berisik....
jayden sangat tidak suka keadaan seperti ini, suara kendaraan dan obrolan orang-orang disini membuat dirinya pening. mengapa Ken dan Vivian senang ditempat seperti ini? jika bukan karena Vivian yang ketempat seperti ini jayden juga tidak mau. ditambah lagi tatapan genit yang ditujukan kepadanya.
jayden lebih menyukai suasana tenang tampa kegaduhan seperti ini, tapi tidak ada buruknya dia ikut kemari jika mengingat Vian yang memeluk pinggangnya diatas motor tadi. jayden tekekeh mengingat eratnya Vian memeluk pinggangnya.
"kau kenapa tertawa sendiri uncle?" jayden segera menghentikan pikirannya yang menerawang kejadian tadi dan menghentikan tawanya "tidak ada, tadi ada hal lucu saja" jayden menjawab dengan wajah datar.
Vian mencibir melihat jayden yang seakan tidak memiliki ekspresi lain selain wajah datar "uncle mengapa kau ingin ikut sih?! angin malam tidak bagus untuk badan mu dan kesehatanmu" Vian berujar kesal, bagaimana tidak karena jayden ikut malam ini rencananya jadi gagal. sedangkan jayden menatap tajam Vian, apa maksudnya dia menganggap dirinya sangat tua sampai angin malam tidak baik bagi tubuhnya.
"apa kau sangat keberatan aku ikut?"
"sangat" guman Vian pelan tapi masih bias didengar jayden.
"aku hanya tidak ingin kau kenapa napa ditengah keramaian ini sendiri"
"aku tidak sendirian uncle, ada Ken bersama ku"
"tapi Ken akan balapan, dan pasti kau sendiri setelah itu"
ingin rasanya Vian mengumpat didepan wajah Jayden sekarang juga, ada saja dia membalas perkatanya.
"apa peduli mu?!"
"tentu aku peduli, karena kau adalah ma--"
bruk....
tubuh Vivian hampir saja terjatuh kearah depan kerana tubuhnya ditubruk oleh Fenita "astaga Vian aku kira kau tidak akan datang malam ini" Vian menghembuskan nafas lega, untung reflexnya bagus jadi dia tidak jatuh dan mempermalukan dirinya dikeramaian.
"feny kau kebiasaan sekali hampir aku jatuh"
"hehehe....sorry, tapi jadi kan aku sudah tidak sabar melihatnya"
"sepertinya harus kita undur dulu"
"mengapa? Kau tau aku sudah memyiapkan segala macam warna canti untuk wanita rubah itu"
Vian meringis menatap Feny yang sebenarnya jika dilihat dari luarnya seperti gadis Nerd dan berhati mulia, tapi jika mengenalnya lebih dekat semua pasti akan tercengan dengan sikap Feny.
Gadis bar bar berakal licih serta pendendam, gadis berbahaya!
Vivian menunjuk Jayden dengan dagunya, mata feny berbinar-binar melihat jayden yang tampak tampan dimatanya "hei....siapa dia, kekasihmu?" bisik feny pada Vian, Vivian lantas melotot enak saja Jayden dianggap kekasinya.
"bukan"
"dia tampan sekali ya, siapa jika bukan kekasih mu?"
"uncle nya Ken"
feny tampak terkejut, bagaimana tidak sosok pria didepannya ini tampak masih muda dan sangat tidak cocok jadi uncle Ken lebih bagus jadi kakaknya Ken. "kau serius, dia tampak masih muda" Vian hanya mengangkat bahu acuh, dia sama sekali tidak peduli dengan Jayden yang terlihat tampan. menurutnya semua pria sama saja, hanya sikap yang dapat membedakan seseorang dan Jayden dia tidak tau bagaimana sikapnya.
"kenalkan aku"
"kau tinggal berkenalan sendiri apa susahnya" Vian memutar matanya jengah dengan tingkah fenita jika sudah melihat pria tampan, "ah....ayolah kenalkan aku" Vian mendesu kesal "uncle kenalkan ini teman ku dan Ken dia ingin berkenalan dengan mu" jayden mengulurkan tangannya dengan ekspresi datar.
"Vian"
Vivian menengok ke asal suara ternyata Daniel dan Nick berjalan kearahnya dan Fenita "kau sudah datang" ucap Daniel sambil merangkul bahu Vivian sedangkan Nick berdiri disebelah Fenita.
"ehemmm"
jayden berdeham karena kesal diabaikan Vivian serta tidak senang melihat Vivian dirangkul oleh pria lain "oh...maaf uncle aku melupakan mu, perkenalkan dia ini uncle jayden, uncle nya Ken" Jayden berjabat tangan dengan mereka berdua. dia menatap tajam pria yang tadi merangkul bahu Vivian.
"hai uncle senang berkenalan dengan mu" Jayden hanya mengangguk sebagai jawaban, sangat datar pikir Daniel dan Nick.
"dimana Ken?"
"dia sedang bertemu dengan Jordan"
"jadi benar dia akan berhenti balapan lagi, ah sangat tidak asik"
bugh......
"sakit Vian" Vian menatap kesal kearah Nick, harusnya dia bersyukur temannya berhenti dari hoby yang tidak baik yaitu balapan liar "mulut mu, harusnya kau senang aku saja bersyukur dia akan berhenti balapan liar. kau tidak ingat dia pernah celaka" sunggut fenita yang juga kesal dengan Nick.
"sejak kapan Ken mulai sering balapan liar?" sejak tadi jayden focus mendengar mereka berbincang "dia mulai sejak SHS" jayden tampak berfikir, jika Ken sudah mulai balapan liar sejak SHS apa mate nya ini juga sering kemari ikut dengan Ken?
"kau juga sering kemari Vian?" jayden metapa datar Vivian tapi didalam hatinya sangat geram "itu sudah pasti uncle, dimana ada Ken disitu ada Vian dan diamana ada Vian pasti disitu ada ken, mereka seperti kakak adik saja" Feny menjawab dengan cepat pertanyaan jayden dengan semangat karena dapat berbicara dengan pria tampan didepannya ini.
namun lain dengan jayden, telinga dan hatinya panas mendengar itu. sebegitu dekatkah Ken dan Vivian?
"aku akan ke Jordan dulu" Daniel berpamitan dan pergi meninggalkan mereka, sedangkan Nick menatap tidak suka kearah jayden dan menatap kesal kearah Feny yang sendari tadi tidak melepas pandangan dari jayden.
"kau ikut aku Feny" Nick menarik tangan Feni tampa memperdulikan protes dari Fenita "dasar aneh" guman Vivian melihat kelakuan kedua temannya itu.
"jangan terlalu sering ketempat ini" Vivian melihat ke arah jayden, mengapa dia selalu melarang dirinya. apa haknya?
"terserahku uncle, jangan melarang ku. aku benci diatur-atur"
"kau tidak bisa begitu, kau perempuan tidak baik keluar malam dan itu sudah peraturannya"
Vivian benar-benar dongkol, dia benci diatur dan diperintah. menurutnya peraturan diciptakan bukan hanya untuk ditaati tapi juga dilanggar, hidup akan terasa hambar jika hanya biasa saja.
"terserahmu saja uncle" Vivian pikir uncle jayden orang yang tidak suka ikut campur urusan orang lain, tapi lihat dia terlalu mengatur Vivian.
"Vivian"
Vivian berdecak siapa lagi memanggilnya, dia sedang dimode yang tidak ingin berbicara dengan siapa pun. rencananya malam ini gagal karena uncle jayden ikut, sebenarnya bias saja dia pergi meninggalkan jayden, tapi jayden mewantinya jika pergi dari pengawasan nya dia akan melaporkan Ken pada Eli.
"hei..."
Vivian berbalik dengan malas, dan ternyata yang menepuk bahunya tadi adalah orang yang dia harapkan datang, seketika senyum terukir dibibirnya. Vivian mendekat dan memeluk orang yang ada dihadapanya dengan senang.
"I miss you so bad Max"
"I miss you too Vian, aku pikir kau tidak disini"
mereka berbicara tetap dengan posisi saling memeluk
bughhh.....
tubuh Max terhempas dari Vivian dengan keras karena jayden manariknya dari pelukan Vivian. Jayden geram melihat kedekatan Vivian dengan banyak teman prianya, cukup sudah matenya dekat atau bersentuhan dengan pria lain. peduli setan Vivian akan berpikiran aneh tentang dirinya.
"uncle apa yang kau lakukan!" teriak Vivian saat melihat Max terseungkur denga keras, Vivian menatap tajam Jayden yang tampak tidak merasa bersalah "aku tidak suka kau berpelukan dengannya" ucap jayden tidak kalah tajam.
"apa urusanmu jika aku berpelukan denga teman ku"
jayden tidak mempedulikan yang Vivian ucapkan, dia langsung menarik lengan Vivian dan menyeretnya pergi dari tempat berisik ini "lepaskan aku uncle, apa yang kau lakukan Ken sebentar lagi akan mulai balapan" Vivian masih memberontak dari cekalan tangan jayden.
jayden tidak menghiraukan protes Vivian dan masih menarik tangan Vivian. jayden mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "uncle lepaskan aku" mereka menjadi pusat perhatian orang-orang disekitar mereka.
"kau bias diam" bentak jayden, dia benar-benar sedang kesal iris matanya menjadi hitam pekat. sebuah limusin berhenti didepan mereka, dengan segera jayden membuka pintu limusin tersebut dan memaksa Vivian untuk masuk, setelah itu dia juga masuk kedalam limusin dan meminta supir untuk mengunci pintunya.
Rahang Vian hampir saja jatuh melihat interior limusin yang sangat wow. Tapi segara Vian mengenyahkan rasa kagumnya, bukan saat nya untuk tekagum kagum.
"kau mau membawaku kemana uncle?! jangan main-main, aku mau kembali"
jayden masih diam tidak mempedulikan gerutan Vivian "uncle ada apa dengan mu" ucap Vivian frustasi, orang disebelahnya ini benar-benar menyebalkan.
"jangan pernah berpelukan seperti itu lagi dengan pria manapun" ucap jayden denga suara dingain dan tajam. Vivian menatap kesal jayden yang dari tadi melarangnya ini dan itu "apa hak mu melarang ku, bahkan mommy ku saja tidak melarang ku" jayden merubah posisinya menjadi menyamping, ditatapnya mata biru samudra itu.
"kau ingin tau apa hak ku? hak ku pada mu ada karena kau adalah mate ku" Vivian tercengang denga apa yang baru saja dikatakan jayden, mate? apa maksudnya "kau jangan mengada ada, apa yang kau maksud dengan mate? jangan gila" Vivian tertawa mendengar jayden, lelucon apa yang dia bicarakan ini.
"aku tidak bercanda, kau mate ku dan kau adalah miliku" ucap jayden sambil menggemgam tangan Vivian "janga sembarangan uncle aku buka milik mu, aku bukan milik siapa-siapa. I'm not yours" Vivian menarik tangannya yang digenggam oleh jayden.
"dan sekarang berhenti, aku ingin meng-hhhmmmmpppp"
tbc..............