Bella tampak duduk cemas diatas ranjangnya, dirinya sudah selesai dengan dres mocca serta juga beberapa polesan make up di wajahnya dan membiarkan rambut panjangnya tergerai indah.
Tidak lama kemudian pintu kamarnya terbuka dan seorang wanita paruh baya masuk seraya tersenyum padanya.
"Ayo nak kita turun! Kan sebentar lagi calon suami kami bakal datang" mamak meraih tangan anak gadisnya untuk ikut turun kelantai dasar.
Sekedar informasi, mamak sama sekali belom mengetahui siapa yang akan menjadi calon suaminya, berbeda dengan Arya yang seluruh anggota keluarganya sudah tau jika Bella lah yang akan dinikahi Arya.
Kini posisi gadis itu sudah berpindah disofa ruang tamu diikuti juga oleh dua adik laki-lakinya dan mamak dari arah belakang mereka.
Tidak lama kemudian suara bel yang berasal dari arah liat menggema, lantas mamak tersenyum dan segera menuju ke arah pintu untuk membukanya.
Klekk...
Mamak sedikit bingung, karena saat ia membuka pintu yang ia dapatkan adalah sahabat sang anak serta keluarganya.
"Arya!?"
Arya tersenyum canggung lalu segera mencium punggung tangan wanita didepannya sebagai bentuk sopan santun.
"Assalamualaikum Tante!"
"W-wa'alaikum salam!!!"balas mama, "ada apa ya? Kok ga ada kabar kalo mau kesini?!" Tanya mamak, karena biasanya jika Arya dan sekeluarga datang kerumahnya pasti akan dikabarkan lebih awal pada mamak.
"Ekhemmm... Masa kamu ga tau sih Sar? Kan anakku mau lamar anakmu!!!"
"HAH!!!"
++++++
Ruang tamu yang dipenuhi banyak orang terlihat hening tidak ada yang bersuara, masing-masing dari mereka hanya duduk dan diam, sebelum akhirnya remaja laki-laki yang memakai kemeja putih kotak-kotak itu mengeluarkan suaranya.
"Ekhemmm... Rayyan minum ya Tan..." Mamak yang di panggil Tante oleh Rayyan pun refleks menoleh dan tersenyum hangat pada remaja tersebut. "Iya nak diminum...".
Lalu suasana kembali hening hingga mama memberikan pertanyaan bagi anaknya dan anak dari sahabatnya Sari.
"Arya! Bella!" Panggilan itu membuat dua orang yang duduk berdampingan menegang seketika.
"Boleh jawab dengan jujur pertanyaan mama?" Keduanya mengangguk pelan.
Mama menghembuskan nafasnya pelan sebelum benar-benar melontarkan pertanyaan.
"Apa kalian saling mencintai?"
Arya dan Bella, keduanya benar-benar terdiam dan menunduk, tak ada satupun dari mereka yang berani menjawab pertanyaan dari mama, karena memang alasan mereka ingin menikah bukan dasar karena cinta, tapi hanya karena penasaran saja.
"Iya ma..."
Bella lantas membulatkan kedua bola matanya kala mendengar jawaban Arya yang kini sudah menatap dirinya yang masih terkejut.
"Iya kan la?"
Entah mengapa, saat pertanyaan itu tertuju padanya, Bella sama sekali tidak merespon pertanyaan Arya dengan ucapannya melainkan kepalanya mengangguk tanpa ia sadari. Lantas hal itu membuat Arya tersenyum penuh kemenangan, kini pemuda disampingnya kembali menatap mamanya lagi.
"Bener kan ma? Arya ga bohong!" Bella menatap syok mama yang tersenyum seneng setelah apa ia dengar dari sang anak.
"Memang dari kapan kalian saling mencintai? Kenapa kita tidak tau?" Kini bukan mama lagi yang bertanya, melainkan mamak yang duduk tepat disamping sahabatnya.
Arya ingin kembali menjawab pertanyaan tersebut, namun Bella segara menggenggam lembut tangannya isyarat bahwa biar dirinya yang menjawab pertanyaan tersebut.
Bella tersenyum sebelum menjawab, "tante! Mamak! Bella sama Arya itu memang saling cinta, tapi kita ga mau punya ikatan selain menikah! Terus juga kita masih ingin melanjutkan persahabatan kami seperti sebelumnya, namun apa boleh buat?, Takdir berkata lain, ternyata kami memang harus menjalin sebuah hubungan yang lebih dari kata sahabat..."
Mamak mengangguk paham dengan jawaban Bella begitu juga dengan mama. Mamak ingin kembali melontarkan pertanyaan namun urung saat anak bungsunya Artha datang padanya untuk meminta izin.
"Mamak! Ata main cama bang lafa cama kak menya boyeh?" Minta balita itu dengan suara Cadelnya.
"Iya nak,, tapi hati-hati ya!" Artha mengangguk lalu langsung berlari bergabung dengan dua orang yang lebih tua darinya.
Mama melihat Rayyan yang sedang memakan berbagai makanan yang disajikan dimeja pun ikut bersuara, "Rayyan!" Remaja yang merasa jika namanya disebut menoleh pada sang mama tercinta.
"Dari pada kamu nguping pembicaraan orang dewasa, mending kamu jagain itu anak-anak yang lagi main gih! " Titah mama, Rayyan yang merasa difitnah pun cemberut seketika, padahal ia hanya makan dan makan, tentu sama sekali tidak mendengar apapun pembicaraan para orangtua yang ada dihadapannya, ia hanya makan dan makan .
Tapi walaupun begitu Rayyan tetap berdiri seraya membawa beberapa piring yang berisi kue yang menurutnya enak, "besok uang jajan sekolah kamu mama tambahin..." Seketika wajah murung tadi hilang dan digantikan dengan senyuman cerah seperti dipagi hari, ia berbalik dan memberikan hormat pada mamanya.
"Baik nyonya besar! Laksanakan!" Rayyan beralih menatap mamak, "Tante! Kueh aku bawa yah!" Mamak mengangguk lalu setelahnya semua orang yang masih berada di ruang tertawa kecil karena kelakuan Rayyan yang menurut mereka lucu.
Kini ke-empat nya kembali serius membahas tentang hubungan anak mereka masing-masing.
"Jadi alasan utama kalian ingin menikah apa nak?" Tanya mamak.
"Ci–"
"Takut khilaf Tan!"
Bella, mama dan mamak Otomasi terkejut dengan jawaban Arya, mereka menatap laki-laki itu bingung terutama Bella yang sama sekali tidak paham dengan cara kerja otak sahabatnya ini.
"M-maksud kamu apa nak?" Tanya mama.
Arya tersenyum kikuk seraya mengusap tengkuknya. "K-kan A-arya udah cinta banget sama Bella, terus juga Arya kan udah gede sekarang!, Nah... Jadi Arya takut kalo Arya tidak bisa menahan hasrat Arya untuk tidak bermesraan dengan Bella"
Bella menepuk kuat jidatnya, bukan ini jawaban yang ingin ia dengar, namun lain halnya dengan respon kedua wanita paruhbaya didepan mereka, para wanita itu tampak sama-sama saling melempar senyum dan berakhir menatap Bella dan Arya kembali.
"Okey!! Mamak dan Tante Dewi udah memutuskan untuk merestui kalian berdua dalam menjalin sebuah rumah tangga"
Arya dan Bella sama-sama tersenyum lega, dan keduanya saling melempar senyum senang.
"Kira-kira tanggal berapa mau menetapkan pernikahannya?" Tanya mama.
Arya dan Bella saling menatap. "Secepatnya!"kompak keduanya semangat.
Mamak tampak sedang memikirkan tanggal berapa yang cocok untuk pernikahan anaknya, "gimana kalo bulan depan?" Mama mengangguk setuju dengan pendapat sahabatnya.
"Yah! Itu kelamaan ma!" Arya tampak tak terima.
"Iya bener tuh! Gimana kalo Minggu depan? "
"Ini baru bener! Boleh banget tuh" tambah Arya.
Dua wanita paruhbaya didepan mereka dibuat bingung seketika. "Nak! Kalo Minggu depan itu cepet banget! Kalian belum mempersiapkan apa², gimana sama prewed nya, terus juga harus ada acara resepsi pernikahannya dong Arya! Bella!"
"Ga usah ada resepsi aja Tan! Yang penting udah nikah dulu" -Arya.
"Tapi gue pengen resepsi Arya!" Dalam hal ini Bella tampak tidak sepemikiran dengan Arya.
Arya diam tampak berfikir, " yaudah gimana kalo hari akad dan resepsinya dalam satu hari aja! Biar semua cepet selesai! Pun akad juga ga lama kan!"
Bella tersenyum senang dan membetulkan apa yang dikatakan Arya sambil mengangguk.
Beda halnya dengan para ibu yang akan menikahkan anak-anaknya, keduanya tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka hingga pada akhirnya dua wanita paruhbaya itu memilih untuk mengikuti kemauan anak-anak untuk menikah cepat.
Ketika para orang dewasa sedang membahas tentang pernikahan Bella dan Arya, tiba-tiba terdengar sebuah suara anak-anak yang sangat melengking berasal dari arah taman belakang.
"MAK!!!! BANG RAYYAN GA MAU GANTI RUGI PIRING KITA YANG PECAHHHH........"