Jam menunjukkan pukul 06.30 pagi, namun pemuda itu masih saja tidak bisa memejamkan matanya barang semenit saja. Arya tampak menggaruk kasar tengkuknya Karena kesal, ia terus-menerus memikirkan ajakan Bella untuk menikah, ia kira gadis itu hanya bercanda ternyata tidak sama sekali, malah sang sahabat sangat serius, semua itu terbukti saat Bella mengatakan jika ia akan meminta izin mamanya hari ini.
Ia ingin juga melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Bella, namun ia terlalu kalut dalam pikirannya, ia takut bagaimana reaksi mama nanti saat ia meminta izin untuk menikah dengan Bella, satu sisi ia ingin melakukannya karena penasaran namun satu sisi lainnya ia tidak ingin karena ia tau tanggungjawab dalam rumah tangga itu sangat berat.
Klekk....
Pintu kamar tiba-tiba dibuka oleh seseorang dan tampaklah wanita cantik disebalik pintu sedang tersenyum lembut kearahnya yang awalnya sedikit kaget.
"Baru juga mama mau bangunin kamu nak!" Ujar mama seraya masuk dan menuju kearah jendela untuk menarik gorden agar sinar matahari bisa menerangi kamar bernuansa gelap tersebut.
"B-baru bangun kok ma" bohong Arya seraya menyibak selimut yang sebelumnya menutupi setengah tubuhnya.
"Yaudah yuk turun! Kita sarapan bareng..." Ajak mama seraya mengusap lembut pucuk kepala Arya.
"Iya ma, habis Arya dari kamar mandi ya" mama mengangguk lalu bangkit ingin keluar sebelum akhirnya Arya kembali memanggilnya.
"Ma!"
Mama menoleh seraya menunjukkan raut bertanyanya.
Arya tampak menggigit bibir bawahnya ingin memberitahu perihal ajakan Bella kemarin, tapi ia juga tidak yakin ingin memberitahu wanita didepannya.
"Kenapa Arya?" Tanya mama masih menunggu dibibir pintu.
"Eumh... Ga kok! I love you..." Pada akhirnya pemuda tersebut tidak memberitahu sang mama. Mama sendiri tersenyum mendengar ucapan anaknya lalu kembali berjalan keluar usai menutup pintu terlebih dahulu.
Arya menghembuskan nafas kasarnya lalu bangkit ingin masuk kedalam kamar mandi, namun urung saat sebuah notifikasi pesan masuk kedalam ponselnya.
Bella : Arya! Gue bakal ngomong sama mamak sekarang! Doain gue ya??
Lagi dan lagi ia mendapatkan kenyataan jika sahabatnya benar-benar serius dengan ucapannya kemarin, dengan begitu Arya tak mau kalah, ia laki-laki disini, maka dari itu dirinya harus lebih berani dari Bella yang perempuan.
"Gua juga ga mau kalah!".
++++++
Bella meletakkan gelas terakhir yang ia cuci di westafel seraya menoleh pada sang mamak yang sedang memakaikan pakaian pada Artha adik bungsunya. Ia tanpa sadar menggigit pelan bibir bawahnya karena merasa takut untuk mengatakan keinginannya pada mamak.
Ia kira semuanya akan berjalan dengan baik, dan ia kira juga sangat mudah untuk meminta izin, namun ternyata hal ini lebih menegangkan daripada saat menunggu nilai ujian diumumkan.
Mamak menatap bingung Bella yang tampak sedang memikirkan sesuatu hal rumit, semua itu sangat terpatri diwajah anak perempuan satu-satunya itu.
"Kenapa Bella? Ada masalah?"
Bella lantas kaget saat tiba-tiba mamak melontarkan pertanyaan padanya, gadis itu tersenyum canggung setelahnya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "enggak kok Mak!"
Ia kini berjalan menghampiri mamak yang sedang membereskan wangi-wangian milik Artha, ia juga menoleh sekilas pada Rafa yang sedang membuat layangan yang kesikian kalinya untuk ia bawa main nanti sore.
"Mak!" Panggil Bella yang sudah duduk tepat disamping wanita paruh baya itu.
"Iya ... Kenapa la?" Tanya mamak.
Bella tersenyum canggung sebelum kembali bertanya, "Mak... Menurut mamak kehidupan rumah tangga itu kayak gimana?".
Mamak tak langsung menjawab, ia tampak sedang berfikir, "eumh... Kehidupan yang berat..." Jawab mamak seraya tersenyum lembut.
"Berat?" Tanya Bella bingung.
Mamak mengangguk," iya, karena dalam rumah tangga itu istri dan suami itu punya rasa tanggungjawab masing-masing, terus keduanya juga harus saling memahami, tidak boleh hilang rasa kepercayaan dan juga harus dewasa dalam menyikapi segala masalah yang akan menimpa nantinya.... Rumah tangga itu ada bukan hanya karena adanya ijab kabul dan rasa terikat, tapi yang pertama kali harus didasari dengan rasa cinta, jika sudah cinta pasti ada rasa sayang, jika sudah sayang pasti ada rasa percaya! " Mamak tersenyum sebelum kembali melanjutkan penjelasannya " dan begitu juga sebaliknya, jika ia merasa sayang dan punya rasa ingin memiliki juga ada rasa ingin selalu mempercayai apa yang ada pada pasangannya, itu artinya rasa cinta sudah tumbuh di hati masing-masing..."
Bella mengangguk mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh sang mamak membuat wanita paruh baya itu tersenyum melihatnya.
"Tapi kalo rumah tangga itu dibangun tanpa ada rasa cinta gimana Mak?" Tanya Bella lagi.
"Balik lagi ke penjelasan tadi, seiring berjalannya waktu cinta itu pasti tumbuh dalam dua hati manusia yang memang sudah ditakdirkan bersama!" Mamak menggeser duduknya semakin dekat dengan Bella "Bella! Masih ingatkan apa yang dibilang ayah dulu? Hanya Allah sosok pembuat naskah yang paling bagus"
Keduanya tersenyum hingga mamak pun sadar karena mengapa sang anak menanyainya hal tersebut.
"Emang ngapain kamu nanyak-nanyak itu?" Tanya mamak penasaran.
Bella tersenyum atas pertanyaan sang mamak, sebelum akhirnya ia benar-benar mengutarakan keinginannya pada mamak.
"Mak! Bella mau nikah..."
Wanita paruh baya yang masih memiliki paras cantik itu lantas terkejut dengan dua bola mata yang membulat bersamaan, ia tak pernah menyangka jika anak gadis satu-satunya yang ia miliki akan memilih untuk menikah terlebih dahulu daripada mengejar mimpinya.
Bukan ia tak setuju, ia malah sangat setuju jika Bella memilih untuk nikah muda karena ia juga awalnya menikah pada umur yang bisa dibilang masih sangat muda, namun jika Bella ingin menikah hanya untuk alasan yang konyol pastinya ia akan sangat melarang permintaan anak gadisnya.
Bella menatap berharap pada mamak yang masih terlihat syok, wanita itu benar-benar terdiam sebelum akhirnya kembali bersuara seraya mengubah posisi duduk yang lebih nyaman.
"Bella!" Panggil mamak lembut.
"Kamu beneran mau nikah nak?" Tanya mamak hati-hati karena ingin memastikan.
"Iya Mak! Bella serius banget malahan..." Jawab remaja itu mengangguk semangat.
Lagi-lagi mamak terdiam melihat reaksi dari Bella, terlihat gadis itu benar-benar serius dengan omongannya.
"Memang apa alasan kamu mau menikah?"
Kini Bella yang terdiam mendengar pertanyaan mamak, tidak mungkin ia akan menjawab hanya sekedar untuk menuntaskan rasa penasarannya terhadap kehidupan rumah tangga, yang ada wanita didepannya pasti akan marah besar, ia tidak ingin mengambil resiko itu, dan karena itu juga Bella terpaksa harus membohongi mamak.
"Eum... Karena... K-karenaaa... Karena Bella cinta Mak! Bella sayang banget sama dia! Bella juga percaya banget kok sama dia, dia juga udah ngajak Bella nikah waktu hari acara wisuda itu Mak!" Bohong Bella dengan alasan karangannya.
Di luar ekspektasinya, mamak tersenyum usai mendengar alasan Bella, wanita itu tampak mengusap lembut kepala Bella sebelum kembali berucap.
"Kalo itu alasan Bella! Mamak pasti izinin kok! Malah mamak bahagia kalo anak gadis mamak satu-satunya ini mau nikah muda"
Bella tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya setelah mendengar ucapan mamak, lantas ia langsung memeluk wanita yang paling ia sayang didunia begitupun mamak yang juga membalas pelukan putrinya.
"Eum... Kalo boleh tau... Siapa cowok yang mau nikahin Bella nak?"
Damn! Astaghfirullah... -Bella.
++++++
"Ma! Arya mau nikah!"
"APA????!!!"
Bola mata Arya langsung menoleh kearah remaja laki-laki yang baru saja memasuki rumah dengan wajah bengkaknya dan rambut yang amburadul, siapa lagi jika bukan adik laki-lakinya Rayyan, melihat tampang sang adik seperti itu, Arya jadi mengesampingkan urusan awalnya dan lebih memilih untuk memarahi Rayyan bocah laknatnya ditambah lagi kasus penipuan yang dilakukan laki-laki itu semalam.
"Lo habis dar-"
"Bang! Jan alihin topik pliss!"
Rayyan berucap seraya berjalan kehadapan kakak laki-lakinya dengan tatapan tidak menyangka.
Arya merotasi kedua bola matanya seraya menoyor kepala Rayyan yang hanya diisi dengan Rea dan main.
"Lo yang ngalihin topik Bambang!" Rayyan menggeleng masih dengan wajah tak menyangkanya, "bang! Itu ga penting! Kita harus bahas ucapan Lo tadi! Lo benaran mau nikah? Hah? Beneran bang?" Arya terdiam beberapa saat lalu mengangguk pelan membuat Rayyan membuka mulut serta matanya lebar-lebar.
"Bang! Lo-lo... Lo serius? Lo lagi ga ngerjain gua kan? Demi apa coba? Ga boleh bang! Lo masih kecil, umur aja belom Sampek 20 bang! Udah lah pacaran aja bang!" Arya menghembuskan nafasnya pelan agar tidak terbawa emosi dengan adiknya, "Ray.. gua-"...
"Ga bang! Titik! Pokoknya gua ga mau Lo nikah sekarang! Gua ga restu bang!!!!!!!!!!!" Jangan lupakan tatapan tak menyangka yang masih diperlihatkan remaja berumur 16 tahun itu.
"Kenapa jadinya Lo yang ga res-"
"Apa jangan-jangan Lo udah ngebuntingin anak orang ya bang?! Ngaku Lo bang?"
Untuk yang kedua kalinya Arya kembali menoyor kepala Rayyan lebih kuat dari sebelumnya hingga membuat Rayyan berputar beberapa kali.
"Ish .. kebiasaan mulut ga pernah disetrika!"gumam Arya.
Rayyan menatap Arya cemberut lalu berjalan cepat kearah mama yang sedang melihat-lihat beberapa foto perempuan.
Sebelumnya Arya juga sedikit bingung dengan sang mama yang tidak menunjukkan reaksi apapun setelah dirinya meminta untuk menikah.
"Ma! Mamaaaa..." Rengek Rayyan sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Iya Rayyan Anangga Putra Pradipta..." Jawab mama seraya menatap bungsu laki-lakinya. Memang anaknya yang satu ini terkenal sangat manja mau itu pada mama ataupun pada Arya, tapi tidak pada Meya adik bungsunya dan satu-satunya anak perempuan dikeluarga Pradipta. Anak itu manja karena kisaran umurnya dengan sang adik sangat jauh yaitu 10 tahun, itu kata mamaknya Bella, tapi sepertinya mama sendiri tidak setuju karena ia melihat Bella sendiri memiliki adik di umur 12 tahun, dan gadis tersebut tidak terlihat manja sama sekali pada mamaknya. Dan sampai sekarang mama hanya percaya manjanya seorang Rayyan karena sedari kecil Arya selalu mengalah pada sang adik, menyangkut apapun itu, Arya sendiri juga akan marah besar jika mama sampai memarahi atau sekedar menegur, jadinya dari dulu sampai sekarang, mama tidak pernah memarahi anak-anaknya, apalagi Arya anak tampan dan sudah menjadi kebanggaannya semenjak anak itu sudah ada, akan tetapi sebagai gantinya Arya lah yang akan menegur dan memarahi kedua adiknya apabila mereka berbuat salah.
Mamak pernah sewaktu-waktu bertanya pada Arya, mengapa ia tidak boleh memarahi adik-adiknya?, Dan pasti jawaban Arya kecil waktu itu sungguh membuat wanita cantik yang masih mempunyai paras mudanya menangis terharu.
Okey balik lagi pada Rayyan yang masih merengek pada mama, "ma! Mama ga marah kalo bang Arya nikah cepet?!" Wanita itu tersenyum lalu meletakkan beberapa foto yang ia pegang di atas meja seraya tersenyum pada Rayyan.
"Untuk apa mama marah?"
Bukan hanya Rayyan yang syok dengan apa yang diucapkan mama, Arya yang masih berdiri tak jauh dari mereka segera berjalan dan langsung duduk disamping mama.
"Mama beneran ga marah kalo Arya minta nikah sekarang? Nikah muda loh ma! Ini nikah dini!"-Arya.
Mama menggeleng masih dengan senyum manis diwajahnya. "Engga Arya! Enggakk sama sekali!!!".
"J-jadi mama restuin Arya dong ma?!" Untuk kesekian kalinya mama tersenyum dan mengangguk.
Mama mengambil selembar foto seorang gadis diatas meja lalu kembali menatap Arya, "sebenarnya mama juga mau jodohin kamu sama anak temen mama! Cuma karena kamu udah punya calon sendiri yaudah ini dibuang aja" mama meletakkan kembali foto ditangannya atas meja.
Arya tersenyum senang lalu segera memeluk hangat tubuh wanita yang sangat ia sayang dan cintai di dunia, karena wanita di depannya inilah orangtuanya, sosok satu orang yang menjadi ibu dan ayah baginya.
Mata Arya tidak sengaja menangkap raut wajah cemberut Rayyan didepannya lalu ia pun tersenyum seraya melepaskan pelukan sang mama.
"Rey! Udah Lo ga usah kesel gitu!!! Emang Napa sih Lo ga restu? Kenapa Lo ga mau gua nikah?" Tanya Arya memandang Rayyan dengan tatapan meledeknya.
Rayyan menatap dirinya kesal, "ya iyalah gua ga mau! Nanti kalo Lo udah nikah, masa dirumah cuma tinggal gua cowo sendiri! Gua ga mau bang! Nanti yang angkat galon siapa? Yang cuci mobil siapa? Yang bersihin kolam siapa? Terus juga yang nemenin gua potong rumput siapa?"
Seketika Arya melunturkan senyumannya, ia kira adiknya akan kesepian jika tidak ada dirinya dirumah, namun ternyata oh ternyata, ia hanya diperlukan untuk menjadi babu seorang Rayyan Anangga Putra Pradipta di rumah dirinya sendiri.
"Ray!"-Arya.
"Eum"-Rayyan.
"Masuk kamar Lo sekarang sebelum gua khilaf!" Arya menatap Rayyan dingin.
Rayyan yang tahu makna dibalik tatapan itupun segera bangkit dan berjalan menuju ke kamarnya dilantai dua tanpa bersuara lagi.
Mama hanya tersenyum melihat tingkah dua putranya lalu kembali menoleh pada Arya.
"Sebenarnya alasan kamu mau nikah apa nak?" Lantas Arya terdiam mendengar pertanyaan mama yang tiba-tiba itu, ia tampak diam dan tersenyum canggung.
"Emang... Harus punya alasan ya ma?"-Arya.
Mama jelas bingung mendengar pertanyaan Arya hingga ia menautkan dua alisnya.
"Harus dong nak! Kalo ga gimana kalian mau bangun rumah tangga Arya..."-Mama.
Arya tersenyum, "alasan Arya cuma satu ma! Karena Arya cinta!"
Mama ikut tersenyum mendengarnya lalu ia kembali bertanya, "emang siapa calon mantu mama nak? Mama kenal ga?"
Jleb...
Arya terdiam seketika juga senyuman diwajahnya pun luntur begitu saja saat pertanyaan mama masuk dalam kedua telinganya, tidak mungkin ia harus berbohong lagi pada wanita didepannya ini.
"Siapa?" Mama kembali bersuara.
Arya tersenyum canggung sebelum akhirnya Meya adik perempuannya datang seraya membawa ponsel milik Arya ditangan kanannya.
"Bang Arya kata kak Bella mamak kak Bella kasih restu buat kak Bella sama bang Arya!".....
"APA?!!!????!!!!!"
Dan sebuah fakta kembali terungkap, Rayyan tidak masuk ke kamarnya seperti apa yang diperintahkan Arya, laki-laki itu ternyata bersembunyi di belakang guci besar di dekat tangga karena ingin menguping pembicaraan dua manusia di ruang tamu.
BONUS...
Seorang wanita cantik duduk disamping bocah laki-laki berumur 7 tahun disofa seraya menatap lembut buah hatinya yang sangat tampan di kedua mata indahnya.
"Arya!" Panggil wanita tersebut.
"Iya ma"
"Boleh mama tanya sesuatu?"
Sang anak mengangguk seraya menatap lekat wanita itu.
"Kenapa Arya ga mau kalo mama marahin Rayyan?"
Anak yang dipanggil Arya itu terdiam lalu tidak lama kemudian ia bangkit dan segera memeluk erat wanita didepannya.
"Arya ga mau kalo nanti mama di omongin... Teman-teman dikelas Arya banyak yang engga suka sama mamanya, karena mamanya suka memarahi mereka, Arya ingin selalu mama jadi orang baik, bukan orang jahat yang selalu dibicarakan orang lain... Kan Arya udah janji sama mama untuk jagain mama dan adik Rayyan..."
Sebening cairan asin berhasil keluar dari salah satu pelupuk mata wanita itu, salahkan anaknya yang membuatnya menjadi sangat terharu dan juga senang dengan jawaban anaknya, hingga sampai seterusnya pun ia tak akan pernah lupa dengan alasan Arya yang tidak membolehinya untuk memarahi adik-adiknya.
"Terimakasih Arya sudah mau menjaga mama...