Prolog

493 Words
Angin sore menyusup pelan ke dalam ruang tamu besar keluarga Kiai Mahfudz. Suara burung di halaman terdengar samar, bersahut dengan desir dedaunan yang bergoyang tertiup angin. Ruangan itu tampak teduh, dipenuhi wangi kayu cendana dan teh hangat yang baru diseduh. Di atas karpet hijau tua, dua keluarga duduk saling berhadapan. Di satu sisi, Kiai Mahfudz dan Nyai Rahma, keluarga besar pesantren yang disegani banyak orang. Di sisi lain, Ustaz Karim dan Bu Maryam, orang tua Albiya Salsabila, duduk menunduk sopan. Biya sendiri duduk di samping ibunya. Tangan mungilnya menggenggam ujung kerudungnya erat, berusaha menutupi gugup yang makin menjadi. Di hadapannya, duduk seorang laki-laki dengan wajah teduh tapi dingin, Gus Zidan, putra sulung Kiai Mahfudz. Tatapan matanya lurus ke arah lantai, seolah enggan menatap siapa pun. Suasana hening. Hanya terdengar detik jam dinding dan bisikan doa lirih dari Kiai Mahfudz sebelum akhirnya beliau berbicara. "Bismillahirrahmanirrahim... InsyaAllah, hari ini kami ingin menyampaikan niat baik. Saya dan Nyai Rahma ingin menjodohkan anak kami, Zidan, dengan Albiya binti Karim," ujar Kiai Mahfudz dengan suara tenang namun mantap. Bu Maryam spontan menatap anaknya yang langsung menunduk makin dalam. Ustaz Karim tersenyum penuh hormat. "Alhamdulillah, Kiai. Kami merasa terhormat. InsyaAllah, kami menerima niat baik ini dengan lapang dada." Biya menelan ludah pelan. Dadanya bergemuruh. Ia tidak pernah menyangka hari itu akan datang secepat ini. Hari di mana nama dirinya disandingkan dengan nama seseorang yang selama ini hanya berani ia kagumi dari jauh. Namun, di sisi lain ruangan, wajah Zidan mengeras. Tangannya mengepal di pangkuan. Ia menatap ayahnya dengan sorot mata berat. "Ayah," suaranya rendah tapi tegas, "Zidan belum siap. Zidan... belum berniat menikah sekarang." Ruangan langsung hening. Nyai Rahma menoleh pelan ke arah putranya, sementara Bu Maryam menunduk makin dalam. Biya bisa merasakan detak jantungnya hampir berhenti. Kiai Mahfudz tetap tenang, tapi suaranya terdengar lebih dalam. "Nak, kesiapan bukan hanya soal waktu. Kadang, kesediaan itu lahir dari keikhlasan. Perjodohan ini bukan untuk mengekangmu, tapi untuk menjaga amanah dan silaturahmi. Kamu tahu, ayahmu sangat dekat dengan Ustaz Karim." Zidan terdiam. Rahangnya mengeras. Ia tahu membantah ayahnya berarti menentang kehormatan keluarganya sendiri, sesuatu yang tidak pantas bagi seorang anak kiai. Tapi hatinya menolak. Ia mencintai Hana, sahabat Biya. Perjodohan ini terasa seperti belenggu yang menekan dadanya. Nyai Rahma ikut bersuara, lembut tapi bergetar. "Zidan, Ibu tahu kamu kaget. Tapi Biya gadis yang baik, shalihah. Ibu yakin, kalau kamu mau membuka hati sedikit saja, kamu akan melihat kebaikannya." Kata-kata itu membuat Biya makin sulit menahan air matanya. Ia tersenyum kecil, memaksa dirinya tampak tegar. "Kalau ini memang kehendak Kiai dan Nyai... juga restu Ayah dan Ibu..." suaranya lirih, "...Biya insyaAllah menerima." Ucapan itu membuat Nyai Rahma tersenyum tipis, sementara Kiai Mahfudz mengangguk pelan. Namun di sisi lain, Zidan hanya memejamkan mata menahan gelombang marah, kecewa, dan pasrah yang bercampur jadi satu. Biya meliriknya sekilas, tapi tatapan itu tak pernah dibalas. Ia tahu, sejak awal cinta ini memang bukan tentang dua hati yang saling memilih, melainkan tentang dua keluarga yang disatukan oleh takdir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD