Bab.9 Pemintaan Maaf Yang Lembut

1519 Words
Meela terdiam sejenak ketika hujan mengetuk jendela seperti tepukan ringan, bukan gangguan, melainkan irama. Di bawah selimut tipis yang menghangatkan, aroma badan Goldbin yang khas antara campuran kayu dan dupa yang selalu menempel pada pakaiannya, mengisi ruang kecil itu, menenggelamkan segala kegundahan yang sebelumnya berbisik. Ia membiarkan tubuhnya melengkung, menempel pada d**a Goldbin, merasakan detaknya yang tegap. Di luarnya, dunia masih bergelut, tetapi di sini, waktu menipis menjadi satu tarikan nafas yang panjang. “Aku bukan tanpa rasa takut juga, Meela,” bisik Goldbin, suaranya rendah, hampir seperti permintaan maaf yang lembut. “Kadang aku takut tidak bisa melindungimu. Tak hanya oleh cermin atau oleh Brenda, tapi oleh diriku sendiri. Ketika garis itu kabur, ketika naluri lama menguasai, aku takut aku akan menjadi sesuatu yang kau tidak kenal lagi.” Meela mengangkat kepalanya sedikit, menatap mata Goldbin di bawah cahaya temaram. Matanya memantulkan sedikit kilau air hujan dari jendela. “Engkau bukan hanya binatang atau gelap,” katanya, suaranya tegas namun hangat. “Engkau adalah pilihan. Setiap pagi kau memilih untuk tetap di sisiku. Pilihan itu yang membuat menjadi manusia, Goldbin. Bukan kelemahan yang kau takutkan, melainkan keberanian yang kau pilih.” Goldbin tersenyum kecil, lalu menggenggam tangan Meela seperti menutupi permata rapuh. “Itu karena kau yang mengajarkanku bahasa itu. Kau yang mengikat kata-kata pada rasa.” Meela membalas senyum itu dengan canggung manis. Ia meraih kalung kecil yang selalu ia pakai, sehelai ring perak dengan motif daun dan menyentuhnya sebagai pengingat. Dalam minggu-minggu terakhir, ia telah menjadi pengikat: kata, ramuan, cerita. Semua hal kecil itu membuat perbedaan besar. Ia telah menanamkan keberanian ke dalam orang-orang yang hampir putus asa, dan setiap kali orang-orang itu membuka mata dari penyangkalan mereka, Meela merasakan sebuah kekuatan halus yang sebelumnya tak pernah ia sadari ada dalam dirinya. “Malam ini kita beristirahat,” ia berkata. “Besok kita akan merapikan rute patroli lagi, menambah barisan, dan aku akan memimpin latihan intensif. Tapi sebelum itu… beri aku satu janji, Goldbin.” “Apa saja yang kau mau,” jawab Goldbin. Nada di suaranya mendadak serius, penuh penebusan. “Jangan menutup dirimu sepenuhnya pada orang lain. Terkadang kita membutuhkan mereka. Kau punya saudara di sini bukan hanya pengawal, bukan hanya Lycan yang taat, mereka manusia yang mencintaimu. Biarkan aku masuk ketika gelap datang. Jangan menanggung sendiri.” Goldbin menunduk, menempelkan dahinya pada pelipis Meela. “Kupegang janji itu. Dan kau… jika suatu saat rasa takutmu memaksa kau untuk lari, panggil namaku. Biarkan aku mengejarmu, bukan untuk memburu, tapi untuk memelukmu pulang.” Kata-kata itu menjadi jembatan antara dua jiwa yang sudah saling memahami pada level yang tak perlu banyak bicara. Mereka tertawa pelan, lalu mendengar langkah di koridor ,suara penjaga yang mengabarkan kedatangan seorang kurir. Goldbin melepaskan pelukan, mengenakan jubah tipisnya, dan membuka pintu. Seorang bocah pengantar berdiri menunduk, menggigil basah oleh hujan. “Ada surat, Tuan Goldbin. Dari desa sebelah,” katanya. Goldbin menerima gulungan kertas itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia membuka segel, membaca cepat, lalu mata hitamnya menajam. Meela mendekat tanpa diminta. “Apa yang terjadi?” tanyanya. Goldbin meneguk. “Seorang kepala desa melapor, beberapa keluarga di sana juga mulai melihat cermin-cermin itu. Mereka meminta bantuan. Brenda memperluas jaringnya ke luar kota. Ini bukan lagi sekadar pasar.” Meela meraih peta yang tadi mereka buka, menandai titik-titik baru dengan tinta. “Kita harus pergi. Bawa beberapa dari kita, jangan berangkat tanpa aku. Aku ingin datang bersamamu.” Goldbin menatap Meela, lalu menariknya ke dalam pelukan cepat. “Takkan kubiarkan kau pergi begitu saja. Kau sudah memimpin banyak orang. Kali ini aku ingin berdiri di sampingmu di garis depan.” Mata Meela berkaca-kaca, bukan karena takut melainkan karena kepastian. “Kau selalu berdiri di sampingku, Goldbin. Bahkan ketika aku ragu.” Mereka segera mempersiapkan diri. Di pagi yang basah, rombongan kecil, dua Lycan, beberapa penduduk terlatih, dan beberapa penjaga berkumpul di depan Mansion. Meela berdiri di depan, mengenakan mantel tipis, membawa kotak kecil berisi ramuan penenang dan beberapa cermin pecah sebagai simbol bahwa mereka tidak akan takut. Goldbin berjalan di sampingnya, seperti tembok yang bergerak, kehadirannya membuat udara terasa lebih tenang. Perjalanan ke desa tetangga membawa mereka melintasi ladang yang mengkilap karena hujan. Di sepanjang jalan, Meela menatap wajah-wajah yang ikut serta: para petani yang dulu gemetar, sekarang menatap lurus, seorang guru yang menyeringai dengan keyakinan baru. Lycan muda yang menahan napas ketika melewati rute gelap. Mereka semua melihat Meela bukan hanya sebagai penyelamat, tetapi sebagai cahaya yang menyalakan daya juang. Sesampainya di desa, mereka disambut dengan tatapan cemas. Sejumlah keluarga berkumpul di alun-alun, beberapa meneteskan air mata ketika melihat rombongan. Meela mengatur barisan, memberikan ramuan, lalu memulai ritual kecil yang telah ia bentuk: semua orang berkumpul, memegang tangan, dan mengulangi kata-kata yang sama, kata-kata yang menjadi pagar batin. “Aku utuh. Aku bertanggung jawab. Aku memilih.” Suara mereka bergema, dulu lemah kini padat seperti kayu bakar yang siap memanaskan. Tidak lama kemudian, Brenda muncul, bukan secara fisik, melainkan lewat bayangan yang merambat dari setiap cermin yang diletakkan di gerbang rumah. Wajah-wajah dalam cermin berubah, memperlihatkan skenario yang memancing amarah dan penyesalan. Teriakan pecah, dan untuk sesaat, kekacauan hampir saja merebak. Goldbin maju, menempatkan tubuhnya di depan satu keluarga yang terguncang. Tangan kuatnya merangkul, namun matanya tetap waspada. Meela berada tepat di sampingnya, mengucapkan kata yang mengalir seperti mantra. Perlahan, orang-orang mulai menemukan napas mereka kembali. Beberapa cermin pecah ketika dihadapi oleh keteguhan. Namun sesosok bayangan tipis dengan tawa yang dingin berkedip di sudut pandang; mereka tahu Brenda takkan pernah berhenti hanya karena satu kekalahan kecil. Ketika fajar mulai menyelinap, sinar lembut memecah kabut, Meela dan Goldbin berdiri di tengah alun-alun yang kini dipenuhi jiwa-jiwa yang bangkit. Mereka saling pandang, lalu tertawa kecil, bukan selebrasi, melainkan pelepasan. Meela mendekat, menyandarkan kepala pada bahu Goldbin. “Kau lihat?” katanya. “Kita membuat perbedaan, perlahan tapi pasti.” Goldbin membalasnya dengan mencium pelipis Meela perlahan. “Bersama, kita lebih kuat dari cermin apapun,” ucapnya. “Dan aku… aku tak akan pernah membiarkanmu memasuki medan sendirian.” Mata Meela bersinar. Ia merasakan jarak antara dirinya dan kota, antara luka yang lama dan harapan yang kini dirajut, menjadi semakin kecil. Di dadanya ada rasa syukur yang tak bisa diungkapkan hanya dengan kata. Cinta mereka bukan sekadar nafsu atau perlindungan, ia adalah komitmen untuk tetap memilih, setiap hari, untuk menyambung potongan-potongan yang hampir terpecah. Di malam hari, ketika mereka kembali ke Mansion, hujan telah reda. Lampu-lampu taman memantulkan kilau kecil di kelopak bunga. Goldbin membukakan pintu untuk Meela, lalu menariknya ke dalam kamar. Kali ini suasana berbeda, bukan sekadar pelukan yang menghangatkan tubuh, melainkan pembicaraan panjang yang berisi pengakuan, rencana, dan janji. “Kita akan buat sesuatu yang tak bisa ditembus cermin,” ujar Meela, suaranya lembut namun mantap. “Sebuah lagu pengikat, sebuah cerita yang setiap warga bisa ulang-ulang. Sehingga ketika Brenda datang, mereka akan mendengar suara komunitas, bukan hanya gema masa lalu.” Goldbin mengangguk, matanya berkilat. “Dan aku akan mengerahkan saudara-saudaraku sebagai pelindung moral, bukan hanya fisik. Kita jadikan kota ini rumah yang menolak patah.” Meela meraih tangan Goldbin, menyusunnya di d**a. Ia menutup mata, merasakan kehangatan yang bukan hanya fisik. “Kau adalah rumahku juga,” bisiknya. “Jangan biarkan apapun merampas itu.” Goldbin menunduk, mengecup bibir Meela lembut, penuh penghormatan. “Kau adalah pusat dari segala pilihanku,” ucapnya. “Dan selama aku bernapas, aku akan jaga pilihan itu.” Mereka tertidur berpelukan, seperti dua pelaut yang menemukan dermaga setelah malam badai. Di luar, kota bernafas perlahan, dan di antara atap-atap, ada suara-suara yang menumbuhkan harapan. Brenda mungkin belum menyerah, tetapi cinta yang mereka pupuk sangatlah kuat, tenang, dan penuh keputusan, yang akan menjadi sebuah benteng yang tak mudah ditembus. Ketika fajar berikutnya merekah, Meela membuka mata pada wajah Goldbin yang tengah menatapnya dengan kelembutan tak terkatakan. Ia tersenyum, lalu menempelkan dahi mereka bersama, merasakan ritme yang sama pada tiap detak. Di hati Meela tumbuh keyakinan, apa pun yang Brenda kirimkan, cermin, bayangan, atau bisik penyesalan, mereka akan menghadapi dengan kata, napas, dan cinta. Karena cinta itu bukan pelarian; ia adalah pilihan yang paling berani. Dan di saat itulah, Meela tahu: selama ada Goldbin di sampingnya, ia tak hanya akan bertahan. Ia akan menang, perlahan, dengan cara yang lembut namun tak tergoyahkan. Goldbin pun kembali bekerja untuk mengecek perusahaannya, karena sudah banyak dia membatalkan janji - janji client penting, karena sibuk mengurusi urusan alam keduanya, yaitu Lycan. Sesampainya di kantor "Pak..akhirnya datang juga ke kantor?" tanya lembut Sekretarisnya Goldbin hanya menjawab pelan."Ya... Rose bagaimana apa selama saya jarang ke kantor ada masalah atau ada client - client yang mau menemui saya?" "Hmm ada Pak, dua orang, Mr Hawkins dan Mr Lee." "Ya sudah tolong kabari Mr Hawkins besok siang saya tunggu di Greyson Cafe, lalu Mr Lee atur janji jam tujuh malamnya di Mang Resto." "Baik Pak, ada lagi?" "Sementara itu saja, tetapi tolong mana laporan keuangan yang saya minta, dah satu bulan lho bagian keuangan nggak pernah laporan ke saya!" "Ya Pak soalnya bagian keuangan yang Bu Angel masih belum kasih laporan ke saya, katanya belum selesai." "Saya nggak mau tahu, nanti malam minta dia ke ruangan saya." "Baik Pak Goldbin."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD