“ Ayah sangat bahagia!” Seru Hendri mengecup kening Nayara. Air matanya menetes seakan melihat bayangan Khairana tersenyum padanya.
Aku memang tidak bisa menjagamu, tapi aku akan berjanji untuk selalu menjaga putrimu – Hendri
“ Tante.” Nayara ingin mencium tangan Bumi yang langsung berdiri hendak beranjak. Tapi...
“ Mama, berhenti! Nayara istriku sekarang. Terimalah dia!” Pinta Farzan. Bumi tampak memerah, ia tentu sangat marah
“ Ma.”
“ Jangan bermimpi! Aku tidak akan menerima gadis ini di dalam keluargaku. Sampai kapan pun!” Tukas Bumi kemudian melangkah ke luar usai membanting pintu.
Nayara mengambil napas panjang, bagaimanapun ia harus tegar dan siap menerima perlakuan Bumi padanya. Sedikit ngeri sih mengingat ia harus tinggal bersama Bumi sebentar lagi.
“ Nayara, kenapa kau tidak mencium tangan suamimu nak.” Senyum Hendri, wajahnya mulai bercahaya, bahagia.
“ Om Farzan? Gak usahlah ya.”
“ Om? Jangan memanggilnya begitu. Bagaimapun sekarang Farzan adalah suamimu. Pria yang akan melindungimu selamanya. Usia kalian juga cocok. Tidak terlalu jauh.” Tutur Hendri
“ Maaf paman, kebiasaan.” Nara mendekati Farzan, rasanya menyebalkan harus mencium tangan sosok paling songong seantero Jagad raya itu.
“ Nih! Cium bolak balik!” Farzan menyodorkan tangannya. Bisa bisanya ia masih menatap Nara tanpa ekspresi. Terpaksa, Nara mencium tangan itu. Wangi sih, tapi tetap saja gengsi. Urat urat di tangan pria itu benar benar sexi, selain wajah yang tampan, Farzan memang memiliki segala hal yang diidamkan wanita.
“ Melihat kalian seperti ini, ayah jadi ingin pulang. Farzan, katakan pada dokter ayah baik baik saja. Ayah mau pulang saja.” Senyum Hendri senang.
“ Ayah istirahat dulu, aku akan ke ruangan dokter untuk menanyakan kondisi ayah dan menanyakan apakah ayah bisa dirawat di rumah saja.” Farzan melangkah ke luar tanpa basa basi.
Nara mengejarnya ke luar. Menarik ujung kemeja Farzan untuk menghentikan langkahnya ( Gengsi kalau langsung memegang tangannya )
“ Om, aku pulang dulu ya. Aku harus mengabari seseorang dan membereskan semua pakaianku. Setidaknya butuh waktu 2 hari untuk bersiap siap.” Alasan Nara
“ Panggil kak Farzan. Kau bisa memanggil pria itu dengan sebutan kakak, kenapa aku tidak.” Tekan Farzan
Nara mengembungkan pipinya kesal
“ Dia jauh lebih muda darimu.” Belanya
“ Kau tidak perlu pulang! Aku sudah membereskan semuanya. Riko sudah mempacking semua baju dan apa yang ada di rumahmu. Lagi pula barang barangmu tidak seberapa.” Ujar Farzan membuat Nara berkacak pinggang
“ Om eh kak, ini ke dua kalinya ya.. kau masuk ke rumahku tanpa izin dan mengambil semua barang barangku. Di situ ada BH, Celana dalam, bahkan pembalut. Kenapa sih kau tidak pernah meminta izin saat melakukan sesuatu hah!! Aku ini cewek loh, setidaknya pikirkan rada maluku.” Marahnya yang hanya mampu membuat Farzan menatapnya dingin
“ Terus?”
Hanya itu yang terucap dari bibir Farzan setelah Nara mengomel panjang lebar.
“ Tahu ah om gelap!” Celetuk Nara kemudian duduk dengan pipi mengembung kesal.
Farzan pun seolah tanpa rasa bersalah pergi begitu saja ke arah lobi. Tidak punya perasaan peka sedikit pun.
Tapi setibanya di sana...
Kening pria itu mengernyit melihat siapa yang tampak tengah mendaftar janji temu dengan dokter. Itu Eliana, kenapa Eliana pergi ke rumah sakit? Ingin rasanya Farzan bertanya, apalagi saat melihat ada luka di sudut bibirnya. Walaupun luka luka lebam lainnya bisa ia tutupi dengan make up. Eliana pun salah tingkah melihat mantan kekasihnya di tempat itu.
Farzan dengan santainya menemui resepsionis dan menanyakan tentang administrasi ayahnya. Seolah Eliana sama sekali tidak menarik perhatiannya.
“ Farzan, paman sakit?” Tanya Eliana menghadang
“ Bukan urusanmu.” Jawab Farzan dengan tatapan sinis
“ Aku terjatuh tadi. Jadi beberapa bagian tubuhku terluka, tapi aku tidak apa apa. Besok juga sudah mulai bekerja lagi.” Tutur Eliana dengan mata berkaca kaca. Berharap pria itu simpati padanya.
Tapi...
“ Oh.” Hanya itu jawaban Farzan, pemuda itu hendak beranjak. Tapi...
“ Kau tidak peduli padaku?” Eliana memegang tangan Farzan. Ekspresinya langsung berubah melihat cincin yang tadi disematkan Nayara di jari manis pria itu. Cincin pernikahan.
“ Ini...?” Eliana tidak mau menebak. Ia tidak ingin terluka dengan jawaban yang mungkin tidak ia inginkan. Melihat ekspresi sedih di wajah Eliana, Farzan mengulas senyum. Iya memandang wajah cantik Eliana yang sepertinya ingin segera menghindar
“ Aku tidak menanyakan kondisimu jadi kau tidak perlu repot repot menjelaskan. Baguslah jika kau baik baik saja, besok ada klien penting dan besar yang harus ditemui. Permisi.” Ujar Farzan kemudian berlalu begitu saja.
“ Nona Eliana, silahkan ke ruangan dokter.” Tutur perawat memanggil. Eliana masih mematung menatap punggung Farzan yang semakin menjauh
Cincin apa itu?
Apa mungkin mereka sudah menikah?
Kenapa rasanya sangat sakit?
Aku ingin tahu yang sebenarnya, tapi aku juga tidak akan bisa menerima kenyataan jika memang seperti itu adanya.
“ Nona Eliana...” Sapa suster menepuk pundaknya lembut.
“ Ah iya. Maaf suster saya tidak mendengarnya.” Ucap Eliana pasi.
Eliana harus memeriksakan dirinya untuk kekerasan s****l yang baru saja ia alami. Ia tidak ingin terjadi hal buruk yang tidak diinginkan, apalagi kehamilan. Setidaknya, Eliana masih bisa mengejar karier dan cinta Farzan. Syukurnya, pemeriksaan dokter baik baik saja, ada obat pencegah kehamilan yang masih bisa dideteksi dari darahnya. Mungkin sebelum dipaksa, seseorang telah mencekoki dirinya dengan pil kontrasepsi. Setidaknya, Eliana masih bisa bernapas lega. Walaupun ia merasa begitu kotor dan hina.
Usai memeriksakan diri, Eliana kembali menemui resepsionis. Ia memberanikan diri bertanya di mana ruangan Hendri Adikara dirawat.
Tidak ada yang tahu apa yang ia alami semalam bukan, Eliana masih bisa mengambil hati Bumi. Bumi yang selalu melihat dirinya begitu sempurna. Eliana pun menarik napas panjang kemudian melangkah menuju lift, mencari ruangan Hendri Adikara. Ya, ia harus memberanikan diri. Dilihat dari mana pun, Eliana dan penampilannya masih jauh lebih pantas dari pada Nayara.
Benar saja, sesampainya di sana, Eliana melihat Bumi di depan ruangan tengah memijit pelipisnya. Ia terlihat sangat tertekan.
“ Tante.” Sapanya dengan suara lembut nan sopan
“ Eli? Ya ampun... Kamu di sini?” Bumi langsung berdiri memeluk menantu idamannya itu
“ Iya tante, tadi malam aku jatuh dan beberapa tubuhku memar, jadi aku memeriksakan diri ke rumah sakit. Tanpa sengaja tadi melihat Farzan. Eliana langsung menebak, mungkin kondisi paman Hendri sedang tidak baik.” Tutur gadis itu beralasan.
“ Bukan kondisi pamanmu yang kurang baik, tapi kondisi mental tante yang hampir gila. Kau tahu, gara gara pamanmu itu, Farzan terpaksa menikahi Nara barusan. Bagaimana tante bisa hidup tenang setelah ini.” Cerita Bumi dengan mata berkaca kaca
Mendengar itu, tangan Eliana gemetar, napasnya tidak beraturan, air matanya langsung meleleh turun, hatinya terasa sakit mendengar kenyataan itu.
Farzan menikahi Nayara? Mimpi buruk mana yang lebih mengecewakan dari ini?
“ Farzan setuju tante?” Tanyanya getir. Ia bahkan terduduk lemas di bangku tunggu, ingin berteriak tapi ia bahkan tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun lagi. Semua kenangan indah bersama Farzan seakan tergambar kembali di benaknya. Membuatnya meneteskan air mata
“ Sayang, kamu jangan sedih ya. Tante akan berusaha memisahkan Farzan dari gadis itu.” Bumi berusaha membelai punggung Eliana yang menangis
“ Farzan menikah tante. Farzan menikah.” Hanya kata kata itu yang berhasil meluncur dari bibir mungil Eliana, ia terus menangis, rasanya begitu menyakitkan melihat orang yang paling dicintai selama puluhan tahun justru menikah dengan orang lain. Apakah ini balasan Eliana karena dulu meninggalkan Farzan tanpa memberikan penjelasan?
“ Sayang, Farzan memang sudah menikah. Tapi gadis itu sama sekali tidak pantas untuknya nak. Dia kalangan bawah, dia tidak berkualitas, berbeda denganmu yang berasal dari keluarga baik baik dan terhormat. Dia tentu tidak bisa menjaga dirinya selama ini, bagaimana bisa gadis tidak bermoral sepertinya masuk ke dalam keluarga Adikara. Yang pantas itu Cuma kamu, Eliana. Tidak ada yang lebih terhormat dan pantas selain dirimu.” Puji Bumi menenangkan.
Mendengar pujian itu, Eliana terdiam. Tangannya meremas rok dan benaknya langsung mengingat kejadian semalam. Apakah Bumi akan menerima dirinya jika tahu apa yang sudah terjadi?
Eliana rasanya jauh lebih tidak pantas untuk Farzan
“ Eli, kamu tidak akan menyerah kan? Kamu masih akan memperjuangkan Farzan kan?” Tanya Bumi khawatir melihat kebungkaman gadis di sisinya
Eliana menghela napas, lagi pula kejadian semalam kan bukan kemauannya. Pria pria itu juga pasti tidak akan lagi muncul dalam kehidupannya. Maka dengan rasa percaya diri, ia mulai mengangkat dagu, menatap Bumi dan menyeka air matanya
“ Eliana sangat mencintai Farzan tante. Selama masih ada kesempatan, Eliana tidak akan menyerah. Benar, kata tante. Nayara tidak pantas bersanding dengannya.” Ujarnya membuat Bumi bangga.
“ Kalau begitu, ayo masuk. Bukankah kau ingin menjenguk Hendri?” Ajak Bumi menarik lengan Eliana lembut agar berdiri. Eliana pun mengulas senyum, ia hendak memegang knop pintu ruangan Hendri. Sebelum...
“ Kau mau ke mana?”
Deg
Seseorang menahan lengannya. Rasa senang bercampur tegang membiak di hati Eliana melihat Farzan berdiri dengan tatapan nyalang ke arahnya.
“ Aku ingin menjenguk paman Hendri.” Jawab Eliana tenang.
“ Ayah sedang beristirahat. Dokter juga memintanya untuk tenang. Jangan mengganggunya!” Tukas Farzan masih dengan nada dingin. Seakan tidak pernah ada hubungan apa pun diantara mereka.
“ Farzan, dia hanya ingin menjenguk ayahmu. Biarkan saja. Lagi pula mereka sudah lama kan tidak bertemu. Ayahmu pasti senang mendengar Eliana sekarang bekerja di kantor kita.” Bumi mencoba mencairkan hati putranya. Tapi, bukan Farzan namanya kalau bisa dengan mudah dibujuk. Ia justru menarik lengan Eliana kasar menjauh dari ruangan ayahnya
“ Sampai kapan aku harus berkata padamu! Jangan mendekati keluargaku lagi! Aku sudah menikah, jadi jangan pernah muncul lagi selain dalam urusan kantor. Kau mengerti?” Tekannya dengan urat leher menegang
“ Farzan, tidak bisakah kita berteman?” Eliana masih berusaha bertahan. Meskipun hatinya sudah merasa nyilu dan bola matanya memerah
“ Berteman? Lihat ini!” Farzan menunjukkan cincinnya
“ Seorang pria yang sudah menikah tidak bisa berteman dengan perempuan lain. Seperti yang kau tahu, aku sangat setia dan menghargai sebuah hubungan. Tidak seperti orang yang mudah pergi lalu menghilang.” Sindir pria itu dengan tatapan marah. Eliana menunduk
“ Aku tidak pernah meninggalkanmu Farzan, aku terpaksa.” Gumamnya sedih
“ Pergi!” Tunjuk Farzan
“ Aku hanya ingin mengunjungi paman.” Pinta Eliana
“ Per gi!” Tekan Farzan sekali lagi.
Eliana menahan air matanya kemudian berlari pergi. Apakah kesempatan itu sudah tidak ada lagi untuk dirinya?
Nayara yang tanpa sengaja melihat hal itu hanya bisa menghela napas panjang, ia kemudian memasuki ruangan Hendri dan memilih untuk tidak ikut campur urusan suaminya.
“ Farzan di mana?” Tanya Hendri pucat
“ Masih di luar bersama tante Bumi.” Jawab Nayara sungkan
“ Mama, panggil dia begitu. Sekarang dia adalah ibumu.” Hendri memegang tangan Nayara yang hanya bisa mengangguk mengiyakan
Bagaimana bisa ia memanggil mama pada Bumi yang selalu menganggapnya musuh?
Sementara itu...
Di sana...
Eliana menahan dadanya yang terasa sesak dengan air mata, ia menghentikan langkah di halaman rumah sakit dan menangis sekuat tenaganya. Tak peduli banyak orang yang melihat, rasanya hatinya sangat patah. Eliana benar benar merasa sakit dengan sikap Farzan tadi, rasanya, ia begitu menderita. Tidak seharusnya dulu Eliana meninggalkan Farzan, seharusnya ia menjelaskan semuanya dan membuat Farzan mengerti. Bahkan Eliana pergi bukan tanpa alasan. Sekarang dunia Eliana terasa sangat hancur. Satu satunya orang yang menjadi tujuan hidupnya, justru menjadi milik orang lain.
Seberkas ingatan kembali menyeruak dalam memorinya. Kenangan saat Farzan bahkan mengejarnya ke bandara. Farzan begitu mencintai dirinya, ia bahkan rela menerobos masuk ke dalam bandara, mencari Eliana dengan wajah memerah dan penampilan yang berantakan.
“ El jangan pergi. Aku sangat mencintaimu. Jika ada masalah kita bisa membicarakannya kan? Aku mohon tetaplah di sini!” Pinta Farzan kala itu.
Eliana hanya bisa menatapnya teduh dan berkata...
“ Kita tidak mungkin bersama Farzan, lupakan aku. Aku harus pergi.”
“ Aku ingin pergi bersamamu, kemanapun yang kau mau.”
“ Tidak Farzan. Mama menjodohkanku dengan orang lain dan aku sudah menyetujui hal itu. Hubungan kita sudah berakhir. Aku harap kau bisa menerima hal itu. Lupakan aku!”
Eliana meninggalkan Farzan, ya, pergi yang ia selalu seumur hidupnya.
“ Seandainya kau tahu alasanku pergi saat itu. Seandainya kau mengerti.” Isak gadis itu
Betapa berantakannya Eliana karena menangis sejadi jadinya di halaman rumah sakit. Hingga...
“ Hapus air matamu!” Perintah seseorang menyodorkan tisu ke hadapannya. Eliana sesenggukan menatap sosok itu.
“ Hapus! Jangan menangis di sini atau semua orang akan mengira keluargamu baru saja meninggal.” Senyum orang itu dingin.
Sosok yang tak lain adalah... Vendra
Apa yang sebenarnya diinginkan Vendra?