LANJUTAN 49

1112 Words
Krisna untuk ke tiga kalinya berada dalam situasi mental yang tertekan, hingga akhirnya mencapai puncak dan mengambil keputusan untuk mencoba mengakhiri hidup, di jauhi oleh para sahabat membuat Krisna semakin terpuruk, saran demi saran sepertinya tidak membantu sama sekali, yang ada hanya membuat Krisna semakin jatuh ke dasar jurang tekanan.   Tidak ada cara lain selain bersabar dan pasrah dengan keadaan, Bu Eni saat itu merasa keluarganya berada dalam kehancuran. “ Eni, Bapak mau memberi tahukan sesuatu.” Ujar Ki Amin dengan suara yang berat.   “ Apa Pak?” Tanya Bu Eni.   “ Ini semua akibat ulah Bapak, Dari awal Bapak terlalu menginginkan kemudahan, dan kenikmatan hidup, hingga akhirnya Bapak menjalin perjanjian dengan Sugeng, Dia memberikan Bapak sebuah kotak kayu, lalu ditanam di kamar tempat menyimpan hasil panen.” Ujar Ki Amin terbatuk – batuk.   “ Maksudnya bagaimana Pak?, Eni tidak paham dan apa hubungannya dengan Krisna?” Tanya Bu Eni.   “ Mungkin Akibat ulah Bapak itu keluarga kita menjadi seperti ini, termasuk membuat Krisna menjadi seperti sekarang.” Ujar Ki Amin.   “ Lalu Apa yang sebaiknya kita lakukan Ki?” Tanya Bu Eni.   “ Kita harus kembalikan kotak itu ke rumah Sugeng, secara diam – diam.” Ujar Ki Amin.   “ Tapi siapa yang akan melakukannya Pak, Krisna kondisinya seperti ini, Ijam tidak ada, bahkan Pak Dadang pun entah di mana sekarang keberadaannya.” Ujar Bu Eni.   “ Kita harus bersabar dulu, tunggu saja sampai Krisna sembuh.” Ujar Ki Amin.   “ Di sana Ada Ayu, Mungkin Dia bisa membantu?” Tanya Bu Eni.   “ Jangan, Ayu itu perempuan, terlalu berbahaya jika menyuruhnya melakukan hal itu, Sugeng itu tidak pernah pandang bulu, Dia akan berbuat jahat kepada siapa pun yang tidak sejalan dengannya.” Ujar ki Amin.   “ Lantas bagaimana Ki?, Aku sudah tidak tega melihat kondisi Krisna.” Ujar Bu Eni.   Krisna yang saat itu tengah tertidur langsung terbangun dan melihat sosok itu berdiri di depan pintu kamar, Krisna langsung saja melemparkan apa yang ada di dekatnya.   “ Pergi Kau.” Ujar Krisna berteriak histeris.   “ Sudah Kris, jangan seperti ini lagi, Tolong lihat Ibu.” Ujar Bu Eni panik melihat Krisna.   Krisna pun amat sangat tertekan, untuk ke sekian kalinya Krisna mengalami tekanan yang begitu berat, Bu Eni sangat terpukul melihat keadaan Krisna, begitu halnya pak Yaya merasakan kesedihan mendalam dari keluarga Krisna.   Ayu merasakan getaran batin antara Krisna dan dirinya, semua perdebatan di hari lalu membuat Ayu memikirkan keadaan Krisna di tambah firasat Yang Di rasakan Ayu menambah kecemasan dirinya terhadap Krisna.   “ Kenapa perasaan ku Jadi tidak tenang, di tambah Aku tiba – tiba ingat dengan Krisna. Ujar Ayu kepada siti di dalam bis, menuju arah pulang.   “ Mungkin kamu hanya sedang rindu saja Yu.” Ujar Siti.   “ Bukan Sit, rasanya itu beda, Di tambah tadi saat Aku di rumah saudaramu, melihat pria mirip Ijam.” Ujar Ayu.   “ Biar kamu tidak seperti ini, coba telepon Krisna, tanyakan keadaannya.” Ujar Siti.   “ Tidak sit, Aku Kan sedang marah sama Krisna, masa Aku harus telepon duluan.” Ujar Ayu.   “ Katanya cemas, tapi jual mahal.” Ujar Siti.   “ Bukan jual mahal Sit, hanya ingin memberikan pelajaran saja pada Krisna, biar Aku sedikit di hargai saja, Ya meskipun dalam hati kecilku, Aku selalu memikirkan Krisna.” Ujar Ayu.   “ Tidak ada salahnya mencoba berdamai Yu,  Kamu tahu Krisna sedari dulu, sepertinya hal ini sudah sering kalian bicarakan dan kalian lewati sebelumnya.” Ujar Siti.   “ Ia Memang Sit, hanya saja hal ini menjadi dilema untukku, perasaan ku bercampur aduk, entah mana yang dominan, tapi intinya pikiranku kini terfokus pada Krisna.” Ujar Ayu.   “ Tenangkan dirimu dulu Yu, sebaiknya Kamu yang kali ini mengalah dan menurunkan ego, Aku bisa melihat Krisna kini sedang dalam tekanan dari segala penjuru.” Ujar Siti.   “ Maksudnya Sit?” Tanya Ayu penasaran.   “ Aku melihat jika Krisna sedang dalam masalah, Jadi sebaiknya Kamu ringankan bebannya, Jangan menambah beban pikirannya, jika perlu beri dia dukungan penuh.” Ujar Siti.   “ Yang Tidak Aku paham, masalah apa yang kini datang dari segala penjuru?” Tanya Ayu.   “ Maksudku Krisna Kini sedang banyak masalah Yu, masa kamu tidak paham.” Ujar siti.   “ Ia Aku Paham soal itu Siti, hanya saja masalah apa yang tengah Dia hadapi?” Tanya Ayu.   “ Aku ini bukan dukun Ayu, Aku hanya melihat secara samar saja, untuk pastinya tanyakan saja secara langsung.” Ujar Siti.   “ Ia tahu, Ya sudah nanti malam saja Aku telepon, sekarang Aku masih kesal dengan Krisna.” Ujar Ayu.   “ Nah gitu , Susah banget di bilangin.” Ujar Siti.   “ Ia terima kasih Sit.” Ujar Ayu.   Di sisi lain Ijam dan Pak Dadang yang berada di Surau, menyiapkan rencana untuk melawan Pak Sugeng, mereka mempersiapkan rencana itu dengan serius hingga matang.   “ Jam, sebaiknya kita melawan saja, kita kembali ke kota dan mengajak Krisna untuk membantu kita.” Ujar Pak Dadang. “ Ia pak itu sebenarnya yang Ijam ingin lakukan, jika kita terus bersembunyi , kita tidak akan terbebas dan malah akan menambah masa bersembunyi kita.” Ujar Ijam.   “ Kamu ada rencana apa Jam?” Tanya Pak Dadang.   “ betul Apa yang di katakan Bapak, kita harus kembali ke kota, kita pancing Pak Sugeng di sana, Akan sulit jika Pak Sugeng terus berada di kampung kita.” Ujar Ijam.   “ Lalu Jika Pak Sugeng sudah masuk ke jebakan Kita, Apa yang harus Bapak lakukan?” Tanya Pak Dadang.   “ jika Pak Sugeng sudah berada di kota, kita bawa Pak Sugeng ke rumah Pak Yaya, kita pinta Dia untuk berubah dan mengambil semua yang telah Dia berikan kepada Bapak>” Ujar Ijam.   “ Apa Itu Akan berhasil Jam?’ Tanya Pak Dadang.   “ Tidak ada salahnya untuk di coba Pak, kita harus mencoba semua rencana.” Ujar Ijam.   “ Bapak juga Tahu sebenarnya, Di Rumah Kita di kampung d tanam sesuatu, Sepertinya Kita harus ambil dan kembalikan kepada Pak Sugeng, harapan Bapak dengan mengembalikan benda itu, Ki Amin bisa sembuh.” Ujar Pak Dadang.   “lDi tanam?, apa itu pak?” Tanya Ijam.   “ Entah Jam, Bapak pun tidak tahu pasti, hanya saja Ki Amin bilang itu sebagai pelindung rumah.” Ujar Pak Dadang.   “ Kenapa Bapak tidak bilang sebelumnya?’ Tanya Ijam.   “ Bapak Mau bilang bagaimana Jam, Kan Kamu tahu sendiri Jika Bapak itu jarang membicarakan hl ini sebelum banyaknya kejadian di rumah kita.” Ujar Pak Dadang.   “ Itu bisa menjadi rencana selanjutnya Pak, karena sepertinya jika hanya memindahkan benda itu tidak terlalu sulit.   Ijam menganggap jika benda itu sangat mudah untuk di pindahkan, tapi anggapannya salah besar, tanpa seizin Pak Sugeng benda itu tidak akan pernah terlihat dan di temukan oleh siapa pun selain Ki Amin sendiri yang mengambilnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD