"Luka mampu membuat seseorang terjatuh, lalu merasa tak punya masa depan. Namun, luka juga bisa menempa hati menjadi sekuat baja."
=================
Lintang menggedor pagar tinggi yang berdiri kokoh di depan rumah Handoko. Wanita itu terus berteriak hingga suaranya berubah serak. Setelah mendengar penolakan Lintang, Handoko memerintahkan satpam membawa wanita itu keluar dari rumahnya, pun Arsen. Pria paruh baya itu tidak mengijinkan Lintang membawa Gayatri, sebelum wanita itu merubah niatnya untuk bercerai.
Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula, begitulah hidupnya sekarang. Lintang terus berteriak, meski Murni berusaha menenangkannya. Wanita itu ikut menangis melihat kondisi Lintang yang berantakan. Dia hanya bisa memeluk tubuh wanita tersebut yang luruh ke tanah. Keduanya berpelukan sambil menangis sesugukkan, terdengar memilukan bagi siapa yang mendengar.
"Sudahlah, Mbak. Sebaiknya kita pulang. Gayatri aman di sini. Mbak juga harus pikirkan kesehatanmu?" bujuk Murni sambil mengelus punggung Lintang lembut seperti seorang ibu yang menenangkan putrinya.
Lintang menggeleng pelan, wajah wanita itu digelayuti mendung kelabu, terlihat begitu suram dan menyedihkan. Garis hitam di bawah mata menandakan dia tak pernah tidur dengan nyenyak. Tentu saja ... ibu mana yang sudi dipisahkan dari sang buah hati, anak yang dia kandung dan lahirkan dengan menyabung nyawa. Lintang seperti mendapat bertubi kemalangan.
"Ngga bisa, Buk. Gayatri putriku, cuma dia satu-satunya milikku yang berharga, cuma dia yang membuat aku tetap waras." Air matanya turun tak tertahankan. Lintang bahkan meremas d**a untuk menyalurkan nyeri yang tengah menusuk hatinya.
"Mbak mengerti, tetapi percayalah. Semua akan baik-baik saja, Tuhan ngga tidur," bujuk Murni berusaha terus menyakinkan wanita yang sedang terpuruk tersebut.
Tangis Lintang semakin keras, seolah sesuatu sedang melukai hatinya teramat dalam. Dia merasa Tuhan tak adil padanya, setelah masa lalu yang suram, sekarang dia pun harus menjalani masa depan yang hilang cahayanya. Hanya Gayatri penguatnya, demi sang putri dia rela melakukan apa saja. Akan tetapi, Handoko memisahkan mereka dengan semena-mena.
Sementara Arsen hanya menatap tanpa tahu harus berbuat apa. Membujuk Lintang sama saja hendak meruntuhkan gunung es di Antartika, sangat mustahil. Yang akan terjadi justru sebaliknya, Lintang akan semakin membencinya karena dialah penyebab semua ini terjadi. Akan tetapi, sekali lagi ego mematahkan empati pria itu. Saat ini pikirannya terbagi antara tangis Lintang dan ultimatum Handoko. Pria paruh baya itu tidak pernah main-main dengan ancamannya.
Rumah yang dia tempati bersama Lintang adalah rumah milik sang papa. Pria itu pernah berkata jika pernikahan mereka tidak bertahan sewindu, maka salah satu dari mereka harus keluar dari rumah tersebut. Lintang menolak ketika Handoko menyerahkan rumah itu padanya, tentu saja ... siapa yang tahan hidup di mana pengkhianatan itu terjadi, bayangan perbuatan kotor keduanya tentu akan menghantui Lintang, sementara Handoko tidak sudi jika Arsen tinggal di sana bersama penghancur rumah tangga sang anak. Dia ingin memberi Arsen pelajaran karena telah berani bertingkah di luar kepatutan.
"Sudahlah, Dek. Jangan bertingkah seperti orang gila," tegur Arsen seraya mencoba meraih tangan Lintang
Mendengar perkataan Arsen, memerahkan telinga Lintang. Tawa sinis terdengar dari bibirnya, dia berpaling pada Arsen seraya menampik kasar tangan pria yang pernah dia cintai hingga beberapa detik yang lalu.
"Gila?! Iya, aku memang gila dan semua karena kamu!" raung Lintang dengan wajah bersimbah air mata. "Andai kamu tidak merusak keadaan, tidak memperturutkan selangkanganmu, tentu rumah tangga kita baik-baik saja."
Arsen berdecak sambil mengalihkan pandangannya. Dia tidak tahu harus menjawab apa, karena apa yang dituduhkan wanita tersebut benar adanya. Akan tetapi, untuk memperbaiki sudah sangat terlambat, Lintang menolak tegas diduakan.
"Aku tahu tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi, tapi kita bisa memperbaikinya." Arsen berusaha mendekat bermaksud memeluk Lintang, biasanya wanita tersebut akan luluh oleh pelukan.
Namun, dia salah. Lintang bukan wanita yang sama lagi, seiris luka telah mengaktifkan perisai di dalam d**a, pelindung bagi hatinya agar tidak tertipu lagi bujukan arsen. "Jangan mendekat! Aku tidak sudi tubuhku disentuh tangan kotormu. Aku sudah mengharamkan dirimu, setelah pengkhianat itu," tolaknya keras dengan raut marah.
Arsen tak berkutik melihat sisi Lintang yang lain. Keras, dingin, dan tak tersentuh. Memang seperti itulah karakter sang wanita. Akan tetapi, Lintang tidak melulu keras hati, lebih sering bersikap lembut. Nyaris empat tahun pernikahan mereka, tak pernah sekalipun dia meninggikan suara terhadap sang suami. Namun, sakit yang kini bergumul di dadanya membuat wanita itu hilang kendali.
"Mungkin kau tidak punya hati, hingga membiarkan Gayatri diambil dariku. Egois! Berengsek! Itulah dirimu," maki Lintang lagi. Wajah wanita itu memerah meredam gejolak amarah yang merangkak naik dengan cepat. Hilang sudah kelembutan yang dia miliki, berganti dengan murka, yang seolah ingin menghancurkan apa saja yang membuat dirinya terluka.
Arsen mengusap wajahnya kasar, terlihat sekali pria tersebut gusar, mati-matian dia menekan emosinya agar tidak meledak.
"Terserah ... aku tidak pernah menginginkan ini terjadi. Andai ... andai masa lalu bisa ubah, aku ..."
"Cukup! Aku tidak sudi mendengar omong kosongmu lagi. Aku akan mengambil Gayatri. Dia putriku, tidak ada yang berhak mengambilnya dariku," sela lintang tegas.
Setelah mengatakan hal tersebut, Lintang bergerak menjauhi Arsen dan rumah Handoko. Dia tidak peduli reaksi pria tersebut, baginya tidak ada lagi yang bisa diselamatkan dari rumah tangga mereka, tetapi untuk Gayatri ... dia akan berjuang hingga titik darah penghabisan.
¤
Malam semakin larut, nabastala sedia memeluk bulan yang berbentuk sabit, beberapa bintang terlihat berkerlap-kerlip dengan indah, terhampar di langit malam yang begitu cerah. Silir angin masuk perlahan dari celah jendela yang dibuka, membelai wajah murung Lintang yang masih dihiasi air mata.
Lintang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Bagaimana mungkin, Handoko tega memisahkan dirinya dengan sang buah hati. Tidakkah pria itu tahu, jika Gayatrilah yang membuat dirinya bertahan. Dengan melihat senyum serta polah tingkah lucunya, mampu mengalihkan kegundahan hati, obat bagi jiwanya yang penuh luka.
Meraih ponsel yang ada di atas meja, Lintang menimbang untuk menghubungi Handoko, kembali. Dia tidak akan menyerah begitu saja, jika tak ingin gila dalam waktu dekat. Menekan nomor yang dia hapal, lalu menunggu panggilan tersebut dijawab. Percobaan pertama gagal. Lintang bergerak gelisah, dia mondar-mandir di dalam kamar. Pikirannya berkelindan antara prasangka buruk kepada sang mantan papa mertua tersebut. Apa Handoko telah memutuskan komunikasi dengannya? Tetapi, rasanya tidak mungkin, pria itu tak akan berbuat hal sepicik itu.
Setelah menunggu beberapa saat, Lintang kembali mencoba menelpon Handoko, dalam hati berdoa agar hati pria tersebut luluh. Di sering ke tiga, panggilan itu dijawab seseorang di ujung telpon.
"Ada apa, Lintang?"
"Pa, aku mohon ... jangan ambil Gayatri. Dia satu-satu harta berhargaku." Suara Lintang terdengar sengau dan tanpa basa-basi.
"Bukankah semua sudah jelas, kemarin."
Lintang menggigit bibir bawah mendengar ucapan Handoko, seraya berpikir keras, kata-kata apa yang akan dia keluarkan agar tidak menyinggung pria tersebut.
"Tetapi, Gayatri putriku. Dia masih butuh ASI, dan paling penting aku butuh putriku untuk tetap waras." Debat Lintang dengan suara lembut.
"Jika aku bilang tidak, makanya jawabannya adalah tidak! Urus saja masalah kalian. Jika, kamu ingin Gayatri kembali, maka buktikan kalau kamu mampu menghidupi putrimu, tetapi bukan di panti. Aku tidak mau cucuku tinggal di tempat tersebut."
Mendengar ucapan Handoko, menerbitkan secercah harapan untuk Lintang, dadanya berdentum kencang, seolah kebahagiaan tengah membuncah di sana.
"Maksud, Papa?" tanyanya dengan mata berbinar, meski dia tahu Handoko tidak melihat rautnya, tetapi dia ingin memastikan janji yang diucapkan sang pria.
"Buktikan jika kamu mampu berdiri dengan kakimu sendiri. Berikan rumah yang layak untuk Gayatri, serta jaminan masa depan. Setelah itu, biar Papa yang menilai."
Lalu sambungan dimatikan begitu saja di ujung ponsel. Perlahan Lintang mengutus seulas senyum di bibirnya. Bukankah dia punya rumah? Itu bisa jadi langkah pertama merebut putrinya kembali, meski harus mendepak Anita keluar.
¤
Lintang melipat sajadah dan mukenanya, lalu meletakkan di atas ranjang yang telah dia rapikan. Membuka lemari hendak memilih pakaian yang akan dipakai mengunjungi Anita. Lebih tepatnya, meminta wanita itu keluar dari rumah orang tuanya. Pertikaian dengan Arsen membuat Lintang lupa dengan keberadaan Anita di sana. Syarat yang diajukan Handoko membuka pikirannya kembali. Dia akan mengambil sesuatu yang memang haknya sejak awal, setelah itu dia akan mengklaim usaha percetakan milik mereka, karena usaha itu murni di rintis Lintang sejak lajang dan tercatat atas namanya di akte pendirian saat usaha itu dijadikan CV.
Mengenakan kemeja putih lengan panjang, jeans berwarna telur asin, dan sepatu kets putih, menjadi pilihan wanita tersebut. Lintang mengikat rambut panjangnya seperti ekor kuda. Memoles wajah tipis-tipis dengan bedak, lalu sebagai sentuhan terakhir mengulas lipstik berwarna nude agar tidak terlihat pucat. Dia memang sangat sederhana dalam berdandan. Apa karena itu Arsen tergoda melirik Anita? Wanita itu memang selalu tampil modis full make up. Geleyar nyeri segera merambat pelan di dadanya. Lintang segera menepis pemikiran itu, tak ingin lagi mengingat hal yang menyakiti hatinya lagi. Dia sudah membuang Arsen, dan apa yang telah dia buang tidak akan pernah dipungut lagi.