10

883 Words
Pagi menjemput, sinar sang surya sudah menyinari segela sudut kota. Jalanan macet sudah menjadi hal biasa di kota sepadat new york. Vian menatap lalu lintas jalanan yang mulai padat oleh para pegawai yang berangkat bekerja, jari lentiknya bermain dikaca mobil yang berumbun. "Kau sedang ada masalah Vivi?" Tanya Olive, kakak Vian. "Tidak" jawab Vian singkat tampa mengalihkan pandanganya dari jalanan kota. Raga nya memang berada disana tapi tidak dengan pikiranya yang melanglang buana tak tentu arah. Layaknya kaset , potongan kejadian yang dialaminya dua hari yang lalu terus berputar. Vian menyentuh bibir bagian bawahnya, kilasan kejadian dimana bibir hangat Jayden mendarat mulus diatas bibirnya. Melumat, menyesap, menggigit, dan mencumbu kasar bibirnya masih terasa jelas disana. Bahkan rasa lidah Jayden yang sempat menjelajah rongga mulutnya pun masih terekam jelas. Belum lagi jejak tangan Jayden yang masih tersa jelas di tubuhnya, bagaimana Jayden meraba, dan menyentuh tubuhnya dengan memuja layaknya porselin mahal tiada tara. Oh...memikirkan kejadian itu saja mampu membuat tubuh Vian basah karenanya. "Kenapa kau mengglengkan kepala seperti itu?" Tanya Olive saat tampa sadar Vian menggelengkan kepalanya. "Tidak ada" jawab Vian singkat yang sayangnya tidak begitu saja di percayai oleh Olive. "Vivi, aku kakak mu, selama 18 tahun hidup aku mengenalmu. Jangan mencoba berbohong, aku tau kau, ya walau tak setau Ken" Sadar diri juga... "Tidak ada Olive, aku baik baik saja" ucap Vian final. Olive hanya mampu menghela nafas pasrah, perangia Vian yang keras memang sedikit menjengkelkan. "Oke, terserah mu saja. Tapi ingat, jika ada masalah dan butuh teman aku ada untuk mu" Tidak ada pembicaraan setelah itu, hening samapi diparkiran gedung tempat acara perpisahan angkatan Vian. Sebelum memasuki gedung, langkah Vian dan Olive terhenti saat melihat pasangan paruh baya yang sedang bercengkrama dengan Charlie di pintu masuk. Wajah Olive seketika masam, dan Vian hanya memutar bola mata jengah. "Untuk apa mereka kemari?" Ucap Olive ketus "lihat rubah licik itu, kau mau menyapa mereka?" Tanyanya. Vian mengangguk malas, tidak sopan rasanya tidak menyapa mereka yang sudah senang hati menghadiri acara kelulusanya. "Ya sudah, kau saja. Aku tunggu didalam" Olive berlalu pergi, dan saat melewati pasangan paruh baya itu Olive menatap mereka sini dan langsung memalingkan wajah. Vian hanya mampu menghela nafas kasar melihat tingkah kakaknya itu. "Sweet" panggil pria paruh baya itu, dengan pelan ia mengelus surai Vian. Menatap Vian dengan tatapan sayang bercampur sendu. Wanita paruh baya itu juga melemparkan senyum tulus pada Vian, walau Vian tidak membalas senyum itu. "Untuk apa Daddy kemari?" Tanya Vian mengabaikan wanita paruh baya itu layaknya wanita itu hanya hembusan angin. "Tentu saja melihat putri cantiku diatas podium, putri cantiku ini akan menerima penghargaan sebagai salah satu lulusan terbaik" "Oh.." Terlihat tidak sopan memang, tapi mau bagaimana lagi. Vian tidak bisa memaksakan diri untuk beramah tamah dengan orang yang memang meninggalkan kesan buruk pada dirinya. Pria itu, Ronald adalah daddy Vian. Sedangkan wanita yang ada disamping Ronald adalah ibu tiri Vian, Elsa. Elsa tersenyum kecut melihat raut wajah suaminya yang berubah sendu akibat reaksi Vian, ada rasa bersalah dan juga rasa tidak terima didalam hatinya. Tapi apa hak nya untuk menegur Vian, jika ia melakukan hal itu bukan akan berakibat baik tapi malah sebaliknya. "Vivi ba--" "Jangan memanggilku seolah kau dekat dengan ku" potong Vian cepat, menatap tidak suka pada Elsa. "Oh...oke, bagaimana kabar Sandra?" Tanya Elsa dengan kiku. Vian menyeringai sambil menatap Elsa "menurut mu bagaimana kabar mommy ku Elsa, harusnya kau tau bagaimana seorang singel mother membesarkan anaknya sendiri" ucap Vian masih dengan seringai "dia baik, tapi tidak dengan perasaannya. Ia harus rela tidak menghadiri upacara kelulusan putrinya demi bekerja" ucap Vian menohok. "Sweet!" Peringat Ronald "Apa daddy?" Jawab Vian santai, terlampau santai malah. Elsa langsung tertunduk, mencekram erat tangan suaminya. Ronald hanya mampu mendesa putus asa, mau membalas? Yang ada mereka akan menjadi tontonan orang karena berdebat di pintu masuk. "Tidak ada lagi bukan? Aku mau masuk, kalian masuk lah, tapi jangan duduk disebelah Olive jika wajah cantik mu tidak ingin distempel telapak tangan oleh nya Elsa" Vian berjalan memasuki gedung, mengabaikan segala macam tatapan orang pada dirinya. Biarkan mereka mengatakan ia tidak sopan, tau apa mereka dengan hidupnya. "Sudah bicara dengan mereka" tanya Olive ketus "ya" jawab Vian singkat. Setelah itu acara dimulai, Vian maju memberikan sepatah dua kata sebagai pidato mewakili seluruh siswa. Acara inti telah selesai, kini tinggal acara berfoto foto dengan para sahabatnya. "Vian, selamat nak, kau hebat daer" ucap Eli sambil memeluk Vian dengan erat. "Thanks aunty" satu persatu keluarga Russell memberikan selamat pada Vian. "Give me your big hugh baby" ucap Ken merentangkan tanganya, Vian dengan senang hati menyambutnya. "Ehem..." Olive mengitrupsi adegan pelukan Vian dan Ken "jangan terlalu lama Ken, aku belum memeluk Vian juga" lanjutnya. Ken hanya tersenyum kiku pada Olive, mempersilahkan Olive memeluk Vian "aku sangat bangga pada mu Vian, mommy juga pasti bangga jika ada disini" ucap Olive sendu. "Tidak apa apa Olive, aku mengerti Mommy" ucap Vian menenangkan. "Terimakasih sudah mengerti mommy" Vian mengangguk, dia tidak mempersalahkan mommy nya yang sibuk bekerja. Ia tau mommy nya bekerja bukan untuk diri sendiri tapi untuk Vian juga, ia tidak mau egois untuk memaksakan hal yang mommy nya tidak bisa lakukan. Acara terus berlanjut, Vian dan Ken semangat untuk berfoto foto bersama teman teman mereka. Drrt...drrrt... Ponsel Vian bergetar menampilkan nama Max antony pada layarnya. Max antony.. Lapangan parkir Satu kata yang dikirimkan oleh Max membuat Vian bingung. Lapangan parkir? Walau bingung, Vian tetap melangkah menuju parkiran gedung. Tidak ada siapa siapa disana, kosong. Vian mengetik pesan pada Max To : Max antony Max dimana k| Belum selesai Vian mengetik pesan pada Max. Sebuah sapu tangan sudah membekap mulutnya. Vian mencoba memberontak, tapi entah bagaimana lama kelamaan tubuhnya mulai melemas, pandangan matanya menjadi redup, dan seketika gelap. "Maaf" Tbc....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD