6

1399 Words
Suara isakan tangis terdengar jelas di telinga Rose. Dalam hati ia bertanya-tanya, siapa gerangan yang sedang menangis malam-malam begini? Mama atau Jasmine? Tapi tadi pagi dengan jelas Mama sudah mengatakan jika beliau akan lembur malam ini. Rose melirik jam dinding yang berada di ruang tamu. Jam tujuh malam, tak mungkin mamanya sudah pulang. Berusaha tak membuat suara, Rose melangkah ke dalam rumah. Suara tangisan itu semakin terdengar jelas ketika ia tiba di depan kamar Jasmine. Kening Rose bertautan ketika pandangan matanya mendapati pintu kamar Jasmine yang sedikit terbuka. Rose memajukan langkahnya, mendekati pintu yang terbuka itu. Bahkan saat melangkahkan kakinya, tanpa disadarinya, Rose menahan nafas. "Jas?" panggilnya pelan dengan harapan ada jawaban dari saudari kembarnya. Hingga akhirnya Rose berhasil berada di tempat pintu, tak ada jawaban dari dalam kamar meski suara isak tangis masih mengalun di telinganya. "Aku masuk ya..." Rose mendorong pintu kayu berwarna cokelat itu. Dan ketika pintu terbuka lebar, kedua mata Rose membesar dengan kedua tangannya yang langsung menutup bibirnya yang menganga. Terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya. Di sana, di sudut ruangan kamar, Jasmine duduk bersandar dengan pandangan mata kosong yang telah dipenuhi air mata. Namun bukan itu yang membuat Rose terkejut setengah mati. Sebelah tangan Jasmine yang terkulai lemah di lantai dengan daarah segar yang terus mengalir-lah yang membuat Rose langsung segera menghampiri saudara kembarnya. Ketika ia berhasil mendekati saudarinya dan menemukan sebuah pisau lipat yang mungkin digunakan oleh Jasmine, langsung dibuangnya jauh-jauh. "Jasmine!!" pekiknya. "Apa yang terjadi!?" Perasaan khawatir dan panik mulai memenuhi hatinya. Tak ada jawaban dari bibir pucat dan kering milik Jasmine. Berapa kali pun Rose terus memanggil dan bertanya. "Kita harus ke rumah sakit!" Perlahan kedua bola mata yang kosong itu bergerak dan memandang Rose. "Rose..." ucap Jasmine lirih. "Jasmine! Apa yang terjadi? Mengapa kamu berbuat hal seperti ini?" "Rose..." panggil Jasmine lemah. "Sejak tadi hatiku terus terasa sakit dan meski aku sudah minum obat, hati ini tetap terasa sakit," keluhnya. "Kita bicarakan nanti ya, sekarang yang terpenting kita obati dulu lukamu. Kita ke rumah sakit ya," kata Rose seraya bangkit berdiri. Namun tarikan tangan Jasmine mencegahnya. Jasmine menggeleng lemah. "Aku tidak mau ke rumah. Jangan pergi Rose, a-aku takut kamu akan meninggalkanku." "Aku nggak mungkin ninggalin kamu. Kamu mengenal aku dengan baik," sahut Rose menenangkan. Karena ia harus segera mengambil kotak obat di dapur dan mengobati luka Jasmine atau saudarinya itu akan kehabisan darah. Dan Rose tidak ingin itu terjadi. "Papa juga berjanji nggak akan ninggalin kita. Tapi pada akhirnya ia meninggalkan kita untuk selamanya,"kata Jasmine pahit. Air mata yang tadi telah mengering kembali membasahi kedua pipinya. Dari perkataan Jasmine, tahulah Rose apa penyebab Jasmine mencoba melukai dirinya sendiri. Jasmine sangat dekat dengan papa bila dibandingkan dirinya. Mungkin kepergian papa selama-lamanya dari dunia ini secara mendadak, membuat Jasmine tidak terima dan berusaha untuk menyusul papa yang meninggal karena p********n yang dilakukan oleh sekawanan perampok motor. Rose menarik nafas panjang sebelum meraih Jasmine ke dalam pelukannya. Ia tahu jika Jasmine sangat dekat dengan papa. "Aku tahu. Tapi kamu tahu dengan baik seberapa besar papa menyayangi kita. Ia bahkan rela kerja lembur demi keluarganya. Bukankah itu sudah bukti cukup jika papa menyayangi kita semua? Hanya saja..." Dibalik pelukannya Rose menggigit bibir bawahnya menahan air mati yang telah meminta keluar. "Hanya saja mungkin Tuhan telah membebaskan papa dari tugasnya untuk melindungi dan menemani kita karena menurut-Nya kita telah dewasa dan cukup kuat untuk berdiri di bawah kaki kita sendiri. Jadi jangan pernah melakukan hal ini lagi dan jangan pernah berusaha untuk meninggalkanku. Karena aku janji. Aku janji kalau aku nggak akan ninggalin dan buat kamu nangis seperti ini lagi." Tak ada kata-kata untuk balasan dari ucapan Rose saat itu. Namun Rose tahu, isakan tangis dan pelukan erat dari Jasmine telah menjawab semuanya. Malam itu mereka menangis bersama, namun Rose hanya menyimpan tangisannya untuk dirinya sendiri. Dalam hati dia juga telah berjanji jika mulai detik itu, Rose akan terus membuat Jasmine tersenyum meski dirinya harus terluka. Karena ia tahu jika dirinya diciptakan di dunia ini sebagai perisai untuk Jasmine. *** Suara ketukan kaca membuat Rose tersadar dari lamunannya. Di depan sana sesosok pria dengan tubuhnya yang tegap berdiri tersenyum kearahnya. Amel yang melihat pemandangan itu langsung menggeser kursinya ke dekat meja Rose. "Cieeee...yang ada jemputannya," sindirnya. "Apa sih Mel?" "Kok nggak cerita sih?" "Cerita apa?" tanya Rose bingung. "Hubungan kamu dan Glenn. Sejak kapan kalian jadian?" Bibir Rose terbuka sedikit ketika mendengar ucapan Amel. "Jangan suka berasumsi sendiri deh. Kamu tahu dengan baik hubungan apa yang aku punya dengan Glenn.." "Kita itu teman baik sekaligus tetangga, jadi nggak mungkin aku dan Glenn punya hubungan khusus. Bahkan jumlah t**i lalat yang ada di tubuh Glenn aja aku tahu, Mel!" potong Amel sambil berusaha mengikuti ucapan Rose ketika ia menyinggung hubungannya dengan Glenn. Padahal dari sudut pandang Amel yang merupakan orang luar, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana cara Glenn memandang Rose. Jika bukan cinta, apakah ada nama lain yang pantas untuk menggambarkannya? Rose mendengus dan tertawa. "Bagus deh kalau kamu udah tahu dengan baik jawabanku." "Jelaslah. Kamu selalu mengatakan alasan yang sama ketika aku membahas kalian berdua." "Good girl. Jadi aku harap kamu nggak mengulang pertanyaan yang sama. Aku pulang duluan," kata Rose yang telah menyampirkan tasnya dan beranjak dari tempatnya lalu berjalan menuju pintu tanpa memedulikan Amel yang berdecak kesal di tempatnya. "Udah lama?" tanya Rose pada Glenn yang tampak rapi. Kemeja kotak-kotak dipadu dengan celana jeans sobek, juga sepatu kulit cokelat sebagai penambah keserasian. "Baru kok," jawab Glenn sambil menyerahkan sebuah helm pada Rose yang langsung diambil dan dipakainya. Lalu tanpa disuruh, Rose langsung naik ke atas motor besar itu dengan kedua tangan memeluk perut Glenn tanpa kaku. Karena memang seperti itulah dirinya jika sedang bersama dengan Glenn. Tanpa diminta motor pun melaju di dalam gelapnya malam. Hingga akhirnya motor itu berhenti di sebuah kedai kafe dengan gemerlap lampu yang menghiasi bangunannya. "Kamu suka?" tanya Glenn setelah membuka helmnya. "Not bad. Bagus juga seleramu," sahut Rose sambil mengukir senyum. "Ayo masuk!" ajak Glenn. Musik jazz menyapa telinga Rose dan Glenn ketika mereka masuk ke dalam kafe denga tiga lantai ini. Dekorasi homey dengan lantai kayu dan sofa rotan tampak mengisi ruangan kafe ini. Glenn mengajak Rose untuk menaiki tangga berlapis kayu menuju lantai dua. Di lantai dua ini suasana dan dekorasinya pun tak kalah menarik dengan lantai bawah. Glenn memilih untuk dudut di sudut ruangan dengan sofa bundar dari rotan yang bercat putih yang disetujui oleh Rose. Tak lama setelah mereka duduk, seorang waitress datang menghampiri dan memberikan menu untuk mereka. Setelah memesan chicken wings dan tortilla chips ditambah lime squash. Waitress itu pun berlalu sambil membawa menu tersebut. "Selamat ulang tahun Rose Adiwijaya! Aku doakan kamu dapat jodoh tahun ini," kata Glenn tulus. "Thank you, tapi apa kamu nggak punya doa lain selain hal sama setiap tahun?" gerutu Rose. Glenn tertawa. "Seharusnya kamu berterima kasih padaku karena selalu mendoakanmu untuk segera menikah. Lagi pula ingat umurmu sendiri." "Aku baru dua puluh tujuh tahun, Glenn. Bukan lima puluh tahun. Kamu tau? Kamu terdengar seperti mama dari pada temanku," kata Rose sambil mencebik. "Terserah kamu mau menganggapku apa. Yang terpenting sekarang mari kita rayakan ulang tahunmu." Glenn mendesah. "Sayang sekali Jasmine tidak ada di sini bersama kita. Jika tidak, kita bisa merayakannya bersama." "Kamu benar. Tapi aku rasa dia sedang berbahagia merayakannya bersama suaminya. Jadi, kamu nggak usah khawatir," sahut Rose. Ingatannya kembali melayang pada kebersamaannya dengan Joe. Cepat-cepat digelengkan kepalanya sekali sebelum Glenn menyadari keanehannya. "Rose..." panggil Glenn pelan. Menyadarkan Rose dari pikirannya sendiri. "Ada apa denganmu?" tanya Glenn yang heran dengan perubahan raut wajah Rose. "Tidak ada apa-apa," katanya dengan senyum dipaksakan. "Tapi sepertinya kamu benar, aku harus segera menikah. Hanya saja dimana aku harus mencari pria yang mau menikahiku?" lanjutnya berusaha terdengar ceria. "Apa perlu aku bantu mencarikannya untukmu?" ejek Glenn. Rose berdecak kesal. "Tidak perlu! Aku masih bisa cari sendiri." Glenn terkekeh melihat sikap Rose. Melihat sikap Rose yang tampak jengkel sukses membuat Glenn senang melihatnya. Kemudian, mereka saling berpandangan untuk beberapa detik. "Aku akan memberikanmu kado yang kau inginkan," ucap Glenn. Rose terdiam di tempatnya. Keningnya yang bertautan memperlihatkan rasa penasaran di dalam hatinya. "Apa itu? Kamu membuat aku penasaran," katanya bersemangat. Raut wajah Glenn mendadak serius. Hening sejenak diantara mereka. Membuat Rose sedikit tidak sabar dengan sikap temannya ini. "Menikahlah denganku." Ucapan Glenn membuat sepasang mata cokelat itu membesar. "Itulah kado yang ingin kuberikan kepadamu." Saat itulah tubuh Rose menegang. Glenn pasti sedang bercanda, bukan? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD