Udara pagi di rumah itu terasa dingin, meski matahari sudah naik tinggi di balik tirai dapur.
Seperti biasa, Biya bangun sebelum subuh. Setelah salat, ia menatap cermin kecil di kamarnya.
Wajahnya terlihat pucat, matanya sembab, tapi ia mencoba tersenyum, senyum yang dipaksakan demi menutupi luka semalam.
"Aku istri. Aku harus tetap hormat sama suamiku,"
bisiknya lirih, seolah meyakinkan diri sendiri.
Ia melangkah ke dapur, menyalakan kompor, lalu mulai menanak nasi.
Pagi ini ia ingin membuatkan nasi goreng kesukaan Zidan, meski tahu suaminya mungkin tak akan menyentuhnya.
Suara wajan beradu dengan spatula terdengar pelan. Aroma bawang putih tumis menyebar ke seluruh ruangan, hangat, tapi tetap terasa sepi.
Biya menyiapkan teh melati di teko kecil, lalu menata meja makan dengan rapi.
Setiap detail ia perhatikan: sendok, tisu, piring, posisi gelas, semua harus sempurna, seolah kesempurnaan itu bisa menambal retaknya hatinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, suara langkah berat terdengar dari arah kamar.
Zidan keluar.
Masih dengan pakaian santainya, rambut agak berantakan, dan wajah lelah seperti orang yang tak tidur semalaman.
Tapi pagi ini, bukan wajahnya yang membuat Biya terpaku.
Melainkan ponsel di tangannya, layar menyala menampilkan wajah seseorang yang sangat Biya kenal.
Hana.
Sahabatnya sejak kecil.
Perempuan yang dulu selalu ada di sisinya, tahu semua rahasia kecilnya, bahkan yang tentang Zidan.
Biya berhenti bergerak. Tangannya yang memegang piring sedikit gemetar.
Di layar ponsel itu, terlihat pesan:
"Aku di kota. Aku kangen, Dan."
Jantung Biya langsung berdegup cepat. Dan.
Panggilan yang hanya digunakan Hana untuk Zidan - sebelum perjodohan itu terjadi.
Zidan menatap layar itu beberapa detik, sebelum akhirnya menyadari Biya sedang memperhatikannya.
Tatapan mereka bertemu.
Dingin. Tajam. Tak ada cinta di sana, hanya keheningan yang menekan d**a.
"Kamu ngapain liatin aku?" suaranya datar.
Biya buru-buru menunduk. "Nggak... cuma mau manggil Gus buat sarapan."
Zidan menatap meja makan. "Aku nggak minta kamu masak."
"Aku tahu," jawab Biya pelan. "Aku cuma... nggak mau Gus keluar rumah dalam keadaan lapar."
Zidan mendengus. "Kamu pikir makanan bisa bikin semua ini baik-baik aja?"
Ia menatap ponselnya lagi, lalu menyentakkan napas berat. "Jangan pura-pura peduli, Biya. Aku tahu kamu seneng bisa nikah sama aku, kan?"
Biya tertegun. "Seneng?" ia menatapnya dengan mata berair. "Aku bahkan nggak pernah berani mimpiin ini. Aku nggak pernah mau, Gus."
"Lalu kenapa kamu setuju?" Zidan meninggikan suara. "Kenapa kamu nggak nolak waktu orang tuamu jodohin kita?"
"Aku percaya sama mereka," jawab Biya lirih. "Aku pikir keputusan orang tua itu yang terbaik..."
"Terbaik?" Zidan tertawa pendek, sinis. "Kamu tahu apa yang terbaik buat aku? Hana."
Ia menatap layar ponselnya lagi. "Dan dia masih di sini. Masih hidup. Masih nunggu aku."
Suasana langsung hening.
Biya terpaku, seolah udara di ruangan hilang begitu saja.
"Hana... nunggu Gus?" tanyanya pelan, hampir tak terdengar.
Zidan menatapnya, dingin tapi matanya memerah.
"Kami belum selesai. Dia masih butuh penjelasan. Aku juga."
Biya menunduk. Tangannya mencengkeram tepi meja erat-erat.
Jantungnya berdegup keras, tapi ia tetap menahan suaranya agar tak pecah.
"Kalau gitu kenapa Gus nikahin aku?" suaranya gemetar. "Kenapa nggak pertahanin dia dari awal?"
Zidan diam. Jawaban itu seolah menamparnya juga.
Ia menatap lantai, lalu berbisik,
"Karena waktu itu aku pikir Hana udah pergi. Aku pikir dia nggak mau berjuang. Tapi sekarang-"
Matanya menatap Biya tajam, "Sekarang dia balik. Dan aku nggak tahu bisa pura-pura sampai kapan."
Biya memejamkan mata. Air matanya akhirnya jatuh, meski ia berusaha keras menahannya.
Ia menarik napas dalam, lalu berkata lirih,
"Kalau begitu, aku yang akan pergi, Gus."
Zidan mendongak, sedikit kaget. "Apa?"
"Aku nggak mau jadi penghalang."
Ia menatap Zidan langsung, kali ini tanpa gemetar. "Kalau cinta Gus buat Hana, aku nggak akan maksa. Tapi jangan salahin aku kalau aku juga berhenti berharap."
Zidan tak bisa berkata apa-apa.
Biya menunduk, mengambil teh di teko, dan menuangkannya perlahan ke gelas. Tangannya gemetar, tapi suaranya mantap.
"Tehnya masih hangat. Minum aja dulu sebelum pergi ke pesantren."
Zidan tak menjawab. Ia hanya berdiri kaku, lalu berbalik menuju kamar.
Beberapa jam kemudian.
Rumah itu sunyi.
Hanya suara jam dinding yang terdengar pelan, menghitung detik-detik yang entah kenapa terasa lambat sekali.
Biya duduk di ruang tamu, menatap jendela.
Sejak Zidan pergi pagi tadi, rumah itu terasa kosong. Tapi bukan kesepian yang paling menyakitkan, melainkan rasa tak berharga.
Ia menatap ponselnya sendiri.
Ada foto lama ia, Hana, dan Zidan. Tiga orang yang dulu tertawa di halaman sekolah, sebelum semuanya berubah.
"Kalau suatu hari aku nikah, aku mau kamu yang jadi pengiringnya, Biya."
Hana tersenyum di foto itu, menggenggam tangan Biya.
Ironi.
Sekarang, justru Biya yang menikah dengan lelaki yang Hana cintai.
Sore hari, suara mobil terdengar lagi.
Biya berdiri dari kursinya, menatap keluar jendela. Zidan baru pulang. Tapi kali ini, ia tak sendirian.
Di sisi mobilnya, seseorang berdiri.
Rambut panjang, pakaian rapi, dan senyum yang dulu sangat Biya kenal.
Hana.
Biya nyaris tak percaya.
Langkahnya gemetar saat melihat Zidan membukakan pagar untuk perempuan itu, lalu menuntunnya masuk seperti seseorang yang sangat berarti.
Biya cepat-cepat mundur ke dapur, pura-pura sibuk dengan piring kotor di wastafel.
Tapi suara mereka terdengar jelas dari ruang tamu.
"Rumah kamu adem banget, Dan. Kayak dulu, waktu kita sering belajar bareng."
"Dulu semua terasa lebih sederhana, Han," jawab Zidan, suaranya melembut. "Sekarang semuanya... ribet."
Biya menunduk, menggigit bibir. 'Sekarang semuanya ribet,' ucapnya dalam hati, karena aku, ya Gus?
Ia mengambil napas panjang, lalu memberanikan diri keluar dari dapur.
Langkahnya tenang, meski dadanya bergemuruh.
"Assalamualaikum."
Hana menoleh. Seketika ekspresinya berubah.
"Biya..." ucapnya pelan.
"Waalaikumsalam." Biya tersenyum tipis, menatap keduanya bergantian. "Nggak nyangka, kamu datang."
Hana menunduk canggung. "Aku... baru balik dari Bandung. Cuma mau ketemu sebentar. Maaf ya kalau tiba-tiba."
"Nggak apa-apa," jawab Biya cepat. "Rumah ini terbuka buat siapa pun."
Zidan menatap Biya sekilas. Ada ketegangan di matanya entah karena rasa bersalah, atau karena takut Biya bicara lebih jauh.
Biya lalu menatap Hana lembut, tapi sorot matanya dalam. "Mau aku buatin teh?"
Hana menatapnya ragu. "Nggak usah repot..."
"Repot itu kalau aku nggak ikhlas," sahut Biya, sambil melangkah ke dapur.
Dari dapur, Biya bisa mendengar suara tawa kecil mereka berdua.
Setiap tawa itu seperti duri yang menancap di dadanya.
Tangannya menggenggam cangkir terlalu keras sampai teh hampir tumpah. Tapi ia tetap kembali ke ruang tamu, membawa nampan dengan dua cangkir teh.
"Ini tehnya," katanya pelan sambil meletakkan di meja.
"Terima kasih," ucap Hana.
Biya tersenyum. "Sama-sama."
Lalu ia duduk di kursi seberang, diam.
Tak ada kata-kata, hanya tatapan.
Zidan tampak gelisah. Hana pun mulai kehilangan kata.
Dan Biya meski hatinya hancur menatap mereka dengan ketenangan yang membuat ruangan itu terasa lebih sesak dari sebelumnya.
__________
Sore berubah jadi malam.
Hana akhirnya pamit pulang.
Zidan mengantarnya sampai ke mobil, sementara Biya berdiri di teras, menatap lampu halaman yang redup.
Saat Hana sudah pergi, Zidan masuk kembali.
Biya masih di sana, memeluk lengannya sendiri.
"Kenapa nggak bilang kalau Hana mau datang?" tanyanya pelan.
Zidan diam beberapa detik. "Aku nggak tahu dia bakal datang."
"Kalau tahu?"
"Entah."
Biya menatapnya dalam. "Gus, aku bukan orang yang suka drama. Tapi aku juga bukan orang bodoh."
Zidan menatapnya, tapi Biya lebih dulu berbalik.
"Selama Hana masih jadi alasan kamu buat nyakitin aku," katanya pelan, "aku nggak akan berhenti berdoa supaya kamu sadar: cinta itu nggak bisa hidup di atas luka orang lain."
Zidan terdiam.
Kata-kata itu menusuk dalam, lebih dalam dari yang Biya kira.
Malam itu, rumah mereka kembali sunyi.
Tapi untuk pertama kalinya, Zidan tidak bisa tidur. bukan karena ingat Hana, tapi karena suara Biya yang terus terngiang di kepalanya.
"Aku nggak akan berhenti berdoa..."
Ia menatap pintu kamar Biya yang tertutup.
Dan untuk pertama kalinya sejak akad itu, ia bertanya dalam hati
apakah ia benar-benar tahu siapa yang layak ia perjuangkan?