Brak Nayara langsung berdiri dari duduknya melihat kehadiran Farzan di sana. Navendra mengulas senyum meletakkan panecake di tangannya ke atas meja, melipat tangannya di depan d**a kemudian menatap kakaknya itu dingin. Anehnya, tidak ada ekspresi marah di wajah Farzan, ia justru terlihat tenang. Jauh dari apa yang Vendra bayangkan. “ Kak Farzan... A..ku.” Nayara tidak bisa meneruskan kata katanya karena Farzan memintanya diam dengan meletakkan telunjuk di bibir. Ia melangkah santai ke hadapan Navendra. “ Aku menerima syarat yang kau ajukan pada Nayara, bukankah kau mau tinggal di sini? Kau boleh tinggal di sini Semaumu. Tapi sekarang, ikut denganku dan penuhi janjimu juga untuk menolong Mama. Nayara juga akan ikut agar kau tidak macam macam dan mengingkari janji.” Tuturnya yang seketika

