“ Tuan Hendri sudah lama mengetahui dirinya mengidap penyakit ini, tapi ia tidak mau seorang pun dari keluarganya diberi tahu. Saya mohon maaf, anda harus tahu dengan cara seperti ini nyonya.” Tutur dokter pribadi mereka usai memeriksa Hendri. Bumi menangis lepas, ia sampai tak sanggup berpijak dan terduduk di ruang tunggu. Sebaliknya, Farzan mematung tegang, wajahnya terlihat benar benar pucat. Jadi, kenangan kemarin di ulang tahun ayahnya adalah kenangan yang mungkin akan menjadi yang terakhir? Tanpa sadar, bola matanya meneteskan air mata melihat sosok ayahnya sedang berjuang bertaruh nyawa di dalam ruangan sana. “ Apa tidak ada harapan untuk sembuh dok? Apa pun asal saya lakukan asal ayah saya bisa disembuhkan.” Pinta Farzan Dokter itu menggeleng pelan. Mengisyaratkan kekecewaan ya

