Chapter 7 : A Day With Him (Lunar's POV)

2011 Words
Setelah bertemu dengan kakak Elio kemarin, aku merasa sedikit aneh pada diriku. Pagi tadi saat aku ingin berangkat ke kantor, aku menemukan kotak kardus di samping mobilku. Aku kira itu paket ku yang dikirim oleh kurir saat aku belanja online. Tetapi saat aku buka kardus itu ternyata didalam nya ada anak kucing yang masih bersimbah darah, seperti baru saja dilahirkan oleh ibunya. Saat aku melihat ke sekeliling komplek rumah ternyata tidak ada siapapun disana. Aku melihat anak kucing ini ngeri, aku tidak takut terhadap kucing, tapi aku pun tidak berani untuk memegangnya. Kucing ini perlu dibersihkan, aku menelpon Fiya, agar dia mau membantuku dengan kucing ini. "Halo Fiya, lo dimana?" tanya ku saat Fiya sudah mengangkat teleponnya. "Udah mau nyampe kantor ini, kenapa emang?" jawab Fiya dari sana. "Gue nemu kardus yang isinya kucing baru lahir, ini harus gue apain Fi," tanyaku sedikit gugup, kucing didalam sana mulai terus mengeong, seperti mencari sesuatu untuk dia makan. Dia mencari induknya. "Udah buang aja napa sih,Lun." katanya dengan ringan. "Ga tega gue kalo harus gue buang ini." jawabku lagi, aku semakin tidak tega dengan kucing ini, lagi pula siapa sih orangnya yang menaruh kardus kucing baru lahir ini. Kasihan, tapi ngeri juga kan. Merasa tidak ada solusi yang di beri Fiya, akhirnya aku mencoba menelpon Bagas. Setelah beberapa menit mencoba untuk menghubunginya tapi tidak ada respon apapun akhirnya aku menghubungi Elio. Semoga dia belum berangkat ke kantor. "Halo, Lun. Kenapa?" tanyanya saat panggilan pertama kali terhubung. "Halo, pak. eumm ini saya mau berangkat ke kantor sekarang, tapi waktu mau ngeluarin mobil saya lihat kardus yang di dalemnya ada kucing kecil yang baru dilahirnkan, saya mau buang tapi saya ga berani sama kucing pak." jelasku panjang lebar. Tidak ada jawaban apapun dari sana setelahnya. Sambungan telepon pun tiba-tiba terputus. Aku bingung harus aku apakan kucing ini. Saat kucing itu menggeliat ke samping, aku menemukan amplop lagi tepat dibawah kucing itu. Saat ingin mengambil suratnya tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumahku juga. Itu mobil Elio. Elio keluar dari mobil dengan tergesa. "Kamu ga apa-apa kan Lunar?" tanyanya memastikan keadaanku. Setauku aku belum pernah memberitahukan alamat tumahku pada Elio. Bagaimana dia bisa langsung tau dan kesini? "Saya tidak apa-apa pak." Jawabku, Elio langsung melihat kardus yang ada dibawahku, melihat isinya dan melihat surat yang terletak di bawah badan kucing itu. Elio akhirnya mengambil surat itu dan membukanya. Aku yang penasaran pun ikut membaca disampingnya. Lunar, aku ada hadiah buat kamu. Kucing ini kasihan, karena ibunya sudah meninggal jadi aku titipkan padamu ya. Kalimat itu tertulis di kertas yang ada di amplop itu. Kening Elio mengerut dalam. "Apa kamu sering menerima seperti ini Lunar?" tanya Elio setelah membacanya. Aku menggeleng. Ini baru terjadi beberapa kali akhir-akhir ini. "Sepertinya ini baru 2 kali pak." jawabku setelah mengingat-ingat kejadian saat aku menerima surat untuk yang pertama kali. "Kenapa kamu ga kasih tau saya kalau ada yang neror kamu gini!" Ucap Elio dengan nada sedikit membentak. Aku sedikit tersentak saat Elio membentakku. Apa-apaan dia? Dia cuma atasanku, kenapa berani sekali membentakku. Badanku bergetar. Aku tidak berani melihat kearah nya. Tanpa ku sadari air mataku sudah turun sedikit demi sedikit. Aku melihat Elio sedikit kaget saat melihatku menagis. "Saya ga bermaksud seperti itu, maafkan saya, sungguh saya tidak bermaksud untuk marah." Ucap Elio kemudian berusaha untuk membuatku berhenti menangis. Tapi tangisanku belum berhenti juga. Akhirnya Elio memilih mengajakku pergi ke taman hiburan untuk menghiburku. Kami berdua tidak masuk ke kantor hari ini. Disini terasa sepi, selain ini masih hari dan jam kerja, anak-anak pun tidak terlihat disini. "Kamu mau naik biang lala itu, Lun?" tanya Elio saat melihatku hanya diam melihat-lihat sekitar. Aku tidak ingin datang kesini sebenarnya. Aku baik-baik saja, hanya saja Elio ingin membuatku merasa lebih baik katanya dan mengajakku kesini. Aku hanya mengangguk mengiyakan tawaran Elio. Kami naik ke dalam biang lala. Mereka berjalan sangat lambat, tapi aku suka, dan saat biang lala sudah sampai dipuncak atas mereka berhenti sebentar. Aku menemukan Elio yang sedang memperhatikanku. "Kenapa pak? Apa ada yang aneh sama saya?" tanyaku karena Elio melihatku dengan intens dan tanpa mengalihkan pandangannya. "Tidak, kamu terlihat lucu kalau diam gitu." ucapnya kemudian. Apanya yang lucu? pikirku. Aku kembali melihat pemandangan di luar tanpa membalas ucapannya. Diluar gedung-gedung tinggi itu terlihat sangat kecil dan indah. Berada beberapa menit di atas sini membuat perasaanku sedikit merasa lebih baik. Setelah bermain di biang lala, kami melanjutkan hari ini dengan permainan yang lain, Kami masuk ke rumah hantu. Disana Elio benar-benar terus menempel kearahku. Dia terlihat sangat lucu, badannya besar tapi merengek saat melihat hantu-hantu itu mendekat kearah kami. Saat keluar dari wahana rumah hantu aku melihat wajahnya penuh dengan keringat. Dia langsung mengeluarkan sapu tangan dari dalam sakunya dan mengelap keringatnya, dan kembali bersikap seperti tidak terjadi apapun di dalam sana. Setelah itu kami berencana untuk mengisi amunisi badan kami terlebih dahulu sebelum melanjutkan permainan yang lain. Kami memilih makan makanan cepat saji yang ada di dalam taman bermain ini. Memesannya dan memakannya di taman khusus yang ada untuk tempat makan. Elio membelikanku 1 paket burger dan kentang goreng juga tidak lupa satu gelas pepsi. Aku makan dengan damai. Dia makan dengan sangat lahap, sampai tidak sadar ada saos yang tersisa di sudut bibirnya. Tanpa banyak bicara aku mengelap sudut bibirnya dengan jariku. Dia terdiam tidak bersuara. Kegiatan makannya pun langsung berhenti. Dia menatap mataku, badannya mendekat ke arahku. semakin lama semakin mendekat. Lagi aku reflek memundurkan badanku. Memegang tas ku, bersiap untuk memukulnya jika dia melakukan hal aneh terhadapku. Elio masih mendekat, dan saat dia sudah berada tepat di depanku, dia melihat bibirku dan mengelusnya sedikit. "Kamu kalo makan kaya anak kecil, belepotan gitu." katanya sambil mengecup jarinya yang digunakan untuk mengelap bibirku tadi. Aku melihat sedikit jijik kearah Elio. "Bapak ga jijik makan bekas dari mulut saya?" tanyaku ke arah Elio setelah melepaskan tanganku dari tas yang sedari tadi aku pegangi. Elio melihatku dengan wajah yang sedikit takjub. Kenapa? Elio melanjutkan makannya lagi tanpa menjawab pertanyaan ku yang terakhir. Kami melanjutkan lagi menuju permainan yang belum kami coba. Kami banyak bermain dan tertawa hari ini tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam hari. Sepertinya kami sangat menikmati waktu kami bermain hari ini. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku pergi ke taman hiburan seperti ini. mungkin sudah hampir 15 tahun yang lalu? Yang pasti hari ini aku sangat senang. "Kita makan dulu ya Lun sebelum pulang." Ucap Elio saat kami sudah memasuki mobil Elio. Sesaat setelah berkata seperti itu terdengar suara gaduh dari perutku. Ah sungguh ini membuatku malu. Elio melihat kearahku dan tersenyum, aku melihat itu dari ujung mataku. Aku? tentu saja mencoba bersikap santai seperti tidak terjadi apapun. Akhirnya kami kembali pulang kerumah setelah tadi mampir untuk makan. Waktu menunjukkan pukul 9 malam saat aku sampai dirumah. Badanku sangat lelah. Aku langsung membersihkan badanku dan kemudian bergegas untuk segera tidur. *** Gadis berusia 8 tahun itu berlari kesana kemari sambil tertawa berusaha kabur dari kejaran lelaki paruh baya. Disebelah nya ada perempuan paruh baya yang melihatnya dengan tersenyum. Gadis kecil itu kelelahan dan akhirnya berlari menuju arah ibunya. Ya wanita paruh baya itu ibunya, dan lelaki itu adalah ayahnya. Mereka sedang piknik disalah satu taman didekat rumah mereka. "Ibu, aku capek main sama ayah." katanya dengan terengah engah. "Ayah ngejernya ga lama ga kaya ibu." Katanya lagi saat ayahnya mendekat untuk bergabung dengan istri dan anaknya. Ibunya tersenyum dan menjawab anaknya itu. " Yah masa gitu aja Lulu udah cape. padahal kan ayah ngejernya pelan." katanya sambil menoel hidung anaknya tersebut. "Ayok kita main kejer-kejeran lagi. kali ini nanti ayah ga cepet deh ngejernya." Kata ayahnya menambahkan apa yang tadi diucapkan oleh istrinya. Dan mereka pun akhirnya bermain kembali. Hari berganti, gadis itu pun sudah memasuki sekolah tinggi pertama. "Ibu, lulu pulang." seperti biasanya saat dia pulang sekolah dia akan mencari ibunya terlebih dahulu. Tapi hari itu ibunya tidak terlihat dimanapun. Akhirnya dia mencoba mencari ibunya di dapur. Tanpa disangka disana ia melihat ibunya yang sudah bersimbah darah dan ayahnya yang sedang memegang pisau ditangannya. Gadis itu tidak berkata apa-apa dan hanya bisa terdiam. Dia sudah cukup mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. *** Lunar terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah. Mimpi itu kembali datang lagi. Beberapa hari ini dia bisa tidur nyenyak, tapi malam ini sepertinya dia tidak di perbolehkan untuk tidur nyenyak. Jam di nakasnya masih menunjukkan pukul 3 dini hari, akhirnya Lunar kembali mengambil obat tidur dari dalam laca nakasnya dan meminumnya secukupnya dan mencoba kembali tertidur. Lunar terbangun karena suara handphone nya yang berdering terus menerus sedari tadi. Badan Lunar terasa begitu lemas dan tidak bisa di gerakkan sama sekali dari atas tempat tidur. Handphone nya berbunyi lagi, kali ini tangan Lunar meraba nakas untuk mencari handphone nya dan menerima panggilan itu. "Lunar kamu hari ini tidak masuk?" Suara berat terdengar saat Lunar baru membuka panggilan itu. Nama Pak Elio ada di layar panggilan tersebut. "Oh pak Elio. sepertinya hari ini saya kesiangan pak." Jawab Lunar dengan suara paraunya. Elio yang mendengar suara Lunar yang sedikit aneh pun langsung mengambil kunci mobilnya dan langsung menutup teleponnya. Lunar menatap teleponnya, dan menaruhnya lagi ke nakas. Lunar merasa badannya sangat sakit dan tenggorokannya pun tidak baik saat ini. Lunar membuka nakas dimana obat-obatan yang biasa ia gunakan, dan mengambil alat termometer untuk mengukur suhu badannya saat ini. 39 derajat celcius terlulis di alat termometer itu. Ini tidak salah kan? Lunar berbicara pada dirinya sendiri memastikan bahwa alat ini memang benar menunjukkan angka 39. Tidak lama kemudian Lunar mendengar pintu nya diketuk dengan tidak sabar oleh seseorang yang berada diluar rumahnya. Dengan susah payah Lunar berjalan keluar untuk memeriksanya. Elio sudah berdiri tepat di depan pintu saat Lunar membukakan kunci pintu rumahnya. "Pak Elio kok bisa disini?" tanya Lunar bingung. Pasalnya ini jam kerja dan Elio harusnya sudah berada dikantor saat ini bukan disini. "Kamu sakit? saya langsung kesini setelah mendengar suara kamu yang aneh itu." Kata Elio menjelaskan kenapa saat ini dia berada di rumah Lunar. Lunar hanya mengangguk mendengar penjelasan Elio dan mempersilahkan Elio masuk ke dalam. Elio memeriksa suhu badan Lunar, sangat panas. "Kamu mau kemana sih, badan kamu ini panas banget loh." kata Elio saat melihat Lunar berjalan menuju dapur. "Mau ke dapur buat ambilin bapak minum, kesian barang kali bapak aus kan." Kata Lunar lagi sambil melepaskan tangan Elio dari dahinya. "Udah kamu duduk biar saya ambil minum saya sendiri, kamu udah makan? Biar saya sekalian buatkan bubur." Jawab Elio kemudian berjalan ke arah dapur menggantikan Lunar. "Ga usah pak, saya sedang tidak nafsu makan." Ucap Lunar hendak menghentikan Elio, tapi tanpa di dengarkan, Elio langsung memasuki dapur dan membuka kulkas Lunar untuk mencari bahan-bahan yang bisa digunakannya untuk membuat bubur. Masih ada sedikit sayuran dan udang di sana. Elio mengeluarkan semua bahan dan bumbu yang akan digunakan dan langsung membuat bubur untuk Lunar. Elio begitu cocok dan cekatan saat membuat bubur. Lunar melihat dengan diam dari arah pantry. "Nah sudah jadi buburnya." Elio menghidangkan bubur di depan Lunar. Lunar melihatnya dengan penuh minat, karena bubur buatan Elio benar-benar terlihat sangat enak. "Ini beneran boleh saya makan kan pak?" tanya Lunar. "Boleh dong, saya kan emang buatkan itu buat kamu." Jawab Elio dengan senyumannya yang merekah. "Bagaimana? Enak?" tanya nya lagi setelah melihat ekspresi datar wajah Lunar. "Eummm gimana ya pak, saya mau bilang enak, tapi ya sama lidah saya tetep kerasa pahit pak." jawab Lunar dengan polosnya. Elio tertawa mendengar jawaban Lunar, seenak apapun itu akan tetap terasa hambar saat kamu sedang sakit. Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka berdua. Elio membiarkan Lunar menghabiskan makanannya dan membukakan pintu rumah Lunar. Saat Elio membukakan pintu disana terlihat Bagas yang berdiri membelakangi pintu. Dari belakang pun Elio sudah tau bahwa itu adalah Bagas. "Eh Bagas, masuk, Gas." Kata Elio menyuruh Bagas masuk ketika tau itu adalah Bagas. Bagas langsung mambalikkan badannya dan membulatkan matanya saat melihat Elio yang membukakan pintu rumah Lunar. Perasaan kaget itu tidak bisa ditutupi, kantong yang tadi dia bawa tiba-tiba jatuh dan isinya berhamburan kemana mana. Bagas masih terdiam diri tanpa bergerak. Akhirnya Elio menepuk pundaknya dan membereskan barang bawaan Bagas. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD