PROLOG

642 Words
Pernikahan pewaris tunggal keluarga Winata baru saja selesai di gelar. Setelah melakukan press-conference dan menjawab begitu banyak pertanyaan awak media, tiba saat kedua mempelai beranjak pergi untuk beristirahat. Maka saat berada di salah satu kamar hotel, keduanya melepas lelah. Mencari posisi masing-masing untuk meregangkan otot karena berjam-jam berdiri melayani para tamu undangan. "Apa kau lelah? Kau bisa tidur di sini denganku." Kenzie, si mempelai pria sengaja menepuk-nepuk telapak tangannya pada kasur. Mengisyaratkan agar wanita yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi istrinya itu, berbaring di dekatnya. Tentu saja Kenzie sedang bermain-main. Mana sudi ia tidur dengan wanita yang jelas-jelas tidak ia cintai. "Seharusnya kau mengalah dan memilih tidur di sofa, Kenzie Winata. Aku ini wanita." Alya mencebikkan bibirnya. Ia merasa tidak sudi kalau harus menerima ajakan Kenzie untuk tidur di kasur yang sama. Kenzie tertawa menggoda. Ia suka melihat Alya kesal seperti saat ini. "Oh Ayolah, Sayang. Apa kau yakin tidak ingin tidur denganku? Aku Suamimu. Hal yang sangat lumrah bila suami istri tidur bersama dan melakukan ritual malam pertama, kan?" Alya mendengkus sebal. Ia merasa ingin muntah mendengar ocehan Kenzie. Kalau sedang tidak letih saja, ia bersumpah akan menendang pria itu untuk segera menyingkir. "Baiklah, kalau kau tidak ingin mengalah, aku akan tidur di kamar lain. Bukannya hotel ini memiliki banyak kamar?" sahut Alya. Kenzie tersenyum menanggapi kekesalan Alya. "Silahkan tidur di kamar terpisah, nyonya Winata. Maka ku pastikan besok namamu akan muncul di setiap judul berita." Alya menggeram kesal. Merasa semua yang dilakukannya terlihat serba salah. Sangat tidak mungkin jika ia tidur seranjang dengan Kenzie. Walaupun status mereka saat ini suami istri, ia tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi di antara mereka berdua. Pun tidur di kamar berbeda juga sebenarnya bukan pilihan yang tepat. Sudah pasti para paparazzi menjadikan ini santapan sedap untuk judul berita mereka. Ah tidak mungkin, jelas tidak boleh terjadi. Hingga sebuah ide gila muncul di kepala Alya. Wanita itu tiba-tiba tersenyum lebar dengan apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Berharap apa yang ia rencanakan kali ini berhasil. Detik berikutnya, Alya melangkah dengan pasti menuju tempat di mana Kenzie tengah berbaring. Dengan percaya diri, ia mendaratkan tubuh mungilnya tepat di samping pria itu. Mengatur posisi agar berhadapan langsung dengan tubuh Kenzie. "Ayo, suamiku, kita tidur. Apa kau tidak ingin memelukku agar tidak merasa kedinginan?" tanpa diduga Alya mengalungkan tangannya pada pinggang Kenzie lalu menyandarkan kepalanya tepat pada lengan milik pria itu. Sontak saja Kenzie terkejut bukan main. Ia tidak menyangka kalau Alya terang-terangan membalas permainan yang sengaja diciptakannya. "Kenapa melamun?" tanya Alya. "Apa aku harus membuka piyamaku terlebih dahulu, supaya malam pertama kita berjalan sempurna?" Alya membawa jari jemarinya menyentuh lembut pipi Kenzie. Sedang pria itu hanya bisa terdiam kaku melihat tingkah laku istrinya sekarang. Sesaat kemudian, Alya menegakkan tubuh. Lalu mulai mengarahkan tangannya untuk melepas satu persatu kancing piyama yang ia kenakan. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Kenzie disela kegiatan panas yang sedang diciptakan oleh istrinya. Alya tersenyum menggoda ke arah Kenzie. "Membuka seluruh pakaianku. Memang apalagi?" Kenzie menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan kasar. Ia mendadak frustrasi menghadapi tingkah laku Alya. "Hentikan, Al!" titah pria itu sembari menahan jemari Alya agar berhenti membuka kancing piyamanya. "Baiklah, kali ini kau menang. Silahkan nikmati kasurmu. Aku akan tidur di sofa malam ini." Dengan perasaan kesal, Kenzie melangkahkan kakinya meninggalkan kasur. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofabed yang tersedia di kamar mereka. "Yes!" sorak Alya dalam hati. Ia terlihat sangat puas karena permainannya lagi-lagi membuat Kenzie harus menyerah. Sepertinya, Alya mulai paham apa yang menjadi kelemahan suaminya saat ini. "Jangan senang dulu. Aku bersumpah pasti akan membalasmu di kemudian hari!" Alya nampak tidak perduli. Memilih menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Membiarkan Kenzie yang masih terjaga dengan perasaan kesal. Kita lihat saja Tuan Arogan, siapa yang bertahan atau akhirnya menyerah dengan pernikahan sialan ini! . . (Judul : Hate You but Love You) (Link : https://m.dreame.com/novel/AqdT+e8czOqiWYQ4lbyxUQ==.html )
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD