Part 54

1912 Words

Meira rasanya tak ini bangun dari tidurnya jika merasakan mimpi yang begitu indah. Di mimpi itu, Meira dan Alvaro berlarian di sebuah taman bersama seorang anak laki-laki kecil yang mengejar Syifa sambil memanggilnya dengan sebutan Kakak. Namun karena sinar matahari yang terus naik hingga menembus kaca jendela kamar itu, mau tak mau Meira membuka kelopak matanya. Hatinya tiba-tiba terasa kosong padahal itu hanya sebuah mimpi. Meira perlahan bangun dari kasur, matanya menjelajahi seisi kamar yang nampak begitu sepi. Padahal ia yakin jika malam tadi, Alvaro masih memeluknya erat setelah penyatuan mereka. Saat hendak melangkah, Meira merasakan sisa perih malam tadi dibagian bawah tubuhnya. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam, pindah dari sofa ke dalam kamar. Ditatapnya tubuh yang kini ber

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD