“Bisa tolong tidak panggil saya dengan sebutan ‘Mas Arya’?” pinta Arya sambil menatap Kinar tak berkedip.
“Trus, saya panggilnya apa?” tanya Kinar sedikit ngeyel.
“Saya sudah bilang kan? Panggil saya Pak Arya!”
“Tapi kan belum bapak-bapak?” Kinar ngotot.
“Saya kan atasan kamu!” Arya kesal dibuatnya.
“Kalau begitu seharusnya Beni dan Winda juga panggil dengan sebutan Pak Arya dong!”
“Mereka teman saya satu angkatan, kami sebaya!”
“Saya ngga mau panggil Pak! Itu ngga adil dong! Kalau gitu saya panggil Arya aja!”
Arya benar-benar kesal, “Arrrrgghh terserah kamu! Tapi jangan panggil saya Mas Arya! Saya ngga mau ya orang-orang mengira kamu pacar saya!”
“Idih, pede amat kamu...” gumam Kinar.
Arya memicingkan matanya, gadis ini benar-benar susah di atur!
***
“Arya!” Beni berteriak memanggil Arya yang sedang duduk berdua dengan Kinar.
“Ya!” Arya melambaikan tangannya ke arah Beni.
Arya tiba-tiba mematung saat melihat di belakang Beni ada Pak Han dan Dimas. Pak Han atasan Arya sedangkan Dimas adalah rekan seangkatan Arya yang sedang mengerjakan situs penting, Dimas lah yang mengajukan permintaan bantuan tenaga dari situs yang dipimpin Arya sehingga Arya kehilangan beberapa anggota timnya.
Kinar memperhatikan perubahan raut muka Arya. Kinar yang menyadari kedatangan Pak Han segera berdiri dan menyambutnya. Sedangkan Arya dengan bermalas-malasan berdiri.
“Selamat siang, Pak Han!” sapa Kinar.
“Siang, Pak!” Arya segera berdiri di sebelah Kinar untuk menyambut atasannya.
“Ya, selamat siang! Bagaimana kabarmu Kinar?” tanya Pak Han dengan ramah.
“Baik, Pak Han!”
“Sudah bisa beradaptasi dengan Arya?” tanya Pak Han lagi.
Kinar melirik Arya, Arya melihat Kinar sepintas. Arya menatap Dimas dengan tatapan dingin, Arya menyadari sejak tadi Dimas tak berkedip memperhatikan Kinar.
“Oya, Kinar. Kenalkan ini Dimas, dia ketua ekskavasi di Situs Kumitir.”
Dimas mengulurkan tangannya, “Dimas.”
Kinar menyambut uluran tangan Dimas, “Kinar.”
“Arya, gimana kamu masih membutuhkan tenaga laki-laki di sini?” tanya Pak Han.
“Seperti yang pernah saya bicarakan, Pak!” jawab Arya.
“Sebenarnya kedatangan saya kemari untuk menawarkan pertukaran anggota tim.”
“Maksudnya bagaimana, Pak??” tanya Arya curiga.
“Dimas membutuhkan drafter dan tenaga rekam digital. Kalau kamu masih membutuhkan anggota tim laki-laki, Candra anak buahmu yang diperbantukan di timnya Dimas bisa kembali menjadi tim kalian dan Kinar akan diperbantukan di sana,” jelas Pak Han.
“Maksudnya, Kinar ditukar dengan Candra?!”
“Iya, Ar! Itu juga kalau kamu tidak keberatan,” jawab Dimas.
Arya memandang Dimas sepintas tanpa menghiraukan kalimat yang diucapkan Dimas, kemudian kembali berbicara dengan Pak Han.
“Begini, Pak. Sebenarnya kalau Candra dikembalikan pada kami, kami tidak keberatan. Jadi, tim kami menjadi utuh lagi 5 orang. Tapi kalau saya harus menukar Kinar dengan Candra, saya keberatan!”
Kinar spontan menoleh pada Arya, Kinar heran karena selama ini dia mengira Arya tidak membutuhkan keberadaannya di tim. Arya memang pria dingin tapi kalimat Arya kali ini membuat Kinar berbunga-bunga.
“Wah, wah! Kejutan sekali Arya! Baru beberapa hari yang lalu kamu menolak kehadiran Kinar di timmu!” Pak Han menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan.
“Saya cuma tidak mau tim saya dibongkar pasang terus, Pak!” Arya membela diri.
“Ini Candra lho yang kukembalikan di timmu, Ar! Bukan orang lain!” desak Dimas.
“Kalau mau kembalikan Candra, oke saya terima! Tapi kami juga butuh Kinar di sini!” jelas Arya.
“Kami atau kamu?” Dimas tertawa seolah mengejek Arya.
Arya mengepalkan tangannya lalu maju mendekati Dimas, keadaan memanas saat ini. Arya mencengkeram krah kemeja Dimas.
“Kami! Jelas?” Arya melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
Beni yang dari tadi hanya diam saja kini menarik lengan Arya untuk menjauh dari Dimas. Dimas tersenyum sinis ke arah Arya sambil merapikan krah kemejanya yang berantakan karena dicengkeram Arya.
“Baiklah! Kalau memang Kinar dibutuhkan di sini, saya tidak akan memindahkan Kinar. Tapi permintaanmu untuk menambah personil laki-laki tidak bisa kami penuhi Arya! Dimas lebih membutuhkan penambahan anggota saat ini! Kamu tahu kan situs yang digarap Dimas lebih luas,” jelas Pak Han.
“Baiklah! Tidak masalah!” jawab Arya kesal.
“Oke, Arya! Kami pamit dulu ya!”
Pak Han berjalan mendahului Dimas menuju ke mobil, Dimas mendekati Arya.
“Dia cantik jadi tidak kamu lepas, kan?” bisik Dimas geram.
Arya membalas berbisik, “Iya, memangnya kenapa?! Aku yang dapat duluan, tidak akan ku lepas.”
“Mau kamu jadikan pengganti Niken?” Dimas menantang mata Arya.
Arya mengacungkan telunjuknya, “Jangan campuri urusanku!”
Beni yang berada di situ berusaha memisahkan.
***
Sore hari sepulang kerja Arya, Kinar, Beni, dan Winda makan bersama di sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan. Beralaskan tikar mereka menikmati nasi bakar dan es teh sambil memandang lalu lalang kendaraan di jalan utama kota ini. Ini adalah acara keakraban pertama untuk Kinar bersama dengan timnya.
“Kamu yang traktir, Ar?” tanya Beni.
“Beres, makan aja!” jawab Arya sambil menyeruput es tehnya.
“Wuih, makasih lho, Pak Bos!” teriak Winda.
Arya memperhatikan Kinar sedang sibuk dengan ponselnya, gadis ini kalau sudah pegang ponsel bisa berlama-lama.
“Serius banget, Nar!” celetuk Winda.
Kinar memandang Winda sepintas, “Oh, ngga Win. Ini ada pesan masuk dari Dimas. Tapi perasaan aku ngga pernah kasih nomorku ke Dimas deh!”
“Bilang apa Dimas?” tanya Arya.
“Dia masih tanya apa aku mau gabung di timnya,” jawab Kinar sambil terus memainkan jarinya di layar ponsel.
“Paling dia dapet nomormu dari Pak Han,” sambung Beni.
“Ceritanya gimana sih, Ben? Aku tadi ngga ada di TKP,” sahut Winda.
“Itu, Pak Han mau mengembalikan Candra ke tim kita tapi ditukar sama Kinar!” jelas Beni.
“Lhah, Kinarnya mau ngga?”
Arya memotong, “Bukan masalah Kinar mau apa ngga, Win! Masalahnya si Dimas itu mau menang sendiri, semua yang dibutuhkan timnya minta dipenuhi! Aku ngga mau dong situs kita dianak tirikan.”
“Sebenarnya nih ya, Ar. Kalau menurutku, situs Dimas memang butuh banyak tenaga karena sangat luas. Sudahlah, kamu tukar aja Kinar sama Candra. Toh kita tidak akan kekurangan personel, hanya ditukar.” Winda memberi petuah yang bijaksana.
“Ah, ya ngga bisa gitu!” jawab Arya membela diri.
“Kinar mau gabung di timnya Dimas?” tanya Beni.
Kinar mengerjapkan matanya, Kinar memandang Arya yang sedang membuang pandangannya ke jalan raya. Beni dan Winda melihat tatapan mata istimewa dari Kinar untuk Arya.
“Aku sih terserah Arya aja, dia kan atasanku di sini.”
“Wuah, sekarang manggilnya Arya nih?” tanya Beni.
Kinar tersipu, “Habisnya dia ngga mau dipanggil Mas Arya!”
“Yang boleh manggil Mas Arya kan cuma Niken!” jawab Winda tanpa sadar.
Arya melotot ke arah Winda.
“Upps, sorry Ar! Bener-bener ngga sengaja!” Winda menutup muka dengan kedua telapak tangannya.
Kinar menatap mata Arya, sekilas tatapan mata Kinar dan Arya bertemu. Arya kembali membuang pandangannya ke aspal jalanan.
***
“Dah Kinar!” Winda melambaikan tangannya ke arah Kinar.
Beni dan Winda masing-masing pulang naik motor. Hotel tempat Kinar menginap searah dengan rumah Arya jadi Arya yang bertugas mengantar Kinar.
“Sampai kapan nginep di hotel?” tanya Arya sambil fokus mengemudikan jeepnya.
“Ehm, ini sambil nyari tempat kos atau kontrakan. Kamu ada rekomendasi tempat kos atau kontrakan ngga?”
“Ngga,” jawab Arya pendek.
“Arya? Boleh tanya?”
“Apa?”
“Niken itu siapa?”
Arya tiba-tiba mengerem mendadak, untungnya Kinar sudah memakai sabuk pengaman dan di belakang mobil mereka tidak ada mobil lain yang melaju.
“Aduhh!!! Ngomong dulu kek kalau ngerem mendadak!” Kinar sewot.
“Jangan ingin tahu urusanku, ya! Aku hanya mau membahas urusan pekerjaan, bukan urusan pribadi!” bentak Arya.
“Idihh! Iya, iya! Maaf!”
Kinar memalingkan wajahnya ke luar jendela, Arya menghembuskan napasnya dengan kasar lalu kembali melajukan mobilnya menuju ke hotel tempat Kinar menginap.
“Terima kasih ya, sudah nganterin aku. Mau mampir?” goda Kinar sebelum turun dari mobil.
“Lain kali aja. Aku pulang ya!”
“Arya ...”
“Ya?”
“Sampai ketemu besok ya!” ucap Kinar dengan ceria.
“Hah? Oh iya!”
Kinar turun dari mobil, sebelum mobil Arya meninggalkan hotel tempatnya menginap untuk sementara, Kinar sempat mencuri pandang ke arah Arya. Arya tampan, hanya itu yang muncul di benak Kinar. Walaupun penampilannya kadang berantakan, namun Arya tetaplah tampan.
Mobil Arya melaju meninggalkan Kinar. Kinar geli melihat reaksi Arya tadi. Arya sepertinya memang anti dengan yang namanya perempuan. Dia tidak bisa bermanis-manis saat berbicara dengan perempuan.
***
Sebelum tidur Kinar mengirim pesan singkat untuk Winda karena sangat penasaran dengan nama yang disebut Winda.
Kinar: [Win?]
Winda: [Yuhuu, ada apa?]
Kinar: [Niken siapa sih?]
Winda: [Aduh, sebaiknya kita lupain nama Niken ya! Bos bisa membunuhku!]
Kinar: [Pliss lah Win!]
Winda: [Wait...kamu naksir si Bos ya???]
Kinar: [Kasih tahu ngga ya??]
Winda: [Oke, aku kasih tahu siapa Niken. Tapi kamu harus jujur kalau emang naksir si Bos!]
Tbc