Krisna akhirnya memutuskan untuk berkata jujur terhadap Yuda, menceritakan setiap kejadian yang ia alami dari awal hingga Krisna akhirnya memiliki luka itu hingga sekarang, sehingga yuda pun menyimpulkan jika Krisna memang mengalami gangguan nyata bukan buatan – buatan seperti temannya dulu.
“ Kris, Saya boleh bertanya?” tanya Yuda.
“ boleh Pak.” Ujar Krisna.
“Apa Kamu dulu mempunyai benda – benda turunan keluargamu atau semacam jimat?” Tanya Yuda.
“ Kalau benda warisan sepertinya tidak Pak, hanya saja dulu sebelum Saya datang ke sini, saya di bekali benda yang saya tidak tahu namanya apa.” Ujar Krisna.
“ Lalu benda itu di mana?, boleh saya lihat?” minta Yuda.
“ Benda itu sudah lama Saya bakar Pak, Saya sudah tidak tahan dengan gangguan – gangguan yang datang kepada Saya.” Ujar Krisna.
“ Di Bakar ?, seharusnya Kamu bercerita ini dari awal.” Ujar Yuda.
“ Memangnya kenapa Pak?” Tanya Krisna.
“ Benda itu sepertinya sudah ada yang mengisi, entah apa itu, Tapi Dia marah kepadamu Kris.” Ujar Yuda.
“ Marah?, Kenapa harus marah Pak?” Tanya Krisna.
“ Sebab Kamu sudah menghancurkan benda Itu.” Ujar Yuda.
“ Lantas Saya harus seperti apa?” Tanya Krisna.
“ Ada banyak jalan keluar, Tapi semua itu tidak mudah, Kamu harus menerima semua risiko dari yang pernah Kamu perbuat Kris.” Ujar Yuda.
“ Itu benda titipan dari Bapak Saya Pak, bukan saya yang sengaja untuk membawa benda itu, sebab dulu saya pernah sembunyikan benda itu, tapi anehnya dia sudah ada dalam tas dan dompet saya, selayaknya makhluk hidup, yang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain.” Ujar Krisna.
“ Oh dari Bapakmu, berarti kuncinya ada di Bapakmu Kris, Kamu akan selamanya seperti ini, sebab Bapakmu yang mempunyai perjanjian, maka dia sendiri yang harus melunasi janji itu.” Ujar Yuda.
“ Menurut Pak Yuda , Saya harus seperti apa?” Tanya Krisna.
“ pertama kamu harus dekat dengan pencipta, yang ke dua kamu harus berbicara kepada Bapakmu dan tanyakan apa yang Dia janjikan.” Ujar Yuda.
“ IA Pak, secepatnya akan saya kabari Bapak Saya.” Ujar Krisna.
Pak Yaya yang baru datang dari toko antiknya langsung duduk dan mencairkan suasana yang serius.
“ Tumben serius, biasanya pada urakan , ada apa Mas?’ Tanya Pak Yaya.
“ Pak Yaya datang tanpa salam, bikin kaget saja.” Ujar Krisna.
“ Ini rumah saya Mas, kalau saya salam duluan berarti saya sedang bertamu.” Ujar Pak Yaya memberikan candaan.
“ Bisa aja Pak Yaya.” Ujar Yuda.
“ YA sudah , lanjutkan obrolannya.” Ujar Pak Yaya.
Pak Yaya pergi meninggalkan mereka berdua, dan tepat saat itu waktu menunjukkan pukul 5 sore, dan Krisna Pun sangat bersyukur dengan adanya Yuda yang bisa membantu memberikan saran . Krisna pun menuruti saran dari Yuda, Dia mencoba untuk berbicara dengan Pak Dadang, meskipun risikonya adalah penolakan.
Krisna mencoba menghubungi Pak Dadang , tapi seperti yang ia prediksi sebelumnya, tanpa jawaban apa pun dan bahkan panggilan telepon dari Krisna pun ditolaknya.
Sifat egois Pak Dadang memang belum menurun, meskipun biaya sehari – hari Pak Dadang merupakan kiriman uang dari Krisna, tapi hal itu tidak berarti apa – apa untuk Pak Dadang, dan tetap menganggap Krisna anak yang tidak bisa di atur, Tapi sebenarnya dalam hati kecil Pak Dadang ada sedikit penyesalan yang dia rasakan.
Kondisi Ki Amin Di Kampung Belum ada perubahan sama sekali, bahkan Bu Eni , kini lebih intens mengalami gangguan – gangguan yang membuatnya mengalami tekanan dalam psikis nya, kondisi keluarga Pak Dadang semakin carut marut, hanya Ijam yang tidak berpengaruh oleh gangguan – gangguan makhluk lain, Ijam pun tidak diam dengan keadaan dan kondisi keluarga Pak Dadang yang semakin semerawut, Ijam selain membantu dari segi ekonomi , Dia juga mencari cara untuk tahu asal muasal semua permasalahan ini, karena informasi yang di berikan Krisna tidaklah cukup untuk menarik kesimpulan.
Keadaan Kampung pun semakin di perparah dengan kondisi cuaca yang sangat panas dalam kata lain kemarau berkepanjangan, bukan hanya keluarga Pak Dadang saja yang terkena Imbas, tapi lebih dari itu, satu kampung pun menerima imbas dari dampak kekeringan ini, tapi dengan kelicikan Pak Sugeng , hal ini di buat menjadi ladang pemasukan untuk Pak Sugeng, bukan tanpa sebab Pak Sugeng yang di kenal sebagai orang pintar di kampung itu sangat pintar bersilat kata, dan menyebutkan jika kekeringan ini datangnya dari penunggu hutan yang marah kepada seluruh warga kampung.
Pak Sugeng lalu menyuruh Pak Dadang untuk mengumpulkan warga kampung, Tapi Pak Dadang menolak karena kekecewaannya terhadap perkataan Pak Sugeng mengenai Ki Amin, akhirnya Pak Sugeng mengancam Pak Dadang dan berjanji akan menurunkan semua tentara makhluk halusnya ke rumah Pak Dadang, meskipun sebenarnya hal itu hanyalah bualan Pak Sugeng yang di buat untuk meyakinkan Pak Dadang.
“ Dang, kumpulkan semua warga, musim kemarau ini harus segera di lewati.” Ujar Pak Sugeng yang mendatangi rumah Pak Dadang.
“ Silakan Pak Sugeng saja yang mengumpulkan warga, saya kecewa terhadap Pak Sugeng.” Ujar Pak Dadang marah.
“ Kamu ini kenapa, memang benar Ki Amin itu tinggal menunggu waktu saja.” Ujar Pak Sugeng.
“ Maaf Pak Sugeng, Bapak datang kemari itu hanya ada perlu saja, perlu Bapak ingat, Pak Sugeng tidak akan jadi seperti sekarang jika tanpa Bantuan ki Amin.” Ujar Pak Dadang.
“ Saya bisa seperti sekarang berkat kerja keras saya sendiri, bukan karena Orang tua itu.” Ujar Pak Dadang congkak.
“ Jika kamu memang tidak mau, akan ku kirimkan lebih banyak makhluk kepunyaan ku, lakukan atau keadaan Ki Amin semakin parah.” Ujar Pak Sugeng.
“ Saya tunggu malam hari di lapang dekat sawah.” Ujar Pak Sugeng dan meninggalkan Pak Dadang.
Pak Dadang hanya termenung, dan merasa sangat marah dan dendam terhadap Pak Sugeng, mau tidak mau Dia menuruti perkataan Pak Sugeng, dengan harapan kondisi Ki Amin tidak semakin parah, Pak Dadang menyusuri satu persatu rumah warga, warga pun mau untuk mengikuti perintah Pak Sugeng, memang di Kampung itu tidak ada sama sekali tokoh pembuka agama, jadi ilmu agama yang mereka miliki sangat lah jauh dan lebih percaya terhadap hal mistis.
Ijam yang mendengar rencana Pak Dadang untuk mengumpulkan warga, lekas mengikuti Pak Dadang, dan ikut berkumpul di lapangan, hampir semua warga datang ke lapangan dengan harapan yang sama untuk mengakhiri kemarau panjang ini.
Ketika warga berkumpul Pak Sugeng langsung berbicara dengan suara lantang.
“ Saat ini sedang masa sulit untuk kita semua, jadi sebaiknya kita lebih banyak memberikan sembahan , agar hujan cepat turun dan mengakhiri masa sulit ini.” Ujar Pak Sugeng dengan lantang.
Semua warga hanya terdiam, sebab semua warga sudah tidak memiliki uang.
“ Jika kalian semua sudah tidak punya uang, Aku akan membeli nya dengan uangku, dan kalian harus membayar saat masa panen datang.” Ujar Pak Sugeng.
Lalu Ijam yang berada di belakang kerumunan warga langsung berteriak “ Tidak Bisa.” Sontak Pak Sugeng pun terkejut, dan semua pandangan tertuju pada satu orang ya itu Ijam, Ijam perlahan maju ke depan dan langsung berbicara kepada warga.
“ Semua warga dengarkan saya, jangan dengarkan orang ini.” Ujar Ijam sambil menunjuk Pak Sugeng.
Seluruh warga pun terdiam dan hening.
“ Coba kita semua pikir, jika betul hanya karena sesembahan semua masalah selesai, mungkin dari dulu kita tidk akan seperti ini, Ini adalah peringatan dari sang pencipta untuk kita semua, sebab di sini sudah jauh darinya.” Ujar Ijam.
“ Kamu ini siapa?” Tanya Pak Sugeng.
“ Anda tidak perlu tahu siapa saya, saya sudah sedari kecil tinggal di sini, sedangkan Anda hanya orang yang mencari keuntungan dii tengah kesempitan seluruh warga.” Ujar Ijam.
“ sekali lagi Kamu biara seperti itu bisa habis Kamu.” Ujar Pak Sugeng.
Ijam mengabaikan ancaman Pak Sugeng dan terus mengajak seluruh warga untuk lebih dekat dengan sang pencipta.
Melihat suara Ijam yag menggebu – gebu, warga pun begitu antusias mendengar ajakannya.
“ Jika semua warga sedang kesulitan dengan susahnya air, saya ada sedikit solusi, kita adakan berdoa bersama untuk kita semua, meminta kepada sang pencipta agar di berikan jalan keluar untuk musim kekeringan ini.” Ujar Ijam.
“ lalu untuk mengatasi ladang yang kering , sambil kita menunggu hujan sambil terus berdoa, kita manfaatkan dengan membuat gerabah dan sebagainya, kita semua harus bersifat logis agar tidak terjerumus dengan perkataan orang sesat.” Ujar Ijam.
“ Apa maksudmu orang sesat.” Ujar Pak Sugeng.
“ Ia orang yang menjerumuskan warga ke dalam hal yang tidak benar.” Ujar Ijam.
Warga pun serentak terdiam dengan perkataan Ijam, ijam sangat yakin bisa membawa warga kampungnya keluar dari masalah kekeringan yang tengah melanda. Dan merubah stigma pemikiran masyarakat agar lebih dekat dengan sang pencipta.
Ada yang pro dan kontra terhadap perkataan Ijam, hingga akhirnya Ijam memutuskan untuk pergi dari kerumunan, warga pun ada yang ikut bubar ada juga yang memilih bertahan dan mengikuti perkataan Pak Sugeng, Pak Sugeng saat itu wajahnya memerah, tangannya di kepal sekeras mungkin, dan dia berjanji akan membuat Ijam keluar dari kampung itu.
Pak Sugeng pun kembali menghasut warga.
“ Saya di sini hanya ingin membantu warga untuk bisa keluar dari kekeringan, tapi jika kalian tidak mau di bantu dan memilih untuk mengikuti cara bocah itu silakan , Saya tidak akan memaksa, silakan tinggalkan tempat ini.” Ujar Pak Sugeng.
Sebagian warga pun akhirnya meninggalkan Pak Sugeng dan sebagian warga yang percaya terhadap Pak Sugeng memilih untuk tetap melanjutkan rencana dari pak sugeng.
Kini warga pun terpecah belah menjadi dua kubu, ke esokan harinya warga bersama ijam langsung pergi ke ladang masing – masing dan Ijam mengajarkan mereka mulai dari awal hingga akhir dalam membuat gerabah, Tidak hanya di pakai untuk keperluan pribadi gerabah itu di jual untuk menutupi kebutuhan sehari -hari bagi para warga.
Ijam pun setiap sore mengarahkan dan memimpin warga untuk memanjatkan harapan dan doa kepada sang pencipta, rutinitas itu di lakukan setiap hari pada saat sore hari atau saat matahari terbenam, mereka merasa terbantu oleh Ijam, meskipun kekeringan masih melanda tapi setidaknya warga ada kegiatan dan pemasukan.
Pak Dadang yang malah memilih mengikuti kata – kata Pak Sugeng kini mulai terhasut oleh buaian kata – kata Pak Sugeng, Ijam pun yang awalnya di banggakan oleh Pak Dadang, kini menjadi musuh kecil bagi Pak Dadang, Pak Dadang bukan tanpa sebab memilih kubu Pak Sugeng, Dia yang awalnya sangat kecewa memiliki ketakutan yang sangat besar, jika nanti ancaman Pak Sugeng benar – benar terjadi.
Kini Pak Dadang menjadi mata – mata untuk Ijam, Ijam yang tinggal bersama Pak Dadang menjadi makanan empuk untuk Pak Sugeng, hingga akhirnya ancaman – ancaman untuk Ijam pun berdatangan melalui kaki tangan Pak Sugeng.