8. Pulang

1180 Words
Kinar dibuat salah tingkah. Sejak tadi Arya memandangnya dari kejauhan. “Dihh! Arya udah macem patung situs aja nih! Ngapain coba dari tadi ngliatin ngga pakai kedip!” Kinar mengomel di dalam hati. Kinar yang awalnya melakukan kegiatan dokumentasi manual dan digital lama-lama risih juga. Arya sengaja mengawasi Kinar, biar Kinar tahu diri dan tidak seenaknya melawan aturan Arya sebagai ketua tim. Untungnya, Kinar sedikit terselamatkan dengan kedatangan Bapak Kepala Desa yang ingin berbicara dengan Arya. Akhirnya, Arya menemui Bapak Kepala Desa di pos informasi. Kinar melanjutkan pekerjaannya hingga tak terasa angin sore telah meniupkan rambutnya. Para pekerja penggali tampak bersiap-siap menuju ke kamar mandi. Biasanya para pekerja itu menuju ke kamar mandi sekedar untuk membasuh muka mereka dan terkadang ada beberapa juga yang mandi untuk menyegarkan badan setelah seharian berkutat dengan debu, tanah, dan batuan. Kinar mengamati aktivitas mereka sambil meneguk air mineral dalam botol yang dibawanya. Kinar sama sekali tidak beranjak dari tempatnya duduk. Dia sedang melemaskan tangan dan jarinya yang seharian membuat catatan dan mengoperasikan kamera. *** Di Pos Informasi Arya sedang membereskan barang-barangnya begitu juga dengan Beni dan Winda. Winda tampak celingukan ke kiri dan ke kanan mencari Kinar, yang dicari ternyata tak muncul juga. “Ar! Kinar di mana?” tanya Winda. Arya yang semenjak tadi sibuk kedatangan tamu, sampai tidak memperhatikan kalau Kinar belum berkumpul di pos informasi. “Aku ngga tahu, Win, Mungkin masih di situs barat!” jelas Arya. “Kamu tinggalin gitu aja anak gadis orang?!” protes Winda. “Bukan ninggalin, Win! Aku lagi banyak tamu, mana kepikiran dia lagi ada di mana! Lagian dia bukan anak-anak yang harus diingatkan kapan waktunya pulang kan??” Arya kesal. “Sudah sana, Win! Kamu ajak Kinar kumpul di sini! Kita briefing kan?” tanya Beni. “Iya, cuma bentar aja kok!” jelas Arya. “Ya udah! Tunggu bentar aku panggil Kinar!” Winda segera berlalu menuju ke situs barat untuk memanggil Kinar. “Kamu pulang bareng Kinar, Ar?” selidik Beni. “Sepertinya! Sekarang kan dia tinggal di rumahku!” “Jangan terlalu kaku sama Kinar, Ar! Dia anak baru, masih tahap penyesuaian diri juga. Jangan galak-galak lah sama dia!” nasihat Beni. Arya yang mendengar ucapan Beni hanya diam. “Sebenernya kenapa sih kamu sensi banget sama dia? Dia ada salah apa sama kamu?” tanya Beni lagi. “Udahlah, Ben! Ngga usah dibahas! Kok kita jadi ngomongin hal yang ngga penting ya?” jawab Arya sinis. Beni cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Beni merasa kalau Arya terlalu berlebihan memperlakukan Kinar. Tiba-tiba Winda datang dengan wajah kusut tanpa hasil. “Mana orangnya??” tanya Arya kebingungan karena melihat Winda berjalan sendirian menuju ke pos informasi. “Dia ngga mau ke sini, Ar! Katanya kerjaannya masih banyak! Ar, aku ngga bisa lama-lama, ya! Hari ini aku ke Surabaya nih!” jelas Winda. “Besok masuk kerja ngga??” Arya memastikan. “Masuk, Ar! Aku cuma mau ngambil barang-barangku yang masih ketinggalan di kos-kosan ku yang lama. Aku masih nitipin beberapa barang sama temen kosku di Surabaya. Nah, besok ini dia mau pindah kos jadi barang-barangku suruh diambil,” jelas Winda. “Ya udahlah, kita briefing besok pagi aja!” Arya menunda briefingnya. “Bener nih? Aku pulang duluan kalo gitu!” Winda memastikan. “Iya, ini udah sore, nanti kamu mau sampai di Surabaya jam berapa kalau pakai briefing?” jelas Arya. “Oke! Makasih ya, Ar! Oya, aku titip Kinar, ya! Awas kalau sampai si Kinar kamu tinggalin!” ancam Winda. “Iya! Iya! Udah sana keburu malem!” Winda menyalakan mesin motornya dan berlalu dari tempat itu. “Kalau tidak jadi briefing aku juga duluan ya, Ar!” “Mau ke mana??” selidik Arya. “Aku mau tidur di kos, Ar! Capek banget aku hari ini!” jelas Beni. “Oke, deh!” jawab Arya. “Ingat pesan Winda! Jangan tinggalin Kinar sendirian di sini!” Beni mengingatkan Arya sekali lagi. “Iya!” jawab Arya galak. Arya melangkahkan kakinya dengan malas ke situs barat. Kinar benar-benar membuat masalah saja! Seharusnya sore ini mereka bisa briefing membicarakan banyak hal tapi tertunda gara-gara Kinar menolak berkumpul di pos informasi. Dari kejauhan, Arya bisa melihat Kinar sedang duduk bersandar di salah satu pohon yang rindang. Arya mendekatinya. Setelah mendekat ke arah Kinar, Arya baru tahu kalau gadis yang berada di hadapannya itu sedang memejamkan mata. “Kinar!” Arya memanggil Kinar tapi yang dipanggil ternyata tertidur pulas. Arya mengguncang bahu Kinar supaya Kinar bisa segera terbangun dari tidurnya. Kinar membuka matanya lalu mengerjap beberapa kali. Betapa terkejutnya Kinar saat dihadapannya sudah berdiri seorang pria tampan dan menawan. “Ini bukan mimpi kan? Itu bukan Raden Wijaya, kan?” gumam Kinar setengah sadar. “Hei! Kinar!” teriak Arya. Kinar yang masih setengah sadar itu sangat terkejut mendengar teriakan dari Arya. Kinar spontan berdiri sehingga barang-barang yang ada di pangkuannya terjatuh semua. “Kinar! Kamu ini gimana sih!” Arya dengan reaksi secepat kilat menyambar kamera mahal, properti milik tim yang dipimpinnya! “Aduh, aduh! Maaf, Mas Arya! Lagian Mas Arya ngapain pakai ngagetin aku??” protes Kinar sambil cemberut. “Kerja yang bener dong! Seharian ini sudah 3 kali kamu tidak menggubris kata-kataku! Aku ini atasanmu!” bentak Arya. “Iya, maaf!” Kinar cemberut seperti anak-anak yang dimarahi orang tuanya. “Maaf! Maaf! Kamu itu digaji buat kerja yang bener! Jangan bantah perintahku terus, ya! Aku ini atasanmu!” Arya mengingatkan Kinar. Kinar yang kali ini salah, terpaksa hanya diam saja. “Ngapain tadi kamu ngga mau kumpul di pos informasi??” cecar Arya. “Aku masih belum selesai!” jelas Kinar membela diri. “Kalau aku nyuruh kamu ke pos, walaupun kerjaanmu belum selesai kamu harus tetep ke pos! Ngerti?” “Iya! Ngerti!” jawab Kinar sambil cemberut. “Gara-gara kamu, briefing penting jadi tertunda sampai besok!” Arya sangat kesal. Kinar hanya menghela napasnya meredam emosi yang sudah memuncak dalam dirinya. “Ayo, pulang!” ajak Arya. “Kerjaanku masih belum selesai! Mas Arya pulang duluan aja!” “Apa??” Arya bingung. “Iya! Pulang duluan aja! Bukannya tadi Mas Arya nyuruh aku buat selesaikan semuanya?” “Trus kamu mau pulang jam berapa??” “Aku nginep di sini!” jawab Kinar tanpa berpikir panjang. Arya tertawa terbahak-bahak. “Apa katamu? Nginep di sini?” “Iya, emang kenapa?” tantang Kinar. “Di sini banyak orang gila!” Arya menakut-nakuti Kinar. “Hah?” Kinar mengerutkan dahinya. “Ngga cuma orang gila! Tapi juga arwah gentayangan sering mampir di sini!” “Apa??” Tiba-tiba nyali Kinar menciut. Kinar yang sedari siang tadi sudah berniat akan menginap di situs untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum diselesaikannya tampaknya sedang diuji nyalinya… “Pulang ngga??” tanya Arya. “Eh? Ehhmm… Enggak kok! Aku di sini saja sampai pekerjaanku selesai!” jawab Kinar keras kepala. “Jangan ngeyel! Ayo, pulang!” Arya menarik tangan Kinar untuk segera meninggalkan tempat itu. Di dalam mobil, Kinar tampak cemberut. Mereka berdua hanya diam saja selama perjalanan menuju ke tempat tujuan. Sesekali Arya melirik Kinar dari spion mobilnya. tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD