6. Ingatan Malam itu

1151 Words
Malam sudah mulai larut saat mereka sampai di pelataran apartemen Daniel. Helva diam, menatap kosong ke arah lift. Rasa sesak masih menggumpal di dadanya, sementara suara Daniel masih terngiang-ngiang, “Aku membutuhkanmu bukan cuma sebagai sekretaris.” Helva tidak tahu harus pergi ke mana. Teringat dengan adegan menjijikan yang dilakukan kekasihnya di kamar apartemen miliknya itu membuat Helva enggan pergi ke sana. Jadi dia hanya diam saat Daniel menanyakan rumahnya sampai kemudian pria itu menawarkan untuk membawanya ke apartemen miliknya saja. Langkah Daniel tenang di depan. Tidak tergesa, tapi tegas. Begitu pintu lift terbuka, dia menyentuh punggung Helva ringan. “Masuklah.” Mereka naik dalam diam. Hanya suara denting lift yang menemani ketegangan di antara mereka. Sesampainya di lantai tertinggi, Daniel membuka pintu apartemennya. Helva menahan napas. Tempat itu begitu rapi dan dingin, seperti pemiliknya. Tak ada kehangatan, hanya perabot minimalis dan aroma parfum maskulin yang menyeruak. Helva diam, tiba-tiba matanya terpejam. Aroma itu menggelitik hidungnya. “Minum?” Daniel menawarkan, berjalan ke arah mini bar. Helva menggeleng. “Aku mau pulang.” Daniel mengangguk pelan, tapi tak menjawab. Dia menuang air putih untuk dirinya sendiri, lalu duduk di sofa. Tatapannya mengikuti Helva yang berdiri kaku di dekat pintu. “Kau tak menjawab saat aku tanya di mana rumahmu,” kata Daniel tenang. “Karena aku tak punya rumah sekarang,” akunya dan berjalan ke arah sofa duduk berhadapan dengan Daniel. “Kenapa?” Daniel bertanya dengan dahi mengerut. “Kau tak perlu tau.” Helva tak mau memberi tahu, Daniel pasti akan tertawa jika tahu alasannya enggan pulang. Pria itu mengangguk, bersikap tak peduli. Dia kemudian kembali menatap Helva. “Aku tidak menyesal mengatakan apa yang aku katakan tadi,” ucapnya akhirnya. Helva mendongak. “Tapi aku menyesal mendengarnya.” Daniel menatapnya lama. “Kau tidak perlu merasa terjebak. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izin.” “Kau sudah menyentuh hidupku. Bukankah itu lebih buruk?” balas Helva, suaranya gemetar. “Kau masuk, merusak ritmenya, mengacak-acak semuanya … .” Dia tak meneruskan, sadar ke mana arah itu. “Tapi kau tetap bertahan,” potong Daniel, bangkit dari duduknya. Langkahnya pelan, tapi pasti, mendekat ke arah Helva. “Itu yang membuatku melihatmu berbeda dari siapa pun.” Helva mundur, membuat punggungnya mepet ke sandaran sofa. “Jangan bicara seolah kau mengenalku.” “Tapi kita memang saling kenal, bukan? Dan aku ingin lebih mengenalmu,” balas Daniel cepat. Helva diam. “Aku tahu kau menyembunyikan banyak luka. Aku tidak akan berpura-pura menjadi penyelamat, tapi aku bisa menjadi seseorang yang membuatmu tidak merasa sendirian.” Helva terdiam. Ucapan itu, entah kenapa, menggoyahkan sesuatu di dalam dirinya. “Apa kau selalu semudah itu mendekati perempuan? Dengan kalimat-kalimat manis yang membuat mereka lupa siapa dirimu sebenarnya?” tanyanya tajam, mencoba bertahan. Daniel tidak menjawab langsung. Dia mengikis jarak hanya satu langkah dari Helva sekarang. Napas mereka saling bersentuhan di udara. “Tidak. Tapi kau tak seperti perempuan lain.” Helva ingin tertawa. Tapi justru air matanya yang mengalir diam-diam. “Kau menyebalkan, Dan.” Daniel mengangkat tangannya, ragu-ragu, lalu menyentuh pipi Helva yang basah. “Tapi kau tetap tinggal. Bahkan ketika kau membenciku.” “Karena aku tidak punya pilihan,” bisik Helva. “Mungkin,” ucap Daniel. “Atau mungkin karena di balik semua luka itu, kau juga sedang mencari sesuatu? Seperti aku.” Helva tak mampu berkata apa-apa. Tatapan Daniel terlalu dalam. Terlalu jujur dan sial menyihir Helva. Mereka saling diam yang berbeda dari sebelumnya. Bukan karena canggung, tapi karena masing-masing sedang mencoba mengenali gejolak di d**a mereka. Daniel menunduk sedikit pandangan Daniel untuk sesaat teralihkan pada d**a Helva, pada jejak merah yang masih ada di sana, tersembunyi. Dia ingat dengan malam itu. Tangannya terangkat untuk menghapus sisa air mata di pipi Helva dengan ibu jarinya. “Tidurlah di sini malam ini,” katanya lembut. “Bukan karena kau harus. Tapi karena kau butuh tenang. Dan aku ingin kau merasa aman.” Helva menggeleng perlahan, tapi tidak menjauh. Dia tetap duduk di tempat. Di jarak yang sedekat itu dengan Daniel, aroma wangi maskulin yang masih menyeruak di rongga penciuman Helva, tiba-tiba sesuatu melintas di benaknya. “Itu kau, Dan?” Dahi Helva semakin mengerut dalam. “Kemana saja kau selama ini, Dan?” “Helva?” Bahkan panggilan Daniel itu seperti menyatu dengan suara dalam benak Helva yang menampilkan suatu adegan bak rol film. Dia memejamkan mata, tapi itu semakin memperjelas ingatannya tentang malam itu. “Kau janji akan melakukannya pelan-pelan, Dan?” Napas Helva tiba-tiba memburu. Dia memang tidak kuat alkohol dan ingatannya akan mengabur tapi bagaimana ingatan itu tiba-tiba muncul dalam benaknya kontan saja membuat Helva menatap Daniel di sampingnya. “Kau yang melakukan itu padaku?” tanyanya tiba-tiba dengan nada tajam. Daniel menatapnya bingung. “Maksudmu?” “Kau … kau … .” Helva memejamkan mata lagi, mengerutkan keningnya. Napasnya tiba-tiba memburu, dia mencengkram sofa. Adegan demi adegan saat Helva bermain di bawah kungkungan Daniel malam itu, dia sadar melakukannya atas kemauannya sendiri pada sosok yang dia benci, pada sosok yang tidak ingin dia temui tapi di saat yang sama dia menginginkannya. Bukankah itu aneh? Ada apa dengan Helva. “Helva? Kau tak apa?” “Jangan menyentuhku!” Sentak Helva ketika Daniel menyentuh lengan Helva pelan. Jelas saja Daniel tersentak dan semakin bingung. “Ada apa?” Helva kembali membuka mata, menatap Daniel nanar. Dia tahu itu aneh, tapi entah bagaimana perasaan butuh itu hadir dalam dadanya, menyentuh hatinya pelan. “Dan … .” Helva menatapnya. “Iya? Kau butuh sesuatu?” tanya Daniel bingung dengan sikap Helva yang tiba-tiba berubah. Namun, bahkan ketika belum Helva menyadarinya tubuhnya sudah lebih dulu bergerak dan mendaratkan bibirnya di bibir Daniel. Jelas saja hal itu mengejutkan keduanya. “Maaf. Aku … aku … tidak —” Belum sempat Helva melanjutkan, Daniel sudah lebih dulu membungkamnya dengan ciuman. Kedua mata Helva terbelalak, tapi sentuhan lembut pada bibirnya itu membuatnya diam. Helva sadar dia yang memulainya. Tapi dengan apa yang Daniel lakukan itu semakin membuat Helva terlempar pada malam itu saat Daniel meninggalkan jejak merah di dadanya, kiss mark. “Daniel … jangan.” Suara Helva lirih nyaris menghilang tapi itu menghentikan gerakan tangan Daniel di pinggangnya. Menghentikan segalanya. Daniel menarik diri, napasnya berat. Dia menatap Helva cukup lama lalu mengangguk pelan. Suasana menjadi canggung kemudian. “Tidurlah. Gunakan kamar tamu,” kata Daniel mengalihkan. Dia menelan ludahnya, pandangannya ke depan. “Selamat malam.” Dia bangun dari duduknya tapi suara Helva menggantikan langkah kakinya. “Kau masih menggunakannya?” Mata Daniel terbuka. “Aromamu … aku mengenalinya walaupun dalam keadaan mabuk,” lanjut Helva. Masih diam, Daniel tak menjawab tak pula menggelengkan. “Kenapa?” Suara Helva justru tercekat. “Seharusnya kau tidak melakukannya. Aroma itu seharunya tidak —” Helva tak melanjutkan perkataannya lagi karena detik itu Daniel kembali membungkam mulutnya dengan ciuman. Daniel tahu ke mana arah perkataan Helva. Pada masa lalu yang tak bisa mereka lupakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD