Part 8 Lebih Gi-la Lagi

1787 Words
Selamat membaca gengs! ** Satu minggu ini Nessa gilaa sekali. Ya karena hukuman dari Dosen yang memang tampan sekali sampai dia hampir terbuai akan ketampanan seorang Ibrahim Wicaksono yang menjadi idola di kampusnya tetapi sayangnya hukuman tersebut membuat dia kesal dari ujung kepala sampai ujung kaki kepada Dosen tersebut. Meski hukumannya selesai dengan waktu yang tepat satu minggu dari apa yang di inginkan oleh Bapak Ibra tetapi otaknya yang cantik ini kasihan sekali karena harus merangkum sampai puluhan Bab. Sudah terbayang dalam benaknya. Nikmatnya memakan es krim di siang hari, manisnya kue bolu gulung buatan Bundanya nanti saat pulang dari kampus, pun dengan serunya drama korea yang akan di tontonnya malam nanti. Nessa sudah membayangkan semua itu setelah datang di kampus dan akan menyerahkan tugas yang menjadi hukumannya kepada Pak Ibra. Dia harus melakukan dengan cepat agar tidak lagi berurusan dengan Dosen tersebut, kecuali bertemu dengannya di kelas. “Gimana udah selesai hukuman dari Bapak Kinclong?” tanya Ayu diakhiri dengan cekikikan yang membuat Nessa mendengkus tidak suka. Kelakuan temannya ini minus sekali, bahagia di atas penderitaan dia karena Pak Ibra. Tidak berperitemanan! “Udah! Nggak usah ngeledek lah!” balas Nessa ketus. Bukan tersinggung, Ayu malah semakin terpingkal mendengar nada ketus yang keluar dari mulut temannya. “Anjirr! Lo emang kelakuan setengah ons, kamvret sekali lo wahai teman!” lanjut Nessa dengan tak lupa sumpah serapahnya kepada Ayu. “Canda keless! Lo serius amat dah jadi cewek, jan seriu-serius nanti baper!” “Jan baper-baper nanti serius!” Nessa tak mau kalah. “Malah di balik kamvret! Udah ini gue seriusan nanya, udah selesai belum? Kalau belum ya gue nggak akan bantu sih,” ucap Ayu yang kembali membuat Nessa meradang sampai-sampai ingin menimpuk temannya ini dengan tas, tetapi Nessa sayang sekali kepada Ayu. Saking sayangnya dia tidak rela tas mahalnya di pakai untuk menimpuk Ayu. Sayang kan Nessa, pada tas-nya. “Udah lah! Gue kan tadi jawab udah bege! Kuping lo tolong di pasang pada tempatnya, jan bikin gue mau baku hantam sama lo,Yu.” “Iya-iya. Biar nggak tegang gitu kek jemuran yang kering banget kena matahari, Nes. Apalagi lo mau berhadapan sama Bapak Kinclong.” Nessa mengangguk-anggukan kepala. “Jam berapa ni? Gue takut telat,” ucap Nessa. “Telat berapa bulan lo?” “Si Anjirr! Gue serius, Yu. Lo bercanda mulu deh, herman!” “Heran!” “Iya itu maksud gue.” “Baru juga jam delapan, bukannya lo harus nyerahin tugas itu jam sembilan ya?” “Iya kali, gue juga lupa,” balas Nessa tampak polosnya melupakan waktu yang di tentukan oleh Pak Ibra. “Gue kira lo nanyain jam karena udah tau mau kumpulin itu tugas.” “Iya sekarang aja deh. Lebih cepat lebih baik dan gue bisa tenang dari hukuman si Bapak-bapak itu,” ucap Nessa sungguh tidak sopan mengatakan Bapak-bapak kepada Ibra padahal umur Dosennya belum masuk umuran Bapak-bapak. “Pak Kinclong, Nes. Bukan Bapak-bapak,” larat Ayu tidak terima karena Dosen idolanya meski pelit nilai dan sangat tegas kepada mahasiswa tetapi Pak Ibra tetap Dosen idolanya. Itu karena demi kesegaran pandangan matanya apalagi kuliah di siang hari yang tentu saja mengantuk, melihat Pak Ibra tengah mengajar akan membuat matanya segar. “Sama aja ada Pak-nya kan.” “Udah lo sana, katanya lebih cepat lebih baik. Gue belum sarapan jadi nggak bisa anterin lo. Mohon mandiri ya wahai teman bar-bar.” “Iya udah bhay!” Nessa pergi menjauh dari Ayu. Berbelok ke ruangan Pak Ibra yang tidak jauh dari posisi mereka di dekat mading tadi. Dia memang lupa tepatnya mengumpulkan tugas yang menjadi hukumannya ini, seingat dia pukul sembilan pagi tetapi setahu dia pukul sepuluh. Jadi Nessa memilih jalan tengah, pukul delapan dia akan ke ruangan Pak Ibra. *** Nessa tadi berbelok ke toilet sebelum akhirnya datang ke ruangan Pak Ibra. Dia merasa penampilannya ada yang kurang alhasil Nessa ke toilet dulu untuk memastikan di depan cermin yang berada di dalam toilet kampusnya. Selesai dari sana Nessa bergegas ke ruangan Pak Ibra. Dan sekarang dia di suruh menunggu karena Dosennya itu sedang berbicara dengan Dosen lain. Cukup lama Nessa menunggu sampai akhirnya dia di perbolehkan masuk oleh Pak Ibra setelah Dosen yang tadi berbicara dengannya keluar dari ruangan. Tanpa lama-lama Nessa pun masuk ke dalam, kali ini tidak ada adegan memalukan jatuh dengan tidak cantik di depan Pak Ibra. “Selamat pagi, Pak.” Nessa tersenyum manis menyapa Dosennya Sementara Ibra yang melihat Nessa seperti itu tampak mengernyitkan dahinya. Sangat tidak biasa melihat mahasiswinya ini menyapa dengan begitu manis. Hah? Apa tadi dia bilang, manis? Astaga Ibra sepertinya sedang tidak waras. Mahasiwi bar-barnya ini kenapa pula bisa di sebut manis olehnya. Walau memang kalau di lihat-lihat iya juga. “Tumben kamu menyapa saya,” perkataan Ibra malah seperti sindiran untuk Nessa membuat gadis itu mendengkus. “Perasaan saya salah mulu deh di mata Bapak, heran!” balas Nessa. Sudah di bilang kam kalau Nessa ini tidak ada takut-takutnya pada Ibra. Selalu menjawab seenaknya. “Kamu tidak sopan sekali. Tadi saja ramah, kamu punya kepribadian ganda?” tanya Ibra melihat Nessa yang sudah berubah tidak seramah dan semanis tadi. Padahal baru beberapa detik saja. Nessa mengegerutu dalam hati. Iya dia tahu Ayahnya memiliki kepribadian ganda waktu dulu. Tetapi dia, kakaknya dan adiknya sama sekali tidak merasakan hal yang sama. Mereka terlihat normal dan ya seperti ini saja. Atau mungkin Nessa memiliki kepribadian ganda hanya saat berhadapan denga Ibra? Mana mungkin. “Nggak. Saya baik-baik saja sebelum Bapak kasih tugas yang liar biasa membuat otak cantik saya harus berpikir keras. Bapak nggak kasihan apa otak saya ini harus mikir selama waktu singkat, nggak istirahat, nggak nonton drama korea, nggak lihat cogan. Bapak sih pake banyak banget kasih hukuman,” cerocos Nessa. Tingkah Nessa yang seperti ini sebenarnya membuat Ibra terhibur. Bukan menjadikan Nessa hiburannya juga tetapi ya dia suka saat ada perempuan yang sama sekali tidak menjaga image dan apa adanya. Seperti yang Nessa lakukan, saat suka dia akan bilang dengan jujur pun saat tidak suka. Nessa tidak takut mengatakannya. “Sudah bicaranya?” tanya Ibra. “Sudah, Pak. Makasih udah dengar ocehan saya.” “Sekarang mana tugas kamu?” Nessa membuka tas nya dan mencari tugas yang selesai dia kerjakan selama satu minggu ini meski dengan gerutuan dan curhatan kepada kakaknya lewat sambungan telepon. Ya, Nevan nyatanya tetap mendengarkan curhatan sang adik untuk ke sekian kali dengan pembahasan yang sama. Yaitu kekesalan karena di berikan tugas yang merangkap hukuman oleh Dosennya. “Ih Bapak! Ketinggalan!!” pekik Nessa menyadari tugasnya tidak ada di dalam tas. Perasaan tadi dia sudah memasukkan tugas itu ke dalam tas. Lalu pergi ke kampus, setelah itu bertemu dengan Ayu di mading, dan … Ah iya dia sempat ke toilet tadi. “Saya ke toilet dulu, Pak.” Nessa berbalik dan melangkah ke luar dari ruangan. Tidak mendengar teriakan Ibra yang terus memanggilnya. “Dasar cewek, lagi penting malah mau ke toilet dulu. Nggak bisa di tahan apa,” gumam Ibra melihat Nessa yang sudah kembali menutup pintu ruangannya. *** “Ya ampun untung aja nggak ada yang ambil,” ucap Nessa bernapas lega saat menemukan tugas miliknya. Nessa kembali ke ruangan Ibra dengan sudah membawa tugas tersebut. Sekarang sudah pasti tugasnya akan di berikan kepada Ibra. Membuka pintu ruangan setelah mengetuknya lebih dulu, Nessa masuk ke dalam dan mendapati Ibra sedang duduk di sofa yang berada di ruangannya. “Kamu memang nggak sopan ya. Pake ke toilet dulu padahal harus kumpulin tugasnya,” ucap Ibra melihat kedatangan Nessa. “Maaf, Pak. Tugas saya tadi ketinggalan di toilet.” “Ceroboh,” ledek Ibra. Tidak ingin berakhir dengan perdebatan Nessa memilih untuk diam saja, menutup mulutnya rapat-rapat meski tidak tahan untuk membalas perkataan Ibra. “Ya udah sini, ngapain masih berdiri di situ,” ucap Ibra yang melihat Nessa masih berdiri di dekat pintu. Gadis itu melangkah mendekati Ibra untuk menyerahkan tugasnya tetapi… Bruk. Kakinya tersandung, dan Nessa jatuh tepat di atas Ibra yang kali ini terlentang di atas sofa. Benar-benar tidak bisa di prediksi, kenapa juga posisi mereka seperti ini. Lebih-lebih wajah mereka begitu dekat, hampir menyentuh bibir dan bibir jika saja Ibra atau Nessa bergerak agak maju. “Ibrahim!” Suara itu membuat keduanya terciduk. *** “Benar bukan tindakan senonohh?” Seorang pria paruh baya tengah duduk di hadapan Ibra dan Nessa yang tadi kedapatan di posisi yang sudah pasti menimbulkan pertanyaan di benak pria paruh baya tersebut. Galuh Wicaksono -Ayah dari Ibra sekaligus rektor di kampus Nessa- melihat dengan kedua matanya bagaimana dua orang dengan jenis kelaminn berbeda ada di dalam satu ruangan yang sama meski itu ruangan anaknya sendiri tetapi apa yang dia lihat menimbulkan pertanyaan. “Bukan, Pa.” Ibra tidak tahu lagi harus menjawab apa. Tetapi posisinya dengan Nessa tadi yang agak menimbulkan pemikiran yang tidak-tidak membuat kebingungan untuk menjelaskan. “Lalu kenapa? Mahasiswi kamu ini menggoda kamu?” Bukan hanya Ibra yang terbelalak. Tetapi juga Nessa bahkan dia tidak terima di katakan mahasiswa yang seperti itu. Tadi benar-benar sebuah kesalahan dan ketidaksengajaan lagipula kenapa juga dia lupa menalikan sepatunya setelah sadar kalau talinya lepas. Nessa terlalu abai dan sekarang lihat kan karena kecerobohan dirinya hal ini terjadi. Kepergok oleh orang yang memiliki posisi penting di kampus dan Nessa lebih terkejut saat tahu bahwa orang yang begitu dia segani adalah orang tua dari Ibra, Dosennya. “Maaf, Pak. Saya tidak seperti apa yang Pak rektor duga,” balas Nessa meski dia kesal tetapi berusaha untuk tetap bersikap sopan. “Papa salah paham,” kali ini Ibra mengeluarkan suara. Tidak menempatkan sang ayah seperti atasannya tetapi selayaknya ayah dan anak jika bukan di muka umum. “Lalu apa?” “Ini Nessa, ca-calon istri Ibra, Pa.” Entah dari mana jawaban itu yang Ibra berikan membuat Nessa terkejut sementara Pak Galuh tampak senang mendengarnya. Wajar karena selama ini dia tidak pernah melihat anaknya mengenalkan perempuan yang sedang dekat dengan sang anak kepada dia dan sang istri. “Bu—“ “Kamu nggak usah takut lagi, Sayang. Papa terima kamu kok, jadi kita nggak harus sembunyi lagi,” Ibra lebih dulu memotong perkataan Nessa. Dia hanya berpikir ini yang terbaik apalagi situasi yang mendukung. Sudah lama dia di teror terus menerus oleh orang tua tentang calon pendampingnya. Apalagi usia yang sudah matang untuk berumah tangga. Dia juga sudah mapan dalam hal finansial. Dan tidak mungkin dia mengatakan kalau Nessa mahasiswa yang tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Apalagi kejadian beberapa menit tadi, bisa-bisa Nessa mendapatkan hukuman lebih berat, pun dengan dirinya. Karena kedapatan berbuat yang tidak-tidak meski hanya kesalahpahaman tetapi akan sulit untuk menjelaskan jika Ayahnya melihat dengan ke dua matanya sendiri. Nessa? Dia menggerutu kenapa semuanya menjadi rumit karena kecerobohan ini. Bisa gilaa dia kalau menjadi calon istri dari Dosennya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD