Kenyataan yang mengejutkan

1246 Words
Linda menuntun Milka menuju UKS, sesampainya di sana Milka berbaring layaknya orang sakit sungguhan. "Lo kenapa sih Mil? Kok muka lo ditutupin rambut gitu? Aneh banget." "Gak apa-apa kok, gue malu aja kelihatan pucat di depan orang-orang, hehe." "Lo aneh banget sumpah. Jangan-jangan lo naksir ya sama pak Rian?" "Enggak lah, apaan sih. Masak gue naksir om-om." "Dih ngaku aja kali, gak apa-apa kok, gue gak bakalan bilang siapa-siapa. "Lagian pak Rian itu masih muda, gak keliatan kayak om-om, mana ganteng banget lagi, kayak oppa-oppa korea gitu." "Apa sih Lin. Enggak. Gue gak suka sama pak Rian. Lo aja kali yang naksir." "Iya gue mah jujur, gue emang naksir sama dia. Siapa sih yang gak naksir sama pria dewasa yang ganteng, masih muda, kharismatik, pinter lagi." "Dih ... Udah om-om juga." "Ya udah gue balik ke kelas ya, lo gak apa-apa kan gue tinggal sendiri?" "Tumben banget pengen cepet-cepet balik ke kelas? Biasanya nunggu bel istirahat." "Gue gak mau melewatkan pelajaran matematika yang berharga untuk masa depan gue." "Bilang aja pengen ketemu pak Rian." "Hehe, itu juga sih." "Ya udah deh sana balik ke kelas." "Beneran lo gak apa-apa gue tinggal sendiri?" "Iya, gak apa-apa Linda." "Ya udah, bye Milka. Good well soon ya." Milka mengangguk sebelum Linda benar-benar pergi meninggalkannya sendirian di ruang UKS. Dan dia memutuskan untuk tidur, kebetulan dia juga ngantuk karena semalam tidur cuma sebentar. 30 menit berlalu, seorang murid laki-laki memasuki UKS dan berbaring di ranjang sebelah ranjang milik Milka. Milka yang merasa ada seseorang di ranjang sebelah, bangun dari tidurnya dan membalikkan badannya. Ada seorang pria yang sedang bersandar pada tembok dan memegangi kakinya, ia merintih seperti sedang menahan sakit. Milka panik saat melihat celananya sobek dan ada darah di lututnya. Suster UKS sedang tidak ada, jadi Milka berinisiatif membuka kotak obat dan mengambil beberapa peralatan medis untuk mengobati luka pria itu. Milka berjongkok di depan lututnya yang luka dan berniat untuk membersihkan lukanya agar tidak terjadi infeksi. "Kamu siapa? Suster di sini?" "Bukan. Aku siswa juga kayak kamu. Susternya lagi gak ada, boleh gak aku bantu kamu ngobatin lukanya?" Pria itu mengangguk dan membiarkan Milka mengobati lukanya, sesekali ia meringis menahan sakit saat Milka menyentuh lukanya. "Udah selesai." "Terima kasih." "Kamu kenapa bisa luka gini?" "Aku jatuh dari tangga waktu mau ke perpustakaan untuk cari buku, tapi malah lututku yang kena duluan, kalau badanku sih gak apa-apa." "Lain kali hati-hati kalau jalan." "Iya makasih." Kriiiiinnnngggg Bel istirahat berbunyi, Milka harus ke kelas duluan sebelum teman-temannya ke sini dan melihat dia berduaan dengan seorang pria, yang ada mereka akan salah paham dan mengira Milka sudah janjian dengan pria itu. "Aku ke kelas dulu ya." Milka berlari keluar UKS dan bergegas menuju kelasnya. Devan melihat punggung Milka yang semakin menjauh. Baru saja ingin berkenalan dengan gadis yang membantunya mengobati lukanya, tapi malah dia pergi duluan. *** "Milka?" Mela dan Linda menoleh saat Sofi menyebut nama Milka "Milka, lo udah gak apa-apa?" "Iya gue udah mendingan kok Lin." "Kita mau ke kantin nih, lo mau ikut gak?" "Enggak deh gue di kelas aja." "Mau nitip gak?" "Gak usah, gue lagi males makan." "Makan Mil, biar gak tambah sakit." "Ya udah, gue nitip roti aja dua, sama teh botol." "Oke." Milka sendirian di dalam kelas, dia sengaja tidak keluar kelas karena takut akan bertemu dengan pak Rian. Dan ini terjadi sampai bel pulang sekolah berbunyi. *** Mela, Sofi, Linda dan Milka berjalan di koridor sekolah sembari berbincang dan saling melempar candaan. "Hei kalian!" Linda menoleh pada asal suara yang memanggil mereka "Pak Rian?" Semua yang ada di sana ikut menoleh ke tempat pak Rian berdiri, terkecuali Milka. Dia menghentikan langkahnya tapi tidak berani menoleh ke belakang. "Saya ingin berbicara dengan teman kamu." Semua orang mengikuti pandangan pak Rian yang tertuju kepada Milka. "Sama Milka Pak?" "Iya." "Iya Pak ... Gue duluan ya Mil." Ketiga teman Milka berjalan meninggalkan Milka berdua dengan pak Rian "Jangan pergi dong, please!" Milka mencoba meraih tangan Mela tapi sia-sia, dia berbicara dengan suara pelan takut terdengar oleh pak Rian. "Ikut saya!" Rian berjalan mendahului Milka "Kemana Pak?" Rian tak menjawab pertanyaan Milka tapi tetap mengikutinya sampai parkiran sekolah. "Masuk!" "Gak usah Pak, saya naik taksi aja." "Tadi gak saya tawarin kamu naik sendiri, sekarang saya yang suruh kamu malah gak mau." "Maaf Pak atas kesalahan saya tadi pagi, saya cuma gak mau telat Pak. Saya janji gak akan mengulanginya lagi, tapi izinin saya pergi ya Pak." "Saya bilang masuk!" Milka memanyunkan bibirnya dan menuruti kata-kata Rian untuk masuk ke dalam mobilnya. "Saya akan antar kamu pulang." "Gak usah Pak, nanti malah ngerepotin." "Kan saya yang minta, jadi gak ngerepotin." Rian melajukan mobilnya, tidak ada obrolan antara dia dan Milka selain pertanyaan saat ada belokan atau pertigaan dan juga tentang arah rumah Milka. Mobil berhenti di sebuah rumah berpagar hitam dengan cat nuansa putih biru yang terlihat begitu elegan. Rian keluar dari mobilnya dan diikuti Milka di belakangnya "Pak tolong jangan bilang mama saya ya, tentang kejadian tadi pagi." Rian tak menjawab permintaan Milka dan terus melangkah melewati pagar rumahnya yang terbuka. "Saya mohon Pak. Mama saya ada riwayat penyakit jantung Pak, jadi gak bisa kaget dikit, nanti langsung pingsan." Rian memencet bel yang ada di teras rumah, Milka benar-benar panik dan berpikir apa yang akan dilakukan guru barunya ini di rumahnya. "Selamat siang Tante." "Loh Nak Rian? kok bisa bareng Milka?" Milka kaget saat mengetahui mamanya kenal dengan guru barunya itu. "Mama tau pak Rian?" Widiya tidak menjawab pertanyaan putrinya, dan justru kembali bertanya "Kalian sudah saling kenal?" "Saya cuma ingin mengantar Milka saja Tante. Kalau begitu saya permisi dulu." "Gak masuk dulu nak Rian, Tante udah masak loh. Gak mau makan dulu?" "Gak usah Tante, Saya buru-buru masih ada urusan. Lain kali saja saya mampir. Assalamualaikum Tante." "Waalaikumsalam." Rian berpamitan pergi dan mencium tangan Widiya. Sementara Milka masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi di depannya. "Kok Mama bisa kenal pak Rian sih? Dia kan guru baru di sekolah aku." "Oh jadi dia guru baru di sekolah kamu?" "Kalau Mama gak tau dia guru baru di sekolah aku, terus Mama kenal dia dari mana?" "Kamu ingat kan kata-kata Mama semalam, yang tentang perjodohan kamu dan anak temannya Mama yang namanya Rian? Ya itu tadi orangnya." "What? Jadi maksud Mama Milka bakal dijodohin sama pak Rian? Guru Milka di sekolah?" "Iya ... Dan kalian akan segera menikah." "Apa? Menikah? ... Ma, yang bener aja dong. Masak Milka harus nikah sama guru Milka sendiri sih. Gimana kalau temen-temen Milka tau?" "Ya kamu nikah sirih dulu sayang dan gak harus ada yang diundang. Mama cuma ingin ada yang melindungi kamu aja." "Milka bisa melindungi diri Milka sendiri." "Tapi Mama akan lebih tenang saat ada sosok Rian di samping kamu." "Milka gak mau nikah, Milka juga gak mau dijodohin. Apalagi sama pak Rian, si om-om tua yang gak laku itu." Milka berlari ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras Brakkk Milka gak mau menikah di usianya yang masih dini. Dia ingin menikmati masa mudanya bersama dengan teman-temannya tanpa harus ada yang mengatur dan melarang ini itu. Dia juga gak mau punya tanggungan keluarga, dia masih ingin bebas dan bersenang-senang layaknya remaja pada umumnya. Kalau seandainya Milka harus menikah dengan Rian? Apakah dia bisa hidup bahagia seperti sebelumnya? Lalu bagaimana dengan sekolahnya? Dan juga teman-temannya? Apalagi Rian termasuk laki-laki yang banyak penggemar di sekolah. Dia belum siap untuk menghadapi berbagai hujatan, dia juga belum siap untuk menyerahkan kehidupannya kepada seorang laki-laki bernama Rian, yang tak lain adalah guru matematikanya di sekolah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD