Rasanya Sakit...

1970 Words
Crash “ Om!” Teriak Nayara saat tiba tiba Farzan merampas foto itu darinya lalu merobeknya begitu saja. Nara gemetar melihat kemarahan suaminya yang datang datang langsung menyambar foto itu dan merobeknya. “ Berhenti berduka untuk ibumu. Dia sudah mati! Ikut aku sekarang!” Farzan menarik lengan Nara ke kamarnya lalu mendorongnya kasar ke ranjang “ Mulai detik ini aku tidak ingin mendengar apa pun tentang ibu atau keluargamu. Kau harus ingat! Aku Farzan Adikara, bukan Hendri Adikara yang begitu lunak padamu.” Farzan menaiki ranjang itu lalu mencengkram dagu Nayara kasar. Membuat gadis itu meringis meneteskan air mata. Emosi telah membuat Farzan gelap mata “ Kenapa?” Tanya Nara gugup. Bagaimana tidak, Farzan tepat berada di atasnya, menatapnya tajam dan penuh emosi yang bahkan Nara sendiri sebenarnya tidak tahu apapun. “ Kenapa katamu? Ini perintahku! Dan aku tidak suka dibantah!” Jawab Farzan kemudian menghempas dagu Nara kasar. Ia menuruni ranjang, meraih pakaian dan segera ke kamar mandi. Meninggalkan Nara yang mematung menerima sikap kasar Farzan. “ Apa karena ayahmu sangat mencintai ibuku?” Tanyanya dengan suara pelan yang seketika membuat Farzan langsung ke luar dari kamar mandi dan menatapnya tajam “ Jaga bicaramu!” “ Aku bisa melihat dengan jelas cinta itu di matanya. Saat ayahmu bercerita tentang ibu, dia sangat mencintai ibu. Apa kau marah karna itu?” “ SUDAH KU BILANG DIAM!” Teriak Farzan yang langsung mendekati Nayara, dan... Plak Tangannya gemetar usai menampar wajah gadis itu keras. Untuk pertama kalinya, Farzan memukul seorang wanita. Ia bahkan menarik rambut Nayara kasar hingga kepalanya terdongak menahan pedih “ Bayangan ibumu telah merampas masa kecilku. Sekali saja kau menyebutkan kata ibu lagi. Aku bersumpah akan membuatmu menyesal seumur hidup!” Ancamnya Ya, malam itu, Nara tidak bisa memejamkan mata. Ia menangis sembari menyusun kembali foto ibunya yang dirobek Farzan setelah Farzan tertidur. Menyimpannya di balik baju, mata indahnya terpejam menahan nyeri di sudut bibir dan hatinya. Baru ia mengerti, mengapa sikap Farzan sekasar itu. Mungkin, Hendri tidak cukup memberinya kasih sayang. Nara menatap punggung Farzan yang sebenarnya juga tidak terlelap. Esok paginya... “ Farzan, sarapan dulu!” Teriak Bumi saat melihat putranya terburu buru ke kantor dengan wajah pucat. Farzan tidak mendengarkan, ia terus melangkah menuju mobilnya dan hendak melaju... Sebelum... Tok tok tok Pintu mobilnya diketuk, terlihat Nayara mengulas senyum dengan penampilan rapi dan tas di tangan. Gadis itu memang cantik, jika ia mirip dengan ibunya sebenarnya wajar, Hendri tidak bisa melupakan. “ Om buka om!” Teriaknya. Ceria seperti biasanya, seakan tidak terjadi apapun semalam. Farzan menurunkan kaca mobil “ Boleh aku ikut? Aku ada kelas dan hampir terlambat. Arah kita sama kan?” Senyumnya tulus Farzan tak mendengarkan, ia tidak sudi satu mobil dengan Nara. “ Om aku istrimu kan? Setidaknya jangan biarkan aku naik angkot. Kalau harus menunggu aku bisa ketinggalan pelajaran.” Bujuknya. Tapi... Brum... Farzan menyalakan mesin mobil dan melaju begitu saja. Membuat Nayara mengumpatnya kesal. “ Sabar Nara... Sabar... Es kutub utara juga lama lama bisa mencair bukan.” Gumamnya pada diri sendiri kemudian melangkah gontai ke luar dari halaman. Nara terpaksa berjalan kaki sambil sesekali memanggil taxi yang hanya berlalu. Namun... Tiiitttt Senyum mengembang di bibirnya saat salah satu mobil Farzan menepi, terlihat Riko turun lalu membukakan pintu. “ Pak Riko, bagaimana bapak bisa tahu saya membutuhkan tumpangan?” Tanya Nara “ Oh barusan tuan Farzan menelfon non, meminta saya untuk mengantarkan non Nara ke kampus. Mari non!” Ajaknya. Entah kenapa, Nara mengulas senyum mendengar hal itu. “ Farzan ternyata perhatian juga.” Gumamnya memasuki mobil. “ Non bibirnya kenapa lebam?” Tanya Riko “ Oh ini? Kejedot meja pak. Maklum, saya hiperaktif.” Dalih Nara. Padahal ia sudah berusaha menutup lebam itu dengan foundation, tapi tetap saja terlihat. “ Yang sabar ya non. Tuan Farzan itu belajar mandiri dari kecil, dia memang keras, tapi dia juga sangat baik. Waktu akan membuatnya luluh.” Tutur supir itu seakan mengerti Nayara hanya mengulas senyum menimpali Ya, semoga saja Sementara di sana... Farzan bergegas ke luar dari mobil setibanya di kantor. Eliana sudah menyambutnya di ruang kerja “ Farzan, kau kenapa? Wajahmu sangat pucat.” Tanyanya hendak menyentuh. Tapi, Farzan menepis tangannya “ Mana proposal yang akan di bawa untuk meeting siang ini? Klien sudah menunggu di kantornya. Ingat, meeting ini sangat penting. Bulan lalu perusahaan ini mengalami sedikit kerugian. Jika ini deal maka perusahaan ini akan sangat diuntungkan.” Celetuk Farzan mengalihkan pembicaraan. Eliana mengerti, ia kemudian menyerahkan proposal di tangannya “ Apa kau begitu menginginkan kerja sama dengan perusahaan itu?” Tanyanya mencoba mencari celah pembicaraan. “ Ya, sangat.” Jawab Farzan dingin kemudian menatap lembaran lembaran proposal di mejanya “ Kalau begitu, aku pasti bisa menarik perhatian mereka untuk mendapatkannya.” Senyum Eliana, dan.. no respon, Farzan masih tetap fokus. Usai jam makan siang... Eliana sengaja menemui Farzan untuk mempersiapkan meeting. “ Farzan.” Cegatnya saat pria itu hendak beranjak “ Boleh aku ikut di mobilmu saja? Mobilku ada di bengkel.” Tanyanya membuat Farzan mengambil napas panjang. Bukannya tidak tahu, Eliana mungkin sengaja melakukan hal itu demi menarik perhatian. Dan tidak ada alasan untuk menolak, ini soal pekerjaan. Benar saja, sepanjang perjalanan, Eliana hanya fokus memandangi Farzannya. Ia terlihat semakin gagah dan tampan. Sesekali Eliana mengulas senyum saat mengingat masa lalu. Ingin rasanya ia mengulang semua itu, memeluk dan mencium sosok yang sangat ia cintai. Tapi keadaan membuatnya harus bersabar, Farzan tidak akan mau mendengarkan saat ia dalam kondisi emosi 30 menit lamanya menyetir, akhirnya mereka sampai di halaman sebuah perusahaan yang lumayan ternama di kota itu. Sangat megah dan menjulang kokoh. Ya, perusahaan itu milik Tuan Hanum, pebisnis besar dan sukses. Kehadiran Farzan langsung menjadi pusat perhatian beberapa karyawan wanita di sana. Seperti biasanya, Eliana sengaja berjalan di sisinya agar semua wanita itu tahu, hanya kecantikan Eliana yang serasi dengan Farzan. Tapi, setibanya di ruang meeting... Saat sekretaris pribadi tuan Hanum mengantar ke ruangan khusus tempat tuannya menunggu, dan baru saja membuka pintu... Langkah Eliana tiba tiba terhenti, wajah cantiknya berubah pucat. Bagaimana tidak, sosok pria yang 2 hari lalu menyiksa dan bermalam dengannya tampak tersenyum menyambut. Eliana sempat berpikir, ia tidak akan mungkin bertemu dengan sosok itu lagi. Tapi sayangnya, takdir justru mendorongnya semakin dekat. “ Silahkan masuk tuan Adikara, saya dan staf pribadi sudah menunggu anda.” Sambutnya sangat berwibawa dan begitu ramah. Melihat Eliana yang mematung bagai mayat hidup, kening Farzan mengernyit “ Ada apa? Ayo masuk! Jangan membuat pak Hanum menunggu!” Perintah Farzan, memaksa Eliana masuk. Terpaksa, gadis itu melangkah, walau hatinya sangat tertekan dan trauma. Bagaimanapun Eliana saat ini berhadapan dengan orang yang telah melecehkannya dan ia terpaksa harus berpura pura tidak terjadi apapun diantara mereka demi Farzan. Ya, sosok itu tidak lain adalah tuan Hanum. Sepanjang pertemuan, Eliana bersikap aneh, ia sedikit kaku dan gugup, pandangannya juga selalu tertunduk. Hingga hasil akhir menjadi tidak maksimal. “ Saya senang anda menghubungi saya untuk bertemu tuan. Sudah lama saya ingin menghubungi anda tapi rasanya belum ada jalan.” Farzan menjabat tangan sosok yang lebih tua dari ayahnya itu “ Saya tertarik setelah keponakan saya memberikan penjelasan tentang perusahaan anda. Tapi sepertinya meeting ini tidak berjalan baik, sehingga saya harus berpikir ulang untuk memberikan keputusan. Kondisi sekretaris anda juga sepertinya sedang kurang baik. Apa dia baru belajar?” Tanya tuan Hanum menyindir. Farzan menatap Eliana tajam. Sementara Eliana masih tertunduk dengan tatapan sedih. “ Dia sedang sakit usai terjatuh dua hari yang lalu.” Tutur Farzan “ Aa terjatuh rupanya. Hati hati nona muda, jangan sering terjatuh atau kondisi anda tidak akan terlihat baik.” Tutur Tuan Hanum menyodorkan tangan ingin menjabat Eliana. Tapi... “ Aku tidak bisa melakukan hal ini!” Tekan Eliana tanpa diduga kemudian berlari ke luar. “ Tolong maafkan sikap sekretaris saya. Saya permisi dulu, senang bertemu dengan anda.” Tutur Farzan kemudian bergegas pergi. Meninggalkan pria tua yang hanya bisa mengulas senyum seraya meraba jenggotnya yang hampir memutih Usai bertemu dengan Farzan, sosok itu kemudian melangkah tegap kembali ke ruangannya. Anehnya, ia berhenti di depan pintu lalu bertanya pada pria berpakaian serba hitam yang tampak berjaga “ Dia ada di dalam?” “ Iya tuan, Tuan muda sudah menunggu.” Maka dengan cepat, tuan Hanum mengetuk pintu dan membukanya. Tampak Vendra tengah duduk di kursi kebesaran seraya menyesap segelas wishky, tersenyum menyambut kedatangannya. Ya, Navendra, sepupu Nayara. Bisa ditebak, ia pasti terlibat. “ Paman, apa kau sudah menemui mereka?” Tanyanya mengangkat sebelah alis “ Ya, dan gadis itu berada di sana bersama Farzan Adikara. Kapan paman bisa bermalam dengannya lagi?” Tanya tuan Hanum tidak sabar. Mendengar itu, Vendra berdiri melangkah mendekati pamannya lalu menepuk pundaknya pelan. “ Dia akan menghubungimu, lebih cepat dari apa yang kau duga paman.” Ucapnya tenang “ Kenapa kau meminta paman berpura pura menjadi pemilik perusahaan ini? Ini semua milikmu. Kau bisa mengakuinya jika kau mau.” Tanya sosok tua itu heran Vendra melangkah ke arah jendela, menatap langit lepas kemudian menghela napas panjang. “ Suatu hari paman, suatu hari kau dan semuanya akan tahu. Mengapa aku melakukan semua ini.” Tuturnya getir. Benar, suatu hari... Saat kebenaran harus terungkap Dan apa yang seharusnya terjadi, akan terjadi Selama itu belum terlaksana, aku ingin terlihat biasa saja. Di luar sana, berkali kali Farzan memukul bangku setir. Ia marah, sangat marah dengan sikap Eliana yang bahkan hanya diam tak menjawab apapun di sisinya. Bagaimana akan menjawab? Jika Eliana jujur, Farzan mungkin akan merasa sangat jijik padanya. Jika ia berbohong, ia akan semakin tertekan. “ Ada apa dengan dirimu? Jika kau marah padaku! Kenapa kau ingin menghancurkan apa yang aku bangun? Jika memang tidak bisa, kenapa kau memaksakan diri menjadi sekretarisku hah? Ada apa denganmu? Tuan Hanum itu adalah puncak karir bagiku. Kau mengerti itu? Percuma saja! Kau memang tidak pernah berusaha mengerti perasaan orang lain bukan?” Bentak Farzan geram “ Maafkan aku.” Hanya itu yang bisa Eliana ucapkan “ Maaf? Kau pikir aku ingin maafmu? Aku ingin kerja sama ini. Tidak mau tahu apapun caranya, hubungi tuan Hanum dan meminta maaf padanya. Jika dia membatalkan kerja sama ini. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!” Ancam Farzan “ Farzan.” Eliana berkaca kaca menatap sosok itu. Farzan acuh, ia langsung menyalakan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan penuh. Farzan bahkan tidak bertanya, apa yang terjadi hingga Eliana bersikap seperti itu. Seakan, Farzan memang sudah tidak perduli lagi dengan dirinya. Flash Back 11 tahun yang lalu... “ Eliana, kau bisa menjelaskan materi di depan?” Tanya guru yang tengah menjelaskan pelajaran. Eliana tampak terdiam, entah kenapa, ia merasa sangat pusing, tubuhnya panas dan perutnya terasa begitu sakit. “ Eliana? Kau baik baik saja?” Tanya guru itu lagi “ Bu, bolehkan saya izin ke toilet sebentar?” Tanya Eliana pucat Guru itu pun mempersilahkan. Eliana melangkah terhuyung ke luar ruangan, seluruh dunia terasa berputar, entah apa yang terjadi padanya. Ia bahkan merasa hampir tidak bisa mengangkat kaki. Dan saat Eliana hampir terjatuh, tiba tiba seseorang menggendong tubuhnya. “ Kau baik baik saja kan?” Tanyanya yang ternyata Farzan. Ya, Farzan juga ikut ke luar dari kelas, menyusulnya. Eliana tersenyum senang, ia menggeleng pelan. “ Jangan sakit, kalau kau sakit, aku bisa ikut sakit. Ayo! Aku akan mengantarmu pulang.” Tuturnya “ Tapi Farzan, bagaimana dengan materi try out yang akan disampaikan nanti?” Tanya Eliana cemas “ Aku juga belum minta izin pada guru.” “ Sudahlah jangan pikirkan hal itu. Aku akan menjelaskannya padamu. Kalau mau aku juga bisa mengirim guru les pribadi untukmu. Yang terpenting bagiku sekarang adalah kesehatanmu. Eliana yang ku sayang.” Senyum Farzan begitu manis. Senyum yang bahkan masih membekas saat ini Eliana hanya bisa terisak mengenang semua itu. Dan sekarang, Farzan justru memperdulikan segala hal kecuali dirinya. Hal itu sangat menyedihkan bukan. Berada di tempat yang sama... Dengan orang yang sama... Dengan kenangan yang sama... Tapi perasaan yang berbeda... Bukankah itu sangat menyedihkan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD