Renata mengertakkan giginya dengan geram. Ia sama sekali belum bisa menerima kalau dua orang sohibnya dengan sangat sadar diri malah menjerumuskannya dalam MASALAH BESAR!!! SIALAN!!!! Tapi sekali lagi, ia tak punya pilihan lain… Ia sudah di sini… Dan mau tak mau… ia dengan sangat terpaksa harus mengikuti keinginan sang big boss yang super m***m tersebut. Ughhhhhh!!! Ia hanya bisa menyumpahi serta merutuki nasib buruknya dengan wajah merengut ketika salah satu pelayan lalu menyapanya dengan sangat hormat dalam Bahasa Italia serta mengajaknya untuk mengikuti langkahnya. Renata menurut. Tak lama, sampailah ia di sebuah kamar tidur yang besar. Mata Renata melotot lebar-lebar ketika ia memandang ruangan luas yang besarnya kurang lebih dua kali lipat dari luas apartemen studionya di Jaka

