengar aneh sekali, tapi jujur kata-kata tadi berasal dari hati saya. Maaf jika itu membuatmu merasa tidak enak" Sepertinya berprasangka baik adalah yang terbaik yang harus aku lakukan. "Ka-kamu mau masak apa? Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya sedikit gugup dan mulai beranjak mendekatiku dan mulai mengikis jarak diantara kami. Sontak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Selama ini aku tidak pernah begitu dekat dengan lelaki manapun, kecuali papaku. "I-iya mas, ini saya mau masak buat nanti malam. Soalnya mama sama papa bakalan datang kesini. Katanya kangen sama ki-kita". Jelasku padanya sedikit terbata karena dia begitu dekat dengaku. "Iya tadi mama juga ngabarin saya kalau mau datang nanti malam. Ehm sini saya saja yang ngiris semuanya", mas Ridwan mencoba mengambil alih pisau ditanganku dan mulai mengiris bawang dan yang lainnya dengan cepat dan telaten. Aku jadi malu, karena sepertinya mas Ridwan lebih ahli dalam memasak dibanding aku. "Ya udah, aku goreng ayamnya saja ya mas-," kali ini belum sempat aku melanjutkan perkataanku, mas Ridwan dengan cepat mengatakan, "Jangan!!", aku cukup kaget, mendengar mas Ridwan sedikit berteriak padaku. "ehm-maksud saya, kamu gak usah ngapa-ngapin. Kamu duduk saja. Saya cuma gak mau nanti tangan kamu terkena minyak panas." Jelasnya sedikit gugup. ternyata mas Ridwan mengkhawatirkanku dan aku hanya megangguk meng-iyakan perintahnya. Sebenarnya aku bosan kalau hanya duduk seperti ini. Sedangkan mas Ridwan begitu fokus dengan masakannya. Semakin aku perhatikan, aku semakin tidak percaya bahwa lelaki didepanku sekarang ini adalah suamiku. Dia tampan, tinggi, putih, gagah serta seorang CEO, dan sekarang dia sedang memasak dengan sangat cekatan. Bahkan dia terlihat seperti seorang chef. Bagaimana wanita diluar sana tepatnya di kantornya itu tidak menyukainya? Huh! Tanpa ku sadari aku sedang memasang wajah tak sukaku, karena memikirkan wanita yang katanya adalah rekan kerjanya namun cukup dekat dengannya. "Hei, kamu kenapa? Hmm?", mas Ridwan? Sejak kapan dia memperhatikanku, bukannya sedari tadi aku yang sedang mengamatinya. "Ehm, gak apa - apa kok mas hehe", aku terpaksa tersenyum kepada mas Ridwan, agar dia tidak tau apa yang baru saja aku pikirkan. "Gak apa - apa, tapi kok mukanya cemberut gitu sih? Jangan suka cemberut gitu muka kamu lucu kalau selerti itu. Nanti saya khilaf, Oh iya kamu kan istri saya, jadi tidak ada kata khilaf dong ya?", APA?? aku tidak salah dengar? Ah kurasa sekarang pipiku mulai memanas. Bagaimana bisa dia dengan santainya mengatakan itu, sedangkan aku hampir berkeringat dingin dibuatnya. "Haha, kamu kok lucu banget sih Fa? Bikin saya mau nyubit pipi kamu yang udah kayak tomat itu", imbuhnya sambil tertawa begitu lepas, dan sekarang ia semakin tampan. Saat dia tertawa menampakkan gigi putihnya yang tersusun rapi, bibirnya yang sedikit tertarik dan matanya hampir menyipit. "Mas apaan sih! Muka aku gak kayak tomat kok", sunggutku karena sebal atas apa yang mas Ridwan katakan mengenai pipiku. Coba kalian pikir? Tomat! Berarti bulat dan merah dong. Ihhhh pipi aku tirus kek gini juga. "Iya-iya nona pipi tembem. Jangan cemberut lagi ya." Wah sepertinya dia punya segudang julukan aneh tapi manis untukku, dia bahkan sambil tersenyum dan memegang pipiku. √√√ Sekarang semuanya sudah siap, tinggal menunggu mas Ridwan pulang dari masjid untuk sholat isya berjamaah, dan mama papa yang katanya lagi dijalan. Aku baru selesai sholat dan membaca Al-Quran. "Assalamu'alaikum", terdengar suara seorang lelaki bersuara bariton, itu pasti mas Ridwan Aku beranjak dari kursi tempatku duduk, dan membula pintu seraya menjawab salam. "Wa'alaikumussalam" aku langsung mencium punggung tangan mas Ridawan, dan mas Ridwan mencium keningku. Awalnya aku sedikit terkejut, tapi aku lebih memilih untuk bersikap biasa saja. "Mama dan papa masih di jalan ya Fa?". "Iya mas, tadi mama telepon katanya masih di jalan. Mas ganti baju dulu gih, udah aku siapin di kamar". "Baiklah nona pipi tembem", jawabnya sambil tersenyum dan mencubuti pipiku sekilas, sebelum akhirnya berlalu ke kamar. Lagi-lagi mas Ridwan menyinggung soal pipiku. Sepertinya dia sangat suka memanggilku dengan sebutan pipi temebem. Pipiku tirus kok. "Mass! Aku gak tembem ihhh, nyebelin deh". Aku sedikit berteriak dan mengerucutkan bibirku tanda tidak setuju. Lima menit kemudian tiba - tiba, Cupp Ada sesuatu yang menyentuh pipiku, dan seketika tubuhku membeku karena kaget atas apa yang mas Ridwan lakukan. Yaaa, dia mencium pipiku secara tiba - tiba tanpa permisi. "itu hukuman karena kamu memasang wajah cemberutmu itu. Udah ayo cepat kita kebawah, mama sama papa bentar lagi sampai", mas Ridwan beranjak sambil terseyum tipis kearahku. Bagai disambir petir disiang bolong aku hanya terdiam mematung sejenak. "a-pa yang barusan terjadi? √√√ Tbc.... Palembang 28 Juni 2017 Minalaidinwalfaidzin semuanya ❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD