Sudah berhari hari Vian merenung setelah perkelahianya dengan Jayden, terus berdiam diri dan merenung yang Vian lakukan.
Mencoba melawan rasa takut dan masa lalu?
Bisakah Vian melakukan hal yang sangat sulit itu?
Vian dibuat bingung, ini bukanlah perkara mudah menghilangkan benci dan trauma pada dirinya.
Semua permasalahn ini membuatnya seakan ingin menyerah, waktu yang diberikan mommy nya tinggal beberapa hari lagi, dan keputusan apapun belum Vian ambil.
Mau menjalaninya atau melupakannya.
Jika Vian sedang merenung dan menentukan pilihan, lain dengan Jayden yang terdiam dalam rasa bersalah.
Jayden sadar ia terlalu keras pada Vian, tidak seharusnya ia meninggikan suara pada Vian. Mate nya itu masih labil, harusnya Jayden bersikap dewasa menyikapi tindakan Vian, bukanya terbakar cemburu yang membuatnya kehilangan kontrol.
Apalagi nasehat Emma yang seakan menamparnya.
"Bersikap dewasa son, jangan terpancing emosi, coba mengerti terlebih dahulu sebelum kau meninggikan suara mu padanya!"
Ya....apa yang dikatan Emma benar, seharusnya ia tidak terpancing emosi dan kasar pada Vian.
Tok...tok..tok...
Billy masuk sebelum Jayden mempersilahkanya.
"Apa yang kau lamunkan Alpha?"
Billy menghempaskan tubuhnya pada single sofa. Billy menyodorkan sebuah undangan pada Jayden.
Tertera nama salah satu kolega kerja Jayden, Mr. Gesto salah seorang yang sering bekerja sama dengan perusahaaan Jayden.
"Cobalah ajak Baby ke pasta itu, sejak beberapa hari kemarin Baby selalu mengurung diri dikamar. Baby pasti bosan, coba perbaiki hubungan mu dengan Alpha"
Jayden menatap tajam Billy, aura mengerikan menyeruak dari tubuhnya.
Billy samapai merinding merasakanya, apa perkataannya salah? Bukankah Billy malah baik memberikan nasehat dan jalan keluar.
"Apa?" Tanya Billy takut takut, Billy lebih memilih berhadapan dengan anacconda dibanding dengan Jayden yang seperti ini.
"Baby heh?" Ucap Jayden dengan nada sinis
Gluk...
Julukan pecemburu berat tepat disematkan pada Jayden, Billy juga salah mengikuti panggilan Ken pada Vian.
"Aku hanya mengikuti panggilan Ken pada Luna, jangan salah sangka dulu. Bukankah nama lengkap Luna babyta Vivian Margaret?"
"Aku pastikan mulut mu akan terkatup selamanya sekali lagi kau memanggilnya seperti itu"
Billy mengguk patuh, bukannya apa apa. Membuat Jayden mengamuk bukanlah perkara baik, bukanya ada pepatah yang mengatakan marahnya orang diam lebih seram dibanding boneka Annabelle.
"Satu lagi Jay, ada yang ingin aku sampaikan, se-"
"Jika yang kau bawa kabar buruk lebih baik pending dulu, aku sedang dalam keadaan tidak berminat"
Potong Jayden cepat sebelum Billy menyelesaikan ucapanya.
"Ini bukan kabar buruk tapi juga kabar baik, ya...bisa dibilang tergantung bagaimana kau menyikapinya berita ini akan menjadi buruk atau tidak
"Se-"
Billy menatap tempat Jayden duduk tadi, sudah kosong. s****n sekali ditinggalkan ketika sedang berbicara, cih...lihat saja akibat Jayden menolak mendengarkab berita yang ia bawa.
Jayden membuka pintu dengan pelan, menatap punggung Vian yang membelakai pintu sedang berdiri di balkon.
Diperhatikanya lamat lamat punggu mungil itu, terlihat tegas tapi rapuh. Vian rapuh dengan segala kenangan gelapnya.
Didekati perlahan Vian, melingkarkan tangannya pada pinggang ramping itu.
Tubuh Vian terasa kaku diawal tapi selang beberapa detik kembali rilex.
"Maaf" ucap Jayden teredam karena ia memposisikan wajahnya pada leher Vian.
"Maaf sudah meninggikan suara pada mu, aku salah"
Tidak ada balasan dari Vian, hanya usapan pada tangan Jayden.
Jayden tersenyum, semakin menenggelamkan wajahnya pada leher Vian.
Jayden mengangkat wajahnya dari leher Vian saat mendengar helaan nafas dari bibir Vian.
"Kau bosan?"
"Hm"
"Mau keluar bersama ku?"
Vian membalikan tubuhnya tapi masih dalam pelukan Jayden, sekarang mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Kemana?"
"Ke tempat yang aku jamin kau akan merasa tidak sendiri"
"Apakah ada jaminannya?"
"Ya....kau boleh menciumku sampai kehabisan nafas jika aku berbohong"
Jayden tersenyum ketika mendapat tatapan mendelik dari Vian, keadaan mulain kembali seperti awal.
"Aku tidak pergi"
"Kenapa?! Ayolah....aku tau kau bosan, nanti aku akan memerintahkan maid untuk menyiapkan gaun untuk mu"
"Hm, baiklah"
Jayden tersenyum senang lalu mengecup singkat bibir Vian yang lama ia damba, manis dan kenyal.
Jayden ingin mengunpat dan membasmi seluruh maid yang ada dipack house, berani sekali mereka memberikan gaun yang sexy pada mate nya.
Lihat sekarang Vian menjadi pusat perhatian para tua bangka berperut buncit dan berkepala botak.
Gaun merah sexy tampa lengan memperlihatkan bahu mulus Vian yang seharusnya hanya Jayden yang menikmatinya.
Jika tidak melihat Mr. Gesto yang mengundangnya, mungkin Jayden sudah pergi sejak tadi dari pesta itu dan menyeret Vian lalu mengurungnya didalam kamar.
Jayden memeluk erat pinggang Vian, menatap tajam siapapun yang tertangkap basah tengah menatap Vian dengan padangan b*******h.
"Selamat malam Mr. Gesto" sapa Jayden pada pria paruh baya yang masih terlihat gagah diusia setengah abad nya itu.
"Selamat malam juga Mr. William, aku senang kau datang, dan siapa ini" Mr. Gesto tersenyum tulus sambil menatap Vian yang terlihat kiku di samping Jayden.
Jayden tersenyum lebar "Calon istriku" ucap Jayden penuh dengan kebanggan.
Mr. Gesto tertawa renyah melihat binar kebahagian dimta Jayden ketika mengatakannya.
"Aku tidak menyangka sebentar lagi akan ada yang menyandang gelar Mrs. William" ucap Mr. Gesto memggoda Vian yang sudah tertunduk malu dengan rona merah pada pipinya.
Jayden tertawa melihat tingkah imut Vian "undanganya akan segera ada diatas meja kerja mu Mr. Gesto" ucap Jayden jenaka tapi dengan kesuguhan didalamnya.
Mr. Gesto tertawa sambil menepuk bahu Jayden "aku tidak sabar menantikannya" ucapnya.
"Dimana anak mu yang bertunangan, aku belum mengucapkan selamat"
"Disana bersama teman temanya"
Mr. Gesto menunjuk sekumpulan anak muda yang tengah berbincang dan tertawa.
Jayden memeluk pinggang Vian dan berjalan menuju pasangan bahagia yang baru saja bertunangan itu.
Tapi belum Jayden memberikan selamat, Vian lebih dulu melepaskan diri dari Jayden.
Vian menghampiri seorang pria yang sepertinya sebaya denganya, pria tinggi dengan kulit putih pucat, tatapan mata tajam.
Jayden mengeran marah, siapa lagi kali ini, teman laki laki Vian? Berapa banyak sebenarnya teman laki laki Vian.
Jayden melangkah ingin menghampiri mereka tapi langkahnya terhenti, aura yang menyeruak dari pria itu sangat mengerikan.
Bahkan Eldrik mengaung gelisah karenanya, tidak besar auranya tapi mampu mengetarkan lawan.
Jayden kali ini harus mengakui bahwa ia cukup gentar karenanya.
Jayden melangkah lebar langsung menyambar tangan Vian dan menariknya menjauh.
Aura yang mengerikan
Tbc...
Intermezone
"Billy, Sudah menunggu lama?"
"Tidak, ayo cepat"
"Kita pulang ke pack ya?"
"Tidak, ke apartemen mu"
"Ck...aku mau bertemu Jayden, aku merindukanya"
"Tidak bisa"
"Billy jangan tarik aku!"