“Iv, jangan gitulah. Aku bukan nggak mau nikah sama kamu, tapi aku butuh waktu.” Ivone berdecak. “Ya udah. Lupakan. Udah malem, aku mau tidur.” “Kamu marah? Iv, aku–“ “Nggak, aku nggak marah. Cuma capek aja. Kerjaan hari ini menguras tenaga. Kamu juga lekaslah istirahat,” potong Ivone. “Secepatnya aku balik ke Jawa. Kita bisa bicara lebih enak kalau ketemu nanti.” “Hm. Kita selesaikan semuanya jika memang perlu.” “Apa maksudmu?” “Udahlah, aku capek. Mau tidur. Assalamualaikum.” “Waalaikumussalam.” “Pa!” Terdengar suara anak kecil di seberang sebelum panggilan dimatikan Yama. Ivone memicing. “Suara siapa itu? Siapa yang dipanggil pa? Atau jangan-jangan sebenarnya Mas Yama di Kalimantan sana punya anak istri?” Pikiran Ivone mendadak dipenuhi kecurigaan. Selama ini, Yama memang be

