Mencari Masalah

1438 Words
Bel istirahat berbunyi yang berarti para murid bebas dari ajaran. Sefrin meneguk ludah susah payah, seperti sebuah kebiasaan diwaktu istirahat pasti banyak murid yang berkeliaran dimana-mana. Seperti sekarang, bisa sefrin lihat para murid cowok yang tengah nongkrong di koridor kelas. Sebenernya sih mereka masih teman seangkatannya tapi Sefrin tidak mengenal mereka semua. Jika begini maka Sefrin jadi menyesal sendiri karena telah meninggalkan Alden begitu saja setelah mengganti seragam basahnya dengan baju olahraga. Sefrin tidak mau berjalan sendiri kesana, ini tidak jadi masalah jika cowok-cowok itu hanya nongkrong saja, tapi sialnya semua cowok-cowok itu pasti akan menggoda Sefrin dengan segala macam godaan dan itu membuat Sefrin merasa tidak nyaman. Tapi, dengan modal nekat pada akirnya Sefrin berjalan kembali. Sekitar ada tujuh orang cowok disana. “Wah, ada princess.” Nah kan mereka menggoda Sefrin. Sefrin mendengus, saat satu persatu cowok yang berada disana mulai memperhatikannya. Sefrin benci menjadi pusat perhatian. “Permisi. Gue mau lewat.” Sefrin menendang pelan kaki cowok yang berselonjor tepat ditempatnya ingin lewat. Yah, hal yang membuatnya susah melintasi koridor ini adalah karena cowok-cowok itu duduk berselonjor menghalangi jalan. Cowok itu menatap Sefrin. “Gak mau. Lo yang butuh bukan gue.” “Ngeraja lo?!” Sinis Sefrin. “Maksud lo?” “Manfaat utama koridor itu bukan buat nongkrong apalagi buat ngegangguin murid yang mau lewat kesini.” Sefrin mengabaikan cowok itu yang menatapnya geram. “Hey kalian manusia yang gak ada gunanya, dengerin ini baik-baik. Manfaat utama koridor buat sarana orang jalan dari kelas lain kesini atau dari sini ketempat lain. Jadi gue mohon kalo punya otak b**o jangan dipelihara.” Teriak Sefrin membuat sebagian besar dari mereka berseru tidak terima. Setelah Sefrin mengutarakan itu cowok itu segera hendak berdiri namun terlambat karena Sefrin menginjak kakinya dengan beringas. Ia mengaduh namun Sefrin tak peduli. Sefrin malah terus berlari dan menyiksa kaki mereka dengan sepatu dan tenaga penuh miliknya. Seolah menjadi jembatan penghubung kaki para cowok yang berselonjoran disana diinjak Sefrin tanpa perasaan. Dan ketika sampai diujung dan berada jauh dari mereka barulah Sefrin berani membalikan badan dan melihat mereka yang meringis kesakitan, malah ada yang sudah berdiri dan berjinkrak jikrak menetralkan sakit. “Pengecut!” Teriak Sefrin. Setelah meneriakan itu Sefrin berjalan mundur dengan seringaian diwajahnya. Namun belum sempat ia berbalik badan, sempat-sempatnya Sefrin mengacungkan jari tengah ke arah mereka dan setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan para singa yang tengah siap mengamuk. Rafa-cowok itu mengempalkan tangannya emosi, rahangnya mengatup rapat juga matanya tak lepas dari punggung Sefrin. “Dia siapa?” Tanyanya entah kepada siapa. “Sefrin, Raf anak XI C.” Jawab salah serang pengikut Rafa. “Cewek most wanted sekolah kita tuh.” Siul salah seorang diantara mereka. Sefrin telah melemparkan api kedalam genengan bensin yang semula tenang. Membakar hati Rafa hingga ke ubun, sikap Sefrin tidak bisa ditolelir. Menjatuhkan Rafa sekali hentak dengan penghinaan, Rafa bersumpah tidak akan melepaskan Sefrin begitu saja. ***** Tiba di kelas Sefrin disuguhi dengan keadaan yang bisa dibilang normal, di paling pojok ada kumpulan para cowok yang sedang menonton, entah sedang meonton apa. Dibangku masing-masing makin parah, ada yang melakukan konser dadakan dengan para personil dari kelas sebelah, ada para cewek yang sedang bergosip ria, ada yang lagi baca buku, ada juga yang tengah makan makanan dengan tenangnya. Seperti biasa, keadaan yang biasa pula. Tapi yang membuat Sefrin heran adalah kelakuan ketua kelasnya, Kavi Prasetyo. Kavi memang terkenal dengan kemampuan menggambar yang bagus, tapi lihatlah sekarang bukannya menjalankan amanat dengan benar untuk mengatur para siswanya tapi kavi justru menjadi salah satu pembuat onar. Kavi sekarang sedang menggambar dipapan tulisan dengan tulisan-tulisan aneh bin lebay miliknya. Apalagi gambar buatan kavi, Sefrin rasa jika ada guru yang melihat kelakuannya pasti Kavi langsung dipecat dari jabatannya. Karena menurut Sefrin cewek berbikini dengan ciuman di bibir bukanlah suatu yang bagus. Yah, itulah yang digambar oleh Kavi. Sampai di bangkunya Sefrin melihat Aleta yang tengah membaca novel. Sefrin langsung duduk di sebelah Aleta. “Baru nongol aja lo.” Sahut Aleta, cewek itu segera menutup novelnya dan menatap Sefrin. “Tadi ada tugas buat meresensi isi novel Rin. Kita disuruh berkelompok tadi.” Sefrin mengaguk tak berminat. “Yaudah gue sama lo aja.” “Gue sama si Ifa Rin. Kebetulan tadi dibentuk kelompoknya dua orang-dua orang dan gue kebagiaan sama si Ifa.” Aleta melirik Sefrin. “Karena kebetulan kelas kita genap. Kebetulan juga tadi anak-anak pada masuk. Dan kebetulan juga cuma lo sama Alden yang kesiangan tadi, jadi lo kelompoknya sama si Alden.” Jelas Arleta. Sefrin mengangkat alisnya. “Kebetulan mulu.” Aleta tertawa. “Padahal gak ada kebetulankan? Mungkin lo jodoh sama Alden.” “Dia gak bodoh kan? Gue males ngerjain yang beginian.” ***** Seolah menjadi hukum alam, jika Sefrin sendirian saja pasti sudah menjadi pusat perhatian. Apalagi sekarang, cewek itu sedang duduk di bangku depan Alden. Sedangkan cowok itu sedang tertidur pulas di bangkunya. Sefrin memutar matanya malas saat sebagian besar murid di kelasnya menatapnya intens dengan bisikan di telinga. Dengan tak sabaran Sefrin menendang bangku Alden, hingga cowok itu kaget dan akhirnya bangun. “Tidur mulu sih lo!” protes Sefrin, menatap Alden dengki. Alden mengerjap, menatap Sefrin aneh. “Urusannya sama lo apa?” Alden menyisir rambut acak-acakannya dengan tangan. “Adalah. Gue mau ngomong sama lo.” Lalu mata elang Alden menatap Sefrin untuk meminta penjelasan, namun yang didapat Sefrin didepannya malah diam mematung dengan muka memerah. Dalam hati Alden tersenyum. Sedangkan Sefrin dalam hati berteriak frustasi, bisa-bisa dalam situasi seperti ini dirinya masih saja terpesona. Sadar, Sefrin harus sadar bahwa cowok di depannya ini adalah musuh yang harus Sefrin jauhi sejauh mungkin. “Kita sekelompok tugas Bahasa Indonesia buat minggu depan. Lusa kita kerja kelompok di perpustakaan kota.” “Ogah gue sama cewek bawel kayak lo.” Seru Alden ketus. Sefrin melotot. “Emang lo kira gue mau sama lo? Enggak sorry banget.” Alden sudah ingin menimpali namun terpaksa berhenti ketika ada seseorang yang memanggil namanya. Serentak ia dan Sefrin menoleh ke sumber suara. Dewa datang terengah-engah lalu duduk dimeja yang tadi digunakan Alden untuk tidur. “Buset gue, cape bener.” Alden menetap Dewa penasaran, kenapa dia? “Ada apaan sih Wa?” Dewa berhenti bernafas saat sadar bahwa Sefrin berada di antara mereka. Segera mungkin Dewa menatap Alden, bagaimana mungkin Dewa membicarakan Sefrin jika orangnya berada di depannya. Ah bodo amat lah. “Itu Den si Sefrin cari masalah sama si Rafa. Kayaknya sekarang si Rafa dendam banget sama si Sefrin.” Lalu setelahnya Alden menatap Dewa datar. Dan Sefrin menatap Dewa terkejut. “Ngapa lo ngadu ke gue? Ge bukan bokapnya.” Alden melipat tangan dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sefrin sama sekali tidak peduli, tidak takut juga. Baginya Rafa hanyalah biang masalah dan Sefrin bermaksud tidak peduli untuk itu. “Wajar aja cewek bringas kaya dia cari masalah sama Rafa.” Alden melirik Sefrin. “Mereka klop sih sama-sama spesies gak tahu diri.” Alden tertawa s***s, padahal Rafa sendiri adalah temannya. Sedangkan Dewa menelan ludahnya susah payah, namun cowok itu malah tersenyum seolah-olah tak sabar ingin meonton sebuah peperangan terkemukan. Sefrin menggerakan giginya geram, tak sampai tiga detik ia sudah melancarkan serangannya kepada Alden. Bukan sebuah jambakan atau pukulan tapi- tamparan. PLAK “Brengsek.” Makinya. Sefrin meninggalkan mereka dengan kesal, meninggalkan Alden yang terbully dengan menyedihkannya. “Wah ditampar.” Dewa berkata heboh sambil menunjuk-nunjuk pipi Alden yang memerah. “Keren bro kayak dicipok.” Lalu setelah itu Dewa tertawa keras. “Diam lo.” Kata Alden kesal. “Gak mau.” Dewa terus tertawa membiarkan Alden menetapnya geram. Alden bangkit dan membiarkan Dewa terus tertawa mengejek penderitaannya, rasanya telinga Alden seperti akan rusak karena mendengar tawa Dewa yang super dahsyat itu. “Ciee kabur.” Terus saja Dewa meldek Alden. “Cie dicipok.” Tawanya malah makin heboh. Alden tidak mengidahkan Dewa dan malah terus berjalan tanpa terganggu oleh ejekan Dewa. “WOY, ALDEN MALU WOY.” Setelah merampungkan kalimatnya Dewa meringis kesakitan, karena tepat didepan kelas, ada Alden yang tengah menyeringai kepadanya dengan satu penghapus ditangannya. Sedangkan satu penghapus yang lain sudah meluncur dari satu detik yang lalu ke kepalanya. “Ah, kepala gue.” Ringisnya lagi, membuat Alden memperlebar seringaiannya. “Dipipi gue cuman ada bekas tamparan bukan ciuman tai.” Alden menjelaskan. “Wah padahal dalam hatinya sih beneran pengen dicium.” Dio yang baru sampai memperpanas suasana. “Alah diem lo.” Seru Alden. Lalu perang pun terjadi antara Dewa, Alden, dan juga Dio yang sialnya malah datang kekelas dan menjadi sasaran empuk untuk Alden yang sedang geram. “Wah kok ke gue sih?” Dio bertanya keheranan karena dia juga malah dijadikan sasaranan, barang-barang datang dilemparkan kepadanya mulai dari penghapus, kapur, spidol, bahkan hingga ember. “RASAIN.” Teriak Alden juga Dio serempak. Perang dengan melempar barang pun kembali terjadi, memperheboh suasana kelas. Dan yang tidak tahu menahu perihal masalah mereka saling melempar barangpun hanya bisa menonton bahkan sebagian ada yang malah menjadi sporter. “MAMPUS.” Teriak Dio setelah mengenani Alden dengan tas miliknya. “ALLAH HUAKBAR” Tak tanggung-tanggung Alden melempar kedua sepatunya kepada mereka, tepat ke wajah mereka. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD