Adara melotot. Dia mendesis marah, “Lo gak punya mata ya?”
Sefrin tertawa meremehkan. “Lo gak punya otak ya?” lalu dengan kepercayaan yang begitu tinggi Sefrin maju selangkah. “Ini mata, lo gak bisa liat?!” tunjukan Sefrin pada mata sebelah kanannya.
Adara mendecih. Mengabaikan rasa lengket di kepala hingga tubuh bagian depannya. “Attitude lo kayak tai.”
“Mending gue lah, dari pada lo gak punya harga diri.” Sefrin tersenyum manis.
Adara terengah menatap Sefrin penuh emosi. “Dasar cewek gak tau malu. Cewek sampah.” Maki Adara.
Sefrin tersenyum miring. Suaranya bergetar menahan marah yang kian meradang. Sefrin menunjuk Adara murka. “Lah sedang lo? j****y. Kenapa? Diusir lo dari koloni lo, sampe nyasar ke sekolahan?”
Sefrin tahu penampilannya juga salah. Tapi penampilan Aara sungguh keterlaluan dan itu mau tak mau juga mengganggu Sefrin, seragam ketat luar biasa dengan dua kancing terbuka menurut Sefrin merupakan perkara yang benar-benar salah.
Adara mendorong Sefrin. “Mulut lo perlu gue jahit! Seneng banget lo gangguin hidup gue.”
“Gak kebalik tuh. Lo tadi yang duluan nyiram gue.”
Ada asap pasti ada api. Suasana hati Sefrin langsung berubah ketika tiba-tiba Adara pura-pura menabraknya dan menyiramnya dengan segelas teh hangat, Sefrin tidak akan membalas jika Kakak kelasnya itu mengakui kesalahannya.
Tapi memang dasar rubah bermuka dua, Adara malah memaki-makinya hingga Sefrin geram dan ikut menumpahkan jus di tangannya ke atas kepala Adara hingga d**a.
Bukan rahasia umum lagi, jika Adara membenci Sefrin. Itu semua karena iri, tidak salah lagi. Tentang Sefrin yang mampu menarik semua perhatian orang-orang dibanding Adara yang notabenenya sudah lebih dulu senior dari pada Sefrin.
“Gue gak sengaja. Tapi kenapa lo malah balik nyiram gue? Lo itu emang gak ada sopan-santunnya ya sama kakak kelas!” Adara mendekat dan menjambak rambut Sefrin kuat.
“Bisa gak tuh attitude lo pake? Jangan cuma ditanam di otak doang.”
Sefrin mencengkram lengan Adara kuat, dan tersenyum sinis. “Bisa aja sih. Tapi, gue seneng liat lo menderita.”
Surak-surakan anak-anak menggema, menyaksikan pertengkaran mereka. Hingga tiba-tiba seseorang menghentikan mereka.
“HEI! KALIAN BERHENTI.”
Bu Atni menarik Sefrin, sedangkan Adara ditarik oleh salah-satu satpam.
“BU ANAK INI MULUTNYA PERLU DIJAHIT.” Tunjuk Adara pada Sefrin.
Sefrin mencoba menendang Adara namun tidak berhasil. “BU! ANAK j****y INI PERLU MENDERITA.” Teriaknya.
Bu Atni mendesis dan semakin mencengkram Sefrin karena berontakan Sefrin semakin liar.“Sefrin! Kamu keterlaluan. Sebelum menghakimi orang lain, liat dulu diri kamu. Apakah kamu sudah mencerminkan diri sebagai seorang pelajar atau sebagai seorang w************n hah? Ingat! Kalimat itu tidak pantas kamu ucapkan.”
Sefrin melunak, namun menatap rendah netra Bu Atni. “Wah?! Ibu Atni yang terkenal disiplin dan menjungjung tinggi kejujuran ternyata takut juga sama dia. Kenapa? Karena dia anak pemilik sekolah? Dan Ibu takut sama si tua bangka itu ya Bu?”
“SEFRIN!!!”
*****
Sefrin bukanlah orang yang begitu menyukai kebersihan tapi tidak juga suka suatu yang kotor. Seperti sekarang, mendapat hukuman membersihkan taman membuat Sefrin bimbang. Taman ini penuh dengan bunga yang sangat disukainya, tapi sebagian dari dirinya menolak untuk membersihkan semua keindahan ini. Entah kenapa, apa mungkin ego nya yang terlalu tinggi untuk melakukan itu semua?
Sefrin mencabuti rumput di sekitar bunga mawar yang banyak tumbuh disana, lalu terdiam dengan pokus ke arah bunga yang telah mekar itu.
Jika Sefrin menganggap bahagia itu adalah berbunga. Maka kehadiran bunga menjadi alasan keberlangsungan hidup lebah. Keduanya berteman baik dalam hubungan simbiosis mutualisme.
Andai hidup seperti bunga dan lebah pasti lah begitu menyenangkan. Namun nahas, karena takdir tidak sebaik itu. Dalam hidup, Sefrin merasa bahwa semuanya terasa palsu? Mereka semua seperti parasit yang memanfaatkannya dengan seenak hati.
Andai saja hidupnya tidak seperti ini. Andai saja—
“Katanya cewek itu suka bunga. Tapi liat lo bringas kayak gini, gue jadi gak yakin.”
Sefrin mendongkak dan menemukan Alden yang tengah duduk di atas tembok pembatas di depannya.
Perlahan Sefrin melepaskan cengkramannya, baru sadar bahwa telah ikut mengcengkram tungkai salah satu mawar hingga rusak.
Sefrin menatap Alden murka, ketika cowok itu menjatuhkan sampah plastik roti di depannya.
“LO!”
Tanpa rasa bersalah Alden memakan rotinya dengan tenang. “Kenapa? Gue cuma niru lo doang.” Kekeh Alden.
Hari ini begitu panas, wajah Sefrin dibawahnya begitu merah. Peluh menetes dari dahi mulusnya. Apakah cewek itu haus?
Seketika Alden menggelengkan kepalanya, buat apa dia harus peduli. Alden kembali memakan roti ditangannya. “Lo harus tau situasi kalo mau berantem.”
“Gak ada urusannya sama lo.”
Alden menyuapkan potongan roti terakhinya ke mulut. “Emang. Gue Cuma amu ngingetin besok kita kerja kelompok jam dua belas siang di perpustakaan kota.” Kata Alden dengan mulut penuh.
Sefrin mendongkak dengan tangan dia ats dahi, menghalau sinar matahari yang membakarnya “Gak sudi gue ngerjain tugas Bu Atni.”
“Sorry, tapi gue gak peduli.” Alden berdiri. “Gue tunggu. Sampe lo gak datang lo tanggung konsekuensinya.”
Sebelum benar-benar meloncat Alden melemparkan sebotol minuman di tangannya kepada Sefrin. Hingga membuat Sefrin terdiam tidak menyangka.
Dengan senyuman tertahan, Sefrin memungutnya. “Katanya cowok itu harus bersikap jantan di hadapan cewek, tapi ngilat dia kayak gitu gue jadi gak yakin deh.”
*****